Excerpt from the other sight Time has wonderful way of showing us what really matters
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2026

The Week of Script Reading


Aku berkunjung lagi

Pada ruang-ruang yang ditiduri
Nyeri. Dan jejeran kursi-kursi
Adalah teman setia. Keresahan itu
Bersandar di punggung. Menerka-nerka waktu

Sekali lagi. Kita hanya dapat menunggu
Bergiliran. Memainkan setiap peran
Yang dituliskan Tuhan. Dalam bait-bait lagu

Aku tumbuh. Menjadi sungai yang dialiri
Dengan kebaikan. Serta nama-nama suci
Tercatat padaku. Sebagai tepian-tepian
Peristirahatan. Turun naik menyelami ujian

Kematangan cinta. Terlihat dari sejauh mana menerima
Termasuk tentang menyambut lahir. Juga ketiadaannya

2025

-

Bacaan Alfatihah yang tiba-tiba hilang saat rakaat kedua shalat Isya sendirian, sialan. Orang sepertiku memang baiknya berjamaah sih biar lebih aman. Bulan Ramadan, menuju maghrib aku selalu menjadi orang yang paling kesepian hahaha. Di sisi lain entah kenapa, tapi di sisi lain aku juga menikmatinya.

Sedang ngararasakeun perubahan rutinitas sejak memasuki bulan puasa. Orang-orang ngomongi lapar haus, aku lebih ke perubahan waktu aktivitas dan istirahat. Efek 'kurang energinya' memang ada, makanya agak susah buat mikir-konsentrasi, apalagi buat kerjaan yang kecil-kecil di siang hari. Soal apetite-selera makan, udah jelek sebelum bulan puasa. Makan apapun rasanya sama saja (asal jangan ikan we uing mah).

-

Melewati akhir Januari-memasuki awal Februari, tahun 2026 ini agak bebeledagan. Setiap hari ada saja kabar buruk yang dikirimkan. Aku bersalaman dengan Diwan pada suatu malam di saung karena kita merasa sama-sama merasakannya, oh yeah aku tidak sendiri ! Hanya saja dia beunghar dan aku biasa (jadilah merengut deui uing mah haha)

Seperti membaca, menemukan dan memerankan arahan naskah. Aku menjalani waktu-waktu terakhir ini dengan dua keberadaan, imajiner dan realita.

Aku juga sudah coba melakukan pembatasan 'peredaran' supaya punya lebih banyak kesadaran untuk diriku sendiri. Tapi yang bermasalah memang isi kepalaku, bukan soal kemana kaki-kaki ini bergerak tertuju !

Haha


Rabu, 4 Februari 2026. Menulis catatan minggu terakhir Januari di Saung. Memasang meja, merenahkeun karep, memang enak duduk santai-berpikir seperti ini-di sini. Tapi sempat terjeda gara-gara ada 'tamu' ular hitam yang naik ke saung, kami sama-sama kaget ha ha. Aku nunggu dulu ular itu pergi entah ke mana.

2018-2026, tahu-tahu aku sudah tinggal di sini delapan tahun. Banyak yang berubah, tempat ini, keluar-masuk orang-orang, juga diriku sendiri.  


Sore harinya menggambar sketsa si Suhay. Sudah lama aku ingin menggambarkannya, baru kali ini ada waktu melakukannya. Ulang tahunnya di bulan januari. Uwa-bibi nya mengirimkan hadiah ulang tahun yang dikirim ke Batam-ke tempat tinggalnya. Cuma aku pamannya yang tidak memberi apa-apa, pamannya ini memang si paling kere haha.. Maaf yak..


Jumat, 6 Februari 2026.
Jeda antara jam kerja 'reguler', aku mengedit flyer-flyer untuk keperluan ujian pertunjukkan teater di saungnya Diwan. Kerja ditemani Buddha. Membuat hal-hal grafis seperti ini sudah lumrah sekarang.. Jauh sebelum waktu ini, aku sudah melakukannya, aku mengadopsi hal-hal yang kudapatkan dari kehidupan di bandung sejak 2018 lalu.


Warisan Pa Asep. Aku lupa persisnya kapan ujian pertunjukkan teater ini dimulai, yang jelas yang pertama kali menginisiasinya adalah Pa Asep bertahun-tahun lalu. Ujian mata pelajaran Seni Budaya ini cukup kompleks, karena menggunakan sistem kerja komunal, yah ini seperti miniatur pelatihan pembuatan teater 'asli'. Mengadopsi tata cara produksi ujian akhir di STSI, Pa Asep berhasil membuat 'kebiasaan' yang jadi ciri khas pada ujian mata pelajaran seni budaya di sini.  Selalu menjadi waktu yang menyenangkan buat anak-anak 'berproses' di tempat yang seperti 'enggan' maju.

Masalah tahunan. Pa Asep dan aku sudah yakin pasti ketemu banyak masalah kalau mulai mengerjakan ujian pertunjukkan ini setiap tahun. Masalahnya ?, macam-macam. Semisal yang paling sederhana adalah anak-anak tidak datang hadir ke sekolah, tapi ada ketika latihan teater (sepulang sekolah), lalu untuk yang santri-santriah yang memang 'rada-rada', sok dipake alesan bolos ngaji, kelas yang jadi bala, berantakan, tidak disuport sekolah, berurusan dengan pesantren, dan banyak lagi. Setelah Pa Asep pindah tugas, aku yang kebagian semua masalah ini.


Dan ini seperti tradisi juga, Sanggar Gama selalu andil sebagai pertunjukkan pembuka, itung-itung stimulus dan tatahar ngumpulkeun nu nonton. 


Kelas XII tahun ini berjumlah sepuluh. Lima kelas untuk program Mipa dan lima kelas untuk program IPS. Pada ujian kali ini kami masih saja mendapati naskah-naskah yang bertahun selalu ada dipentaskan di sini. Sebut saja naskah Sayang Ada Orang Lain, Ayahku Pulang, Bunga Rumah Makan, Pada Suatu Hari & Kisah Laras dan lain-lain, naskah-naskah itu masih menjadi pilihan favorit saat ujian begini. Meski ada juga yang membawakan beberapa naskah yang baru, tapi jumlahnya selalu lebih sedikit. Tapi sebenarnya, meskipun naskah yang dibawakannya sama, dengan format teater tahunan, dan apresiatornya selalu berbeda, sebenarnya masih asik-asik saja. Yah.. Paling buatku rada-rada kesyel, karena teu saeutik geus katalalar adegan oge jeung dialog-dialogna.


Lalu tantangan untuk tahun ini adalah waktu penggarapan yang relatif lebih singkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hanya sebulan saja. Gara-gara ini aku dapat beberapa komplen dari anak-anak, tapi ya tidak ada pilihan lain selain melakukannya.


Pulang jumatan, aku harus menghadiri laporan pertanggung jawaban (LPJ) Sanggar Gama. Jadi anggota kepengurusan yang tahun ke tiga mesti memberikan kepengurusan kepada adik-adik tingkatnya. Selalu banyak koreksi, dan biasanya masalahnya relatif sama setia. Entahlah kenapa. 


Selain LPJ, atas inisasi Rizal, mulai tahun ini ada juga unjuk penampilan bagi kandidat ketua sanggar periode selanjutnya. Zaky Faiq mendapat giliran pertama tampil dengan membawakan teater monolog, menuliskan sendiri naskahnya, mengeksplor sendiri semua akting pertunjukkannya, lumayan sakieu mah.


Lalu penampilan tari tradisi oleh Mila dan Zahra. Sayangnya mereka hanya menampilkan tari yang gerakannya sudah ada, jadi konteksnya bukan penciptaan. Dengan Mila dan Zahra, kandidat ketua sanggar gama tahun ini ada tiga.


Setelah laporan pertanggung jawaban, biasa sok sesedihan tea ningan. Buatku yang sudah 'berumur lewat' hal begini sudah terasa giung. Tapi bagi mereka ini adalah salah satu fase bertumbuh. 


Sabtu, 7 Februari 2026. Diminta menjadi juri untuk kenaikan kelas tari yang diadakan Sanggar Tari Anbaya asuhannya Nadia Nurazizah. Nadia ini salah satu alumni sanggar gama, muridnya pa Asep. Dia bergerak cukup 'progresif' dan serius mengurusi sanggar tarinya, tes kenaikan kelas tari ini juga salah satu upayanya untuk meningkatkan kualitas dan motivasi di lingkungan sanggarnya. Sekitar 28 pelajar tari yang harus kami tilai dengan tingkat yang berbeda, pemula hingga mahir. 


Jeda merekap nilai para penari, panggung diambil alih oleh 'penari' tingkat selanjutnya, ibu-ibu aerobik ! haha.

Mari kesampingkan dulu hal-hal negatifnya, apapun itu. Aku baru tahu, melihat langsung dan ternyata ada 'jenis pergaulan' yang seperti ini. Pertama, kegiatan seperti ini adalah aktivitas sosial buat ibu-ibu (yang mungkin jenuh dengan aktivitas rutinannya), bagus untuk kesehatan mental-sosialnya. Lalu yang menarik perhatian adalah instrukturnya, perempuan yang kukira sudah cukup berumur lanjut tapi dia sangat luwes memimpin setiap gerakan. Lagu yang digunakan aerobik yang kudengar kebanyakan lagu-lagu populer yang sudah diaransemen menjadi semi DJ-house music, gerakannya sangat variatif, tapi yang jelas aerobik adalah jenis gerak hitungan (kalau dalam tari), dan ibu-ibu ini bisa mengikutinya, dari tempo yang lambat sampai cepat, semuanya !. mengerikanss haha. Ini bagus buat melatih psikomotorik mereka haha.

Hal lainnya, dari segi ekspresi, mereka tidak kalah dengan generasi muda. Soal style, ketika kumpulan 'rutin', mereka menggunakan baju seragam sesuai studio masing-masing, lengkap dengan aksesoris-aksesoris seperti topi, kerudung (yang sedang tren), kaca mata, sepatu olahraga yang branded.  Dan yang aneh buatku adalah mereka bisa memakai celana jeans yang relatif ketat saat melakukan aerobik, tidak memakai celana olahraga.

Tapi aya wae gorengna. Setelah mereka selesai satu atau dua sesi aerobik biasanya mengambil jeda istirahat. Nah jeda istirahat itu digunakan untuk minum, merokok, ngegosip, foto-foto sampai yang terakhirnya makan-makan, makan beneran ieu mah makan besar tea ning haha.. Jadi aku tidak tahu esensi aerobiknya mereka dapat atau tidak xixi.


Setelah ibu-ibu itu selesai, acara dilanjutkan ke pembagian piala kejuaraan. Ah, apapun hasilnya, buatku yang penting anak-anak ini 'senang dulu menari'. Kalau sudah senang biasanya mau terus belajar.


Minggu, 8 Februari 2026. Minggu istirahat. Biasanya memang aku menggunakannya untuk beres-beres dan ngoprek pepelakan. Aku meminta sirih gading di depan rumah de Hasbi yang sudah tumbuh menggila sampai nyebrang pagar ke kantor notaris pinggir rumahnya.


Lalu Adam juga ke saung pagi-pagi, katanya mau nongkrong saja. "Sok we, ngan moal diladangan da keur baranggawe ieu", ujarku. Di Saung, orang-orang memang lar-sup, mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan-selama itu baik. Aku tidak begitu apa soal siapapun yang datang, kecuali jika memang seorang yang sudah membuat janji dan ada keperluan yang harus dilakukan bersamaku, yang begitu mah biasana diladangan.


Malam hari, laptop tiba-tiba mati. Tidak jelas sebabnya apa, berdua sama si Cece ulukutek mendiagnosa kira-kira apa yang menjadi sebab laptop ini tiba-tiba mati, akhirnya keluar perkiraannya adalah baterai dan IC power-nya. Karena lampu indikator baterainya kadang nyala dan tidak. Ini adalah masalah lain, karena aku sudah meminta Rofi dari Cirebon untuk ke sini untuk take vocal untuk lagu musikalisasi puisi buatan si Cece yang bahannya adalah puisi yang ditulis istrinya : Shalza. Tapi laptopnya malah ngadat hueee.


Senin, 9 Februari 2026.
Gerimis pagi. Aku sudah berfirasat hari ini tidak akan baik-baik saja, dan ternyata benar. Kukira, Ini akan jadi cerita lelucon di masa depan nanti, hari ini adalah hari pertama pelaksanaan kebijakan baru soal aturan gaji di tempat kerja, semua 'pekerja' gerutu di setiap sudut tempat para 'pekerja' berkumpul. Energi negatif di sana-sini. Di sisi lain aku mempersiapkan untuk ujian pertunjukkan, pokonya ribet, seharian itu aku jadi pemarah, menyebalkan.


Maghrib, Rofi sudah di saung. Tapi kami jadi tidak bisa merekam suaranya karena laptopnya memang mati. Aku jadi merasa bersalah dia datang jauh-jauh ke sini tapi nga bisa ngapa-ngapain. Badmood yang lain.


Jadi setidaknya si Cece membriefing lagunya saja pada Rofi, ya.. Itung-itung sebagai latihan dulu saja.. Biar nanti kalau laptonya nyala, tinggal take vocal, biar memudahkan saja.


Badmood parah, karena tidak bisa melakukan apapun. Untuk mengarahkan 'energi' negatif, aku menyalurkannya kepada menggambar dan menulis sedikit sedikit.. Kupilihkan warna hitam dengan beberapa kalimat 'tidak baik' yang kudapatkan hari ini.


Selasa, 10 Februari 2026. Kerjaan dimulai dengan memasang poster-poster pertunjukkan yang akan dipentaskan tanggal 11-12 Februari 2026. Ini termasuk terlambat, biasanya aku dan Pa Asep sudah memasang poster-poster begini seminggu sebelum ujian, supaya orang-orang sudah bisa 'memilih' pertunjukkan mana yang ingin mereka saksikan.


Setelahnya memasang poster, aku melihat gladi teater yang akan dimainkan oleh sanggar untuk pembuka. Para aktor sanggar gama ini semuanya perdana memainkan teater, belum pernah main teater sebelumnya. Jadi cukup menantang untuk mereka dan buat Wawan yang mengasuhnya, aku sih tidak begitu kontribusi soal ini. Membiarkan mereka sebebas-bebasnya.


Cece Kherunnisa. Secara base, sebenarnya dia lebih ke seni tarik suara. Punya timbre suara khas pelanggam jawa, tapi kali ini dia mencoba menjadi salah satu aktor utama dalam teater yang akan dibawakan oleh sanggar Gama.


Pulang kerja, para 'pekerja' dibawa munggahan ke Kawalu, ke sebuah rumah makan, untuk makan-makan, tentu saja. Meninggalkan anak-anak yang gladi, sebenarnya aku nga begitu 'bernafsu' buat ikut, tapi Iqbal mengajakku untuk ikut karena berangkat sendirian. Dan sebagai harga 'solidaritas' aku akhirnya ikut, dan di sanapun aku cuma iya-iya saja.


Foto bersama selesai munggahan. Menyenangkan orang-orang mah mudah sekali, bawa makan saja, selesai. Seketika mereka seperti lupa akan kebijakan baru yang memberatkan mereka semua. Buatku yang tipe 'perasa', daripada munggahan, ini lebih ke perayaan kebijakan baru itu, dan kalau liat begini, mereka semua terkesan 'menerima' saja.

Atau munngkin juga, mereka tidak ada pilihan lain.


Sore hari sebenarnya aku sudah pulang ke kosan, dan ada Diwan di saung, dia cerita sedikit tentang perkembangan penataan saungnya. Lalu menawariku untuk makan malam di sana.

Malam itu kami juga nelponi si Aiki, mengkonfirmasi kedatangannya untuk mengisi acara di saung ini. Mengobrol panjang tentang konteks sajian-sajian yang akan dibawakan dan teknis sederhana acaranya.


Makan malam di saung Diwan. Cipé, Tahu dan Togé.


Rabu, 11 Februari 2026. Sebagai pembuka ujian pertunjukkan teater di hari pertama, Sanggar Gama membawakan lakon Pelukis dan Wanita, naskah karya Adhy Pratama Irianto.  Cerita lakon ini berfokus pada seorang Wanita yang terobsesi ingin memiliki lukisan dirinya yang sangat sempurna. Di sisi lain, sang Pelukis terjebak dalam proses kreatif yang tak kunjung usai, menciptakan ketegangan antara realita dan imajinasi.

Dimainkan hanya oleh tiga aktor, sebagai sutradara, Wawan merubah persona asisten pelukis yang dimainkan oleh Fadlan menjadi seorang yang hiperaktif-berkebutuhan khusus, tidak sebagai seorang yang serius, ini menjadi pemicu komedi yang membuat adanya kontradiktif dari sisi penokohan. Zaini berperan sebagai pelukis membawakan persona yang terlalu percaya diri, hanya Cece sebagai perempuan yang tidak dirubah secara karakter asli dalam naskahnya.

Naskah-naskah seperi ini dikenal menggunakan plot sirkular, di mana cerita seolah-olah berputar kembali ke titik awal tanpa penyelesaian yang linear, ciri yang sangat khas untuk teater realis-absurd. Lakon ini sering dianalisis melalui lensa feminisme (melihat posisi wanita dalam relasi kuasa dengan pelukis) dan absurdisme, mempertanyakan makna hidup dan penantian yang sia-sia.


Foto setelah pementasan, Wawan sebagai sutradara bersama asuhannya. Tahun kemarin, Rizal yang menggarap teater, kali ini Wawan yang ambil bagian karena Rizal sudah agak sibuk dengan perkuliahannya.


Ayahku Pulang - naskah Usmar Ismail, XII IPS 4. Salah satu naskah yang kubilang selalu menjadi pilihan favorit setiap tahun. Lakon dengan gaya realis ini menceritakan tentang konflik keluarga, pemaafan, dan penyesalan. 

Sejak awal lakon ini sudah menyajikan adegan yang intens ketika seorang ayah kembali ke rumah setelah lama meninggalkan istri dan anak-anaknya. Selama kepergiannya, keluarga tersebut hidup dalam kesulitan dan harus berjuang tanpa kehadiran sosok kepala keluarga. Kepulangan sang ayah tidak serta-merta membawa kebahagiaan, karena anak-anaknya menyimpan rasa kecewa, marah, dan sakit hati akibat ditinggalkan. Di sisi lain, sang ayah datang dengan perasaan bersalah dan keinginan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Ibu berada dalam posisi yang sulit, terombang-ambing antara memaafkan suaminya dan melindungi perasaan anak-anaknya. Melalui konflik batin dan dialog yang emosional, naskah ini menyampaikan pesan tentang tanggung jawab, penyesalan, serta pentingnya kejujuran dan pengampunan dalam kehidupan keluarga.

Secara garis besar, kelas ini bisa membawakan alur ceritanya dengan cukup baik, meski penguasaan karakter dan dialognya belum maksimal.


Tanah Warga - naskah Jessa Aprilia Rahma, XII IPS 2. Lakon ini menceritakan tentang konflik sosial yang terjadi di sebuah kampung ketika tanah milik warga terancam diambil atau dikuasai oleh pihak yang lebih berkuasa, seperti pengusaha atau pemerintah. Cerita ini menggambarkan kegelisahan masyarakat kecil yang harus menghadapi ketidakadilan, tekanan, dan perpecahan di antara sesama warga akibat persoalan kepemilikan tanah. Di tengah situasi tersebut, muncul perdebatan antara mempertahankan hak bersama atau menyerah demi kepentingan tertentu. Lakon ini menyoroti tema perjuangan, solidaritas, serta pentingnya persatuan dalam menghadapi masalah sosial, sekaligus mengkritik ketimpangan kekuasaan yang sering merugikan masyarakat kecil.

Naskah yang tidak terlalu panjang dan konflik yang jelas, tidak terlalu banyak simbol, tapi resiko naskah begini adalah pembawaan kejelasan alurnya harus kuat.


Nu Garering - naskah Dhipa Galuh Purba, XII IPS 1. Kelas ini membawakan naskah dengan bahasa Sunda, aku tidak menyangka pembawaan kelas ini akan begitu luwes, diluar ekspektasiku sendiri. Dulunya anak-anak ini diasuh oleh Adam,

Naskah ini menggambarkan kondisi masyarakat yang dilanda kesulitan yang sangat umum, potret kita : seperti kemiskinan atau krisis yang memunculkan konflik antar tokoh, perasaan putus asa, dan berkurangnya rasa kepedulian satu sama lain. Dibalut dengan gaya komedi.

Adegan ditutup dengan seorang dokter yang ternyata seorang yang gila, audiens banyak tertawa saat pementasan ini berlangsung. Banyak akting improve, tapi dilakukan dengan baik.


Rumah Do Re Mi - naskah Mayangsari, XII IPS 5. Salah satu naskah baru yang dibawakan sejak ujian pertunjukkan teater ini berjalan. Lakon ini menceritakan tentang kehidupan sekelompok tokoh yang tinggal atau berkumpul dalam satu rumah dengan latar yang berkaitan dengan musik. Judul Do Re Mi melambangkan nada dasar dalam musik, yang menjadi simbol harmoni, perbedaan karakter, serta proses belajar dalam kehidupan.

Dalam cerita ini, para tokoh memiliki latar belakang dan sifat yang berbeda-beda sehingga sering muncul konflik, kesalahpahaman, maupun persaingan. Namun melalui interaksi, kerja sama, mereka belajar untuk saling memahami dan membangun kebersamaan. Lakon ini menyampaikan pesan tentang pentingnya toleransi, persahabatan, dan harmoni dalam kehidupan.

Esensi yang kutangkap dari improvisasi naskah yang dilakukan kelas ini lebih kepada pengejaran cita-cita, motivasi juga harapan. Pemipin yang licik, dan pembawa perubahan yang selalu diusik oleh kebijakan yang kotor.


Jejak yang Terhapus - naskah Vina Aviyal Sanufa, XII IPS 3. Pertunjukkan yang menceritakan tentang perjalanan seseorang atau sekelompok tokoh yang berusaha memahami masa lalu yang perlahan terlupakan atau sengaja dihapus. Ceritanya sih sangat biasa, yah kehidupa remaja SMA lah, cinta-cintaan dan sebagainya.

“Jejak” dalam judulnya melambangkan kenangan, kesalahan, atau peristiwa penting yang pernah terjadi, sementara “terhapus” menggambarkan upaya melupakan, menutup-nutupi, atau kehilangan identitas. Melalui dialog yang emosional dan alur yang reflektif, lakon ini menyampaikan pesan tentang pentingnya menerima kenyataan, berdamai dengan masa lalu, serta memahami bahwa setiap tindakan akan meninggalkan jejak dalam kehidupan.

Ini juga naskah yang baru yang dibawakan pada ujian kali ini. Menontonnya, aku merasa penafsiran naskahnya ini tidak biasa untuk dibawakan oleh anak setingkat SMA, karena pada akhir pementasan sutradaranya menceritakan dan menuturkan banyak hal tentang kesehatan mental dan istilah-istilah gangguan psikologis yang cukup asing untuk didapatkan di sekolah mereka ini-'di sini'. Lebih jauh lagi termasuk soal hal-hal transendental yang mereka bawakan, penghapusan eksistensi, dan yang lainnya. Yah.. Maksudku kalau mereka memang punya dan membaca  referensi tentang itu ya baik sekali sih.. Tapi aku tak menyangka saja anak-anak kelas ini begitu cerdas (semoga).


Kamis, 12 Februari 2026. Ujian pertunjukkan teater untuk kelas 3 jurusan MIPA di hari kedua, dibuka oleh divisi tari sanggar Gama yang diwakili oleh Mila dan Zahra. Setelah penampilan ini, dilanjutkan pada ujian teater sesuai urutan tampil,


Laras & Lain-lain - naskah Dukut Iman Widodo, XII MIPA 3. Drama komedi yang mengangkat persoalan masyarakat kita secara umum dan kritik sosial. Melalui pendekatan sosiologi sastra, naskah ini menggambarkan ketimpangan ekonomi, urusan rumah tangga dan sosial. Adegan awal dimulai dengan aktor Pa Suryo, kaya raya namun kikir (diperankan oleh Sansan) yang memelihara burung yang dinamai Laras, konflik dimulai saat Laras hilang,

Ketegangan mencapai puncaknya melalui serangkaian kesalahpahaman komedi yang dibumbui kritik tajam terhadap sifat konsumerisme dan ketimpangan sosial di lingkungan masyarakat. Di tengah kekacauan tersebut, muncul tokoh-tokoh sampingan yang menambah warna drama dengan gosip dan campur tangan mereka, mencerminkan dinamika masyarakat yang senang mencampuri urusan orang lain.

Cerita akhirnya ditutup dengan penyelesaian yang bersifat moralistik, di mana nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan makna kebahagiaan sejati ditekankan lebih penting daripada sekadar kepemilikan materi atau status sosial.


Cucunguk - Yoseph Iskandar, naskah XII MIPA 4. Lakon yang menggambarkan realitas pahit kehidupan masyarakat di Tatar Sunda, terutama mengenai kemiskinan yang menjerat keluarga kecil.

Dibawakan dengan gaya longser, seharusnya lakon ini terasa lebih segar. Tapi beberapa aktor kelas ini terkesan agak pasif, jadinya pemeranan terkesan tidak seimbang. Inti dari lakon ini adalah ketahanan-cara manusia bertahan hidup, nilai-nilai moral yang dibawakan pada akhirnya lebih merujuk pada kejujuran.


Aduh Ujang - Jhoni Habibie, naskah XII MIPA 2. Naskah yang berlatar di lingkungan pedesaan yang kental dengan budaya dan problematika masyarakat kelas bawah. Fokus utama ceritanya adalah dinamika hubungan asmara yang terhambat oleh perbedaan pandangan atau restu orang tua (Abah, diperankan Radit). Naskah ini sering kali menyisipkan unsur komedi situasi dan kritik sosial terhadap cara pandang kolot atau pragmatis dalam keluarga pedesaan.

Kelas ini memang banyak anggota sanggarnya, jadi penggarapannya relatif lebih 'aman'. Hanya saja banyak cerita yang ditambah, improvisasi yang terlalu panjang, hampir 'mengaburkan' cerita intinya, tapi anak-anak ini bisa mengembalikannya pada alur aslinya.


Lakon Taplak Meja - naskah Herlina Syarifudin, XII MIPA 1. Lagi, ini naskah baru yang dibawakan pada ujian teater kali ini. Naskah ini menceritakan tentang realitas kehidupan anak-anak di sebuah rumah singgah (semacam panti asuhan lah tapi ada aktivitas belajar mengajarnya ; sekolah alternatif), isinya seperti anak-anak jalanan atau anak-anak dari keluarga yang berantakan (broken home). Rumah ini dipimpin oleh sosok bernama Pakde Kempul (diperankan oleh Ancang) dan Bude Kiranti. Tokoh-tokoh remajanya memiliki nama unik seperti Kemprut, Wirid, Genting, Janthil, dan Sower yang memiliki karakteristik khas masing-masing.

Lakon ini menggambarkan penantian dan harapan anak-anak rumah singgah tersebut. Di balik keceriaan atau kenakalan mereka, tersimpan luka batin akibat kurangnya perhatian orang tua dan kerasnya hidup di jalanan. 

Penggunaan properti "Taplak Meja" sesuai judul cerita berfungsi sebagai simbol  sekaligus pelindung, mencerminkan bagaimana rumah singgah tersebut mencoba "menutupi" atau melindungi keburukan dan luka hidup para penghuninya. Di akhir lakon, properti taplak meja yang mereka gunakan menjadi gambaran penutup bahwa kehidupan mereka akan terus "ditutupi" atau disembunyikan dari pandangan masyarakat umum. Ada kesan bahwa mereka adalah "hiasan" yang tidak dianggap penting oleh sistem sosial yang lebih besar.

Sebagai konflik, setelah serangkaian perdebatan tentang nilai rapor, cita-cita, dan kerasnya dunia luar, anak-anak tersebut menyadari bahwa rumah singgah adalah satu-satunya tempat mereka bisa merasa "berharga" meskipun dunia luar memandang mereka sebelah mata. Diakhiri dengan penegasan bahwa identitas mereka bukan ditentukan oleh selembar kertas rapor atau asal-usul keluarga, melainkan oleh kebersamaan yang mereka bangun di rumah singgah tersebut.

Secara keseluruhan, ending-nya bersifat open-ended (terbuka), mengajak penonton untuk merenungkan nasib anak-anak jalanan yang sering kali terlupakan, tapi aku kira penonton di sini-pertunjukkan di sini masih dalam tahap hiburan saja, belum sampai pada proses-proses perenungan semacam itu.


Pada Suatu Hari - naskah Arifin C Noer, XII MIPA 5. Salah satu drama realis terbaik menurutku yang ditulis Arifin C Noer, ini menceritakan tentang konflik internal dan kerapuhan rumah tangga sebuah keluarga besar.

Cerita berfokus pada sepasang suami istri lanjut usia, yang disebut sebagai Kakek dan Nenek, yang sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-50 (ulang tahun emas). Namun, di balik perayaan tersebut, muncul konflik besar yang dipicu oleh rasa cemburu Nenek terhadap Kakek, serta masalah-masalah yang dihadapi oleh anak-anak mereka. Loba masalah we pokona.

Arifin C Noer, menyoroti bahwa usia seseorang dan usia pernikahan yang panjang tidak menjamin hilangnya konflik atau keraguan. Lalu menariknya dalam naskah ini ada dua perspektif dari dua generasi berbeda orang tua dan anak, yang 'kadang' dipukul rata dalam kehidupan nyata.


Memberikan apresiasi pada teman-teman kelas. Aku pernah membersamai mereka saat tahun pertamanya di sini sebagai wali kelas. Jadi kelas ini punya kesan pribadi buatku.


Katanya kelas ini seringkali membuat masalah. Tapi di ujian pertunjukkan ini mereka cukup sukses membawakan naskah yang cukup panjang ini dan kebanyakan siswa-siswa yang kebagian menjadi aktor adalah siswa-siswa 'buron', tapi sakitu mah leuwih ti lumayan lah ya..


Menutup ujian pertunjukkan teater tahun ini.
: Menyenangkan dan melelahkan buatku.

Aku melihat foto-foto kiriman tim dokumentasi. Rada siga teteateran teh dina foto mah.. Lalu yang paling penting adalah atmosfer penciptaan-kreativitas terasa di sana-sini, gorengna adalah masih teu dibareresan deui urut balatakna.

Satu bulan waktu persiapan, aku sempat ragu mereka bisa melewatinya atau tidak, dengan keseriusan, ternyata bisa ! Mereka semua hebat.

Dari banyak hal tentang ujian teater ini yang sesuai 'visi' di tempat ini salah satunya adalah penerapan literasi buat anak-anak secara nyata. Mereka menginterpretasi naskah dari banyak referensi. Sekarang memang zamannya internet, lebih mudah, bisa juga lihat contoh pementasan dari video-video. Tapi lepas dari itu, berarti mereka melakukannya dengan kesadaran mereka masing-masing (meskipun dipicu oleh tugas yang harus mereka tuntaskan).

Salah satu indikator Deep Learning yang digembor-gemborkan kurikulum itu sudah terpenuhi : Mindful learning, belajar dengan kesadaran. Lalu tentu Joyful learning, 80% dari anak-anak yang kutanya mereka mengatakan ujian ini menyenangkan meski prosesnya tidak selalu mudah, dengan ini dua indikator terpenuhi. Tinggal Meaningful learning-nya, pembelajaran bermakna. Aku belum sempat menanyakan-mensurvey anak-anak dari sisi ini, yah ini Pe-Er ku untuk kuperbaiki.

Menariknya, aku selalu melihat black horse dalam ujian pertunjukkan teater seperti ini. Anak-anak yang memiliki 'atribut' kurang baik itu kadang lebih menonjol-bermuncul ketika proses ujian ini. Tidak jarang aku melihat budak-budak bangor dengan kemampuan penguasaan naskah-daya hafal tinggi disertai kemampuan mereka 'menyerap' pemeranan dan memerankannya. Kemampuan komunikasi, manajemen konflik dan keuangan, life home common basics skill (minimal maku ngaragaji, ngoprek listrik), memilih musik berdasar nuansa, dan lainnya. Ada banyak potensi anak-anak yang luput yang tidak bisa kita penuhi, dalam tiga tahun mereka belajar di sini.

Kecerdasan mereka bermacam-macam.
Tidak hanya soal berhitung dan membuat kalimat. Tapi bagaimana mereka memperhitungkan dan mengucapkan rangkaian kalimatnya.

Tapi seperti cara apresiator menyikapi salah satu jenis naskah dengan jenis open-ended yang dibawakan oleh anak-anak dalam ujian teater kali ini, khalayak sekolah kita juga belum begitu punya perhatian bahwa masih banyak hal yang harus dibantu-ditunjang untuk perkembangan anak-anak secara menyeluruh. 

Setiap hal memang punya resiko, termasuk ujian pertunjukkan teater ini. Memang ada saja yang menyalahgunakannya. Tapi yang membuatku sedih adalah kesenian masih dipandang sebagai main-main dan sebatas hiburan. Bukan salah satu medium pembelajaran, pengasahan perasaan.

Disadari atau tidak, mau percaya mau tidak, anak-anak hari ini sudah banyak yang tidak melatih-tidak menghiraukan perasaannya sediri.

: Aku sudah melihatnya. Anak-anak yang kering dan kosong.


Jumat, 13 Februari 2026. Jeda setelah hari-hari padat. Aku banyak melamunkan hari-hari yang dilewati. Satu persatu kewajiban 'kerja selesai', meski teror selalu ada saja. Mengerjakan hal-hal kemarin, beruntung aku masih dibantu Wawan dan Rizal, minimal teu kateter teuing. Mereka juga teu kumaha diburuhan, kadang aku merasa agak gimana dengan itu. Tara tuman ngariweuhkeun batur tea ning..

Menuju petang aku menggambar seorang yang akan datang bulan mei mendatang, ini sebagai hadiah valentine ceritanya. Meski aku ngapernah vavalentinan, tapi yaa.. Budaya barat buat si itu mah, jadi aku membuatkannya sketsa saja, kulakukan hari ini karena yakin besok si Aiki akan datang dan akan sibuk ngurusi acara di rumahnya Diwan.

-

Yah.. Awal februari. Banyak membaca yang bukan tulisan.. Lumayan.








Selasa, 06 Januari 2026

Consideration

Engkau tahu ?

Setiap bagian hari memiliki catatan. Jejak langkah kaki
Yang seringkali dilewatkan para pembaca. Adalah waktu
Pada sudut-sudut bumi yang kerap jauh berbeda. Arti
Terkadang dapat ku temukan. Dalam kesabaran kalbu

2022


Dua minggu bulan Desember yang terasa terburu-buru. Aku disuguhi banyak hal, tapi diantara yang tidak biasa adalah pengambilan keputusan. Aku tipe yang jarang dihadapkan dengan kondisi ini. Bukannya cari aman, tapi lebih kepada banyak hal yang jadi pertimbangan (yang kadang kala malah menghambat langkah ke depan).

Waktu ini juga aku mendapat banyak pertolongan dari yang dekat sampai berjauhan. Mengetahui aku masih punya tempat di hati mereka ternyata menyenangkan. Makanya aku selalu mencoba untuk berbuat baik pada siapapun (kecuali pada orang yang kesalahannya sudah tak bisa kutoleransi, biasanya aku lebih pada tidak peduli). Perasaan bahagia saat ditolong saat membutuhkan, itu benar-benar melegakan. Syairatnya bisa dari apapun, tapi hakikatnya tetap dari Tuhan yang maha pengampun.

Tulisan ini rancangannya sudah kubuat sejak aku melalui hari-hari lalu. Tapi baru sempat kuselesaikan pada hampir seminggu pertama di tahun baru.

Tapi yang jelas, aku selamat, dan bisa melaluinya, meski banyak hambatan di sepanjang jalannya.


-


PPG : The Rush Weeks of Terror.

Menyoal ini. aku harus cerita sedikit tentang programnya sebenarnya bagus ini. Program pendidikan lanjutan setelah sarjana (S1/D4) bagi lulusan kependidikan maupun non-kependidikan untuk menjadi pengajar profesional bersertifikat, dengan tujuan meningkatkan kompetensi pedagogik (ilmu keguruan), profesional, sosial, dan kepribadian sebagai pendidik yang baik. Benefit dari mengikuti program ini adalah sertifikasi pendidik (kalau buat pegawai negeri katanya ini bisa menambah nilai apa gitu, atau jadi 'kemudahan' kenaikan, katanya). Disamping itu, ada tunjangan, tapi tentu saja yang itu ketika kita memenuhi syarat-syarat tertentu (yang merepotkan), oh dan tentu juga dengan biaya 'sogokan' kepada berbagai pihak supaya kita mendapatkan itu. Mengerikannya itu sudah dianggap normal. 

Banyak sekali pendidik-pendidik mengejar titik ini. Tapi buatku ini cuma terasa sedikit tergesa-gesa, aku tidak punya cukup waktu dan sumber daya untuk mengikutinya, karenanya aku memutuskan untuk tidak ikut.

Aku meminta saran ke si Ibu dan si Bapa. Mereka sih senang-senang saja aku dapat kesempatan ini. Tapi "Sok we kumaha Eki. Mun kirana kaudag, ya paju. Mun henteu oge teu nanaon, ke mereun aya deui. Da ti babaheula ge hirup teu make nu kitu oge lin ?". Oke, aku sudah bulat untuk tidak ikut.

Senin, 1 Desember 2025. Teror support dari teman kerja. Bu Dety ini guru yang baik. Dia maksa-maksa aku untuk ikut (dia juga termasuk yang masuk PPG bersama denganku). Aku sudah jelaskan alasannya ada banyak hal. Tapi dia terus 'menginsist' supaya aku mengurus-ngurus ini. Akhirnya, baiklah aku coba saja. Dengan catatan, kalau aku dihadapkan keadaan-dipersulit ngurusi persyaratan-persyaratan tentang ini, aku tidak akan ikut.


Dengan sumber daya yang kumiliki-yang tersisa, aku pergi ke Kantor Polisi mengurus berkas-berkas administrasi. Mula-mula, aku cek kesehatan. Butuh surat keterangan sehat dan NAPZA dari kantor polisi. Aku menghabiskan waktu sekitar satu jam dan dikenakan biaya Rp. 195.000,- untuk mendapatkan suratnya. Lalu mereka bilang bahwa aku sehat, hah ? kalian tau dari manaaaa aku sehat. Nga tau isi kepalaku kecamuk begini, hmmm. Tidak jelas.


Lalu membuat SKCK, surat resmi yang diterbitkan oleh Polri yang menerangkan ada atau tidaknya catatan riwayat kejahatan atau kriminalitas seseorang berdasarkan data kepolisian. Agak aneh. Ini juga indikatornya tidak jelas. Aku melihat semua orang sangat bisa membuatnya, menerangkan bahwa seorang itu tidak pernah terlibat kriminalitas. Tidak ada kuesioner, wawancara, atau catatan riwayat diri yang disuguhkan. Kukira, meski seorang jahatpun masih bisa dengan mudah mendapatkan surat ini. 


Untuk biaya sebagai surat 'pembuktian' ini juga relatif murah, mengingat kejahatan adalah hal yang krusial, Aku hanya menghabiskan Rp. 35.000,- untuk ini. Tapi dengan waktu menunggu yang hampir tiga jam.

Lalu surat ini selesai.

Sebentar, aku baru sadar, ngurusi surat-surat ini rasanya lancar. Sebelum dzuhur semua persyaratan surat-surat administrasi sudah ditanganku. Aku kembali ke tempat kerja dan memberikannya pada temanku Iqbal, lalu ia membantuku mengupload semua berkas persyaratan ini. "Apalagi setelah ini, Bal ?", tanyaku. "Sudah, sekarang tinggal ikut proses kegiatannya,", Iqbal menjawabnya. 

: Ehh.. Aku benar-benar ikut ?

Ya !


Hari itu pula, pukul 13.00, aku sudah ikut orientasi program PPG ini. Kuota pertemuan online lewat kanal Zoom sudah penuh, kami yang tidak kebagian ikut Live Streaming lewat kanal Youtube. Gila, ternyata ada beribu orang yang ikut di periode ini bersama-sama denganku.



Selasa, 2 Desember 2025. Hari pertama setelah orientasi. Jadi, aku salah seorang mahasiswa PPG-Pascasarjana UPI per-hari ini.


Kerujitan dimulai. Di awal-awal, dosen pembimbing kami memberi tahu kami bahwa batch atau periode PPG tahap kami ini terbilang beruntung karena hanya berlangsung dua minggu saja, normalnya dulu setahun, paling singkat 48 hari.



Tapi itu berarti ada yang harus 'ditukarkan'. Kami harus mengejar mempelajari modul belajar utama yang banyak itu, menyelesaikan latihan-latihan soal dan mengerjakan jurnal-jurnalnya hanya dalam waktu seminggu saja. Itupun selalu terpotong setengah hari karena kami mesti ikut kuliah bimbingan secara online di setiap harinya.


Perbegadangan. Aku benar-benar menunda semua agenda dan izin dari pekerjaan untuk mengurusi ini. Karena memang tidak ada waktu. Kami harus menyelesaikan semua tuntutan tugas-tugas ini secepatnya.
-

Rabu, 3 Desember 2025. Kuliah bimbingan hari ketiga. Setiap hari kami harus menyelesaikan satu modul ajar (yang di dalamnya ada banyak sekali yang harus dibaca-dipelajari, dan dikerjakan soal latihannya), lalu mengerjakan jurnal pembelajarannya.


Dalam penyusunan jurnal pembelajaran harus ada umpan balik dari rekan sejawat. Tiada waktu untuk mencari orang sesama tenaga pendidik, de Hasbi jadi korban untuk diminta sebagai narasumber responsi refleksi dari jurnal yang ku buat.


Hari ini pertemuan online jadi dua kali. Yang kali kedua hari ini menerangkan tentang teknis Uji Kinerja PPG (outputnya nanti adalah video simulasi saat mengajar). Gelangnya banyak, bertato pula, Dosennya kelihatan nyentrik meski jokes-nya tetep Bapa-bapa. Jadi, dari hasil zoom ini  kami harus bisa mengerjakan video UKIN hanya dalan tiga hari saja sebelum masuk tahap periode uploadnya. Belum selesai ini, sudah datang hal yang lain lagi. Hmmeh


Disela-sela hari ini ditelpon sahabat-sahabatku saat SMA, Ganjar dan Randi. Mereka mengajak bertemu di Garut , tapi aku tidak bisa memenuhi permintaan mereka karena agak repot ngurusi ini.


Sebelum melakukan UKIN (Uji Kinerja), persiapannya tentu kita harus buat modul ajarnya dulu (RPP namanya kalau kurikulum sebelumnya), urusan begini yang paling aku tidak mengerti karena aku tidak punya latar belakang pendidikan. Jadilah Adam korban patanyaan tentang ini. Dia menghabiskan waktu sejak sore sampai lewat jam 8 malam di kosanku menerangkan tentang modul ajar.

-
Tetap aja nga ngerti. Lalu korban selanjutnya, Iqbal. Aku sampai hujan-hujanan untuk ke rumahnya minta diterangkan kembali lebih lanjut soal modul ajar setelah sebelumya Adam yang menjelaskan. Hal begini memang aku susah ngerti. Maklum ya..


Kamis, 4 Desember 2025. Seperti biasanya, aku menghabiskan minggu terakhir desember di rumah Mah Ros, mereka sedang proses pindahan rumah, aku malah tidak bisa bantu-bantu karena aku sekarang sedang dalam tahapan ujian. Mah Ros bilang tidak apa-apa, selesaikan saja urusanku di sana lebih dulu. Lalu dia mendoakan kelancaranku menghadapi keadaan ini.


Dua hari sebelum take video UKIN. Modul ajarku belum juga selesai. Adam jadi korban kembali untuk membantuku mengerjakan itu. Akhirya garis besarnya selesai, katanya sisanya improve nanti kalau-kalau ada yang tidak terlaksana, atau mungkin yang dilakukan diluar rencana.


Jumat, 5 Desember 2025. Beres-beres ruangan untuk ujian video. Rizal dan Wawan sibuk mengurusi pertunjukkan yang digarap mereka bersama Diwan. Akhirnya kali ini Azmi yang jadi korban membantuku beres-beres.


Simulasi. Aku sudah seperti orang gila ngomong sendiri. Video ukin yang dibuat mesti sampai 90 menit tidak kurang tidak lebih. Dan saat simulasi, dalam 40 menit saja aku sudah selesai. Apa yang harus kulakukan dengan sisa 50 menitnya lagi !? tanyakan pada rumput yang bergoyaaang hueeeee. Esok bagaimana esokla.


Sepulang beres-beres untuk besok. Aku menemui a Irwan yang baru pulang studi doktoralnya dari Jerman. Obrolan kami lebih banyak tentang pengalamannya selama belajar di sana. 


Sabtu, 6 Desember 2025. Membuat bahan-bahan media ajar dan bahan-bahan untuk besok take video. Kalau sedang terfokus begini, aku suka lupa diri. Baru sadar sudah hampir belakangan ini aku cuma makan sekali sehari.


Ririwa. Aku banyak dibantu orang, termasuk gerombolan ini, Tita, Pipit dan Irma. Mereka membantuku saat penyususnan modul ajar dan  pengambilan video ujianku.

Pengambilan video kukira lumayan relatif lancar meski ada beberapa gangguan teknis, tapi masih bisa diatasi. Aku boro-boro kepikiran dokumentasi, pokoknya mesti selamat saja hari ini haha.


Setelah aku selesai take video, Riki ngalongok. Tidak lama dari itu Wawan juga datang. Riki membawakanku kopi seliter dan roti. Dia punya pengalaman lebih dulu menyoal PPG ini, dan dia tahu, yang kubutuhkan setelah kelelahan ujian video ini adalah kopi !


Teman yang baik adalah rizki dengan tingkat berbeda. Suwun ooy !


Selesai ujian, aku ngejar panggung Festival Sapa Warga berbasis Kebudayaan bersama teman-teman Kuluwung. Sebenarnya aku sudah keleyengan di sini, sadar nga sadar bermain di atas panggung.


Ini KDM-ku, mana KDM- mu ?


Kami selesai perform. Kalau lihat responnya masyarakat suka, hanya saja kupikir bahasa penyampaian konten performnya perlu 'diturunkan' sedikit supaya masyarakat lebih dapat memahami apa yang kami bawakan dengan bahasa yang lebih sederhana-memasyarakat.


Sedikit cuplikan penampilan kami. 


Minggu, 7 Desember 2025. Aku sebenernya masih ada yang mesti diselesaikan, tapi seharian bekerja di depan laptop membuatku pusing. Lalu kebetulan ada Ayung yang pulang kampung, dia baru pulang dari Inggris, dia memang bekerja dengan Iko Uwais di Jakarta. Jadi sambil makan kami dapat oleh-oleh obrolan dari sana.


Eki menelponku petang. Tapi tidak lama karena data internetku habis. Eki memang Eki, dia seenaknya saja ngisi pulsa internetku.. Hueee. Sisa malam, aku mengerjakan kembali hal-hal soal PPG.



Selasa, 9 Desember 2025. Pagi yang agak ringan jika dibanding hari-hari sebelum ujian video. Aku punya pagi yang lebih lambat, biasanya gesat-gesut. S uti keur memejeuhna minah-minah anakna, sekarang k kamar s iyan.


Bocah-bocah.


Hari ini bantu-bantu Bu Dety yang kebagian ujian video. Pakai ruanganku lagi, dan layout posisinya dirubah. Yah.. kita sama-sama saling bantu.


Iqbal memberi instruksi contoh-contoh seperti yang dia lakukan juga pada saat aku hendak menghadapi ujian ini.


Ujian video dimulai. Beginilah riweuhnya tim pendukung. Mereka berfungsi sebagai time keeper untuk memastikan durasi video pas dan juga pemberi tanda peralihan aktivitas kegiatan sesuai modul ajar yang dirancang.


Iqbal dan aku kontroling kamera dari luar ruangan.


Disela-sela ngerjakan PPG, aku juga harus bergelut dengan tugas-tugas dan ujian kuliah di tanggal 12 desember ini. Malam ini sebenarnya ada pelantikan anggota ekskul sanggar, aku sampai nga bisa datang karena ngurusi banyak hal.


Kamis, 11 Desember 2025. Untuk urusan ini, Ijal dan Wawan yang jadi korban mengcover 'kehadiranku' dan 'fungsi- ku' di acara sanggar.


Aku paya ngelol wungkul. Memastikan semua aman, tidak membantu mereka sama sekali. Dan ya.. Mereka undercontrol, Wawan dan Ijal sangat bisa menghandel keadaan. Ah.. Terbantu sekali


Jumat, 12 Desember 2025. Ujian kuliah hari pertama pagi-pagi jam 8. Ujian mata kuliah perencanaan pembelajaran, kebetulan bentuk ujiannya peer-teaching, jadi aku tinggal mengulangi ujian video ku yang kemarin, sama persis, pedah pelajarana ganti ku bahasa inggris. Jeda duhur, aku bingung jumatan dimana, akhirnya ke mesjid agung kompleks bupati. Ujian selanjutnya mata kuliah english syntax, relatif aman.


Malamnya aku ke rumah Yuda. Aku harus meminjam laptop yang proper untuk ujian tulis PPG di hari minggu. Awalnya aku mau pinjam pada Pa Andri, tapi keadaan tidak memungkinkan, akhirnya Yuda yang jadi sasaran.


Di rumah yuda aku juga ketemu A Dendi. Jadilah aku dengar-dengar cerita dulu.


Sabtu, 13 Desember 2025. Simulasi ujian. Aku harus mencari tempat yang kondusif dengan minim noise suara dan sinyal internet yang bagus. Dari itu aku meminjam perpusnya Cep Thoriq untuk ujian esok hari.


Sehari sebelum ujian tulis. Malamnya S dede mengirimiku Kopi.


Cctv ojol yang mengantarkanku kopi. Katanya aku keliatan begung.


Minggu, 14 Desember 2025. Hari ujian tulis PPG. Kebagian sesi 2, jam setengah dua siang. Tapi kami sudah harus bersiap jam 12 siang, sudah mulai absen dan lain sebagainya. Ujiannya dua jenis, soal pilihan ganda dan soal esai studi kasus dengan durasi 150 menit, 120 menit untuk pilihan ganda, 30 menit untuk esai. Terlalu lama sebenarnya untuk yang pilihan ganda, lalu soalnya tipe soal yang jawabannya semua benar tapi dipilih yang paling tepat, membuat konsentrasi kabur. Aku menyelesaikan yang pilihan ganda dengan 70 menit saja, jadi mesti nunggu 50 menit untuk masuk ke ujian esai. Dan durasi 30 menit untuk ujian sesai terlalu cepat buatku yang tidak biasa menulis tipe 'akademik'. Kukira aku melewati 350 kata minimal (ketentuannya begitu, tapi kurasa Esai yang kubuat terkesan rancu, kumpulan fakta yang kutuliskan tidak 'tersambung' dengan mengalir. Aku agak tidak percaya diri dengan itu.


Setelah 3 jam, ujian selesai. Menguras tenaga dan kepala. Hasilnya, entahlah.


Wajah-wajah lelah. Aku yang awalnya tidak akan ikut dan tidak begitu tertarik soal ini, dua minggu penuh tekanan, akhirnya menyelesaikan semua tahapan segala tentang per-ppg-an ini.

Kelegaanku hanya cuma mengingat banyak sekali yang membantuku dan kurepotkan buat sampai sini. Tenaga, ruang, waktu bahkan uang. Makanya Aku sangat berterimakasih pada semua mereka itu, tanpa bantuan mereka, kiranya aku tidak semata-mata aku akan selesai melewati ini.


Foto terakhir sebelum kami menutup sesi ujian tulis online. Tidak satupun dari mereka yang kukenal. Kebanyakan mereka dari daerah Indonesia bagian timur.


Setelah ujian selesai Neng Nadia dan santri-santri asramanya berkunjung ke perpusnya Cep Thoriq. Aku jadi minggir sedikit karena aku merokok, ada Jazel juga putri nya Furqon, aku kirimkan foto ini padanya.


Tidak lama dari itu Furqon akhirnya nyusul. Dia memang beberapa kali mengirimku pesan untuk bertemu, tapi memang belum ada waktu pas buat ketemu. Nah kali ini aku ada di sekitaran rumahnya, jadilah kami ketemu di perpusnya Cep Thoriq.


Pulang, laporan. Segala keluhan, bantuan, dan lika-liku ujian.


Senin, 15 Desember 2025. Kembali ke hari biasa, indahnya. Pertama yang kuurus adalah tanaman-tanamanku. Mereka sudah gondrong tidak jelas dan sudah ditumbuhi rumput liar dimana-mana.


Selesai mengurus taman yang sepetak ini, menghabiskan setengah hari. Tapi selalu enak setiap kali aku selesai kegiatan begini. Aku bisa duduk di pinggirnya berlama-lama.


Lepas maghrib, Yusman Arie berkunjung. Arie ini adalah musisi Tarawangsa yang berasal dan berdomisili di Bandung. Kami saling kenal saat sama-sama sebagai performer di acara Napak Jagat Pasundan di Pangandaran 2-3 bulan lalu. Hari ini dia mampir setelah punya panggung di Bantarkalong-Tasik Selatan.


Tiba-tiba Pentas.

Memang sudah saling tukar pesan, tapi kami kami pikir memang kami akan bertemu hanya untuk berbincang ringan saja. Rencana berubah saat celotehan si Cece Cahyana menginsist Arie untuk memainkan salah satu lagu dengan Ék-Ék -nya (begitulah instrumen yang ia bawa disebut-di kampung halamannya).

Seketika aku membereskan panggung kecil di sebelah kanan saung untuk dipakai pertunjukkan eksklusif ini. Malam menuju tepat ditengahnya, lampu dan dupa dinyalakan, jangkrik, katak dan air mengiring sayup. Rizal Dzikri tiba-tiba didapuk menemani pada kecapi, maka terdengarlah Yusman Arie Narawangsa di Suryashvara.


Venue eksklusif. Tidak ada flyer publikasi, penonton terbatas, menuju tengah malam pertunjukkan lebih terasa khidmat.


Tarawangsa Arjasarian.

Rizal Dzikri kena 'tembak' jadi pengiring, karena tidak satupun dari kami ada yang piawai memainkan kecapi. Rizal juga berfungsi sebagai MC, sebagaimana sekarang dia adalah mahasiswa jurusan komunikasi, jadi ini juga sesi latihan buatnya dalam hal public speaking.


Teman-teman yang hadir. Kebetulan di Saung akhir-akhir ini sedang sering dikunjungi oleh beberapa orang. Malam itu ada Ovike Ismael, Rizky Polem Poetra, Cece Cahyana, Zoel Fahmi, Diwan dan satu santrinya. Jangan tanya Azmi dan Wawan, mereka memang 'penduduk' tetap di sini.


Sedikit tentang Tarawangsa. Meski ada kesamaan secara fungsi, Arie menjuturkan adanya perbedaan antara pertunjukkan Tarawangsa di Jawa Barat (misal dengan Sumedang & Tasik) dengan pertunjukkan Tarawangsa di tempat tinggalnya. Seperti kata Tarawangsa-nya sendiri, di Arjasari-Banjaran bukan merujuk sebagai alat musiknya. Tarawangsa-Narawangsa lebih merujuk pada kata kerja pertunjukkannya secara keseluruhan. Dan instrumennya, di Arjasari-tempat Arie tinggal disebut Ek-ek atau Rengek.


Cuplikan performance.

Dengan grup duo nya Astungkara, Arie sudah merilis single lagu Tarawangsa yang berjudul "Gading" yang bisa kita dengarkan di Spotify, bisa cek di link di bawah ini ya :




Dipikir-pikir, saung memang dibuat untuk hal seperti ini.

Pentas seperti kecil di sini-seperti ini, kami lakukan terakhir di tahun 2023 dalam rangka munggah Wesaka. Saat Pa Rais Krishna, Pa Asep Muharam, Surimong, Rizal Dzikri, Yudi Guntara dan Mela Putri membawakan tembang-tembang Sunda.

Kami berharap sih bisa meakukan pentas-pentas kecil seperti ini secara lebih terjadwal kedepannya.


Selasa, 16 Desember 2025. Berniat pulang shubuh, Arie malah pulang menjelang dzuhur karena semuanya jadi begadang. Kami berfoto dulu sebelum dia pulang. Kendati kami sama-sama membawa alat musik gesek, kedua instrumen ini sangat punya rasa yang berbeda.


Aku melihat Arie ini juga cenderung sebagai orang tradisional-spiritual. Dia memberikanku oleh-oleh benih padi. Orang zaman dulu mungkin biasa memberikan oleh-oleh semacam ini saat berkunjung atau bertamu di suatu tempat, tapi zaman sekarang, siapa yang berkunjung ke saung dan masih melakukannya kebiasaan ini ?, kukira Arie adalah orang yang pertama yang melakukannya.


Padi Hawara Sala

Arie bilang ini adalah bibit padi terakhir khas Arjasari-Banjaran. Dan sesuai 'titah' guru sepuhnya, Arie diminta untuk 'menitipkannya' pada orang yang 'tepat'. Sebagai sampereun, kalau-kalau suatu saat padi Hawara Sala ini sudah tidak ada di tempat tinggalnya. Jadi, Arie menyebarkan benih-benih ini di banyak tempat yang ia 'percayai'. 

Terimakasih Arie, sampai ketemu lagi !



Petang, mencari makan malam. Malah melihat fahrezi yang lagi jajan. Dia memang tidak merokok dan tidak begitu ngopi, dia lebih senang dengan jajanan model begini.

--


Rabu, 17 Desember 2025. Membereskan kelas sebelum ditinggal liburan. Agak berantakan sekali, karena di akhir-akhir sebelum libur banyak sekali yang menggunakan tempat ini.


Aku tidur siang sampai sekitar pukul 2. Lalu aku diboyong Diwan dan lainnya ke kota, ternyata Kindi pulang dari Yogya. Kami merayakan kedatangannya,


Aku juga dapat sedikit waktu untuk menggambar.


Kamis, 18 Desember 2025. Tiba-tiba jadi ikut ke Pangandaran. Awalnya aku memang tidak akan ikut, pertama aku memang kurang suka dengan pantai, kedua tidak ada alokasi dana untuk ini. PPG menguras semuanya, aku sebenarnya masih ada sedikit uang, tapi itupun ku mpet-mpet untuk ongkos pulang ke Bandung. Aku jadi ikut karena Pa Andri tidak jadi ikut, pa Andri sudah membayar untuk ini, tapi putrinya tiba-tiba sakit, jadilah aku yang 'mewakilinya' pergi.


Menemani temannya si Bapa. Kurasa, di tempat biasa aku berkegiatan sekarang, Om Dedi ini lah salah satu dari sedikit yang masih mencintai tempat ini dengan tidak berubah. (Meski sudah berkali berganti rezim, Om ini tetap setia).


Kami tiba di pantai saat pagi hari. Tidak ada sunrise, hari mendung sejak awalnya. Orang-orang yang ikut di perjalanan ini juga hujan-hujanan saat bermain di pantai.

Aku tidak ikut berkegiatan, jalan-jalan sendiri, baca buku di pinggiran. Rasanya baru sebulan lalu aku kesini untuk panggung NJP.


Menuju sore, kami bergeser ke Batu karas. Aku duduk-duduk sendiri melihat orang-orang di kejauhan. Lalu tiba-tiba Pa Asep Kurniawan ikut duduk juga. Pa Asep ini dikenal sebagai guru yang 'bersih', tidak banyak bicara sepertiku, kalem, figur yang cocok memang untuk guru agama. 


Akhirnya ada sesi waktu bebas. Aku kabur nyari kopi. Sekali lagi, di daerah pantai lebih mudah menemukan bar dari pada kedai kopi, ini satu-satunya yang kutemukan dengan berjalan hampir 3 Km, yah lumayanlah.


Aku ke sini bersama pa Rizky guru Ekonomi (tengah) dan Pa Ilham guru Bahasa Inggris (kanan).


Kami sempat ngobrol dengan orang Belanda di kafe ini. Ternyata dia pernah bekerja sebagai pengajar untuk studi sejarah. Kami jadi punya 'kuliah singkat' tentang kerajaan Belanda di sini.


Setelah agak lama nongkrong bertiga, Pa Rizky dan Pa Ilham ditelpon panitia untuk acara tukar kado. Aku tidak ikut karena tidak tahu ada hal seperti ini, dan aku tidak menyiapkan kado. Tapi akhirnya aku punya waktu sendiri buat melukis.


Sedikit catatan yang kudapat di perjalanan kali ini.


Lalu bocah ini datang, bersama keluarganya. Dan dia juga ternyata menggambar, haha pertemuan yang baik !


Sebelum pulang. Foto hasil AI. Tidak ada sunrise tidak ada sunset. Cuaca pantai sedang abu-abu. Aku merasa perjalanan kali ini biasa saja. Tapi yah.. Lumayan.
--


Jumat, 19 Desember 2025. Aku sudah kembali ke saung. Pagi yang tidak tergesa-gesa, aku memotong kriminil-kriminil untuk kutanam lebih banyak.


Pagi hari di saung. Sawahdi pinggirnya mulai dibenahi untuk ditanami lagi.

--


Sabtu, 20 Desember 2025. Hari pertama libur. Aku membuat lebih banyak anakan kriminil. Ini kurencanakan untuk kutanam di Gunung Rukem. Dengan ini aku membuat 60 anakan stek batang Kriminil.


Minggu, 21 Desember 2025. Memanfaatkan sampah. Ada dua botol Cola, aku hendak membuangnya, tapi hari ini senggang, jadilah aku memutuskan menanam Suplir ini pada botol.


Lalu saat aku membuatnya, si kembar kesayangan H. Imam datang menonton.


Suplir-suplir ini selesai, kugantug di antara tiang saung.

Lalu, Inspeksi tiba-tiba.

Eki datang membawa keluarganya dari Garut. Mereka sebenarnya akan pergi ke Pangandaran, tapi mereka mampir dulu sekalian ke saung. Atuh jol riweuh.


Mereka pasedek-sedek duduk di saung, untungnya aku bangun pagi dan sudah kubereskan saung ini, jadi teu balatak teuing. 


Meski aku cukup sering mengunjungi Eki di Garut, aku jarang ketemu dengan keluarganya karena aku biasa diampihan di rumah yang lain. Kebetulan aku hari ini ketemu full-team. Aku juga jadi bertemu Bapaknya Eki yang biasa tinggal di Jakarta.


Saung ini keliatan lucu kalau di foto, padahal aslinya berantakan.


Ibunya Eki. Aku jadi menjelaskan ini-itu soal tanaman-tanaman, padahal aku juga tidak sebagaimana tahu. Hanya sebagai penyuka saja.


Tapi yang penting mereka semua kelihatan sehat dan bahagia !

Adik-adiknya Eki, Zidan dan Neng Dea, lalu istrinya Mba Riani.

Nuhun Ngkiw sudah berkunjung, meski sebel teu bebeja heula ! 



Pulang ke rumah, sendalku dipakai main oleh Anak si uti. Aku masih tidak tahu siapa nama jelasnya, si Dede bilang si Chippi-Chappa karena ada dua, ada yang bilang Yajuz dan Majuz segala haha.


Siangnya aku menghadiri undangan nikahan Danny.


Malah dapat hadiah. MC pernikahan memberikan pertanyaan untuk doorprize, dan pertanyaan yang keluar adalah tanggal lahir Danny. Aku biasa mengucapkan ulang tahun ke teman-temanku, jadi ingat tanggal lahirnya. Jadilah aku mendapat hadiah ini.


Senin, 22 Desember 2025. Sisa-sisa renovasi. Aku tidak cukup tenang meninggalkan tempat ini sebelum benar-benar rapi karena akan kutinggal agak lama. Jadi hari ini aku membersihkan sampah-sampah sisa-sisa renovasi pembangunan, seharusnya, ini adalah tugas dari para pekerja-pekerja pembangunan itu. Tapi di sini adalah di sini, mereka selesai, dan meninggalkannya begitu saja. Jadilah aku dibantu Wawan, membereskan semuanya sampai setengah hari.

-

Masih ada sisa dua minggu Desember yang perlu dituliskan.

-

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا۝ ٥

"So, surely with hardship comes ease. Surely with ˹that˺ hardship comes ˹more˺ ease."
-Ash-Sharh : 5-6

-

 "God is our refuge and strength, an ever-present help in trouble".
-Psalm 46:1