Selasa, 03 Februari 2026

Grow, Bloom and then Fall


The long and winding road
That leads to your door
Will never disappear
I've seen that road before
It always leads me here
Lead me to you door

: The Long and Winding Road - The Beatles

-

Lagu ini adalah salah satu lagu The Beatles favoritku. Salah satu lagu yang sering kudengarkan saat mendapati waktu-waktu sulit atau kurang menyenangkan. Paul McCartney menulis lagu ini pada 1968, saat perpecahan The Beatles semakin jelas. Dengan inspirasi jalanan tenang di Skotlandia, Paul seperti menangkap perasaan sedih namun penuh harapan bahwa jalan hidup akan selalu membawa kembali ke tempat yang seharusnya. Liriknya juga bisa punya tafsir lain tentang lagu cinta tentang seseorang yang mencoba meyakinkan kekasihnya untuk memberinya kesempatan, menghadapi jalan panjang untuk mencapai hatinya.

Buatku pribadi, aku lebih mendengarnya pada musikalitas yang sederhana dan lirik yang pas. Tidak mesti sesuai dengan keadaan hari-hariku yang berbeda dari maksud lagunya. Lagu-lagu hari ini terkesan lebih kompleks, skillfull, tapi aku merasa lagunya tidak memiliki ruh. Dan memang benar, tidak bertahan lama di telinga.


Senin, 26 Januari 2026. Bolos upacara. Tidak ada sebab apapun, hanya ingin pagi yang santai saja. Kalau bolos begini biasanya melipir ke rumah Diwan, bolos tepat di pinggir tempat kerja. Tapi memang pilihan yang tepat, ditawarkan pemandangan bagus, sesampainya bunga-bunga teratai merah muda masih memberikan senyum masih mekar sisa semalam.


Latihan fisik untuk menanggung beban umat. Diwan masih sedang berbenah saung barunya, menata taman, dan potongan-potongan sisa tebangan pohon. Termasuk tunggul ini, dia memindahkannya dari satu sisi ke sisi yang lain.


Bab seni musik. Kali ini tentang sejarah musik, tentu musik barat. Aneh juga, di buku-buku pelajaran selama ini selalu soal musik barat, itupun relatif lengkap daripada sejarah musik tradisional kita sendiri. Para penyusun pustaka dan kurikulum pendidikan kita memang masih saja tidak berkembang dan 'sadar' ya. Profesor-doktor banyak banget, tapi ngada manfaatnya. Akhirnya aku kukulibekan sendiri nyari bahan.


Selesai diskusi-presentasi. Ini adalah kelas yang rumpun pelajaran bahasa nya lebih banyak. Isinya cuma 25 orang, dan menurutku segini cukup (lebih enak sih 20-an), supaya pengkondisian bisa lebih efektif. Tapi kelas ini relatif aman, anak-anaknya responsif meski kadang sok celetak celetuk. Tapi masih menyenangkanlah.


Sopia mengirim pesan foto, biji-biji hanjere dari saung sudah dia buat menjadi gelang-gelang. Rajin memang.. Dan semuanya bagus..


Usia-usia yang mulai mengganti kopi dengan tolak angin. Badanku sudah tidak bisa diajak begadang. Kalaupun begadang, gantinya adalah tidur dua hari. 


Selasa, 27 Januari 2026. Visual jurnal, aku mengajak mereka menuliskan hal-hal yang ditemukan selama mereka berlibur ditambah dengan ilustrasi sederhana, tidak perlu bagus secara bentuk, yang penting mewakili ekspresi dan kreasi. Bisa jadi apapun, menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Selain memang ada dalam silabus, aku juga sekalian bereksperimen. Dan sesuai dugaanku, sebagian besar dari mereka tidak dapat 'mengingat' dengan baik. Mereka kebingungan tentang apa yang sudah mereka lewati. Itu berarti mereka kurang memaknai waktu, mereka menjalani peristiwa tidak dengan kesadaran dan kehadiran penuh. Dengan segala distraksi pada zaman ini, mereka kehilangan banyak hal.

Suatu yang lainnya, mereka adalah pelajar menengah atas, tapi beberapa dari tulisan tangan mereka sulit untuk dibaca. Ini juga bentuk 'kemunduran lain' dari kemajuan teknologi. Bahkan ada juga yang pergi sekolah tanpa membawa buku dan alat tulis. Kasus di sini bukanlah tidak mampu, tapi tidak ada kemauan dan kesadaran, bahwa belajar adalah proses yang penting. Pe-Er besar semua tenaga pendidik.


Sore hari aku memang berencana ke rumah Diwan untuk meminta lumpur dari kolamnya. Aku mau menggunakannya untuk campuran fertilizer tanaman-tanaman di ruanganku yang tanahnya belum pernah diganti sejak tiga tahun lalu. Sesampainya di rumah Diwan ternyata sedang memanen buah rambutan.


Selain rambutan, ada juga pepaya, nanas dan bunga rosela.


Ngala leutak. Cuaca memang sudah mendung sejak aku hendak berangkat. Jadilah kami hujan-hujanan sambil memindahkan lumpur-lumpur dari kolam ikan.


Lumpur yang kami pindahkan cukup banyak. Kami simpan sementara di pinggir rumahnya, aku belum punya uang untuk membeli tanah untuk tanaman-tanaman, yah sembari menunggu kadar airnya berkuranng.


Kopi liong dan seupan cau. Hidangan hangat setelah badan kedinginan hujan-hujanan.


Rabu, 28 Januari 2026. Melati dan Kemuning yang mekar di pagi hari yang sama. Keduanya adalah bunga favoritku, wangi mereka sekilas mirip, tapi tetap melati juaranya.


Sesuai yang direncanakan jauh-jauh hari, aku pergi ke kampungnya Imong untuk sekedar 'nongkrong' di gunungnya (begitulah dalam bahasa sunda, kami menyebut bukit atau dataran yang agak tinggi dengan kata gunung). Pagi hari, Aku, Ijal dan Imong sudah sampai saung tempat Bapaknya Imong memproses gula aren.


Cuaca sehabis hujan, di hutan begini tentu banyak nyamuk. Yah.. Seperti di gunung rukem saja.. Bedanya di sini tidak ada kuburan, dan lalingih karena Bapaknya Imong memang biasa sehari-hari beraktivitas di sini.


Dari itu aku membakar dupa. Selain untuk mengusir nyamuk juga supaya harum saja. 


Bapaknya Imong sudah berangkat sejak pagi sekali, kami terlambat untuk ikut untuk melihat bagaimana proses menyadap Lahang. Jadi, Bapaknya Imong memang biasa berkeliling 'menjenguk' pohon-pohon Aren di sekitar hutan Jeunjing. Akhirnya kami hanya bisa menunggu kedatangan Bapaknya saja, sambil duduk dan ngopi.


Lebih dari satu jam barulah Bapaknya Imong datang. Dengan lahang segar yang dibawa dengan lodong (Bambu yang dipakai untuk menyadap Aren).


Lahang segar langsung dari pohonnya. Rasanya memang berbeda dari yang pernah kubeli dari penjual yang kadang ketemu berkeliling. Lahang memang dikenal dengan berbau asap, tapi yang ini kukira sensasi bau asapnya lebih tipis, lalu dingin, tidak panas atau hangat. Eweuh rasa biang dina genggerong. Mungkin begini lahang yang benar-benar alami. Bapaknya Imong bilang untuk segera dihabiskan, karena dalam satu jam saja rasanya akan berubah asam, dan warnanya akan berubah lebih ke kuning kecoklatan.


Sisa Lahang dari satu botol yang diberikan Bapaknya Imong diolah menjadi gula. Lagi, berbeda dari gula yang biasa dibeli di warung-warung. Gula ini bertekstur lunak, mudah dihancurkan/diiris, beraroma khas karamel, dan warna cokelat cerah. Rasa manisnya tidak giung, tidak meninggalkan rasa pahit, dan tidak keras saat disimpan. Imong membekali ibuku tiga gandu untuk di bawa pulang ke rumah.


Rizki kedatangan, hadiah dari alam. Jamur-jamur ini tumbuh liar di hutan, Bapaknya Imong hanya berkeliaran sebentar dan sekitaran saja, pulang-pulang membawa ini.


Menikmati hutan Jeunjing, Buninagara, Tanjung Jaya.


Kamis, 29 Januari 2026. Hari yang biasa saja. Sampai menuju sore, gelondong kayu pohon durian yang sudah mati ini lapuk. Saat dulu ditebang kami tidak bisa memindahkannya karena berat dan berpotensi merusak bonsai-bonsai di sekitarnya. Dulu pohon ini yang mayung ngiuhan saung. Sekarang mau tidak mau kami harus memotong-motongnya dan memindahkannya..


Jumat, 30 Januari 2026. Seminggu lalu Bu Yani Yulia mengirimkanku pesan untuk menyampaikan salamnya pada Wa Ibah karena Bu Yani katanya memimpikannya. Saat berangkat kuli aku kebetulan ketemu wa Ibah, jadi aku punya kesempatan menyampaikannya.


Rapat di tempat kuli. Harusnya semua hal dievaluasi, termasuk soal social capital, tapi hari ini kiranya rapat lebih condong pada salah satu bantuan pemerintah yang disetop mulai bulan ini. Jadi, tempat ini kehilangan 50% dari bantuan keuangannya. Efeknya adalah penangguhan gaji dan pengurangan gaji karyawan. Yang menyebalkan adalah yayasannya terkesan tutup telinga, bahkan bertanya balik harus bagaimana (kepemimpinan macam apa ini). Padahal, aku sangat yakin, dengan pengelolaan yang optimal, segala kebutuhan operasional sangat memungkinkan untuk bisa mengatasii keadaan ini, bahkan tanpa bantuan pemerintah sekalipun. Tapi ya.. Mereka mungkin enggan melakukannya (atau tidak peduli tempat ini akan jadi seperti apa).

Mereka bilang salah satu solusinya adalah menambah jumlah siswa. Itu memang solusi praktis, tapi menurutku berjangka pendek. Mereka tidak ada yang membawa obrolan tentang bagaimana kita mengelola jumlah banyak itu (kalau misal memang terjadi). Jika manajemen pengelolaanya sama saja seperti sekarang, kukira tidak akan ada perbedaan dan bukan solusi jangka panjang. Aku tidak menapikkan diri bahwa aku juga butuh uang, tapi melihatnya menjadikan ini sebagai komoditas-jadi  terkesan seperti bisnis, (tanpa perbaikan kualitas) ini juga memuakkan.

Kita selalu terkonsentrasi pada human capital dan mengesampingkan social capital. Lebih buruk, ke keuntungan pribadi. Bukan kemaslahatan jamak. Apanya yang pendidikan.

Negara ini kotor, menyuguhkan kabar buruk setiap hari. Dari atas bahkan sampai bawah.

Tapi paling tidak yang kuterima dari rapat ini adalah aku harus cari kerjaan lain untuk bisa menutupi kebutuhan-kebutuhan hidupku 'yang lain'. Kemana, ya ?

Aku lulus PPG. Tapi sejak awal memang tidak apa soal iming-iming tunjangannya. Jadi, segala hal kemarin yang kulakukan dan 'kukorbankan' bisa kukatakan sebagai perjudian saja. Namanya juga judi, ya maenannya bandar.


Sore hari. Sudah seminggu sebelumnya Cep Thoriq meminta ketemu, tapi baru bisa kulakukan hari ini. Dia bilang cuma pengen ngobrol yang bukan kerjaan dan beban, tapi ya tetap saja kami saling 'mengeluarkan' obroloan itu. Lalu dia juga bilang akan berangkat umroh tanggal 3 februari mendatang. Dengan kopi 'serius', kami ngobrol sampai jam 10 malam.


Pulang ke saung, si Cece masih kerja menggarap lagu. Efek dari kopi baru dirasakan setelah aku pulang, aku tidak bisa tidur sampai jam 3 pagi.


Sabtu, 31 Desember 2026. Memasang lighting untuk keperluan ujian pertunjukkan. Hampir kuurungkan karena aku kurang tidur malam sebelumnya, tapi kadung sudah bilang ke Ijal dan Wawan bahwa hari ini kami akan melakukannya. Akhirnya tetap kami kerjakan dan selesai dzuhur. Aku sudah tidak punya uang, syukurnya ada makan siang gratis untuk ngupahan Ijal dan Wawan yang membantuku mengerjakan ini.


Memasang Lighting controller punya mang Cucu, ini sudah tahun ke tiga kami selalu meminjamnya. Yah.. Paling aku nanti minta uang ke sekolah untuk biaya sewa nya.


Menuju sore hari aku sudah pulang ke saung, lalu hujan besar turun. Timing yang pas, rehat setelah kerjaan seharian.


Menghadiri Haul Gusdur. Awalnya aku ragu-ragu buat ikut, tapi yasudahlah, ini malam minggu dan aku tidak tahu acara seperti ini bagaimana. Haul Gusdur ini acara tahunan, kali ini di ponpes Mathlabul Hidayah Nursalam - Cigalontang. Acara dimulai dengan Hadroh, Pembacaan Al-Quran & Shalawat, Mahalul Qiyam - Barjanzi, dan parade sambutan (banyak banget sambutan) aku sampai ngantuk. Lalu diakhiri dengan diskusi, kali ini temanya agama dan lingkungan, jadi masih okelah.


Sebenarnya, aku datang cuma mau lihat Diwan dan nonton dua bocah ini main musik karena Ijal dan Wawan kebagian ngisi acara dipenghujung sebelum pembacaan do'a.


Bonusnya, ketemu lagi teman lamaku Husni Aziz yang sudah berenti ngajar di kampus karena diangkat tugas di KUA Cigalontang, kami sudah lama nga ketemu. Lalu ada a Arif dari Ansor juga. Pulang jam 1 malam.


Minggu, 1 Februari 2026. Pagi hari minggu tenang. Aku cuma berencana mau lihat-lihat dan ngurus tanaman-tanamanku hari ini. Kriminil-kriminil yang kutanam di depan rumah maeje sudah mulai tumbuh, mangadam memang rajin mengurusinya.


Lalu, pagi tenang itu berubah jadi tegang. Si Bapa mengirimiku pesan kalau ibuku jatuh gara-gara pingsan, vertigonya kumat. Aku langsung pulang, dan Ibu sudah baringan di kasur. Seiring dengan jatuh itu, penyakit jantungnya juga ikut kambuh, tiada lain, harus dibawa ke IGD. Kebetulan si Iyan memang akan ke rumah, jadi kami semua ke rumah sakit. Seharian di sana, hasil diagnosa, iu harus dirawat inap.


Besok senin, aku harus masuk kuli. Jadi Aku pulang setelah maghrib, Bapa yang menunggui Ibu di rumah sakit. Hujan dan terang bulan yang biasa kusukai, malam ini berubah menjadi rasa gelisah. Aku cuma berharap tidak lama-lama saja.. Semua pulang, seperti biasa.


Selasa, 3 Februari 2026. Sore hari Ibu sudah bisa pulang dari rumah sakit. Iyan 'mengatur' kepulangan ke rumah karena rumah Iyan lebih dekat ke rumah sakit, selain itu aku masih kuli. Mereka tidur lebih awal, keduanya kelelahan. Tapi minimal sudah di rumah, dan aku bisa tenang sedikit sekarang.

-


Menyanyikan dua verse awal lagu ini..


Disela-sela hari-hari 1-3 Februari aku melihat jurnal menggambar mereka. Sebenarnya aku tidak juga terlalu fokus melihat sisi kualitas bentuk gambar yang mereka buat, tapi juga soal 'pembangunan' kalimat yang mereka rancang. Ada yang detail, ada yang sederhana, ada yang cuma 'syarat mengerjakan' saja. 

Setiap ini, aku mengobrol dengan yang membuatnya-per satu orang, ini privasi mereka. Sampai ada salah satu yang meminta maaf padaku karena ilustrasi yang dia buat tidak bagus. "Maaf Pak, gambarnya jelek. Nggak bisa, kurang minat sama menggambar sih..", ujar salah satu dari mereka. Di sisi lain, ini melukaiku he he, karena itu berarti dia tidak tertarik dengan pelajaranku yang notabene berhubungan dengan gambar. Di sisi lain, dia seorang yang jujur, dan tetap berusaha melakukan tugasnya. Segitu juga sudah cukup, karena mungkin kecerdasan setiap orang berbeda-beda. Yang penting dia paham tentang esensi dan teknis tentang hal yang kita sama-sama pelajari hari itu.

Melihatnya, dia mungkin sepertiku yang dulu enggan belajar matematika. Sejak kecil, aku sudah melihat bentuk angka-angka ini sebagai sesuatu yang terlalu pasti, tidak ada yang perlu dimaknai lagi. Tidak mengasyikan, aku tidak bisa berkelana di dalamnya. Efeknya aku sering melewati pelajaran matematika tidak dengan benar, dan membuatku selalu kesulitan dengan angka-angka. Terlebih tentang bagi kurung, dulu saat usia SD setiap aku punya pe-er tentang itu selalu dibantu ibuku, dan sudah pasti kena omel, karena aku memang sulit sekali mengerti-menangkap itu. Dan iya, kiranya sejak dulu, bahkan sampai hari ini, aku memang tidak pandai soal 'membagi', tentang apapun itu.

-
Aku sudah kehilangan rambutku. Nanti harus kehilangan apalagi ?

Bulan kedua. Tahun ini agak tidak ramah bahkan di awal tahun,
Mungkin masih ada harapan-harapan lain diantara embun.





0 comments:

Posting Komentar