Excerpt from the other sight Time has wonderful way of showing us what really matters
Tampilkan postingan dengan label Obituary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Obituary. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Agustus 2026

Estuarium

Bulan téh langlayangan peuting
nu ditatar dipulut ku tali gaib
Entong salempang mun kuring miang
Ditatar ti Tatar Sunda
Dipulut nya balik deui ka dieu
Ieuh, masing percaya.

-Mang Koko Koswara

Lagu Kawih ini menceritakan pesan dari seorang prajurit Siliwangi kepada kekasih atau keluarga yang ditinggalkannya di tatar Sunda. Prajurit tersebut meminta agar mereka tidak khawatir (entong salempang) karena ia pasti akan kembali pulang. Bulan diumpamakan sebagai layang-layang malam (langlayangan peuting) yang dikendalikan oleh tali gaib (takdir/kekuasaan Tuhan). Hal ini melambangkan sejauh apa pun mereka pergi mengembara meninggalkan tanah kelahiran, garis takdir akan membawa mereka kembali ke rumah.

Sejatinya manusia-pun makhluk hidup lainnya memang petarung, yang 'jenis pertarungannya' berbeda-beda. Tapi yang jelas, sekuat apapun seorang petarung akan selalu memiliki rasa kerinduan untuk pulang. Memiliki banyak tafsir. Pulang, kembali, istirah, selesai. Bahkan bisa yang lainnya.

Dari macam-macam perjalanan-pertarungan yang kita pilih atau dipilihkan. Kemungkinan hasilnya tidak hanya dua, jika hanya dapat menang dan kalah saja, yang seperti itu hanya pertarungan sederhana. Tapi jikka hasilnya adalah hal apa saja yang didapatkan dari dan selama pertarungan itu sendiri, yang hasilnya bisa banyak dan sangat beragam, yang seperti itu termasuk macam pertarungan 'selanjutnya'.

-

Malam di kosan. Setelah aku tinggal bertahun di sini sengaja kupasangi semua dengan lampu warna kuning yang temaram dan kumatikan saat tidak ada keperluan. "Apa kamu tidak merasa ini terlalu gelap ? Apa kamu tidak takut ?". Jawabannya, tidak. Selain harus menghemat listrik karena hidup numpang, kukira malam memang seharusnya gelap. Dan supaya kita tetap bisa melihat hal yang tidak terlihat saat terang di siang hari..

Banyak orang selalu menyangka terang lebih baik dari gelap.

Di waktu ini,

Ada yang tidak bisa melihat karena terlalu terang.

Ada juga yang malah tersadar saat dalam gelap.

-


Selasa, 18 Agustus 2026. Uuy melahirkan lagi kedua kalinya. Kali ini anaknya lima, tiga berbulu hitam dan dua berwarna seperti si Uti neneknya.


Nyelang istirahat duhur, lewat k wa ibah. Ternyata Mang Halim 'repot'. Repot dalam istilah sunda ini ditujukan untuk seorang yang menghadapi detik-detik menjelang ajal. Saat aku datang ke dalam rumah Wa Ibah sudah banyak orang di rumahnya. Mang Halim sudah berbaring diriung, Mang Halim masih sadar, tapi tidak bisa apa-apa, suara Mang Apong masih dikenalinya saat hendak mengajak Mang Halim shalat dzuhur dengan rukhsoh berbaring. Suasana memang muram, semua di dalam rumah semua mengaji air mata di sana-sini, di depan teras bapa-bapa nunggu giliran ningali.


Diantara banyak yang duduk di luar itu aku ketemu A Indra, adiknya teh Nina yang kukira A deden. Aku tidak begitu mengenal a Indra meski mungkin a Indra juga pernah 'mengasuhku' waktu kecil. Aku mengajaknya foto bersama dan kukirimkan ke si Bapa.


Sepulang kuli, aku latihan lagi di rumah Diwan untuk acara Djarum sabtu ini dan untuk openingnya  ujian tugas akhir magister penciptaan seni-nya  Zaki hari senin depan. 


Pulang maghrib ke kosan, di rumah wa ibah (jadi kosanku ini sebelahnya rumah wa Ibah) sudah banyak orang yang hendak ngaji Yasinan buat kesembuhan mang Halim karena kondisinya belum juga membaik. Aku ikut mengaji meski di luar karena sudah penuh di dalam.

Rabu, 19 Agustus 2026. Dua hari menjelang tampil. Latihan lagi di saungnya Diwan untuk persiapan panggung tanggal 22 Agustus ini. Kami mempersiapkan empat lagu. Dua musikalisasi puisi yang berjudul Mengukir Tubuhmu dan Sajak nakal, keduanya adalah puisi kang Acep. Lalu dua lagu pop jaman baheula, Ada Rindu Untukmu - Pance Pondaag, dan Ada Rindu Untukmu - SIti Nurhaliza.

Kamis, 20 Agustus 2026. Visa fighter. Mengurusi form aplikasi Visa secara online, kami selalu mengerjakan ini berdua. Karena bahasa inggrisku untuk urusan ini terbatas. Memang agak-agak membingungkan, kami sampai menghabiskan hampir dua jam untuk mengurus ini.


Jumat, 21 Agustus 2026. Last personel gather. Aku meminta bantuan s a Izoel untuk lead guitar. Salah persepsi, dia datang setelah maghrib. Padahal kami latihan sedari selesai dzuhur. Jadi aku yang brief dia dan Wawan karena Nida, Riki dan Ijal sudah pulang.


Kabar yang dikhawatirkan benar-benar datang. Saat brief lagu-lagu dengan si a Ijul aku mendapati pesan whatsapp tentang Mang Halim yang berpulang.

Jun, Junaedi.

Entah sebab apa, dari mana dan entah sejak kapan nama itu ada padaku. Dan hanya ada tiga orang di kampung yang memanggilku dengan nama itu. Mang Halim adalah salah satunya..

Mang Halim ini seorang agamawan, di tempatku atau di daerah sunda pada umumnya, lebih dikenal dengan sebutan Ajengan. Yang kuketahui, Mang Halim ini mengajar ngaji kitab tingkat 3menengah sampai tinggi, kedua kakakku dan adikku pernah mengaji bersamanya, hanya aku yang tidak.

Kendati menghabiskan masa usia SMA ku di sekolah dengan basis pesantren, orang-orang yang mengenalku dengan baik sangat tahu jika aku tidak terlalu piawai soal ilmu-ilmu agama. Tapi Mang Halim selalu percaya bahwa aku seorang yang tidak macam-macam, punya 'dasaran', tidak akan 'lewat batas' meski mang Halim tau aku pakai kalung salib kemana-mana. Malah seringkali mencandaiku dengan memanggilku ajengan jika kebetulan bertemu yang bagaimanapun tentu sebutan itu tidak pantas dan tidak akan kuterima.

Mungkin, itu cara 'lembut' Mang Halim untuk tetap mengingatkan anak kecil ini, yang sedari dulu dipanggilnya Junaedi.

-

Jumat bertemu jumat. Sayyidul Ayyam. Aku menjenguk Mang Halim sepulang jumatan minggu lalu, jumat ini menjelang maghrib Mang Halim berpulang..


Aku tidak bisa langsung pulang menuju tempat Mang Halim karena aku masih harus berkumpul untuk keperluan teknis acara esok harinya.


Pukul sepuluhan malam aku baru selesai dan langsung mengejar ke pemakaman Mang Halim.

Hampir selang sebulan, dua sepuh di kampung berpulang.

Saat mengantar almarhumah Wa Ica yang akan dimakamkan, aku dan Mang Halim berjalan bersama, cengkrama ringan sambil mengiringkan salawatan.

Ceritaku dengan seorang perempuan juga ternyata sampai ke Mang Halim, entah bagaimana, 

Yah.. Mungkin begitulah cara di kampung berita tersebar : lewat mulut tetangga. Mang Halim membukanya dengan bertanya sejauh ini sampai mana, lalu aku mengatakan tentang kami yang punya 'hal berbeda'. Mang Halim menjawabku dengan nada rendah khasnya seperti biasa,

"Sabisa-bisa mah kudu sarua.., sok we pajuan heula.. Sugan we dipaparin hidayah"

Aku cuma tersenyum, dan ngeretegkeun doa. Mendengar semua yang dikatakan Mang halim, yang ternyata itu menjadi nasihat darinya untukku terakhir kalinya.

Aku tidak tahu saat itu mang Halim sudah dalam keadaan sakit, kalau orang bilang 'teu dirasa'. Sampai keluarganya yang bekerja denganku di tempat yang sama bercerita. Barulah aku tahu..

Aku banyak dan sering bertemu orang-orang berilmu, tapi itu tidak membuatnya jadi seorang yang arif-bijaksana. Tapi harus diakui, sepeninggal Mang Halim, di kampung-hari ini, orang-orang kehilangan tempat untuk bertanya.

Lagi, seperti yang sering diucapkan olehku..

Kenapa orang-orang baik selalu pergi lebih dulu ?

Mang Halim. Di pemakaman semua tidak ada yang ragu, insyallah khusnul khatimah.


Sabtu, 22 Agustus 2026. A Good friend is more than enough. Aku masih 'diselamatkan' bahwa di tempatku berkegiatan masih ada orang-orang yang bisa diajak kerjasama atau minimal sesederhana bergaul dengan 'sehat'. Setelah kehilangan side kick sepeninggal kepindahan Pa Asep dan Adam, aku lumayan keteteran. Beruntung aku masih sering ditolongi Wawan dan Rijal. Sekarang syukurnya ada Riki juga. Kendati berbackground pendidikan ekonomi-manajeman, Riki Piawai menggunakan alat musik tiup. Soal musik tradisi tentu dia lebih paham dariku.

Riki pernah aktif di UKM musik UNSIL, sanggar angklung Katumbiri, aktif di Sanggar Astamekar, dan di Lingkar Daulat Malaya. Kepribadiannya supel dan sama-sama caliweura. Lalu dia tipe 'berbahagia', bukan sabaraha. Seorang begini sudah jarang kutemukan lagi setelah generasi Fine Della Storia. Seorang Persis yang menikahi perempuan IPPNU yang sering kujadikan candaan. Tapi sebenernya aku senang ada hal begini. Bahwa cinta dapat merobohkan tembok-tembok pembeda.

Dalam keadaan sekarang ini, kalau aku udah ngajak Riki, berarti aku sudah ngada orang lagi untuk dikondisikan di sini. Sebenernya ngaenak, sadar jarak tempuh dia ke sini lumayan jauh dan ngajakin buat panggung yang ngada uangnya.

Jadi, aku berterimakasih sekali.


Aku sudah nga mikirin soal nama band, tim, atau apapun. Yang jelas orang-orang ini punya skill yang kubutuhkan. Dan mereka sangat kompeten tapi susungutananaaaa ampun pisan pokonya hahaha.


Panas ceu ?

Acara yang kali ini membawa tema di nuansa Indonesia rentang tahun 80-90'an. Kami jadi berdandan rada-rada kolot.

Teror kabar buruk setelah soundcheck adalah s a Izul nga bisa ikut maen karena dia muntaber. Sedangkan fill-in melodi lagu-lagu sudah diploting untuk Riki dan a Izul. Rada lewang tah di pangung teh. Tapi overall semua aman, audiens masih orang sekitaran sini, aku cukup paham soal medan, meski mulutku jadi kemana-mana hahaha.


Anthony Hutagalung, Out of expectation.

Pa Imam meminjamiku wig keriting ini. Berharap menunjukkan sisi Jimmy Hendrix, tapi yang terjadinmalah lebih ke Caca Handika haha. Aku juga sebenernya agak penasaran kalau punya rambut keriting, tapi memang teu pantes.


Citra panggung dari atas menggunakan drone.


Selesai acara kami beres-beres alat ke rumah Diwan, ternyata ada Pa Agus dan Kg. Yadi sedang mengobrol dengan Kg. Acep.


Minggu, 23 Agustus 2026.
Gladi untuk keperluan ujian magister tugas akhir penciptaannya s Zaki. Kuluwung menjadi tim lokal untuk membantu jalannya acara ini, termasuk tim musik yang kemarin main di acara sebelumnya.


Ada juga santri yang terlibat sebagai talent. Mereka akan membacakan shalawat saat rangkaian ujian penyajian ini.


Bukan maenan orang-orang sepertiku. Persiapan ujian Zaki ini rada repot karena banyak equipment yang asing buat kami selain soundsystem, yah.. meski yang ngerjainnya tim Bandung sih. Lalu kapasitas voltase listrik di aula ini tidak cukup, kami sampai mencoba alternatif menggunakan genset, tapi akhirnya kami loss voltase listriknya oleh PLN, barulah semua dirasa aman.

Senin, 24 Agustus 2026. Hari ujian Zacky. 


Persiapan hampir injury time. Semua gelisah ha ha 


:"Sungut heula, kara tangung jawab skill", hahaha. Begitulah kami bercanda. A Izul agak mendingan, jadi hari ini bisa ikut tampil sebagai opener ujian. Nah kalau full-team begini mah regreug. Tapi ada hal lain. Kesepakatan perform ini adalah Aku diminta main sebagai opener untuk mengisi selang waktu menunggu-mengumpulkan datangnya para udiens, ternyata kami harus main di depan para penguji ujiannya Zaki. Dan salah satu dari tiga itu adalah Pa Ismet, founder dan pemain Bass di Sambasunda. Kali ini aku kebagian maen basa, Panan oyag, aengaaah ripuuuhh.


Svarasoeng : Reinterpretasi Spiritualitas Bunyi Pesantren Cipasung. Begitulah judul tesis M. Zacky Musyafa. Menurut abstrak, penciptaan ini merespons fenomena memudarnya lanskap bunyi religius kultural, seperti tradisi nadoman Sunda, di era modern. Tujuan karya ini adalah mengeksplorasi soundscape Pesantren Cipasung sebagai medium artistik untuk mereinterpretasi spiritualitas bunyi ke dalam bentuk seni pertunjukan kontemporer. Tahapan penciptaan meliputi observasi lingkungan akustik, perekaman lapangan, materi bunyi sosial, musikal, dan spiritual, serta pengolahan audio secara langsung  menggunakan Digital Audio Workstation (DAW) tanpa mereduksi esensi keautentikan sumber aslinya.

Hasil penciptaan ini berwujud pertunjukan seni bunyi elektroakustik eksperimental yang imersif. Karya ini mengintegrasikan tata suara spasial, tata cahaya adaptif, dan proyeksi visual mapping berbasis multicam. Struktur dramaturgi disusun secara non-naratif merespons siklus waktu pesantren, bermula dari kesunyian, memuncak pada kepadatan bunyi kolektif, dan diakhiri oleh peristiwa murni kumandang adzan maghrib. Svarasoeng membuktikan bahwa sinergi antara otentisitas bunyi religius pesantren dan intervensi teknologi digital mampu menciptakan ruang relasional yang kontemplatif. Karya ini berhasil menghadirkan sensasi kehadiran kolektif sekaligus berfungsi sebagai medium reflektif dalam merawat warisan akustik lokal.

Buat beberapa teman yang pernah dengar lagu-lagu yang kubuat bersama di Surya atau di Kuluwung, hampir semua dia yang ambil bagian vokal~

Kami jadi opener ujian tesis magister seni si Marzaki kemarin, dan sepertinya itu akan jadi panggung kami terakhir sebelum Nida yang juga akan jadi sarjana bulan depan, yeayy ! Bocah tau-tau sudah selese, aku bener-bener memasuki usia -matang 😂

Ah Tapi pokoknua bukan jadi yang terakhir buat karya selanjutnyaa ya Nid !


Selesai ujian penyajian dan sidang ! Zaki soheh dapat Magister !


: "Eki disasarung didieu mah,..". Ucap pa Ismet padaku saat kutemani ke sana-sini. Hehe, pan ekting tea pa, kamuplase mwehehe.

Pa Ismet ini salah satu dosen favoritku saat di ISBI (STSI kalau zamanku). Spesialisasinya kecapi, tapi da sagala bisa. Tidak muluk juga kalau media menyebut pa Ismet adalah salah satu tokoh penting yang membawa musik tradisional Sunda mendunia lewat aransemen kreatif yang menggabungkan unsur lokal dengan berbagai genre musik global. Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ini sudah lama berdedikasi dalam mengenalkan karawitan Sunda, ini juga yang membuatnya sering diundang menjadi dosen tamu di berbagai universitas dunia, seperti di Oslo University (Norwegia) sejak 1994, Norges musikkhøgskole, hingga National Cheng Chi University di Taiwan. Hamdallah ketemu di Cipasung setelah bertahun, sehat-sehat paa !

Selasa, 25 Agustus 2026. Hari ini benar-benar nga kemana-mana. Karena memang kurang tidur-kurang istirahat, aku juga terkena radang di gusi dan mulut yang membuat hese baranghakan. Lalu dapat juga kabar s A Izul nuluy sakit, aku dan Wawan berniat menjenguknya sambil mengembalikan alat-alat miliknya. Ternyata lumayan jagjag, tingal se'eulna cenah.

Kami jadi merencanakan retake untuk lagu musikalisasi puisi Cipasung dan Sajak Nakal, semoga kekejar sebelum Nida selesai di sini dan pulang ke Bandung.


Rabu, 26 Agustus 2026. Familie value. Membaca blog si dede :"Tanpa kusadari, hari 'esok' adalah sesuatu yang aku nantikan. Entah itu dalam konteks positif maupun negatif. "Besok akan ada kekacauan apalagi ya?","Besok aku akan menunjukkan hal seru ini kepada anak-anak", dan lainnya. Secara tidak langsung, aku bergantung pada sebuah ketidakpastian. Itu menyenangkan, namun membuat gelisah."

Kami di rumah, tumbuh dengan ketidakpastian, kami sangat akrab dengan menerka dan berimajinasi, sejak dulu sekali. Melakukan sesuatu dengan kemungkinan yang sudah dipersiapkan memang ringan. Tapi dihadapkan keadaan yang undercontrol juga menantang, tidak disangkal memang menyulitkan terkadang. Tapi mungkin kebiasaan itu yang membuat kami anak-anak s Ibu dan s bapa jadi orang-orang yang cukup handy. Malam menyiapkan pensil dan buku, kenyataannya esoknya kami ternyata harus berperang, sudah tidak jarang.

Gara-gara ini kami juga dapat pelatihan gratis soal pengendalian diri dan emosi. Meski sok aya gegebegan, kita dapat lebih tenang menghadapi keadaan yang benar-benar memancing dan lewat batas. Kami hampir tidak pernah marah meledak di depan publik. Meski membawa segudang gerutu ke tempat kos masing-masing. Tapi kami sadar sangat sulit mengendalikan yang bukan pada kita, maka yang lebih memungkinkan adalah mengendalikan yang ada di dalam kita.


Mulang teu nyimpang, nyimpang teu mulang.

Ah, aku tahu perasan teu pararuguh semacam ini. Kakakku yang di Batam mendapat pelatihan di Jawa Tengah. Tapi tidak punya kesempatan untuk waktu pulang, ke Tasik, atau ke mertuanya di Trenggalek.

Tidak sedikitpun dari kami, empat anak ini berpikiran akan punya beberapa perjalanan seperti sekarang. Tidak semua juga mulus. Tapi ini 'memperkaya' semua indra kami. Melihat, mendengar, merasa, yang sering berbeda dari apa yang kami 'biasa' miliki', tanpa merubah yang sudah ada dan pulang dengan pengetahuan yang tidak kami ketahui sebelumnya.

Oleh-oleh tak melulu harus benda. Yang lain juga bisa, kebijaksanaan misalnya.


Balakecrakan. Hari ditutup dengan kedatangan Gibran, Wawan dan Zayin. Gibran masih membicarakan pasca pertunjukan, Wawan mengerjakan modul ajar, Zayin istirahat setelah kerja.

Yah.. Saung fungsinya begini juga..

-

Sepuluh hari, 17 ke 27. Kelahiran, bantuan, kepulangan, penciptaan, pertemuan.
Ah.. Aku jadi mudah kelelahan. Sudah tidak bisa lagi begadang-begadangan. Bisa sih, cuma istirahatnya bisa sampai dua hari. Jadi lebih baik jangan. Agustus masih sisa tiga hari, mari kita lihat apa yang akan terjadi lagi !

-

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَـٰتِ وَٱلنُّورَ ۖ ثُمَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ ١

"All praise is for Allah Who created the heavens and the earth and made darkness and light.1 Yet the disbelievers set up equals to their Lord ˹in worship˺."

-Al-An'am : 1

"If I say, 'Surely the darkness will hide me and the light become night around me,' even the darkness will not be dark to you; the night will shine like the day, for darkness is as light to you.""

-Psalm 139:11-12



Minggu, 09 Agustus 2026

An Exposure

Diwan bilang, "Kalau menemukan kesulitan, coba lihat dari sudut pandang berbeda, dari landscape ke portrait misalnya.". Lalu kami memiringkan kepala kami masing-masing hampir bersamaan dan terbahak tertawa gara-gara penafsiran implisit kami yang komedi itu. Kebodohan memang hahaa, yah.. Kadang laki-laki punya obrolan seperti itu.

Kami mengobrol setelah makan malam, dan aku mengujarkan sudah berbulan semua rangkaian kalimatku hanya keluar sebagai ucapan saja. Menulis memang punya tantangan tersendiri, berbeda dengan obrolan langsung. Kita harus bisa menuliskan jalan pembuka, inti sampai penyelesaiannya. Karena pembaca tidak akan tiba-tiba mengerti apa yang kita maksudkan.

Apakah bisa langsung ke intinya ? atau narasinya meloncat-loncat ?, bisa saja. Tulisan pengantar Afrizal Malna dalam buku dan biografi : Oksigen Jawa karya Hanafi misalnya. Aku sampai membacanya belasan kali, dan masih belum sepenuhnya kumengerti.

Aku tidak sepenuhnya berhenti menulis sebenarnya, dalam beberapa kesempatan aku masih nulis sedikit, tapi ya jarang sekali. Sudah beberapa waktu ini memang banyak kuhadapi soal hal yang di luar kendali, dan itu mengganggu sekali. Urusannya soal keadilan sih haha. Aku banyak menggerutu, jadi terlihat tidak ikhlas mengerjakan ini-itu. Di waktu terjadi aku melewatinya sebagai ironi dan tragedi (penuh emosi, kadang mulutku bergerak sendiri, sialan), tapi lepas waktu itu lebih sering jadi berakhir komedi di ruanganku atau di beranda kosan dengan Riki atau teman-teman yang lain sambil ngopi.

Penghujung Juni sampai penghujung Juli. Macem-macem. Rekonstruksi (implisit dan eksplisit haha), pertemuan, perpisahan, pertemuan kembali, pertunjukkan, perjalanan..

Plus, aku seperti dapat kemampuan khusus. Aku bisa mendengar kebohongan seperti tukang parkir mendengar nyala starter motor dari kejauhan. Hahaha.

Catatan agak panjang..


Sabtu, 27 Juni 2026.
Sepulang dari perjalananku ke Malang bukannya istirahat. Wawan memberitahuku bahwa lantai kamar kosan yang sebelumnya memang ngarenteut kini keadaannya lebih parah. Lebih meluas dan lebih dalam. Jadi kami hendak memperbaikinya hari itu juga.


Kami memang tidak ada pengetahuan dan pengalaman sedikitpun tentang mengecor, campuran pasir dan semen. Ini benar-benar ngararaba. Untuk memperbaiki segini saja kami butuh waktu seharian. Hasilnya memang tidak terlalu bagus, tapi tidak jelek juga. Yah.. Minimal we ieu mah.


Tiba-tiba kuriak. Setelah memperbaiki lantai, malam di hari itu kami lanjutkan mengecat kamar kosan. Warna dinding awalnya berwarna hijau, tidak jelek sebenarnya, hanya merasa cedeum. Aku ingat punya sisa cat di tempat kerjaku, Wawan membawanya lalu mulailah kita mengecatnya dengan warna putih supaya lebih terang. 
 

Kamar ini dulunya yang aku dan teman-teman kampung pakai untuk tidur bersama setelah kami disuruh pindah ke dalam. Sebelumnya kami tidur di saung luar yang benar-benar outdoor yang jik hujan kita kena tempias dan bocor di beberapa sisi. Setelah pindah ke kamar, di sini kami bisa tidur bersama sampai bertujuh berjejeran, patumpuk-tumpuk. Tapi karena itu kita punya banyak hal dan waktu bersama-sama. Sekarang aku sudah pindah ke kamar sebelahnya yang dulu dipakai kosan perempuan. Kamar ini lebih sering dipakai Wawan dan Ijal kalau menginap, atau sekedar kumpul-kumpul.


Minggu, 28 Juni 2026. Di sini dan di sana. Si Dede memang merencanakan untuk memperbaiki rumah, tapi tidak bilang kapan-kapannya. Ternyata waktunya berbarengan denganku beres-beres di kosan. Atuh kaditu-kadieu. Tapi mungkin gara-gara si Dede punya waktu liburan agak panjang, jadilah dia memutuskan untuk melakukannya sekarang.


Kami merubah ruangan yang dulunya kamar mandi untuk akses ke dapur dan kamar mandi yang baru. Ada bak mandi, kloset yang harus kami pugar, lalu menyaeurnya supaya tingginya sama. Tidak bisa langsung semua diperbaiki, karena sumber daya terbatas, segini aja kami ngos-ngosan.


Banyak sekali barang 'tidak jelas' di rumah. Kami bagi-bagi tugas, memilah dan membuang barang yang tidak kami pakai, di barat istilahnya decluttering, supaya ruang lebih rapi. Tahu-tahu di rumah sudah menumpuk banyak, si Ibu yang biasanya melakukannya. "Ke mah butuh,", Ngke yang tidak tahu kapan. Si Dede merepehkannya dengan "Nanti ya nanti, nyari atau beli saja lagi.". Kami banyak sekali membuang barang setelah dipilah.


Senin, 29 Juni 2026. Perlu seharian untuk mertakan tinggi dasar, hari kedua barulah si Bapa mulai memasang kramik lantai. 
 

Ieu mah gaya we, da duka bener duka salah masangna ge.
 

Azah ngaduk, kadang nyuluran masang, karena s Bapa mogok-mogokan gara-gara asma dan moody. Banyak drama pokonya.


Lantai kramik yang sudah di pasang. Belum bisa dilewati karena adonan semen masih basah, belum stabil untuk dilewati.


Uti ngetes lantai setelah semua kramik terpasang.


Setelah tiga hari ngerjakan ini-itu dan bulak-balik ke saung karena di saung juga sedang berbenah. Gara-gara ini aku jadi hideung. Aku dan s dede mengobrol sedikit tentang barang-barang yang kiranya dapat 'memperbaiki' rumah ini dan enak secara visual.

Selasa, 30 Juni 2026. Sebenarnya kerjaan rumah belum selesai, tapi s Dede harus kembali ke Bekasi. Aku mengantarnya ke stasiun, ternyata kereta yang dinaiki sama dengan kereta nya s Neng yang sama juga akan pergi ke Bekasi. Jadilah kami bertemu di stasiun.

Juli


Kamis, 2 Juli 2026.
Aku dan si Bapa mengunjungi Zaki yang akan menikah tanggal 5 Juli. Tapi karena sedang agak repot di rumah,aku jadi tidak bisa ke sana. Kami nyamungan saja akhirnya.


Dua generasi. Tinggal aku dan Diwan. Karena Ivan katanya sebentar lagi mau nyusul nikah juga.


Jumat, 3 Juli 2026. Last touch, at least for now. Si bapa masih punya sisa cat entah dari iraha, lalu dipakainya untuk menutupi warna ruangan supaya lebih kelihatan bersih.


Malamnya Cep Thoriq ke saung. Aku sebenernya sudah lelengutan saat ngobrol ini.

Sepulangnya Cep Thoriq aku malah jadi susah tidur. Akhirnya aku sedikit menyanyi. Membawakan Soldier of Fortune dari Deep Purple, salah satu lagu favorit yang sering diputar keluarga di rumah. Merasa bau-bau badai akan berdatangan, lagu ini enaaak buat sekedar  'melepas' hehe


Sabtu, 4 Juli 2026.
Aku sarapan pagi ke rumah. Bocah-bocah tidur bersama di keranjang belanja. 


Hari ini aku selesai mengecat dan membereskan kamar kosan yang biasanya dipakai tamu menginap. Azmi membeli sarung bantal baru, aku mencuci selimut yang sudah sepuluh tahun nga dicuci, lalu memotong kain background untuk spreinya karena ngada biaya untuk membeli yang baru. Nah, lumayan rada siga kamar teh kieu mah.


Perjalanan di luar rencana. Ganjar menelponku dia baru pulang dari Malang dan dijemput Yayi. Mengajakku ke Garut supaya Yayi tidak sendirian pulang saat kembali dari Garut. Yah.. Kukira aku perlu jalan ke luar sedikit untuk mengalihkan kelelahanku soal kuriak. Jadilah kami berangkat,


Maghrib kami sampai di Garut. Th Evi sudah membuatkan kami makan malam, jadilah kami makan bersama. Kami mengobrol sedikit meski tidak lama. Lalu aku dan Yayi pulang lagi ke Tasik.


Minggu, 5 Juli 2026. The Termits Attack. Kamar kosanku memang sudah lama bermasalah dengan rayap-rayap. Tembok dan lantainya memang sudah banyak retak di sana-sini, dan itu jadi jalan rayap bersarang. Tapi kali ini agak parah karena menyerang lemari dan buku-buku. Bahkan ada satu buku besarku yang jadi korban. Aku sudah berpikir aku selesai soal beres-beres, ternyata masih tidak, hmeeeh. 


Siang hari diajakin Tata ke rumahnya. Ternyata ini hari ulang tahunnya. Diwan dan beberapa tim inti Kuluwung sedang ada perjalanan ke Bogor, lalu kami tim sisa-nya yang harus merayakan ulang tahunnya Tata.


Baru-baru ini Tata menerbitkan buku puisinya yang pertama, dan ini seperti kado darinya sendiri untuk perjalanan hidupnya sampai saat ini. Okee, sama, lewat 30an Ceee ! Haha.


Tata menuliskan pesan untukku di bukunya. Sudah macam penulis pro ya ? Hahaha


Puisi di buku ini kebanyakan puisi-puisi cinta yang ditulis Tata sejak SMA. Pesannya untukku adalah menyudahi patah hati. Barangkali aku sudah tidak patah hati soal asmara, tapi masih ada jenis patah hati lain, misal, patah hati soal kerjaan haha. Sudah kubaca beberapa, ini terasa buku yang ringan tapi tetap emosional untuk dibaca.


Grup picture !


Senin, 6 Juli 2026. Aku membereskan lagi barang-barang kamar setelah membersihkan soal rayap-rayap. Lemari ini sudah kututupi semua sisinya dengan blacktape supaya tidak ada celah rayap-rayap masuk lagi.


Siang ke tempat kuli, dan ketemu something not on my job desc. Di tempat ini kerjaanku nga jelas. Dari menghadapi anak-anak sampai ngurusin sampah, tentu kerjaan begini juga. Dan ini terjadi hampir setiap tahun. Bukannya aku nga mau ngerjain, yang begini bisa kukerjakan meski sambil mengeluh. Tapi ini soal integrasi dan komunikasi kerja di sini jelek banget. Orang-orang teu sadar-sadar.


Ada Yesus di kamarku hahaa. Rizal mengerjakan lagu yang dibuat dari puisi Tata. 


Rabu, 8 Juli 2026. Rapat di tempat kerja. Rapat tanpa solusi seperti biasa. Aku menggambar saja, objeknya tempat sampah, batu dan paku. Sampah yang lain, batu yang lain, dan paku yang lain.


Memelihara. Aku dapat buku-buku baru rentang bulan Juni ini. Aku memasangi plastik-plastik untuk melapisi cover-nya. Supaya tidak mudah rusak.


Jumat, 10 Juli 2026. Bi Ntut ngunjungi ke rumah setelah ada keperluan dari Ciawi.


Ketemu lagi sama s de Hil setelah pertemuan kami terakhir di Jakarta. Nga banyak yang diobrolkan, karena ngobrol kami memang mesti sembunyi-sembunyi sementara ini. Tapi dari 'kabar' yang dia bilang, dia sudah 'membuatkan jalan masuk' buat seseorang. Sejauh ini kita sama-sama dalam tahap oke lah ya De ? Haha


Si Dede mengirimkan fotonya di tempat kerjanya. Disidik-sidik jadi siga si Iyan.


Sabtu, 11 Juli 2026. The Termits Attack part 2. Kubersihkan di sebelah sisi sebelumnya, mereka pindah ke sisi yang lain di belakang tumpukan buku-buku di pinggir kursi. Atuh beberes dan beberesih deui wae. Akhirnya aku muak, aku tutup saja tembok-tembok retak itu dengan lem bakar supaya mereka ngada akses keluar ke permukaan kamar. 


Dapat undangan untuk menonton pertunjukkan longser dari kg. Pongkir, salah satu teman di grup Tafsik - Lesbumi PWNU. Kg. Pongkir membawakan longser dengan alih bahasa naskah Revizor karya Nikolai Gogol ke Bahasa Sunda. 
 

Pertunjukkan bertempat di halaman kantor walikota Tasik. Para personil punya nyali besar membawakan teater dalam format outdoor begini. Karena tantangannya tentu akustika. Para pemeran mesti punya kontrol suara untuk berdialog supaya bisa sampai ke audiens. Beberapa aktor yang terlibat ada juga yang senior seperti kg. Amang S. Hidayat, Qeis Surya, Kido. Ada juga aktor-aktor muda yang lain yang tidak kukenali. Yah.. Geliat kesenian di Tasik memang ada saja. Aku yang sekarang lebih sering jadi penonton, makanya tidak tahu dinamika tentang itu beberapa tahun terakhir ini.


Seniorku di kampus. A Ervan dari jurusan karawitan dan pimpinan orkes keroncong tahun baru D'Lamp haha. Dia jadi komposer musik di pertunjukkan kali ini.
 

Selepas pentas. Qeis Surya & Rika Johara. Teh Qeis ini pemain lama, dia sudah berkecimpung di kesenian bahkan sejak aku baru memulainya saat usia SMA. Lalu teh Rika, kalau dia mah penulis andalan Kompas, sense jurnalis nya kuat banget. Selain itu beberapa tahun terakhi ini th Rika juga aktif berteater.


Minggu, 12 Juli 2026. Oh, memang tidak ada yang mau mengerjakannya. Sebenarnya bocah sudah mengerjakan ini, tapi aku dan yang lain kurang sreg dengan desain yang mereka buat. Akhirnya dirombak.


Kuli pabrik. Sampai urusan name tag kartu peserta, kami yang mengerjakan. Hehe, kami jadi seperti terlihat tidak ikhlas. Padahal yang kami keluhkan bukan soal kerjaanya.


Pembukaan kegiatan hari pertama. Terlihat baik-baik saja padahal huru-hara. Tema kegiatan kali ini banyak mengenai lingkungan. Tapi simbolis pembukaan pakai balon gas yang jadi polusi udara, bisa nyangkut di kabel, atau sampahnya akan sampai di tempat mana. Jadi, tema lingkungan apanya ?


Aku bisa saja ngaleos kamana untuk tindakan protes. Tapi melihat tunas-tunas dengan semangat begini mana bisa tega kan ?. Tapi mungkin sisi ini yang 'digunakan'  orang-orang di sini. Karena mereka tahu aku lain jelema tega-an. 


Riki kunjung ke saung setelah membereskan soal 'jadwalnya' yang berpotensi terancam. Tapi syukur sejauh ini masih aman, meski sebenarnya masih tidak sepadan. Lalu aku memintanya membantuku 'ngasuh' di hari kegiatan. Jadi kita brief lagu-lagu sedikit.


Kamis, 16 Juli 2026. Dapat donat dari syukuran ulang tahunnya pa Rizky Mauldan.


Tidak lama dari perayaan ceria ulang tahun, telah sampai kabar 'tidak baik' buat kami dan 'baik' teh Ai Dewi. SK pindah tugas teh Ai keluar hari ini, dan sudah bisa langsung bekerja esok harinya. Di kantor, ramai keriangan itu tiba-tiba senyap. 


Menimbang. Sudah hampir 6 tahun ini berat badanku masih sekitaran 52-54 kg. Tidak pernah melewati 55 kg.


Jumat, 17 Juli 2026. Merapikan kriminil-kriminil yang si Iyan bilang siga eceng. Aku memang sudah agak lama tidak ngurusi mereka. Karena waktunya memang agak sulit. Aku harus melepaskan emosi-emosi tidak baik. Berkebun seperti ini cukup mengalihkannya dengan lebih baik. Tangan dan kepala bisa mengerjakan 'hal berbeda'.


Diagehan. Masih ada orang baik. Bu Ai Yati memberiku makan siang (yang dimakan sore) saat aku ke tempat kuli lagi sore hari untuk menemui Iqbal.


Aku dan Iqbal tiba-tiba punya ide untuk membuat hadiah kecil untuk th Ai Dewi yang akan pindah tugas. Iqbal membeli frame, aku yang menggambar.


Di sini aku bekerja seperti orang gila, di sana si teteh sedang bahagia hehe. S teteh pergi ke Festival Gent bersama mamah dan bapa. Festival Gent ini festival besar tahunan yang diadakan di Belgia.


Sabtu, 18 Juli 2026. Hari tidak menyenangkan. Tempat ini harus kehilangan orang terbaiknya dan 'membuang' beberapa orang gara-gara keadaan.


Sudah lama aku tidak menangis begini.
Saat kami berderai air mata, yang punya tempat ini malah sama sekali tidak menaruh pandangannya. 


"Nitip ya..". Aku nga bilang beliau seenaknya pergi. Beliau mengucapkannya padaku dengan sama-sama bermata sembab.

Ai Dewi Shanti. Beliau salah satu guruku yang terbaik. Setelah di tempat yang sama, aku lebih merasa beliau seperti kakakku. Menurutku beliau seorang yang cukup strict tapi dinamis soal pendidikan. Beliau tidak pernah ngomel soal luaranku, tapi selalu mengingatkan apapun soal 'kewajiban di tempat ini'.

"Sekali lagi, pengen begini..", ucap teh Ai.

Di satu sisi ini jelas kabar buruk buat kami, ditinggalkan seorang seperti beliau, di tempat ini, dalam keadaan begini. Di sisi lain seorang yang progresif seperti teh Ai juga memang lebih pantas di tempat yang bisa membuatnya lebih berkembang, layak, dan saling mengapresiasi.


Harus begadang. Kembali lagi ke tempat kuli karena pasti nga bakal ada yang kenan ngurusi hal beginian. Untungnya Rijal dan Wawan banyak bantu masang ini-itu, mengamankan, membereskan.

Nah sekalian. Soal alumni-alumnian. Aku kadang muak sama orang-orang yang selalu dan terlalu membesar-besarkan alumni yang prestise soal kerjaan, jabatan (politik khususnya, tapi nga berguna), atau apapaun tapi tidak memberi kebermanfaatan. Tidak salah sih dengan itu. Itu juga kebanggan, tapi kadang gara-gara itu tempat ini kadang lupa dengan alumni-alumni yang membantu soal sustainable, apalagi buat 'keamanan' supaya tempat ini tetap terjaga, berjalan, terpercaya.


Senin, 20 Juli 2026. "Maaf ya telat banget,". langganan kado. Aku memang sudah bertahun tidak lagi merayakan ulang tahun. Tapi selalu dapat hadiah dari teh Oci, kadang aku yang minta juga sih hehe. 

Rencana pertemuan ini sudah berulang kali ganti jadwal, kadang aku nga bisa, teh Oci nga bisa, atau bahkan pasalingsing. Yah.. Mungkin memang harus kali ini.. Yang penting masih bisa ketemu, melihat semua sehat, bahagia, itu saja.
 

Ketemuan sama s teh Oci, guru yang jadi temanku dari jaman abreg-abregan saat di aliyah. Partner maen musik, gibah dan nyeblak, oh sudah lama sekali kami tidak bertemu sejak dia tidak mengajar lagi di aliyah. Kami banyak ngobrol tentang waktu-waktu kami saat tidak bertemu, seperti aku yang sekarang punya pacar, lalu dia yang sekarang punya anak usia puber, hehe.. Banyak yang terjadi saat kami tidak ketemu ternyata..


Kali ini nga maen-maen. Th Oci memberiku sketching set, ini peralatan sketsa lengkap, buku sketsa-nya, sampai senar gitar baru hueeeee. Ini benda-benda yang kuinginkan semuaaa. Nuhun yaak tehh..


Selasa, 21 Juli 2026. Last day-last team standing. Personil 'ngasuh' di hari terakhir. Iqbal kontroling acara keseluruhan, aku dan Riki bagean ngamen, Irma bagean pembawa acara. yah.. Tempat ini masih punya orang-orang yang bisa diajak kerja sama.


Agak kebingungan. Ternyata kami memang generasi pendengar musik dan lagu-lagu agak tua. Kami kesulitan dengan pilihan lagu yang sering didengarkan anak-anak generasi sekarang,


Briefing sebelum ngasuh. Ini pertama kali kami dibuat tim di acara yang sama. Irma juga bilang ini pertama kali jadi pembawa acara, tapi overall semua lancarr.. Terimakasih gengs !


Bocah sudah SD. Suhay memang cukup tinggi di antara teman-teman seuisanya.


Rabu, 22 Juli 2026. Berkeringat. Menyambut hari pertama 'kerja efektif'. Kutinggalkan selama libur, debu di sana-sini.


Kamis, 23 Juli 2026. Bahan makanan pokok yang paling boros buatku haha.


Living in the rural slum

Ibuku pulang membeli kebutuhan sehari-hari dari warung yang harganya melambung. Roti, telur, susu, obat nyamuk, deterjen sampai makanan kucing. Dipas-pasin saja, karena gajiku cuma 250 ribu tea.

Melewati jalan gang yang sudah mulai dihias, seringkali ngurusi hal seperti ini malah bikin tengkar sesama warga, bukannya bikin merdeka. Aku mengirimkan foto ini pada adikku, dia bilang sudah tidak mood melihat warna itu.

Dengan kabar buruk yang dikirim setiap hari, ternyata orang-orang masih kenan merayakan negara ini.

Orang NU bilang Hubbul wathon minal Iman, tapi wathonnya tidak mencintai kita.
Eh yang ngurusnya ketang, bukan negaranya.
Padahal khalifah, tapi kerjaannya khilaf terus ah.


Bocah-bocah tinggal empat.


Thursday night prayers : five people left

: "Eki tara ngaji..", ucap Maeje. Dipikir-pikir iya juga. Padahal ini cuma seminggu sekali saja. Aku sampai tidak punya waktu. Sesibuk apa sih aku ini. 

Dulu pengajian malam jumat keluarga ini bisa sampai keluar teras rumah uwa-uwa. Sekarang, cuma tersisa lima orang saja.

Orang-orang berubah-berkembang. Karena keadaan dan karena kesadaran.
Setiapnya, punya masing-masing keputusan dan perjalanan.

Maeje masih sangat hafal menyebut nama-nama keluarga. Dari karuhun, anak, cucu, cicit, sampai yang sudah meninggal mendahului untuk dikirimi do'a. Ada juga doa-doa khusus untuk keluarga bahkan yang sakit, sekolah, belajar bekerja dan hajat-hajat lainnya.

Kadang ada yang menyela minta ikut mendoakan kenalannya. Sepertiku yang malam ini yang minta doa buat Pa Wal yang kena stroke dan si Teteh cinta yang sedang kurang sehat di Belgia.

Keduanya bukan muslim. Apa boleh mendoakan mereka ?
Temanku yang santri soleh bilang, boleh. Untuk segala kebaikan di dunia  dan hidayah-petunjuk.

Lalu, akan dikabul atau tidak ?
Itu bukan urusan kita, itu kehendak yang Kuasa.


Jumat, 24 Juli 2026. Hari-hari biasa. Segini aja, cukup. Ngurusi imajinasi anak-anak, cape tapi menyenangkan. Ngausah ditambah masalah-masalah sistem dan administrasi.


Sabtu, 25 Juli 2026. Bandung short trip. Dua bulan setelah terakhir bepergian ke Bandung.  Kali ini Aku ke sini lagi untuk menghadiri undangan pernikahan Diana. Berangkat pukul 11 malam bersama Yuda karena dia harus make-up keluarganya Diana. Sampai di Bandung sekitar pukul 3 pagi, kami bermalam di penginapan di daerah Dipatiukur.


Asa namu. Sudah hampir 7 tahun kalau aku ke Bandung aku pasti tinggal di rumah Bu Clau atau Mah Ros. Kali ini malah aku di penginapan. Tidak bisa ke rumah Mah Ros karena Pa Wal kena stroke ringan, jadi mereka ada di rumah sakit.

Aku kulantang-kulinting nga jelas. A iki lagi ada kerjaan, Filbert juga hari sabtu ada kegiatan, aku sudah menghubungi mereka. Yah.. kenalan dekatku di Bandung juga tidak banyak, aku cuma merepotkan sih dipikir-pikir. Lalu aku berakhir di tempat ngopi tepat sebrang penginapan. Membaca bukunya Tata dan nulis sedikit.

Kota ini 

Kota ini pernah terasa hangat. Saat kutinggali 
Pada waktu lalu. Sepanjang tahun hanya ada musim semi 
Karena keramahan selalu terbit. Di setiap sudut hari 
Hingga sampai satu waktu kuputuskan untuk pergi. 

Kali ini aku kembali. Tapi kebingungan 
Harus ke mana. Melangkahkan kaki 
Perlahan. Deru jalanan menyadarkan 
Pandangan. Di kedalaman diri 

Bahwa kita tak bisa menuntut. Apapun 
Termasuk hal kecil. Seperti perhatian 
Dari siapapun. Pada setiap kerumun 
Temanmu. Seringkali hanya kekosongan 

Karena keputusan dan keputusasaan 
Pada akhirnya mesti dipilihkan. Setiap orang 
Karena keinginan. Maupun kedinginan 
Hanya menawarkan jawaban. Yakin atau bimbang 

Barangkali benar yang dikatakan Imana 
Tentang waktu. Yang diberi jeda 
Hingga ruang menjadi asing 
Seperti bangunan. Menyisakan puing 

Kata. Akrab jadi sangat sulit ditemui 
Di waktu ini. Semua tampak terlihat dekat 
Tapi begitu samar. Jika kita benar-benar jeli 
Semua kilau itu hanyalah warna pudar karat 


Bandung, 25 Juli 2026 


Kembali ke penginapan. Yuda sedang main Billiard. Aku ikut main, dan memang teu bisa ulin kikieuan.
Nyoba sekali saja, lalu naik ke kamar.


Malam-malam di Dipatiukur, beteung ngagerencem. Aku sebenernya nyari baso, tapi ngada, jadilah jajan baso ikan. Aku yang keluyuran pakai sarung disapa s mamang-mamangnya, "Santri di sini ya, A ?". Aku menjawab bukan dan dengan bahasa sunda, dan aku tidak tahu kalau ada pesantren di sekitaran jalan Dipatiukur ini. Ternyata yang jualnya orang garut, keluarlah obrolan ringan khas orang sunda yang ketemu di rantau, tos lami di dieu, nanaonan di dieu, sareng saha, dan lain sebagainya. 


Esok harinya (sigana) si Aiki maksakeun manggihan. Kami bertemu di tempat ngopi yang kemarin aku datangi. Dia memberiku hadiah salah satu koleksi topi nya. A iki sekarang sudah ngajar lagi di sekolah, banyak ngomongin kerjaan dan jelimetnya dunia pendidikan. Lalu nyeling di mau bikin lagi kreasi musik instrumental gitar nya lagi !


Setelah ketemu a Iki, lepas dzuhur aku ketemu Filbert. Dari sekitar 20 an teman di EV, aku lebih sering komunikasi dengannya. Sudah tiga tahun juga kami selalu ketemu di hari natal. Tapi kupikir parah juga karena kita seperti cuma ketemu setaun sekali saja. Jadilah hari ini aku ketemu.

"Aku sekarang sedikit tahu soal Katolik, mau tanya apa ayo !", dia bilang padaku sambil jempol dan telunjuk ada di senyum wajahnya seperti biasa, haha. Ah dasar dia ini.

Yah akhirnya aku tanya beberapa hal seputar per-katolikan. Mulai dari Liturgi, perbedaannya dengan protestan, perjanjian lama-perjanjian baru, pengakuan dosa, rosario, simbol-simbol gereja, trinitas, dan banyak lainnya. Tidak kuhabiskan semua, supaya bisa jadi bahan untuk pertemuan selanjutnya..

"Di Katolik ada juga dosa besar dan dosa kecil.. Aku tidak tahu bagaimana di Islam. Tapi di Katolik itu berhubungan dengan kesadaran.."

-aku melihatnya mengucapkannya sambil tersenyum. Semakin waktu, dia semakin banyak tahu. Aku senaaang


Filbert mengajakku ke Katedral Bandung karena dia selesai misa mingguan. 

Aku jadi mengingat awal-awal waktu pertemuan dengan cici ku. Saat itu Aku punya banyak kesulitan dan waktu-waktu tak baik saat masih kuliah dan tidak banyak juga yang kenan membantuku. Jadi aku banyak menghabiskan waktu sendirian, jadi pemikir dan perasa yang lebih 'keras'.

Tempat ini salah satu yang aku dan s teh Cici kunjungi (karena aku nganteri dia beribadah). Hmm.. Sebelas tahun sudah sejak pertemuan pertamaku dengannya. Tempat ini tidak banyak berubah.

Aku, ah kami sudah melewati banyak hal ternyata.. 


Berpisah lagiii. Aku harus ngejar ke acara nikahannya Diana.
Who said a catholic and moslem can't be friends ? We re getting along so long ! Thankyou Fillieee



Pukul 4 sore aku sudah di venue acara nikahan Diana di Bumi Samami, di daerah Coblong, dekat ke Tubagus Ismail-Dago. Aku pernah ke sini saat film batik Sukapura diputar di sini. Resepsi pernikahan Diana diadakan sore hari dan outdoor, rada teu galib mun di lembur mah.


Baturan si Bapa.


: "Kamu mau ikut rewel jugak apa mau dateng dan seneng buatku ?"
*pesan terakhirnya padaku di hari-hari sebelum pernikahannya

Lha apa pulak yang mau aku rewelin. Kamu sampe 'pada waktunya' ya tentu aku udah ikut seneng buatmu !,

Selamat buat kaliaaaaan Ce Di & MasFeb ! Bahagia sehat selalu !


Amen dan anak-anaknya.


Kenapa sih dia selalu ada ada di mana-mana 😑😂
Musisi-aktor oh tentu santri dia mah. Cé-És ku yang rada-rada di Tafsik-Lesbumi PW.

Jadi ternyata istrinya mas Amen ini tetangganya pengantin lakik nya yang sama-sama orang Riau. Makin ke sini, orang-orang sekitaran kita kok makin sempit, ini lagi-itu lagi 😂


"Ekii, masih ingat nga ?", Tiba-tiba perempuan bercadar ngampiri aku saat ngobrol sama s a Amen. Kutilik-tilik lagi, aku ingat matanya, Dian Perwada ! Temanku waktu SMP ! Hueee dua puluh tahunan kami nga ketemuuu, ternyata dia di Indramayu sekarang, suaminya orang Sumatera, anaknya dah duaaa, lucu-lucuu..

Sehat-sehat Dian sekeluarga yaaak, sampai ketemu lagiii.


Ketemu Abah Ubed, duduk di sampingku jelang beliau nunggu kendaraan untuk pulang. Sebelumnya, aku ketemu putrinya yang pulang liburan studi di Turki.

Yahh.. Aku memang nga bisa sebebas seperti ke Bapa kalau sama beliau (akunya yang nha berani sih haha), tapi selalu senang kalau ketemu pa Kyai. 


Dan ketemu s Bi Alice, kukira ini satu-satunya saudara yang kutemui di acara ini haha.


Acara resepsi pernikahan Diana selesai sekitar pukul 9 malam. Aku dan Yuda beres-beres, rencananya kami akan pulang dengan kereta, tapi jadi berubah rencana karena ada teman Yuda yang pulang ke Tasik dengan mobil kosong. Yahh lumayan menghemat hehe.


Senin, 27 Juli 2026. Masuk kuli setelah begadang sepanjang perjalanan pulang Bandung-Tasik. Mataku sudah bisa mengatakannya bahwa aku masih perlu istirahat tidur. Bisa aja bolos sih, tapi aku merasa ngaenak bolos di awal-awal, dan juga bocah-bocah lagi semangat-semangatnya.

Pulang, jalan gang menuju rumah sudah dirarangkenan. Nga tau s Ibu, Bapa dan Ajah masih mau begini-beginian, padahal kebijakan negara kurang jahat gimana sama kita. "Ah, raramean we,", ucap s Ibu padaku.


Selasa, 28 Juli 2026. Menutupi sablonan judul acara di tas. Menemukan tas ini di kantor dengan judul bimbingan teknis bantuan pemerintah apa gitu, yang nga jelas teknisnya seperti apa hmmeh. Yah.. Supaya tasnya bisa kupakai, tanpa atribut apapun.


Rabu, 29 Juli 2026. Wa Ica meninggal dunia. Pantesan beberapa hari ke belakang tidak ketemu, biasanya Wa Ica suka moyan kalau pagi-pagi, ternyata Wa Ica sempat dirawat dulu. Aku dan teman-teman kampung ikut mengantarkannya sampai ke makam. 


Kamis, 30 Juli 2026. I can't afford for the new one. Memperbaiki sepatu boots yang kupakai sejak tahun 2019, sepatu ini kubeli dari uang gaji dari video promosi destinasi kabupaten Tasik. Saat itu aku diajakin A Edi dan teh Er. Selain cuma beli sepatu, sisa gajinya uangnya aku pakai ngongkosin si Bapa ngalongok s Suhay ke Batam.


Jumat, 31 Juli 2026. Sebenernya, kampungku ini cukup kreatif soal kerjaan begini. Hanya saja tema dan pesan dari kreasi mereka itu sok kadang duka haha. Kali ini mereka membuat Komodo.

-

Hehe.. Beberapa waktu ke belakang ini rasanya memang agak seperti dalam ‘pembangunan’. Ada beberapa hal yang harus dibongkar, ditata ulang, lalu dibangun kembali dengan cara yang mungkin berbeda dari sebelumnya. tidak selalu dengan menambahkan sesuatu yang baru, tetapi kadang dengan memperbaiki kembali apa yang kita punya..

Lalu.. Ada juga pertanyaan, “Sampai kapan begini ya..?”,  kupikir tidak semua hal harus segera mendapat jawaban. Menerka-nerka jawaban cukup mendebarkan juga, hasilnya bisa oke dan bisa juga mengecewakan haha. Tapi minimal ada hal-proses yang kulakukan, tidak hanya berdiam diri. Hari-hari tidak selalu menyenangkan, tapi sayang juga kalau cuma dilewatkan uwoooo

Jangan lupa menggerutu, sadar, lalu sukuran lagii, hehe


إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
-Dari Ar-Ra'd

“I can do all things through Him who strengthens me.”
-Philippians 4:13