Excerpt from the other sight Time has wonderful way of showing us what really matters

Senin, 20 November 2023

Mengeja waktu

Nyanyian dari cinta yang masih murni

Menolong seseorang. Dari penglihatannya

Menjadi nyala bara. Membakar dalam diri

Tentang percaya yang disalah guna


 2023


Dua minggu sudah waktuku tersita. Kewajiban-kewajiban kutinggalkan sebagai harga kebahagiaan pertemuan. Bukan untukku tapi bagi mereka yang pernah ada di sini. Ini agak berat karena sebagai seorang yang tinggal di sini kami harus memperlihatkan keadaan yang baik-baik saja.

 


Reuni akbar SMA Islam Cipasung 1962-2023. Ini sejak awal memang sudah ide gila. Mengumpulkan orang-orang sebanyak 61 angkatan itu pada satu hari kepulangan. Dan sudah kuperkirakan permasalahan-permasalahan yang akan timbul gara-gara ini. Aku sempat biasa saja, sebenarnya aku ingin tinggal hadir saja sebagai alumni. Tapi framing yang timbul dari hal-hal yang biasa kukerjakan membuatku jadi teu walakaya mendapat amanah sebagai salah satu panitia penyelenggara. Akhirnya yasudah, toh akupun tidak bisa memberikan prestasi apa-apa sebagai seorang dari sini.

Kerujitanku dimulai dari penggarapan mars SMA Islam Cipasung yang sebenarnya lagu ini sudah ada dari zaman dulu, tapi tidak pernah ada rekaman dalam bentuk digital, memang ironi untuk sekolah sebesar ini yang telah meluluskan 61 angkatan. Salwa Inaya dan Yiyih kuambil sebagai guide sampel, supaya teman-temannya dapat menghafal. Ini butuh waktu 4 hari untukku, karena aku juga tidak begitu mengerti proses recording yang bagus. Jadi kukerjakan sebisaku saja.

Aku berperan sebagai penghubung tim talent lokal kepada tim besar seksi acara yang dilead kang Taufik Aryadewa dari angkatan 1997.


Jadi aku mesti ngurusi sebatalyon bocah-bocah dalam tiga segmen pertunjukkan. Tugas yang agak kurang cocok untukku yang tidak begitu piawai dalam bersosial. 38 orang untuk paduan suara, 20 orang untuk tari dan 15 orang untuk tim music tradisi.


Untungnya aku dibantu beberapa alumni sanggar yang potensial dan teman-teman proses kreatif, Rijal, Pa Asep, Yudi, Neng Mela & Imong, jadi kami bisa bagi-bagi tugas. Kalau saja tidak sepertinya aku akan kewalahan.

 

Tim Tari, ini yang ngurusi adalah alumni sanggar, Desty, Ica dan Nadia. Pertolongan besar yang lain..

Latihan-latihan jadi lebih intens seminggu terakhir. Satu hari sebelum pelaksanaan tim padus mendapat vocal coaching dari Henny Raf Iroh Hendrayani, alumni dari tahun 1981. Bu Henny ini kiranya adalah seorang aktris dan penyanyi senior. Bersama Bu Henny, tim padus menjadi chor saat Bu Henny menyanyikan shalawat.



Tim paduan suara saat acara


Kami berfoto setelah selesai bagian pertunjukkan

 


Bapaku bisa bertemu dengan teman-temannya kembali, hampir sebulan dia sakit. Dan dia terlihat senang. Itu sudah cukup buatku.

 

Teman-teman dekat si Bapa sewaktu SMA. Kurang Om Dedi

Teh Mia Faiza Imran & Bu Henny. Bertiga dari lebih dari se-kodi tim acara. Teh Mia ini kakak dari temanku semasa Aliyah, dan almarhum ayahnya pernah mengajar juga di SMA Islam Cipasung.

 


Adule ‘Otong’ Zainal Fikri, melihatku yang suka dengan tanaman, eks ketua Sanggar Gama ini datang dan memberiku setengah kolbak tanaman hias dari Bandung.

 


Bertemu dengan ibunya Jamil, sahabatku semasa MTs 


Yang tidak kalah mengambil perhatianku adalah Pembacaan puisi dari Harris Samudera-Henny Hendrayani-Acep Zamzam Noor. Sungguh langka melihatnya di panggung yang sebenarnya ‘miliknya’ ini. Membawakan pembacaan puisi ditengah-tengah acara reuni yang pasti chaos sangatlah beresiko. Tapi itu tidak menjadi halangan orang-orang senior ini. Karena orang-orang yang mencintainya, pasti tetap akan mendengarkan meski dalam kegaduhan.

Aku semakin  mendekat pada kepunahan yang disimpan bumi

Pada lahan-lahan kepedihan masih kutanam bijian hari

Segala tumbuhan dan pohonan membuahkan pahala segar

Bagi pagar-pagar bambu yang dibangun keimananku

Mendekatlah padaku dan dengarkan kasidah ikan-ikan

Kini hatiku kolam yang menyimpan kemurnianmu

Penggalan puisi berjudul Cipasung ini tetap membuatku bergetar. Semakin lama tinggal di sini, makna puisinya semakin terasa. Puisi ini dibuat tahun 1989, tapi betapa Acep sudah dapat ‘ngirong’ apa yang akan terjadi di tempat ini kemudian hari. Kukira Acep menuliskannya dari dua perspektif, sebagai seorang dari dalam dan sebagai seorang yang dari luar memandang tempat kelahiran dan tumbuhnya itu.

Hari reuni juga bertepatan dengan Haul KH. Abunyamin Ruhiat yang pertama. Jadi.. Bapa sudah meninggalkanku setahun.. Aku sebenarnya ingin mengikutinya dengan khidmat, tapi dengan segala kerujitan hari itu aku hanya ngelol sebentar saja. Aku benar-benar kelelahan dan butuh waktu mengejar tidur untuk istirahat.


Aku pergi ke makam Bapa di waktu yang tepat, karena orang-orang lebih terpusat di area sekitaran masjid tempat venue haul. Aku diantar Cep Thoriq sekedar buat curhat ke Bapa tentang hari itu.

 

Aku juga bertemu dengan Cep Rijal, putra bungsu KH. Dudung Abdul Halim. Nilai-nilai lama tentu selalu baik, tapi nilai baru juga mesti mulai diadopsi supaya dapat ‘menyesuaikan’. Ini cukup menenangkan juga, mengetahui mereka mulai bergerak untuk tempat yang mereka ‘miliki’ itu. Yang mesti digenosida harusnya bukan Palestina, tapi orang-orang yang mendapat kepercayaan tapi salah digunakan.

Deden Muammar Khadafi. Dulu Bapa menyukai dan memiliki kedekatan dengan beberapa orang santrinya. Salah satunya dia, yang jelas shaleh, pinter ditambah lagi suaranya bagus. Kami pernah Bersama-sama saat diamanahi untuk berbagi ilmu di SMA. Dia sekarang sudah tinggal di rumahnya, di Cileungsi Bogor. Dia tetap mengajar di Pesantrennya selain itu dia bercerita tentang kegiatannya yang terakhir mengikuti pengkaderan ulama muda. Yah.. Itu sudah ‘fit’ sama dia sih.. Hehe


Tepat dihari yang sama, kabar duka juga sampai dari A Rais. Salah satu guruku berkesenian ibunya wafat. Aku dan teh Oci baru bisa berkunjung sehari setelahnya.


Menelpon Ririn Oktorida, temanku semasa belajar di EV. Perempuan Nusa Tenggara Timur yang senyum lebarnya selalu membuat orang bahagia.. 20 November ulang tahunnya. Jadi kami teman-teman sekelas menelponnya bersama.

Waktu yang sangat padat. Reuni akbar SMA Islam Cipasung & Haul KH. Abunyamin Ruhiat pertama digelar. Aku tidak pernah sesibuk ini. Banyak pertemuan-pertemuan baik.. Tapi daripada pertemuan, aku lebih mendapat penglihatan-penglihatan..


2023

 

 


Jumat, 10 November 2023

Anak yang terjebak, cara seseorang dibesarkan dan masa tua.

 


Hari yang agak panjang. keadaan pertengahan bulan yang mulai mencekik keadaan, setengah hari sabtu kemarin ini kupakai untuk ‘ngamen’ translating naskah, yah.. Lumayanlah buat jajan, aku jadi tidak tahu kerjaanku yang jelas ini sebenarnya apa sih haha. Lalu mengejar online meeting pukul satu siang karena harus membantu guru Bahasa Inggris di sekolahku yang dulu sampai menjelang sore. Aku menghubungkan para pelajar ekstrakurikuler Bahasa pada kenalanku di IES untuk memberikan pengalaman tentang English speaking. ‘Percobaan’ pertama ini tidak terlalu buruk, terlebih untuk tempat pendidikan yang katanya ingin ‘berkembang’ tapi selalu saja setengah-setengah. Padahal bagaimanapun semua sadar penuh akar permasalahannya. Tentang ini.. Sebenarnya aku sedikit menyayangkan nama besarnya yang sudah dikenal dimana-mana, dikenal sejak lama. Terlebih Sekolah ini akan merayakan reuni, ini agak ironi dengan keadaannya yang masih dibuat gonjang-ganjing masa transisi.

Pulang ke Saung. Musim panas panjang, aku tidak punya pilihan tempat lain yang paling cocok untuk mendinginkan tubuh dan pikiran yang perlu dibasuh. Menunggu petang datang, duduk sebentar dan membaca buku meski hanya dua lembar. Bapakku sedang sakit sudah masuk tiga minggu, jadi aku mesti melakukan ‘tugas’ yang biasa dia lakukan sementara ini. Padahal ini malam minggu, aku juga kadang ingin punya waktu keluar untuk bercumbu, hehe. Tapi yah.. Hal begitu sudah tidak kumiliki sejak lama. Lagipula hari ini cukup melelahkan, jadi kuputuskan untuk menulis hal yang ada di kepalaku saja, ini akan jadi tulisan Panjang yang tidak menyenangkan, tapi yah.. Namanya juga kegelisahan.

-

Anak yang 'terjebak' di kampung.

Aku memang sering mendapatkan kesempatan perjalanan-perjalanan. Dari yang terdekat sampai terjauh, sebentar bahkan bisa sampai berbulan. Dan itu seringkali tanpa biaya, aku selalu dipertemukan orang-orang 'baik'. Framing tentangku sebagai pemuda non-future oriented tukang ngador barangkali sudah lama lalu lalang terdengar di telingaku. Bekerja ‘sagala’ dan seadanya dengan 'asal bisa bertahan esok hari' ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Aku bisa saja kesana-kemari meski semisal jadi seorang kuli, lalu beberapa kolega menawariku 'pekerjaan' dengan maksud menolong sisi finansialku. Tapi mekanisme keseharianku nyatanya tidak sesederhana itu, aku tidak bisa mudah mengambil keputusan dan kesempatan itu tanpa memikirkan ‘pinggir-pinggir-ku’. Ada yang mesti 'kulakukan', dengan atau tanpa persetujuanku.

Moralitas, meski dibesarkan di keluarga yang tidak subur secara ekonomi, kukira aku masih cukup beruntung dibesarkan oleh orang tua yang relatif 'liberal' di dalam keluarga besar yang konservatif akut. Gara-gara ini Aku sering didalih soal agama oleh saudara-saudaraku sendiri, itu hal yang tentu saja baik, sangat-sangat baik, dan aku sangat menerimanya. Tapi sebenarnya ini nihil juga jika diterapkan dikeadaan keluargaku. Barangkali benar Aku bukan seorang muslim yang baik, tapi aku masih menjunjung tinggi nilai adab. Di hari ini, hal-hal yang kulakukan ini, Aku tidak pernah menganggap hal yang kulakukan ini dengan istilah balas budi. Karena dalam agama yang kuyakini, ini adalah salah satu bentuk kewajiban dalam berkehidupan. Itu yang kudapatkan, dan tidak perlu lagi untuk diucapkan pada lain orang jika kita sendiri ada dalam keadaan ketidak-mampuan. Mohon hati-hati kalua bicara. Sesuaikan dengan siapa, dan bagaimana keadaanya.

Meski ada yang ingin kukejar, tapi masih ada hal lain yang tidak bisa ditawar.

Setelah kakak laki-laki ku pindah dan tinggal di luar pulau, aku satu-satunya anak yang diandalkan mengurusi hal-hal fisik dan mobilitas di rumah, yang sebenarnya bukan tidak mungkin pun dilakukan oleh perempuan. Tapi yaa.. Karena aku juga tidak begitu berguna di sisi lain, minimal ini hal yang bisa dilakukan sekarang. Ini seringkali membuatku bimbang, saat usiaku ini yang seharusnya sudah mulai atau cukup 'mapan', aku mesti tetap 'tinggal' di kampung halaman. Mungkin iya Aku masih bisa bermekar, tapi Aku tidak pernah bisa melewati pagar taman. Masa-masa keliaranku sekarang mesti dibatasi, dan mau tidak mau harus mengambil 'tugas' yang sebenarnya bukan sepenuhnya tanggung jawabku. Tapi sekali lagi moralitas, aku berterimakasih kepada ibu-bapakku yang 'orang-orang' katai tidak lebih baik itu, yang sudah mendidikku soal ini.

“Batur jadi dulur, dulur jadi batur”. Kiranya khazanah pribahasa ini tidak berlebihan dan bukan tanpa alasan dibuat oleh leluhur orang Sunda zaman dahulu. Soal kehidupan, sejauh ini kurasa Aku lebih banyak mendapat bantuan dari orang-orang yang tidak berhubungan secara keluarga. Seperti sekitaran tahun 2019 aku diurus dengan baik oleh salah satu keluarga kebangsaan Brazil saat berada di titik bawah. Tradisi 'Familie first value' Amerika Latin yang dimiliki oleh mereka tidak begitu mengagetkanku. Karena di rumahku, sejak dulu kukira sudah begitu. Kami sudah biasa bahu-membahu, bahkan sampai giliran ngutang untuk dapat memenuhi 'kebutuhan' diantara kami atas perhitungan tingkat urgensi. Jadi waktu itu tidak sulit buatku saat aku mulai berbaur-beradaptasi hidup dengan keluarga ini. Mereka semua Kristen tapi tidak ada sedikitpun indikasi-distraksi 'keagamaan' yang kurasakan dari mereka mengingat aku yang memeluk agama Islam. Sesuatu yang bernilai baik, akan tetap bernilai baik. Tapi itu mesti dibersamai dengan 'pelaksanaannya', bukan hanya lisan semata.

 -

Bagaimana seorang berlaku dipengaruhi oleh bagaimana ia dibesarkan.

Ada pertanyaan menarik yang kudapat dari kakak perempuanku saat makan malam petang bersama di rumah, “Kenapa kalian (Aku dan Bapakku) senang memelihara luka ?”. Aku tidak menyangkalnya karena memang sering kulakukan dengan kesadaran penuh, kalau buatku, karena sering kupakai buat bahan-bahan menulis, menggambar atau bikin lagu. Tapi dipikir-pikir setelah kususur, ternyata banyak juga dari keluargaku yang melakukannya itu, jadi ini bukan perkara yang ‘hanya aku saja’. Mungkin tidak hanya tentang luka, tapi juga pada memelihara ingatan lainnya, yah itu bisa ingatan yang baik atau pula tidak baik. Apakah penting ?, buatku yang tidak memiliki apapun, itu tentu penting.

Aku cukup beruntung karena bisa menceritakan apapun pada keluarga dengan leluasa. Dari yang penting sampai yang paling anjing. Kami yang tidak punya apapun untuk dibagikan ketika pulang, seringkali hanya bisa membagikan cerita-cerita tentang keseharian. Karena kultur kerucut masalah kehidupan di Indonesia hanya tiga, kami anak-anak dari keluarga yang biasa-biasa ini sejak kecil sudah ditanami mesti mengganti pesona dengan karakter, uang dengan etika, privilege dengan isi kepala. Dan itu benar-benar bekerja.

Usia tua bisa jadi sangat tidak menyenangkan. Aku dapat menerima bahwa setiap manusia suatu saat akan ditinggalkan. Secara alami ataupun buatan. Bisa ditinggalkan karena wafat, atau ditinggalkan dengan alasan permasalahan. Di ranah pendidikan, kita sering sekali dijejal tentang teori yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Keberadaan yang selalu membutuhkan orang lain. Sejak dulu, sejak usia sekolah menengah, aku sudah berpikir, bagaimana mengatasi teori itu. Ini sama sekali bukan tentang soal jenis kepribadianku yang pernah menjadi seorang Introvert, tapi saat itu aku lebih berpikir pada bagaimana aku akan menghadapi keadaan ‘ditinggalkan’ itu suatu saat nanti.

Aku berkali-kali mendengar cerita yang sama dari seorang sepuh di keluargaku yang sekarag tinggal sendirian. Dan beliau tidak sadar bercerita tentang itu padaku berkali-kali, bahkan setelah kemarin malam hari. Tapi aku tidak pernah memotongnya meski aku sudah tau persis kemana arah jalan ceritanya. Pelupa, pikun ? Syukurnya tidak, beliau masih sehat secara ingatan. Di usia lanjut, aktivitasnya jadi berkurang dan intensitas komunikasinya sangat sedikit. Jadi yang beliau 'temukan' setiap hari bisa jadi tidak begitu banyak. Kurasa ini sebabnya yang diceritakan masih hal yang sama atau tidak begitu jauh dari yang sebelum-sebelumnya. Tentang yang beliau ceritakan, terlepas dari nilai perasaannya yang bahagia atau tidak, barangkali baginya, itulah waktu terbaik semasa hidupnya yang tetap melekat dalam ingatannya. Dan ini kukira bisa jadi karena beliau tidak punya cukup waktu atau tidak punya siapapun untuk sekedar hanya bisa bercerita, dengan ‘leluasa’.

Birrul Walidain, kewajiban mengurus orang tua.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال سمعتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول رَغِمَ أنْفُهُ، رَغِمَ أنْفُهُ، رَغِمَ أنْفُهُ قيل مَنْ يا رسولَ اللهِ؟ قال مَنْ أدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدُهُما أَوْ كِلَاهما ثمَّ لَمْ يَدْخُلِ الجَنَّةَ

Artinya, “Dari sahabat Abu Hurairah ra, ia mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Celakalah seseorang, celakalah, dan celakalah.’ Sahabat bertanya, ‘Siapa ya Rasul?’ Rasul menjawab, ‘Orang yang mendapati kedua orang tuanya menua baik salah satu maupun keduanya, lalu ia tidak masuk ke surga,’”(HR Muslim).

Jarang sekali aku mengutip hal-hal seperti ini di tulisanku. Karena keagamaan sama sekali bukan field-ku dan aku tidak kapabel tentang ini. Ini hanya satu dari sekian banyak hadits tentang merawat orang tua, aku memilih yang ini karena kebanyakan orang Islam disekitarku yang terdiri dari beberapa jenis Islam, Islam lekoh, Islam bijak, bahkan Islam ktp sampai Islam protestan selalu berbicara surga dan neraka sebagai tujuan. Aku tidak berfokus soal surga di hadits itu, itu urusan lain. Buatku yang penting adalah perasaan kedamaian ketika kita-semua merasa sama-sama baik.

Kakakku yang paling tua tinggal di Yogya. Dia seorang Katolik dan aktif dalam divisi lingkungan gereja-nya. Salah satu tugasnya adalah mengecek keadaan orang-orang dalam komuni-nya, terutama orang tua dan anak-anak yatim. Memperhatikan kesehatan, kebutuhan, bahkan hanya untuk sekedar mengajaknya berbicara. Dan kebanyakan, mereka tidak ada sangkut paut kekeluargaan secara biologis, dalam keadaan lingkungan kosmopolit-beraneka ragam tempat berasal. Dan mereka melakukan itu hanya dengan asas bakti dan titah ajaran. Ironi lain buatku yang hidup di kampung yang lekat dengan nilai-nilai Islam, tapi implementasinya malah kulihat dari seberang. Saling mengasihi terkesan hanya digunakan sebagai kepentingan, diambil fotonya sebagai pencitraan.

Dengan melihat itu-dengan keadaan bapaku yang sakit segini saja aku sudah tidak nyaman kemana-mana atau melakukan apa. Tapi gara-gara ini Aku jadi sedikit kepikiran, bahwa banyak juga anak-anak yang bisa meninggalkan orang tuanya dengan atau saat keadaannya kurang baik. Aku jadi bertanya-tanya bagaimana mereka bisa mengatasi kegelisahan semacam itu sambil melanjutkan kehidupannya. Jika semisal meninggalkan orang tua dengan alasan sudah menikah, maka gara-gara ini juga aku tidak begitu melihat pernikahan bukan hanya soal indah penyatuan, tapi juga cara pemisahan dengan pelan-pelan. Mengganti kedatangan dengan kepergian, ini yang kumaksudkan meninggalkan dengan ‘alasan’ di paragraph sebelumnya, dan menurut ibuku itu ‘teu nanaon’, meski kurasa masih ‘nanaon’ (seoranh guru ngaji pernah kutanyai ini, tapi jawabannya hanya dengan "Apa boleh buat", yang membuatku tidak puas). Aku tidak bermaksud atau berprasangka apapun pada mereka tentang ini, tapi kalau mereka punya jawaban yang bagus tentang pola meninggalkan ini, aku mau minta tips untuk penyelesaian permasalahanku, tapi jika semisal jawabannya adalah uang, maka aku akan berhenti bertanya, karena itu sudah bukan bagianku, dan agak menyedihkan. Aku kurang puas kalau bisa menggadaikan perasaan hanya dengan ukuran itu.

Tapi sebagai catatan, tidak semua orangtua yang sudah lanjut usia butuh diurus, ataupun ingin terus-menerus tinggal di rumah anak-anak mereka. Mereka mungkin lebih memilih tinggal di panti jompo. Atau, mereka mungkin saja masih bisa hidup mandiri. Terlepas apapun pilihannya, kita tetap bertanggung jawab atas mereka.

-

29. Banyak hal berubah, kepalaku juga bekerja dengan cara lain, tubuhku kadang tidak mendengarkanku. Ibu-bapakku dulu seorang perokok yang cukup parah, dan sewaktu aku kecil aku membenci kebiasaan mereka itu. Tapi ternyata sekarang malah aku yang melakukannya. Sejak dulu, aku selalu dan sudah terbiasa terlambat mendapatkan apapun, termasuk dalam 'ketidak-baikan'. Kukira aku masih pemula tentang masalah merokok, baru masuk tahun ketiga, dan aku sudah merasakan bagaimana efek ketergantungannya. Tapi aku cukup puas bahwa prilaku ini kuputuskan sendiri, bukan ajakan dari seseorang atau keterpengaruhan lingkungan, jadi Aku tidak perlu menyalahkan siapapun selain diriku sendiri. Sifat adiktif Ini dipandang kebanyakan buruk, tapi kiranya sekarang aku agak mengerti soal kebiasaan orangtuaku yang dulu candu merokok, barangkali hal itu saja 'kemewahan' yang memungkinkan didapatkan oleh mereka saat itu. Meski hari ini mereka harus menukarnya dengan harga kesehatan.

Masa kecilku dulu tinggal di rumah dengan 4 kepala keluarga. Ruang 'bertemu' menyatu dengan dapur mereka semua. Pisau-pisau yang disimpan berjejer di meja itu menjadi pemandangan setiap hari. Sejak usia itu aku sudah punya imajinasi liar untuk bunuh diri, padahal rasanya dulu cuma gara-gara masalah sepele (tapi belum pernah juga berani kulakukan), maksudku sejak seusia itu aku sudah melihat kematian sebagai jalan akhir yang lebih mudah. Tidak seperti anak yang lain yang hari-harinya penuh bermain, seusia itu Aku sudah dapat memikirkan kehidupan dengan cara yang lain.

Melihat pola kehidupan di sekitarku sekarang aku jadi agak terpikir masa tentang masa tua. Kukira jika aku memang sudah tidak bermanfaat, aku tidak keberatan jika semisal mati diusia yang masih muda. 'Kamu tidak mau menikah ?', aku sih tidak keberatan jikapun ditakdirkan untuk tidak, ini cikal bakal dari perasaan kehilangan yang akan timbul untuk istri dan anak-anakku jika aku wafat, perasaan yang akan merepotkan mereka suatu saat nanti. Meski di lain sisi tentu sepertinya akan menyenangkan jika memiliki seseorang dihari-hari ketika rambutku berubah warna. Tentang perihal ini kuserahkan Kumaha Alloh saja.

Aku kadang menginginkan cara pergi seperti almarhumah temanku Desy, dia memiliki cara pergi yang menurutku paling indah, dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Tapi kadang aku ingin mati seperti seekor kucing saja yang ujug-ujug ngaleungit. Tidak ada yang tahu, bisa pergi kapan saja.

Tapi lepas dari itu, yang penting Aku tidak mau jika masa tuaku malah jadi sampai merepotkan orang lain. Aku tidak mau ada seorang yang waktunya terenggut gara-gara aku yang bukan tanggung jawabnya. Aku tidak mau ada seorang yang mesti memilihku atau masa depannya.

 

 

.


Sabtu, 14 Oktober 2023

Teras Bumantara ; Kosmogoni Rumah Topeng Besi

 


“Hidupkanlah sesuatu, maka sesuatu itu akan menghidupimu”, penyair Acep Zamzam Noor pernah mengucapkan kalimat ini dalam suatu seminar yang kudengar secara langsung. Oktober adalah bulan yang selalu ingin kuhindari sejak kegelapan 2019. Tapi pada tahun ini, Oktober memberikanku banyak kejutan yang lumayan manjur ‘memalingkan’ penanda waktu yang paling buruk dalam garis masa hidupku sampai sekarang ini.


Jum’at, 13/10/2023. Aku diundang untuk menghadiri Pentas Teras Bumantara, oleh Sanggar Terasi – Sekolah Tinggi Teknologi Cipasung Angkatan ke 10. Kegiatan ini berisikan pentas kreasi teman-teman sanggar dan pengukuhan anggota baru Sanggar Terasi. "Bumantara yang berarti semesta dalam bahasa sanskrit, ini sebagai perlambangan pengenalan ruang penciptaan untuk para anggota baru, dan panggilan kepulangan untuk para anggota lama..", ujar Vizkha Anggrilla, kordinator divisi Seni Rupa sanggar terasi menerangkanku tentang judul acara.

Sanggar Terasi angkatan 1 setelah pementasan teater sederhana pada hari Pendidikan Nasional, 2013.

Sanggar Terasi ini kiranya adalah UKM seni di Sekolah Tinggi Teknik yang berhasil membuatku keteter dan stress berat untuk  mendapatkan gelar sebagai seorang insinyur itu (meski keilmuan tentang ini masih belum bisa kumanfaatkan sebagai workfield-sampai sekarang). Hanya karena aku berambut panjang, framing sosial terhadapku waktu itu sudah condong ke arah seni-seni-an, padahal tidak sepenuhnya benar juga. Tahun 2013, kampusku dulu menghadapi waktu-waktu akreditasi. Dari itu, Aku dan ‘korban-korban’ lainnya diminta pihak ketua tiga kampus untuk membuat unit-unit kegiatan mahasiswa, maka lahirlah UKM seni Sanggar Terasi ini pada bulan Juli 2013 sebagai salah satunya.

Beberapa anggota sanggar terasi angkatan 2 & 3, generasi Yudha Alisy & Ayu Jette, 2014.

Penamaan UKM ini memang agak jijay (aku tahu), pasalnya aku tidak bisa memikirkan nama lain yang keputusannya ditunggui dalam waktu kerja satu malam, banyak sekali yang harus dikerjakan seperti logo, filosofi, rancangan kegiatan, program kerja dan lain-lain. Nama Terasi ini barangkali sudah kita kenal sebagai bumbu masakan yang terkenal dengan bau-nya (semoga saja berkah nama ini adalah bau kebahagiaan dan kesuksesan, bukan bau yang lain ya hehe), nama Terasi ini sebenarnya akronim dari kata Teater, Tari, Rupa, Musik & Puisi. Aku berharap bisa mencakup semua bidang seni yang akhirnya membuatku kerepotan juga sebagai ketua 'terpaksa' pertama. Beberapa orang pada tahun itu juga memanggilnya dengan mahasiswa-mahasiswa Topeng Besi. Sesuai dengan logo-nya yang orang bilang lebih mirip klub robotik daripada ukm seni hehe. Tapi sebenarnya kami dulu menyesuaikan itu dengan perlambangan mentalitas mahasiswa jurusan Teknik yang kebanyakan ‘gede kawani’.

Terlambat datang dua jam setengah, hampir jam lima sore aku baru bisa merapat di tempat acara. Segan dan ragu, karena aku merasa sudah tidak ada yang mengenaliku di sini, terlebih aku harus mengisi waktu sebagai pembicara tentang sejarah singkat sanggar ini. Tapi ternyata aku bertemu beberapa ‘wajah lama’, ada Siti Alpiah Vira yang sekarang sudah dipanggil Ibu karena sudah jadi bu Dosen hehe, M. Arief Billah – Seniorku saat aku belajar di Sanggar Kobong tahun 2010 lalu, Qiesar Putri dan Dzesy Agresti generasi terakhir yang ku kenal di sanggar Terasi, lalu Sopyan Andriansyah dan Vizkha Anggrilla – pengurus Sanggar Terasi sekarang. Sembari mengikuti acara kami mengobrol ringan seputar kabar karena lumayan sudah lama tidak bertemu.

 Qiesar Putri, Ketua Sanggar Terasi angkatan 9

Aku dikehendaki untuk mengisi waktu bercerita tentang Sejarah singkat sanggar ini.. Ditemani Vizkha sebagai moderator, dimulai dengan membacakan curriculum vitae-ku yang sebenarnya sama sekali tidak penting. Bagiku, meskipun siapapun telah banyak meraih pencapaian-pencapaian prestisius secara subyektif tapi nyatanya tanpa diiringi kebermanfaatan-kemaslahatan, nonsense-tidak berguna.

Djezy Agresti, Ketua BEM STTCipasung yang juga salah satu anggota Sanggar Terasi

Membawa para anggota-anggota baru pada masa lalu. Barangkali sejarah memang cukup penting, bukan untuk meninggikan diri, selain untuk silaturahmi, tapi juga sebagai pengingat jejak supaya dapat terus dimaknai dan diperbaiki..


Acara dilanjutkan pada pengukuhan anggota baru. Dua hari sebelumnya Sopyan menanyakan padaku adakah Sanggar Terasi memiliki seremonial khusus atau sumpah anggota terkait pengukuhan pengukuhan. Aku menjawabnya, tidak ada, jika teman-teman pengurus sekarang berinisiatif membuat hal semacam itu ya kubilang silakan, itu lebih baik.. Sanggar Terasi pada periodeku hanya berjalan atas dasar cinta dan kesetiaan. Karena sedari dulu, dengan segala keterbatasan, tempat ini memang tidak pernah menawarkan apapun, karenanya aku tidak ‘berhak’ mengikat dan menuntut teman-temanku untuk tinggal hanya karena ‘keterpaksaan’, meski begitu aku bersyukur teman-temanku dulu loyal-solid meski sepak terjang permasalahan selalu ada, dan kami bersyukur bisa mengatasi itu meski dengan pahereng-hereng heula.

Sopyan Andriansyah, Ketua Sanggar Terasi angkatan 10 (sekarang, 2023)

Tapi luar biasa lagi, pengurus terbaru ini merancang pengukuhan dengan seremonial sederhana yang menurutku mendalam makna. Sopyan sebagai ketua sanggar membacakan redaksi sumpah pengukuhan yang diikuti bersama, dimulai dari Dzesy, kami bergiliran berurutan menyalakan api lilin sebagai penanda cahaya regenerasi. Aku dapat melihat binar-binar cahaya pada bunga-bunga muda di rumah topeng besi.

 

Sepuluh tahun berlalu. Aku tidak pernah menyangka sama sekali Sanggar Terasi akan berumur panjang melewati waktu. Kesulitanku ‘melahirkan’ barangkali tidak lebih besar dari kesulitan mereka yang sudah kenan untuk merawat dan mencintai tempat yang dulu pernah membuatku bertahan hidup. Untukku yang sejak lama baru kembali, tiba-tiba mereka jadi sebanyak ini..

Masih ada yang bersedia melanjutkan langkah-langkah dari jejak-jejak yang aku dan teman-temanku tinggalkan. Aku bersyukur dan berbahagia jika ternyata ada hal bermanfaat yang pernah kami lakukan. Cita-cita masih dilanjutkan, kekuatan do'a dan harapan. Meski membutuhkan satu dasa warsa, yang mereka berikan hari ini barangkali sudah jauh lebih besar dari apa yang telah pernah kulakukan.


Rangkaian acara berisi tampilan-tampilan seni yang di luar ekpektasiku. Penampil-penampil divisi musik dari para anggota lama, musikalitas mereka memukau & skillfull, banyak anggota-anggota potensial. Hanya aku belum menemukan kreativitas original yang mereka buat sendiri, yah sambil jalan beproses, begini saja mereka sudah jauh lebih baik daripada zamanku-pada saat usia mereka. 

Penampilan divisi tari. Pada divisi ini salah satunya ada laki-laki yang piawai menari, ini mengingatkanku pada sanggar generasi Yuda Alisy. 

Juga ada divisi seni rupa (akhirnyaaa aku punya penerus huhuu), mereka melukis secara live menorehkan warna-warna dengan seketika. 


Melihat semua penampilan dengan senyum sambil agak berkaca-kaca. Betapa Sanggar Terasi ini sudah banyak berkembang sekarang. Aku jadi teringat teman-teman semasa perjuangan di sanggar ini yang terlah terpencar kemana-mana.. Dan entah masih menyukai hal semacam ini atau tidak. Jika mereka melihat keadaan sanggar ini sekarang tentu mereka akan bangga..

Pada akhir acara, secara impulsif aku 'merusak' ikut campur pada karya kolaborasi lintas divisi para anggota yang sekarang, bukan karena apa-apa, aku hanya ingin merasakan spirit mereka ketika di panggung. Dan ternyata sesuai yang kuharapkan, melegakan !


Asep Furqon Nugraha, Siti Khoiriyah. Patreon divisi seni musik Sanggar Terasi angkatan 2, 2014.

Dulu, cukup sulit membangun atmosfir ini di tempat yang memandang kesenian hanya sebagai produk. Mau bagaimanapun disiplin pendidikanku dan teman-teman secara akademik saat itu adalah teknik, dan industri selalu memandang hampir semua hal dari sudut pandang nilai komersil, bahkan yang terburuk -eksploitasi. Semua berdasarkan perhitungan demi 'keuntungan' besar secara material. Dan Sanggar Terasi ini adalah tempat dimana aku dan teman-teman dulu bisa melepaskan diri nilai-nilai itu secara bebas, merayakan kegelisahan yang tidak pernah tuntas.

Seni adalah keterpanggilan hati.

Aku sangat berterimakasih pada kalian semua, aku masih diizinkan untuk pulang ke sini. Sanggar Terasi, rumah para kesatria topeng besi.


2023

*Foto-foto : Bizan Afzani Fasya, arsip pribadi.





























Minggu, 08 Oktober 2023

Roller Coaster Rasa ; Dua tahun 'pengendapan' Wulan Purwanti

Kata berlebihan memang selalu tidak baik, termasuk dalam bekerja. Kehilangan celah menggambar, menulis atau hanya sekedar melamun, hari-hari akhir ini agak berat. Tidak semua hal baik, tapi minimal masih bisa diatasi. Tapi kukira ini tidak bisa untuk jangka waktu yang lama. Jadi.. Memenuhi undangan peluncuran resmi buku antologi puisi dari temanku ini barangkali waktu yang tepat untukku 'melarikan diri'.

Aku bukan tipikal yang menyenangi berkendara dengan motor. Berangkat saat Petang dari Tasik, sendirian.  Laluan jalan Tasik-Garut yang semula berwarna jingga perlahan menuju gulita. Aku perlu waktu sampai dua jam untuk sampai.

Agak lama setelah empat bulan sejak terakhir aku ke sini untuk membantu hajat akting Linda Kania yang luar biasa, kali ini aku menemui Wanakumbara lagi-lagi di ranah kekaryaan. Angkatan 9 Wanakumbara ini memang agak berbeda untukku, meskipun hanya berempat, setiap dari mereka semuanya potensial dan menonjol. Mereka punya kegelisahan yang dipelihara dan disampaikan dengan bentuk yang berbeda-beda. Masih ada Tio Febriansyah yang juga seorang penulis, juga Santa Habsyie yang senang membuat dan membagikan vlog perjalanannya yang kebetulan tidak bisa hadir pada hari ini.

Minggu 9 Oktober, 2023. Meski aku hampir menghabiskan setengah bulan September di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang udaranya lebih panas dari Tasik, Musim panas yang sudah terasa berkepanjangan ini mulai mengganggu aktivitas ketika di rumah, tapi di Garut, udara dingin masih bisa dirasakan meski dibawah sinar terik.

Wulan Purwanti. Salah satu anggota Komunitas Pecinta Alam Wanakumbara angkatan termuda ini ternyata memiliki bakat terpendam sebagai seorang penulis. Sosoknya mengingatkan kami semua pada almarhumah Desy Sylvia, salah satu anggota terbaik kami yang juga sama-sama suka menulis. Kami tidak menyebutnya sebagai reinkarnasi, karena keduanya punya ke-khasan karakter masing-masing. Tapi yang jelas aku merasa bahagia dan banhga bahwa ada seseorang yang mewarisi spirit Desy di keluarga Wanakumbara.

Roller Coaster Rasa, buku kedua Wulan Purwanti ini berisi 100an lebih puisi yang diendapkan selama dua tahun. Aku ikut sedikit ikut campur soal karyanya yang kali ini dengan mencoba membuatkan lukisan untuk cover buku ini karena diminta Wulan. Sesuai dengan interpretasiku dari blurb, lukisan ekspresionis dengan media cat air diatas kertas watercolor ini memberikan kesan pertama pada wajah karya-karyanya. Aku tidak menyebutnya ini dengan pencapaianku ditahun ini, terlebih ini bukan apa-apa. Gambar tidak jelas seperti ini bisa dibuat oleh siapa saja. Tapi aku selalu senang jika yang kulakukan bisa bermanfaat untuk kekaryaan seseorang. Ia selalu abadi, tidak masalah bagiku meskipun itu hanya berada dalam sebagian ingatan.

Bertempat di kafe D'Yons, jln. Pramuka-Garut. Diinisiasi oleh Media Penulis Garut (MPG), acara berlangsung dengan kondusif. Lebih dari tiga puluh orang hadir sebagai audiens. Wulan tampil dengan anggun, berbusana hitam bawahan corak dedaun. Wulan bercerita tentang bukunya yang berisi pengalaman perjalanan-perasaannya. Pemilihan diksi pada tulisannya yang bebas dan beberapa diiringi rima, puisi dalam buku ini berisi banyak puisi roman-populer yang belakangan ini digandrungi kawula muda.

"Perasaan selalu membutuhkan pengakuan", ujar wulan saat diskusi buku. Audiens-audiens cukup proaktif pada sesi diskusi menanyakan tentang proses kreatif Wulan menyoal puisi. Aku sangat senang ketika Wulan menjawab semua pertanyaan dari audiens.. Dia sangat terlihat keren dan luwes, aku berpikir bocah ini sudah berkembang dan memiliki keberanian besar, bahkan melebihi kami semua yang ada di sini.

Jalur turun naik kehidupan yang sudah diperkirakan itu masih sering kita terus diulang-ulangi lagi, meskipun kita sendiri tahu kita akan mendapatkan perasaan-perasan yang kadang tidak diinginkan. Wulan Purwanti, tantangan besar kepenyairan salah satunya adalah kepiawaian merawat rasa yang kerap menjadi utopia kebanyakan manusia.

Usai launching buku, aku bersama rombongan Wanakumbara bergeser ke Jl. Patriot, ke tempat tinggal Sandi 'Aro' Suhendar. Kami makan siang bersama, lalu secara impulsif kami bergiliran membacakan puisi yang terkumpul pada buku Wulan yang terbaru. Tiba-tiba sastra dirayakan dengan kegembiraan juga rasa haru.

Persembunyian kadang sengaja ditahan sebagai pertanahan harga diri, tetapi kejujuran hati selalu menawarkan kedamaian.. Tidak mudah untuk memilih diantara keduanya, tapi tentang kejujuran, kita masih bisa memilah dengan cara apa disampaikan.

Seperti Wulan, ia menggunakan puisi sebagai ungkapan yang baginya lebih fasih, dari dalam hati.

Jumat, 22 September 2023

'Anak-anak' Yudhistira

Perjalanan rangkaian Safari Sastra IV bersama penyair Yudhistira ANM Massardi yang kali ini agak menguras tenaga buatku hehe. Bagaimana tidak, kami menyusur dan pentas di lima kota dalam 3 hari. Dan sebagai 'gantinya', setelah hari terakhir pentas di Pacitan kami diberikan 'jalan-jalan' ke Solo.

Aku tidak pernah barang sekalipun singgah-tinggal ke kota ini sebelumnya. Biasanya hanya lewat ketika jenguk saudara di Surabaya, Trenggalek dan Malang. Jadi ini sangat menyenangkan bisa mampir kesini. Pa Yudhis punya segudang teman-kolega, tokoh-tokoh nasional seantero Indonesia. Ini tidak mengherankan untuk namanya yang besar buatku. Setiap dibawa 'jalan-jalan', aku sering dikenalkan pada beberapa diantara mereka yang kebetulan bertemu. Selain itu yang menarik, Pa Yudhis ini punya banyak anak-anak yang 'dibesarkan' di berbagai kota, tapi tentang Solo ini lebih sering disinggung dalam pembicaraan bersama Pa Yudhis ketika aku melakukan perjalanan bersamanya sejak safari sastra-ku yang kedua. 

Saat malam pertama menginap di Solo, akhirnya aku dapat bertemu dengan Gema Isyak Adam, salah satu 'anak' Yudhistira yang sering dibicarakan padaku sejak tahun 2021 itu. Lead tim musikalisasi Safari Sastra Yudhistira yang pertama, personil grub band rock bernama Soloensis. Aku sudah melihat rekaman saat mereka pentas bersama Renny Djajoesman di kanal Youtube karena penasaran, dan memang terdengar 'keras' buatku haha..

Akrab dipanggil Isyak, dengan persona awal dengan rambut panjangnya, 'Ini orang kalau bicara pasti nyentak-nyentak..", ujarku dalam hati haha. Ketika dia bicara, lho malah dia lebih kalem daripada aku yang sering jéjérétéan haha. Sangat berbeda saat dia berada diatas pentas. Kami mengobrol ringan saling bertanya kabar dan interes. Isyak ini juga seorang yang kreatif.. Dia pandai ngrengreng batik, pada bahan kain sampai pada body gitar !. Wawasannya luas, kita sampai ngobroli soal filsafat (yang jadinya tidak ringan ngobrolnya haha). Kalau soal bermusik sudah ngausah ditanya, dia yang musisi 'beneran' tentu punya jam terbang dan pengalaman yang lebih banyak dariku yang masih 'magang' ini hehe. Kalau Pa Yudhis ini membawanya dalam perjalanan sastranya memang sudah kapabel, moal hariwang. Menjadi anak Yudhistira yang dibawa soal permusikan, Isyak ini seperti kakak seperguruanku kalau dalam dunia shaolin hehe. Aku mesti banyak belajar darinya..

Kami juga membicarakan rencana 'keributan' lain di tahun depan bersama pa Yudhis, peluncuran buku kumpulan puisi baru di perayaan 70 tahun Yudhistira pada Februari tahun 2024 di Galeri Indonesia Kaya-Jakarta. Jika memungkinkan, Isyak yang musisi bergenre Rock-Progresif dan selalu bermelodi semangat ini akan berkolaborasi denganku si pemain biola kacangan yang lagunya selalu bermelodi minor yang paling menderita haha. Jika ini lancar, Ini akan menarik buatku.. Sejauh mana kita akan saling 'mentoleransi' tentang pemaknaan musik-sastra bagi kami.

Menjelang akhir pertemuan kami bergantian menyanyikan beberapa lagu ringan bersama-sama. Salah satu oleh-oleh safari sastra yang selalu kudapatkan-Pertemuan menyenangkan !

2023

Sabtu, 02 September 2023

Temu Punggawa Saptawikrama Lesbumi Se-Jawa Barat : my first all night long with the greens


Aku jarang membuka sisi kehidupanku yang ini dan memang belum lama. Sedari awal mulai 'ngepost' foto twibon kegiatan ini banyak yang bertanya-bercelotéh tentang ini. Sebenarnya bukan karena apa-apa, hanya aku agak malu, bukan tentang NU-nya, tapi lebih tentang kredibilitas dan kontribusiku pada NU. Apalagi perangaiku yang 'nyaliwang' sangat tidak mencerminkan masyarakat NU yang seharusnya 'baik'. Beberapa bilang, "Ih ningan", "Teu nyangka.." atau dengan celotehan yang sedang tren saat ini, "Apa kamu se-NU itu ?" 😂

Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia ini mempunyai lembaga-lembaga dibawahnya, salah satunya Lesbumi. Lesbumi ini semacam lembaga kebudayaan Nahdlatul Ulama. Lesbumi menghimpun berbagai macam artis (konotasi kalimat ini lebih kepada seniman, bukan artis yang sering bikin keributan di tv atau yang labil tiba-tiba ganti arah ke pemerintahan) : perupa, pemain pentas, pemusik, sastrawan dan ahli seni lainnya. Lembaga ini juga beranggotakan ulama yang memiliki latar belakang seni cukup baik. Sejujurnya aku juga tidak tahu kenapa aku berada di sini. Tiba-tiba berada diantara guru-guruku, orang-orang berwawasan tinggi (bukan hanya tentang seni tapi juga tentang keilmuannya tentang NU dan keagamaan). Tapi yang jelas tentang ini, buatku ini adalah salah satu warisan Alm. Pa Kyai Abun untukku.. Saat masih jeneng Beliau 'menitipkan'ku pada 'orang-orang hijau' meskipun beliau tahu kiranya aku bukan tipikal orang yang dapat 'bergumul' disini. Jadi.. Lepas dari apapun, dawuhnya, asalkan aku bisa 'bermanfaat' saja.. (meskipun lebih sering 'dimanfaatkan' sih 😂) Dan tentu aku tidak bisa menolak Beliau.

Tentang Saptawikrama Lesbumi, ini adalah keputusan strategis yang paling ditunggu oleh PBNU dalam Rakernas LESBUMI karena merupakan bagian integral dari pedoman kebijakan Nahdlatul Ulama (NU) dalam merumuskan kebijakan dan menentukan sikap terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi warga NU (Nahdiyin) pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Keputusan strategis yang meneguhkan posisi Lesbumi PBNU sebagai Garda Nasional Peradaban, Kesenian dan Kebudayaan Islam Nusantara ini menandai kehadiran dan fungsi penting Lesbumi dalam meneguhkan Islam Nusantara untuk membangun peradaban Indonesia dan dunia. Saptawikrama adalah Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara yang meneguhkan Hasil Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, pada 1-5 Agustus 2015. Aku tidak akan bercerita banyak tentang ini karena aku yakin teman-teman NU sudah mengetahui tentang ini.

Temu Punggawa Saptawikrama Lesbumi se-Jawa Barat yang diadakan di PWNU pada 31 Agustus-1 September ini barangkali menjadi media silaturahmi para 'Punggawa' Lesbumi yang berisi 27 anggota Lesbumi PCNU kabupaten dan kota yang berada di Jawa Barat.

Ketua PCNU Kab. Tasikmalaya, KH. Atam Rustam (tengah)

Diberangkatkan dan didoakan langsung oleh Ketua PCNU Kab. Tasikmalaya, KH. Atam Rustam Lesbumi PCNU Kab. Tasikmalaya memberangkatkan 6 orang perwakilan, diantaranya Irfan Hilmi sebagai ketua, Didin Syarifudin sebagai wakil ketua, Teteng Mukhlis Aziz (sebagai anggota, tidak menjabat di lesbumi pcnu karena Pa Teteng juga ada dalam kepengurusan PWNU, tidak boleh merangkap jabatan), Neng Simah sebagai sekretaris, Diana, dan aku sendiri.


Acara dimulai agak terlambat (seperti kami perwakilan Lesbumi PCNU Kabupaten Tasikmalaya yang juga datang terlambat hehe).


Kami tiba di lokasi saat sudah masuk acara pembukaan, tiba di aula besar PWNU kami langsung bergabung dengan peserta lain dari berbagai daerah.


Ada beberapa lukisan sisa acara pameran PWNU, salah satunya karya Siti Syaimah Ruhiat, adik kelasku saat di Cipasung.

D'Ranyay sedang melantunkan rajah bubuka

Dibuka oleh rajah bubuka oleh D'Ranyay, ini barangkali salah satu tim divisi musik Lesbumi PWNU, rajah yang dibawakan adalah kalimat dan shalawat Laa Haula Wala Kuwata Illa Billah dan Shalallah 'Ala Muhammad dikemas apik diiringi kolaborasi instrumen tradisi dan modern terdengar sangat syahdu, kami para peserta bisa mengikutinya dengan mudah dan pereum beunta saking merdunya. Aku pribadi merasakan goosebumps saat mereka membawakan rajah, melipir sedikit, aku merasa saat di acara Everness Festival - Hungaria tiga tahun lalu. Pada segmen spirituális zene (nyanyian spiritual) yang biasa dipakai untuk stimulus meditasi dan yoga pada acara itu meski yang dibawakan kebanyakan mantra Buddha dan Hindu. Ternyata rajah 'kita' juga sangat memungkinkan sekali untuk memberikan konsentrasi spiritual. D'Ranyay membuktikan itu untukku secara pribadi. Suatu saat aku mesti membuat hal seperti ini di kampung halaman atau dimanapun.. Berharap seperti mereka yang bisa memberikan kebahagiaan, pengingat kepada yang Maha Kuasa dan kerinduan kepada Rasulullah dengan cara yang indah.

Ketua PB Lesbumi, KH. Jadul Maula (tengah)

Acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan yang diberikan oleh ketua Lesbumi PWNU Dadan Ahmad Hamdani, lalu ketua PB Lesbumi KH. Jadul Maula dan ketua PWNU Jawa Barat KH. Juhadi Muhammad sampai break time ashar.

Ketua Lesbumi PWNU Jawa Barat, Dadan Madani (tengah)

Acara kembali dimulai setelah shalat ashar, diisi oleh penampilan-penampilan dari beberapa perwakilan Lesbumi dari berbagai daerah. Diantaranya Bandung Barat, Cianjur, Bogor, Ciamis, Tasikmalaya dan tentu saja tuan rumah Lesbumi PWNU. Tipikal penampilan relatif bervariasi, aku melihat betapa Lesbumi setiap daerah yang hadir di sini memiliki potensi yang besar menyoal kredibilitasnya tentang pengetahuan seni dan sisi spiritualitasnya masing-masing.


Break maghrib, acara disambung acara inti yakni diskusi. Ada tiga bahasan utama pada acara temu punggawa tersebut yaitu arah kebijakan kebudayaan Jabar, islam, dan kebudayaan di Jawa Barat yang diampu pada tiga akar kebudayaan, yaitu Sunda, betawi dan Pantura. Kang Dadan sebagai ketua lesbumi PWNU Jawa Barat menyampaikan PR besar Lesbumi NU di Jawa Barat saat ini yaitu terkait bagaimana mengangkat jamiyah NU dari sisi kebudayaannya agar seimbang dengan Jatim dan Jateng. Dan memang ku sadari juga Lesbumi pwnu Jabar belum begitu 'terlihat' (bisa jadi karena memang aku baru belakangan ini bergabung, dan aku tidak tahu hal-hal yang terjadi sebelumnya). Apalagi di subdistrik seperti di pc-pc, pun di kabupaten Tasik tempat tinggalku sekarang.


Narasumber pada diskusi ini antara lain seniman budayawan Acep Zamzam Noor, DR. KH. Asep Salahudin (keduanya memiliki kyai asli Tasik, KH. Ilyas Ruhiat - Cipasung dan Abah Anom - Suryalaya) selain itu dan DR. Ifa Faizah Rohma, MP.d dari LP Maarif pada sesi pertama. Diseling istirahat yang diisi musikalisasi puisi oleh Kg. Adew Habsta, Teh Cici dan kawan-kawan D'Ranyay, diskusi dilanjutkan pada sesi kedua dengan narasumber KH. Jadul Maula dan KH. Sastro Adi. Acara diskusi berlangsung sampai lewat tengah malam, buatku yang pertama kali ikut kegiatan ini memang mengaprove tentang 'Orang-orang NU ini kuat soal begadang-begadangan' haha.. Tapi diskusi berjalan relatif efektif dan interaktif.

DR. KH. Asep Salahudin

Ada yang menarik yang kudapat dari diskusi, seperti yang diujarkan KH. Asep Salahudin, "Seni adalah washilah, bukan syariah", jadi bagaimanapun tradisi dan agama akan berbenturan sampai kapanpun, tapi kita bisa mengambil 'sufisme' keduanya sebagai jalan tengah. Tak selesai begitu saja, Acep Zamzam Noor menutup diskusi dengan punchline-nya, "Lesbumi itu harus kreatif, imajinatif dan surealis", disambung oleh KH. Asep Salahudin, "Dan dalam diri seorang Lesbumi perlu terdapat keseimbangan body, mind dan spirit".


Oh ya, sesuai yang kuharapkan tentang kegiatan ini, aku bisa bertemu dengan beberapa orang hebat, diantaranya penulis Kg. Iip D. Yahya. Penulis. Kg. Iip menulis buku "Ajengan Cipasung: Biografi KH. Moh. Ilyas Ruhiat" terbit pada tahun 2006, yang bukunya baru kubaca saat usia SMA, setelah 5 tahun KH. Ilyas Wafat.. Buku ini begitu berjasa untukku yang tidak bisa mengenal KH. Ilyas secara 'langsung', sedikitnya aku bisa membayangkan perangai Kyai yang orang-orang sebut sebagai Ajengan santun.. Kang Iip juga yang memasukkan tulisanku padai website NU Jabar Online tentang obituari kehilanganku terhadap KH. Abunyamin Ruhiat yang wafat november tahun lalu.


Isa Perkasa. Untuk khalayak per-seni rupaan Jawa Barat barangkali nama Isa Perkasa sudah tidak asing didengar. Di kalangan pelukis nasional, selain Hanafi, Acep Zamzam Noor, Herry Dim dan Tisna Sanjaya, gaya lukisannya dulu juga jadi influence buatku yang waktu remaja itu masih belajar melukis. Selain mengelola galeri Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, pelukis nasional-internasional kelahiran Majalengka yang menetap di Bandung ini ternyata 'terlibat' dalam É-Én-Uan dan akhirnya kami bertemu lagu disini setelah 4 bulan lalu aku mengisi acara di galeri yang dikelolanya.

Dua hari ini terasa melelahkan, tapi juga 'menyegarkan' untukku bahwa ternyata NU memiliki 'ruang-ruang' yang khusus, bahkan untuk orang-orang yang sering dikatai 'nyelénéh' di sosialnya. "Setiap orang punya bagiannya masing-masing", seperti yang dikatakan alm. Kyai Abun  padaku barangkali diperlihatkan di sini. Makna dari Al-Qur'an Surah Ali Imron ayat 190, yakni "Membaca pergerakan dan perputaran bumi ini adalah tanda orang-orang yang berakal." Orang-orang yang menyukai seni (bukan ikut-ikutan tren) biasanya memiliki tingkat kegelisahan tinggi yang progresif mengenai apa yang mereka rasakan, dilihat dan dengar. Dan permasalahannya bagi mereka adalah langkah proses untuk menggunakan 'bahan' tersebut supaya dapat dirasakan outputnya (oleh siapapun) dengan lebih indah dan patut. Dan mungkin bagi seorang muslim, ini juga sebagai pengingat tentang nisbat. Keindahan kecil dari makhluq tidak akan pernah berbanding dengan keindahan Khaliq.


Setelah acara selesai, rombongan Lesbumi PCNU kab. Tasik kembali pulang. Tapi aku dan Neng Simah menginap di PWNU, Neng Simah mesti menghadiri Istighosah Kebangsaan yang diadakan PWNU Jabar esok malam harinya.

2023