Sabtu, 21 Februari 2026

The Week of Script Reading


Aku berkunjung lagi

Pada ruang-ruang yang ditiduri
Nyeri. Dan jejeran kursi-kursi
Adalah teman setia. Keresahan itu
Bersandar di punggung. Menerka-nerka waktu

Sekali lagi. Kita hanya dapat menunggu
Bergiliran. Memainkan setiap peran
Yang dituliskan Tuhan. Dalam bait-bait lagu

Aku tumbuh. Menjadi sungai yang dialiri
Dengan kebaikan. Serta nama-nama suci
Tercatat padaku. Sebagai tepian-tepian
Peristirahatan. Turun naik menyelami ujian

Kematangan cinta. Terlihat dari sejauh mana menerima
Termasuk tentang menyambut lahir. Juga ketiadaannya

2025

-

Bacaan Alfatihah yang tiba-tiba hilang saat rakaat kedua shalat Isya sendirian, sialan. Orang sepertiku memang baiknya berjamaah biar lebih aman. Bulan Ramadan, menuju maghrib aku selalu menjadi orang yang paling kesepian hahaha. Di sisi lain entah kenapa, tapi di sisi lain aku juga menikmatinya.

Melewati akhir Januari-memasuki awal Februari, tahun 2026 ini agak bebeledagan. Setiap hari ada saja kabar buruk yang dikirimkan. Aku bersalaman dengan Diwan pada suatu malam di saung karena kita merasa sama-sama merasakannya, oh yeah aku tidak sendiri ! Hanya saja dia beunghar dan aku biasa (jadilah merengut deui uing mah haha)

Seperti membaca, menemukan dan memerankan arahan naskah. Aku menjalani waktu-waktu terakhir ini dengan dua keberadaan, imajiner dan realita.

Aku juga sudah melakukan pembatasan 'peredaran' supaya punya lebih banyak kesadaran untuk diriku sendiri. Tapi yang bermasalah memang isi kepalaku, bukan soal kemana kaki-kaki ini bergerak tertuju !

Haha


Rabu, 4 Februari 2026. Menulis catatan minggu terakhir Januari di Saung. Memasang meja, merenahkeun karep, memang enak duduk santai-berpikir seperti ini-di sini. Tapi sempat terjeda gara-gara ada 'tamu' ular hitam yang naik ke saung, kami sama-sama kaget ha ha. Aku nunggu dulu ular itu pergi entah ke mana.

2018-2026, aku sudah tinggal di sini 8 tahun. Banyak yang berubah, tempat ini, keluar-masuk orang-orang, juga diriku sendiri.  


Sore harinya menggambar sketsa si Suhay. Sudah lama aku ingin menggambarkannya, baru kali ini ada waktu melakukannya. Ulang tahunnya di bulan januari. Uwa-bibi nya mengirimkan hadiah ulang tahun yang dikirim ke Batam-ke tempat tinggalnya. Cuma aku pamannya yang tidak memberi apa-apa, pamannya ini memang si paling kere haha.. Maaf ya..


Jumat, 6 Februari 2026.
Jeda antara jam kerja 'reguler', aku mengedit flyer-flyer untuk keperluan ujian pertunjukkan teater di saungnya Diwan. Kerja ditemani Buddha. Membuat hal-hal grafis seperti ini sudah lumrah sekarang.. Jauh sebelum waktu ini, aku sudah melakukannya, aku mengadopsi hal-hal yang kudapatkan dari kehidupan di bandung sejak 2018 lalu.


Warisan Pa Asep. Aku lupa persisnya kapan ujian pertunjukkan teater ini dimulai, yang jelas yang pertama kali menginisiasinya adalah Pa Asep bertahun-tahun lalu. Ujian mata pelajaran Seni Budaya ini cukup kompleks, karena menggunakan sistem kerja komunal, yah ini seperti miniatur pelatihan pembuatan teater 'asli'. Mengadopsi tata cara produksi ujian akhir di STSI, Pa Asep berhasil membuat 'kebiasaan' yang jadi ciri khas pada ujian mata pelajaran seni budaya di sini.  Selalu menjadi waktu yang menyenangkan buat anak-anak 'berproses' di tempat yang seperti 'enggan' maju.

Masalah tahunan. Pa Asep dan aku sudah yakin pasti ketemu banyak masalah kalau mulai mengerjakan ujian pertunjukkan ini setiap tahun. Masalahnya ?, macam-macam. Semisal yang paling sederhana adalah anak-anak tidak datang hadir ke sekolah, tapi ada ketika latihan teater (sepulang sekolah), lalu untuk yang santri-santriah yang memang 'rada-rada', sok dipake alesan bolos ngaji, kelas yang jadi bala, berantakan, tidak disuport sekolah, berurusan dengan pesantren, dan banyak lagi. Setelah Pa Asep pindah tugas, aku yang kebagian semua masalah ini.


Dan ini seperti tradisi juga, Sanggar Gama selalu andil sebagai pertunjukkan pembuka, itung-itung stimulus dan tatahar ngumpulkeun nu nonton. 


Kelas XII tahun ini berjumlah 10. 5 kelas untuk program Mipa dan 5 kelas untuk program IPS. Pada ujian kali ini kami masih saja mendapati naskah-naskah yang bertahun selalu ada dipentaskan di sini. Sebut saja naskah Sayang Ada Orang Lain, Ayahku Pulang, Bunga Rumah Makan, Pada Suatu Hari & Kisah Laras dan lain-lain, naskah-naskah itu masih menjadi pilihan favorit saat ujian begini. Meski ada juga yang membawakan beberapa naskah yang baru, tapi jumlahnya selalu lebih sedikit. Tapi sebenarnya, meskipun naskah yang dibawakannya sama, dengan format teater tahunan, dan apresiatornya selalu berbeda, sebenarnya masih asik-asik saja. Yah.. Paling buatku rada-rada kesyel, karena teu saeutik geus katalalar adegan oge jeung dialog-dialogna.


Lalu tantangan untuk tahun ini adalah waktu penggarapan yang relatif lebih singkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hanya sebulan saja. Gara-gara ini aku dapat beberapa komplen dari anak-anak, tapi ya tidak ada pilihan lain selain melakukannya.


Pulang jumatan, aku harus menghadiri laporan pertanggung jawaban (LPJ) Sanggar Gama. Jadi anggota kepengurusan yang tahun ke tiga mesti memberikan kepengurusan kepada adik-adik tingkatnya. Selalu banyak koreksi, dan biasanya masalahnya relatif sama setia. Entahlah kenapa. 


Selain LPJ, atas inisasi Rizal, mulai tahun ini ada juga unjuk penampilan bagi kandidat ketua sanggar periode selanjutnya. Zaky Faiq mendapat giliran pertama tampil dengan membawakan teater monolog, menuliskan sendiri naskahnya, mengeksplor sendiri semua akting pertunjukkannya, lumayan sakieu mah.


Lalu penampilan tari tradisi oleh Mila dan Zahra. Sayangnya mereka hanya menampilkan tari yang gerakannya sudah ada, jadi konteksnya bukan penciptaan. Dengan Mila dan Zahra, kandidat ketua sanggar gama tahun ini ada tiga.


Setelah laporan pertanggung jawaban, biasa sok sesedihan tea ningan. Buatku yang sudah 'berumur lewat' hal begini sudah terasa giung. Tapi bagi mereka ini adalah salah satu fase bertumbuh. 


Sabtu, 7 Februari 2026. Diminta menjadi juri untuk kenaikan kelas tari yang diadakan Sanggar Tari Anbaya asuhannya Nadia Nurazizah. Nadia ini salah satu alumni sanggar gama, muridnya pa Asep. Dia bergerak cukup 'progresif' dan serius mengurusi sanggar tarinya, tes kenaikan kelas tari ini juga salah satu upayanya untuk meningkatkan kualitas dan motivasi di lingkungan sanggarnya. Sekitar 28 pelajar tari yang harus kami tilai dengan tingkat yang berbeda, pemula hingga mahir. 


Jeda merekap nilai para penari, panggung diambil alih oleh 'penari' tingkat selanjutnya, ibu-ibu aerobik ! haha.

Mari kesampingkan dulu hal-hal negatifnya, apapun itu. Aku baru tahu, melihat langsung dan ternyata ada 'jenis pergaulan' yang seperti ini. Pertama, kegiatan seperti ini adalah aktivitas sosial buat ibu-ibu (yang mungkin jenuh dengan aktivitas rutinannya), bagus untuk kesehatan mental-sosialnya. Lalu yang menarik perhatian adalah instrukturnya, perempuan yang kukira sudah cukup berumur lanjut tapi dia sangat luwes memimpin setiap gerakan. Lagu yang digunakan aerobik yang kudengar kebanyakan lagu-lagu populer yang sudah diaransemen menjadi semi DJ-house music, gerakannya sangat variatif, tapi yang jelas aerobik adalah jenis gerak hitungan (kalau dalam tari), dan ibu-ibu ini bisa mengikutinya, dari tempo yang lambat sampai cepat, semuanya !. mengerikanss haha. Ini bagus buat melatih psikomotorik mereka haha.

Hal lainnya, dari segi ekspresi, mereka tidak kalah dengan generasi muda. Soal style, ketika kumpulan 'rutin', mereka menggunakan baju seragam sesuai studio masing-masing, lengkap dengan aksesoris-aksesoris seperti topi, kerudung (yang sedang tren), kaca mata, sepatu olahraga yang branded.  Dan yang aneh buatku adalah mereka bisa memakai celana jeans yang relatif ketat saat melakukan aerobik, tidak memakai celana olahraga.

Tapi aya wae gorengna. Setelah mereka selesai satu atau dua sesi aerobik biasanya mengambil jeda istirahat. Nah jeda istirahat itu digunakan untuk minum, merokok, ngegosip, foto-foto sampai yang terakhirnya makan-makan, makan beneran ieu mah makan besar tea ning haha.. Jadi aku tidak tahu esensi aerobiknya mereka dapat atau tidak xixi.


Setelah ibu-ibu itu selesai, acara dilanjutkan ke pembagian piala kejuaraan. Ah, apapun hasilnya, buatku yang penting anak-anak ini 'senang dulu menari'. Kalau sudah senang biasanya mau terus belajar.


Minggu, 8 Februari 2026. Minggu istirahat. Biasanya memang aku menggunakannya untuk beres-beres dan ngoprek pepelakan. Aku meminta sirih gading di depan rumah de Hasbi yang sudah tumbuh menggila sampai nyebrang pagar ke kantor notaris pinggir rumahnya.


Lalu Adam juga ke saung pagi-pagi, katanya mau nongkrong saja. "Sok we, ngan moal diladangan da keur baranggawe ieu", ujarku. Di Saung, orang-orang memang lar-sup, mereka bisa melakukan apapun yang mereka inginkan-selama itu baik. Aku tidak begitu apa soal siapapun yang datang, kecuali jika memang seorang yang sudah membuat janji dan ada keperluan yang harus dilakukan bersamaku, yang begitu mah biasana diladangan.


Malam hari, laptop tiba-tiba mati. Tidak jelas sebabnya apa, berdua sama si Cece ulukutek mendiagnosa kira-kira apa yang menjadi sebab laptop ini tiba-tiba mati, akhirnya keluar perkiraannya adalah baterai dan IC power-nya. Karena lampu indikator baterainya kadang nyala dan tidak. Ini adalah masalah lain, karena aku sudah meminta Rofi dari Cirebon untuk ke sini untuk take vocal untuk lagu musikalisasi puisi buatan si Cece yang bahannya adalah puisi yang ditulis istrinya : Shalza. Tapi laptopnya malah ngadat hueee.


Senin, 9 Februari 2026.
Gerimis pagi. Aku sudah berfirasat hari ini tidak akan baik-baik saja, dan ternyata benar. Kukira, Ini akan jadi cerita lelucon di masa depan nanti, hari ini adalah hari pertama pelaksanaan kebijakan baru soal aturan gaji di tempat kerja, semua 'pekerja' gerutu di setiap sudut tempat para 'pekerja' berkumpul. Energi negatif di sana-sini. Di sisi lain aku mempersiapkan untuk ujian pertunjukkan, pokonya ribet, seharian itu aku jadi pemarah, menyebalkan.


Maghrib, Rofi sudah di saung. Tapi kami jadi tidak bisa merekam suaranya karena laptopnya memang mati. Aku jadi merasa bersalah dia datang jauh-jauh ke sini tapi nga bisa ngapa-ngapain. Badmood yang lain.


Jadi setidaknya si Cece membriefing lagunya saja pada Rofi, ya.. Itung-itung sebagai latihan dulu saja.. Biar nanti kalau laptonya nyala, tinggal take vocal, biar memudahkan saja.


Badmood parah, karena tidak bisa melakukan apapun. Untuk mengarahkan 'energi' negatif, aku menyalurkannya kepada menggambar dan menulis sedikit sedikit.. Kupilihkan warna hitam dengan beberapa kalimat 'tidak baik' yang kudapatkan hari ini.


Selasa, 10 Februari 2026. Kerjaan dimulai dengan memasang poster-poster pertunjukkan yang akan dipentaskan tanggal 11-12 Februari 2026. Ini termasuk terlambat, biasanya aku dan Pa Asep sudah memasang poster-poster begini seminggu sebelum ujian, supaya orang-orang sudah bisa 'memilih' pertunjukkan mana yang ingin mereka saksikan.


Setelahnya memasang poster, aku melihat gladi teater yang akan dimainkan oleh sanggar untuk pembuka. Para aktor sanggar gama ini semuanya perdana memainkan teater, belum pernah main teater sebelumnya. Jadi cukup menantang untuk mereka dan buat Wawan yang mengasuhnya, aku sih tidak begitu kontribusi soal ini. Membiarkan mereka sebebas-bebasnya.


Cece Kherunnisa. Secara base, sebenarnya dia lebih ke seni tarik suara. Punya timbre suara khas pelanggam jawa, tapi kali ini dia mencoba menjadi salah satu aktor utama dalam teater yang akan dibawakan oleh sanggar Gama.


Pulang kerja, para 'pekerja' dibawa munggahan ke Kawalu, ke sebuah rumah makan, untuk makan-makan, tentu saja. Meninggalkan anak-anak yang gladi, sebenarnya aku nga begitu 'bernafsu' buat ikut, tapi Iqbal mengajakku untuk ikut karena berangkat sendirian. Dan sebagai harga 'solidaritas' aku akhirnya ikut, dan di sanapun aku cuma iya-iya saja.


Foto bersama selesai munggahan. Menyenangkan orang-orang mah mudah sekali, bawa makan saja, selesai. Seketika mereka seperti lupa akan kebijakan baru yang memberatkan mereka semua. Buatku yang tipe 'perasa', daripada munggahan, ini lebih ke perayaan kebijakan baru itu, dan kalau liat begini, mereka semua terkesan 'menerima' saja.

Atau munngkin juga, mereka tidak ada pilihan lain.


Sore hari sebenarnya aku sudah pulang ke kosan, dan ada Diwan di saung, dia cerita sedikit tentang perkembangan penataan saungnya. Lalu menawariku untuk makan malam di sana.

Malam itu kami juga nelponi si Aiki, mengkonfirmasi kedatangannya untuk mengisi acara di saung ini. Mengobrol panjang tentang konteks sajian-sajian yang akan dibawakan dan teknis sederhana acaranya.


Makan malam di saung Diwan. Cipé, Tahu dan Togé.


Rabu, 11 Februari 2026. Sebagai pembuka ujian pertunjukkan teater di hari pertama, Sanggar Gama membawakan lakon Pelukis dan Wanita karya Adhy Pratama Irianto.  Cerita lakon ini berfokus pada seorang Wanita yang terobsesi ingin memiliki lukisan dirinya yang sangat sempurna. Di sisi lain, sang Pelukis terjebak dalam proses kreatif yang tak kunjung usai, menciptakan ketegangan antara realita dan imajinasi.

Dimainkan hanya oleh tiga aktor, sebagai sutradara, Wawan merubah persona asisten pelukis yang dimainkan oleh Fadlan menjadi seorang yang hiperaktif-berkebutuhan khusus, tidak sebagai seorang yang serius, ini menjadi pemicu komedi yang membuat adanya kontradiktif dari sisi penokohan. Zaini berperan sebagai pelukis membawakan persona yang terlalu percaya diri, hanya Cece sebagai perempuan yang tidak dirubah secara karakter asli dalam naskahnya.

Naskah-naskah seperi ini dikenal menggunakan plot sirkular, di mana cerita seolah-olah berputar kembali ke titik awal tanpa penyelesaian yang linear, ciri yang sangat khas untuk teater realis-absurd. Lakon ini sering dianalisis melalui lensa feminisme (melihat posisi wanita dalam relasi kuasa dengan pelukis) dan absurdisme, mempertanyakan makna hidup dan penantian yang sia-sia.


Foto setelah pementasan, Wawan sebagai sutradara bersama asuhannya. Tahun kemarin, Rizal yang menggarap teater, kali ini Wawan yang ambil bagian karena Rizal sudah agak sibuk dengan perkuliahannya.


Ayahku Pulang - Usmar Ismail, XII IPS 4. Salah satu naskah yang kubilang selalu menjadi pilihan favorit setiap tahun. Lakon dengan gaya realis ini menceritakan tentang konflik keluarga, pemaafan, dan penyesalan. 

Sejak awal lakon ini sudah menyajikan adegan yang intens ketika seorang ayah kembali ke rumah setelah lama meninggalkan istri dan anak-anaknya. Selama kepergiannya, keluarga tersebut hidup dalam kesulitan dan harus berjuang tanpa kehadiran sosok kepala keluarga. Kepulangan sang ayah tidak serta-merta membawa kebahagiaan, karena anak-anaknya menyimpan rasa kecewa, marah, dan sakit hati akibat ditinggalkan. Di sisi lain, sang ayah datang dengan perasaan bersalah dan keinginan untuk memperbaiki kesalahan masa lalu. Ibu berada dalam posisi yang sulit, terombang-ambing antara memaafkan suaminya dan melindungi perasaan anak-anaknya. Melalui konflik batin dan dialog yang emosional, naskah ini menyampaikan pesan tentang tanggung jawab, penyesalan, serta pentingnya kejujuran dan pengampunan dalam kehidupan keluarga.

Secara garis besar, kelas ini bisa membawakan alur ceritanya dengan cukup baik, meski penguasaan karakter dan dialognya belum maksimal.


Tanah Warga - Jessa Aprilia Rahma, XII IPS 2. Lakon ini menceritakan tentang konflik sosial yang terjadi di sebuah kampung ketika tanah milik warga terancam diambil atau dikuasai oleh pihak yang lebih berkuasa, seperti pengusaha atau pemerintah. Cerita ini menggambarkan kegelisahan masyarakat kecil yang harus menghadapi ketidakadilan, tekanan, dan perpecahan di antara sesama warga akibat persoalan kepemilikan tanah. Di tengah situasi tersebut, muncul perdebatan antara mempertahankan hak bersama atau menyerah demi kepentingan tertentu. Lakon ini menyoroti tema perjuangan, solidaritas, serta pentingnya persatuan dalam menghadapi masalah sosial, sekaligus mengkritik ketimpangan kekuasaan yang sering merugikan masyarakat kecil.

Naskah yang tidak terlalu panjang dan konflik yang jelas, tidak terlalu banyak simbol, tapi resiko naskah begini adalah pembawaan kejelasan alurnya harus kuat.


Nu Garering - Dhipa Galuh Purba, XII IPS 1. Kelas ini membawakan naskah dengan bahasa Sunda, aku tidak menyangka pembawaan kelas ini akan begitu luwes, diluar ekspektasiku sendiri. Dulunya anak-anak ini diasuh oleh Adam,

Naskah ini menggambarkan kondisi masyarakat yang dilanda kesulitan yang sangat umum, potret kita : seperti kemiskinan atau krisis yang memunculkan konflik antar tokoh, perasaan putus asa, dan berkurangnya rasa kepedulian satu sama lain. Dibalut dengan gaya komedi.

Adegan ditutup dengan seorang dokter yang ternyata seorang yang gila, audiens banyak tertawa saat pementasan ini berlangsung. Banyak akting improve, tapi dilakukan dengan baik.


Rumah Do Re Mi - Mayangsari, XII IPS 5. Salah satu naskah baru yang dibawakan sejak ujian pertunjukkan teater ini berjalan. Lakon ini menceritakan tentang kehidupan sekelompok tokoh yang tinggal atau berkumpul dalam satu rumah dengan latar yang berkaitan dengan musik. Judul Do Re Mi melambangkan nada dasar dalam musik, yang menjadi simbol harmoni, perbedaan karakter, serta proses belajar dalam kehidupan.

Dalam cerita ini, para tokoh memiliki latar belakang dan sifat yang berbeda-beda sehingga sering muncul konflik, kesalahpahaman, maupun persaingan. Namun melalui interaksi, kerja sama, mereka belajar untuk saling memahami dan membangun kebersamaan. Lakon ini menyampaikan pesan tentang pentingnya toleransi, persahabatan, dan harmoni dalam kehidupan.

Esensi yang kutangkap dari improvisasi naskah yang dilakukan kelas ini lebih kepada pengejaran cita-cita, motivasi juga harapan. Pemipin yang licik, dan pembawa perubahan yang selalu diusik oleh kebijakan yang kotor.


Jejak yang Terhapus - Vina Aviyal Sanufa, XII IPS 3. Pertunjukkan yang menceritakan tentang perjalanan seseorang atau sekelompok tokoh yang berusaha memahami masa lalu yang perlahan terlupakan atau sengaja dihapus. Ceritanya sih sangat biasa, yah kehidupa remaja SMA lah, cinta-cintaan dan sebagainya.

“Jejak” dalam judulnya melambangkan kenangan, kesalahan, atau peristiwa penting yang pernah terjadi, sementara “terhapus” menggambarkan upaya melupakan, menutup-nutupi, atau kehilangan identitas. Melalui dialog yang emosional dan alur yang reflektif, lakon ini menyampaikan pesan tentang pentingnya menerima kenyataan, berdamai dengan masa lalu, serta memahami bahwa setiap tindakan akan meninggalkan jejak dalam kehidupan.

Ini juga naskah yang baru yang dibawakan pada ujian kali ini. Menontonnya, aku merasa penafsiran naskahnya ini tidak biasa untuk dibawakan oleh anak setingkat SMA, karena saat akhir pementasan sutradaranya menceritakan tentang banyak hal tentang kesehatan mental dan istilah-istilah gangguan psikologis yang cukup asing untuk didapatkan di sekolah mereka ini-di sini. Termasuk soal hal-hal transendental yang mereka bawakan, penghapusan eksistensi, dan yang lainnya. Yah.. Kalau mereka memang punya dan membaca  referensi tentang itu ya baik sekali sih.. Tapi aku tak menyangka saja anak-anak kelas ini begitu cerdas (semoga).


Kamis, 12 Februari 2026. Ujian pertunjukkan teater untuk kelas 3 jurusan MIPA di hari kedua, dibuka oleh divisi tari sanggar Gama yang diwakili oleh Mila dan Zahra. Setelah penampilan ini, dilanjutkan pada ujian teater sesuai urutan tampil,


Laras & Lain-lain - Dukut Iman Widodo, XII MIPA 3. Drama komedi yang mengangkat persoalan masyarakat kita secara umum dan kritik sosial. Melalui pendekatan sosiologi sastra, naskah ini menggambarkan ketimpangan ekonomi, urusan rumah tangga dan sosial. Adegan awal dimulai dengan aktor Pa Suryo, kaya raya namun kikir (diperankan oleh Sansan) yang memelihara burung yang dinamai Laras, konflik dimulai saat Laras hilang,

Ketegangan mencapai puncaknya melalui serangkaian kesalahpahaman komedi yang dibumbui kritik tajam terhadap sifat konsumerisme dan ketimpangan sosial di lingkungan masyarakat. Di tengah kekacauan tersebut, muncul tokoh-tokoh sampingan yang menambah warna drama dengan gosip dan campur tangan mereka, mencerminkan dinamika masyarakat yang senang mencampuri urusan orang lain.

Cerita akhirnya ditutup dengan penyelesaian yang bersifat moralistik, di mana nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan makna kebahagiaan sejati ditekankan lebih penting daripada sekadar kepemilikan materi atau status sosial.


Cucunguk - Yoseph Iskandar, XII MIPA 4. Lakon yang menggambarkan realitas pahit kehidupan masyarakat di Tatar Sunda, terutama mengenai kemiskinan yang menjerat keluarga kecil.

Dibawakan dengan gaya longser, seharusnya lakon ini terasa lebih segar. Tapi beberapa aktor kelas ini terkesan agak pasif, jadinya pemeranan terkesan tidak seimbang. Inti dari lakon ini adalah ketahanan-cara manusia bertahan hidup, nilai-nilai moral yang dibawakan pada akhirnya lebih merujuk pada kejujuran.


Aduh Ujang - Jhoni Habibie, XII MIPA 2. Naskah yang berlatar di lingkungan pedesaan yang kental dengan budaya dan problematika masyarakat kelas bawah. Fokus utama ceritanya adalah dinamika hubungan asmara yang terhambat oleh perbedaan pandangan atau restu orang tua (Abah, diperankan Radit). Naskah ini sering kali menyisipkan unsur komedi situasi dan kritik sosial terhadap cara pandang kolot atau pragmatis dalam keluarga pedesaan.

Kelas ini memang banyak anggota sanggarnya, jadi penggarapannya relatif lebih 'aman'. Hanya saja banyak cerita yang ditambah, improvisasi yang terlalu panjang, hampir 'mengaburkan' cerita intinya, tapi anak-anak ini bisa mengembalikannya pada alur aslinya.


Lakon Taplak Meja - Herlina Syarifudin, XII MIPA 1. Lagi, ini naskah baru yang dibawakan pada ujian teater kali ini. Naskah ini menceritakan tentang realitas kehidupan anak-anak di sebuah rumah singgah (semacam panti asuhan lah tapi ada aktivitas belajar mengajarnya ; sekolah alternatif), isinya seperti anak-anak jalanan atau anak-anak dari keluarga yang berantakan (broken home). Rumah ini dipimpin oleh sosok bernama Pakde Kempul (diperankan oleh Ancang) dan Bude Kiranti. Tokoh-tokoh remajanya memiliki nama unik seperti Kemprut, Wirid, Genting, Janthil, dan Sower yang memiliki karakteristik khas masing-masing.

Lakon ini menggambarkan penantian dan harapan anak-anak rumah singgah tersebut. Di balik keceriaan atau kenakalan mereka, tersimpan luka batin akibat kurangnya perhatian orang tua dan kerasnya hidup di jalanan. 

Penggunaan properti "Taplak Meja" sesuai judul cerita berfungsi sebagai simbol  sekaligus pelindung, mencerminkan bagaimana rumah singgah tersebut mencoba "menutupi" atau melindungi keburukan dan luka hidup para penghuninya. Di akhir lakon, properti taplak meja yang mereka gunakan menjadi gambaran penutup bahwa kehidupan mereka akan terus "ditutupi" atau disembunyikan dari pandangan masyarakat umum. Ada kesan bahwa mereka adalah "hiasan" yang tidak dianggap penting oleh sistem sosial yang lebih besar.

Sebagai konflik, setelah serangkaian perdebatan tentang nilai rapor, cita-cita, dan kerasnya dunia luar, anak-anak tersebut menyadari bahwa rumah singgah adalah satu-satunya tempat mereka bisa merasa "berharga" meskipun dunia luar memandang mereka sebelah mata. Diakhiri dengan penegasan bahwa identitas mereka bukan ditentukan oleh selembar kertas rapor atau asal-usul keluarga, melainkan oleh kebersamaan yang mereka bangun di rumah singgah tersebut.

Secara keseluruhan, ending-nya bersifat open-ended (terbuka), mengajak penonton untuk merenungkan nasib anak-anak jalanan yang sering kali terlupakan, tapi aku kira penonton di sini-pertunjukkan di sini masih dalam tahap hiburan saja, belum sampai pada proses-proses perenungan semacam itu.


Pada Suatu Hari - Arifin C Noer, XII MIPA 5. Salah satu drama realis terbaik menurutku yang ditulis Arifin C Noer, ini menceritakan tentang konflik internal dan kerapuhan rumah tangga sebuah keluarga besar.

Cerita berfokus pada sepasang suami istri lanjut usia, yang disebut sebagai Kakek dan Nenek, yang sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-50 (ulang tahun emas). Namun, di balik perayaan tersebut, muncul konflik besar yang dipicu oleh rasa cemburu Nenek terhadap Kakek, serta masalah-masalah yang dihadapi oleh anak-anak mereka. Loba masalah we pokona.

Arifin C Noer, menyoroti bahwa usia seseorang dan usia pernikahan yang panjang tidak menjamin hilangnya konflik atau keraguan. Lalu menariknya dalam naskah ini ada dua perspektif dari dua generasi berbeda orang tua dan anak, yang 'kadang' dipukul rata dalam kehidupan nyata.


Memberikan apresiasi pada teman-teman kelas. Aku pernah membersamai mereka saat tahun pertamanya di sini sebagai wali kelas. Jadi kelas ini punya kesan pribadi buatku.


Katanya kelas ini seringkali membuat masalah. Tapi di ujian pertunjukkan ini mereka cukup sukses membawakan naskah yang cukup panjang ini dan kebanyakan siswa-siswa yang kebagian menjadi aktor adalah siswa-siswa 'buron', tapi sakitu mah leuwih ti lumayan lah ya..


Menutup ujian pertunjukkan teater tahun ini.
: Menyenangkan dan melelahkan buatku.

Atmosfer penciptaan, kreativitas sangat terasa.

Satu bulan waktu persiapan, aku sempat ragu mereka bisa melewatinya atau tidak, dengan keseriusan, ternyata bisa ! Mereka semua hebat.

Dari banyak hal tentang ujian teater ini yang sesuai 'visi' di tempat ini salah satunya adalah penerapan literasi buat anak-anak secara nyata. Mereka menginterpretasi naskah dari banyak referensi. Sekarang memang zamannya internet, lebih mudah, bisa juga lihat contoh pementasan dari video-video. Tapi lepas dari itu, berarti mereka melakukannya dengan kesadaran mereka masing-masing (meskipun dipicu oleh tugas yang harus mereka tuntaskan).

Salah satu indikator Deep Learning yang digembor-gemborkan kurikulum itu sudah terpenuhi : Mindful learning, belajar dengan kesadaran. Lalu tentu Joyful learning, 80% dari anak-anak yang kutanya mereka mengatakan ujian ini menyenangkan meski prosesnya tidak selalu mudah, dengan ini dua indikator terpenuhi. Tinggal Meaningful learning-nya, pembelajaran bermakna. Aku belum sempat menanyakan-mensurvey anak-anak dari sisi ini, yah ini Pe-Er ku untuk kuperbaiki.

Menariknya, aku selalu melihat black horse dalam ujian pertunjukkan teater seperti ini. Anak-anak yang memiliki 'atribut' kurang baik itu kadang lebih menonjol-bermuncul ketika proses ujian ini. Tidak jarang aku melihat budak-budak bangor dengan kemampuan penguasaan naskah-daya hafal tinggi disertai kemampuan mereka 'menyerap' pemeranan dan memerankannya. Kemampuan komunikasi, manajemen konflik dan keuangan, life home common basics skill (minimal maku ngaragaji, ngoprek listrik), memilih musik berdasar nuansa, dan lainnya. Ada banyak potensi anak-anak yang luput yang tidak bisa kita penuhi, dalam tiga tahun mereka belajar di sini.

Kecerdasan mereka bermacam-macam.
Tidak hanya soal berhitung dan membuat kalimat. Tapi bagaimana mereka memperhitungkan dan mengucapkan rangkaian kalimatnya.

Tapi seperti cara apresiator menyikapi salah satu jenis naskah dengan jenis open-ended yang dibawakan oleh anak-anak dalam ujian teater kali ini, khalayak sekolah kita juga belum begitu punya perhatian bahwa masih banyak hal yang harus dibantu-ditunjang untuk perkembangan anak-anak secara menyeluruh. 

Setiap hal memang punya resiko, termasuk ujian pertunjukkan teater ini. Memang ada saja yang menyalahgunakannya. Tapi yang membuatku sedih adalah kesenian masih dipandang sebagai main-main dan sebatas hiburan. Bukan salah satu medium pembelajaran, pengasahan perasaan.

Disadari atau tidak, mau percaya mau tidak, anak-anak hari ini sudah banyak yang tidak melatih-tidak menghiraukan perasaannya sediri.

: Aku sudah melihatnya. Anak-anak yang kering dan kosong.


Jumat, 13 Februari 2026. Jeda setelah hari-hari padat. Aku banyak melamunkan hari-hari yang dilewati. Satu persatu kewajiban 'kerja selesai', meski teror selalu ada saja. Beruntung aku masih dibantu Wawan dan Rizal, minimal teu kateter-kateter teuing. Mereka juga teu kumaha diburuhan, kadang aku merasa agak gimana dengan itu. Tara tuman ngariweuhkeun batur tea ning..

Menuju petang aku menggambar seorang yang akan datang bulan mei mendatang, ini sebagai hadiah valentine ceritanya. Meski aku ngapernah vavalentinan, tapi yaa.. Budaya barat buat si itu mah, jadi aku membuatkannya sketsa saja, kulakukan hari ini karena yakin besok akan sibuk ngurusi acara di rumahnya Diwan.

Yah.. Awal februari yang lumayan.








0 comments:

Posting Komentar