Bulan téh langlayangan peuting
nu ditatar dipulut ku tali gaib
Entong salempang mun kuring miang
Ditatar ti Tatar Sunda
Dipulut nya balik deui ka dieu
Ieuh, masing percaya.
-Mang Koko Koswara
Lagu Kawih ini menceritakan pesan dari seorang prajurit Siliwangi kepada kekasih atau keluarga yang ditinggalkannya di tatar Sunda. Prajurit tersebut meminta agar mereka tidak khawatir (entong salempang) karena ia pasti akan kembali pulang. Bulan diumpamakan sebagai layang-layang malam (langlayangan peuting) yang dikendalikan oleh tali gaib (takdir/kekuasaan Tuhan). Hal ini melambangkan sejauh apa pun mereka pergi mengembara meninggalkan tanah kelahiran, garis takdir akan membawa mereka kembali ke rumah.
Sejatinya manusia-pun makhluk hidup lainnya memang petarung, yang 'jenis pertarungannya' berbeda-beda. Tapi yang jelas, sekuat apapun seorang petarung akan selalu memiliki rasa kerinduan untuk pulang. Memiliki banyak tafsir. Pulang, kembali, istirah, selesai. Bahkan bisa yang lainnya.
Dari macam-macam perjalanan-pertarungan yang kita pilih atau dipilihkan. Kemungkinan hasilnya tidak hanya dua, jika hanya dapat menang dan kalah saja, yang seperti itu hanya pertarungan sederhana. Tapi jikka hasilnya adalah hal apa saja yang didapatkan dari dan selama pertarungan itu sendiri, yang hasilnya bisa banyak dan sangat beragam, yang seperti itu termasuk macam pertarungan 'selanjutnya'.
-
Malam di kosan. Setelah aku tinggal bertahun di sini sengaja kupasangi semua dengan lampu warna kuning yang temaram dan kumatikan saat tidak ada keperluan. "Apa kamu tidak merasa ini terlalu gelap ? Apa kamu tidak takut ?". Jawabannya, tidak. Selain harus menghemat listrik karena hidup numpang, kukira malam memang seharusnya gelap. Dan supaya kita tetap bisa melihat hal yang tidak terlihat saat terang di siang hari..
Banyak orang selalu menyangka terang lebih baik dari gelap.
Di waktu ini,
Ada yang tidak bisa melihat karena terlalu terang.
Ada juga yang malah tersadar saat dalam gelap.
-
Selasa, 18 Agustus 2026. Uuy melahirkan lagi kedua kalinya. Kali ini anaknya lima, tiga berbulu hitam dan dua berwarna seperti si Uti neneknya.
Nyelang istirahat duhur, lewat k wa ibah. Ternyata Mang Halim 'repot'. Repot dalam istilah sunda ini ditujukan untuk seorang yang menghadapi detik-detik menjelang ajal. Saat aku datang ke dalam rumah Wa Ibah sudah banyak orang di rumahnya. Mang Halim sudah berbaring
diriung, Mang Halim masih sadar, tapi tidak bisa apa-apa, suara Mang Apong masih dikenalinya saat hendak mengajak Mang Halim shalat dzuhur dengan
rukhsoh berbaring. Suasana memang muram, semua di dalam rumah semua mengaji air mata di sana-sini, di depan teras bapa-bapa nunggu giliran
ningali.
Diantara banyak yang duduk di luar itu aku ketemu A Indra, adiknya teh Nina yang kukira A deden. Aku tidak begitu mengenal a Indra meski mungkin a Indra juga pernah 'mengasuhku' waktu kecil. Aku mengajaknya foto bersama dan kukirimkan ke si Bapa.
Sepulang kuli, aku latihan lagi di rumah Diwan untuk acara Djarum sabtu ini dan untuk openingnya ujian tugas akhir magister penciptaan seni-nya Zaki hari senin depan.
Pulang maghrib ke kosan, di rumah wa ibah (jadi kosanku ini sebelahnya rumah wa Ibah) sudah banyak orang yang hendak ngaji Yasinan buat kesembuhan mang Halim karena kondisinya belum juga membaik. Aku ikut mengaji meski di luar karena sudah penuh di dalam.
Rabu, 19 Agustus 2026. Dua hari menjelang tampil. Latihan lagi di saungnya Diwan untuk persiapan panggung tanggal 22 Agustus ini. Kami mempersiapkan empat lagu. Dua musikalisasi puisi yang berjudul Mengukir Tubuhmu dan Sajak nakal, keduanya adalah puisi kang Acep. Lalu dua lagu pop jaman baheula, Ada Rindu Untukmu - Pance Pondaag, dan Ada Rindu Untukmu - SIti Nurhaliza.
Kamis, 20 Agustus 2026. Visa fighter. Mengurusi form aplikasi Visa secara online, kami selalu mengerjakan ini berdua. Karena bahasa inggrisku untuk urusan ini terbatas. Memang agak-agak membingungkan, kami sampai menghabiskan hampir dua jam untuk mengurus ini.
Jumat, 21 Agustus 2026. Last personel gather. Aku meminta bantuan s a Izoel untuk
lead guitar. Salah persepsi, dia datang setelah maghrib. Padahal kami latihan sedari selesai dzuhur. Jadi aku yang
brief dia dan Wawan karena Nida, Riki dan Ijal sudah pulang.
Kabar yang dikhawatirkan benar-benar datang. Saat brief lagu-lagu dengan si a Ijul aku mendapati pesan whatsapp tentang Mang Halim yang berpulang.
Jun, Junaedi.
Entah sebab apa, dari mana dan entah sejak kapan nama itu ada padaku. Dan hanya ada tiga orang di kampung yang memanggilku dengan nama itu. Mang Halim adalah salah satunya..
Mang Halim ini seorang agamawan, di tempatku atau di daerah sunda pada umumnya, lebih dikenal dengan sebutan Ajengan. Yang kuketahui, Mang Halim ini mengajar ngaji kitab tingkat 3menengah sampai tinggi, kedua kakakku dan adikku pernah mengaji bersamanya, hanya aku yang tidak.
Kendati menghabiskan masa usia SMA ku di sekolah dengan basis pesantren, orang-orang yang mengenalku dengan baik sangat tahu jika aku tidak terlalu piawai soal ilmu-ilmu agama. Tapi Mang Halim selalu percaya bahwa aku seorang yang tidak macam-macam, punya 'dasaran', tidak akan 'lewat batas' meski mang Halim tau aku pakai kalung salib kemana-mana. Malah seringkali mencandaiku dengan memanggilku ajengan jika kebetulan bertemu yang bagaimanapun tentu sebutan itu tidak pantas dan tidak akan kuterima.
Mungkin, itu cara 'lembut' Mang Halim untuk tetap mengingatkan anak kecil ini, yang sedari dulu dipanggilnya Junaedi.
-
Jumat bertemu jumat. Sayyidul Ayyam. Aku menjenguk Mang Halim sepulang jumatan minggu lalu, jumat ini menjelang maghrib Mang Halim berpulang..
Aku tidak bisa langsung pulang menuju tempat Mang Halim karena aku masih harus berkumpul untuk keperluan teknis acara esok harinya.
Pukul sepuluhan malam aku baru selesai dan langsung mengejar ke pemakaman Mang Halim.
Hampir selang sebulan, dua sepuh di kampung berpulang.
Saat mengantar almarhumah Wa Ica yang akan dimakamkan, aku dan Mang Halim berjalan bersama, cengkrama ringan sambil mengiringkan salawatan.
Ceritaku dengan seorang perempuan juga ternyata sampai ke Mang Halim, entah bagaimana,
Yah.. Mungkin begitulah cara di kampung berita tersebar : lewat mulut tetangga. Mang Halim membukanya dengan bertanya sejauh ini sampai mana, lalu aku mengatakan tentang kami yang punya 'hal berbeda'. Mang Halim menjawabku dengan nada rendah khasnya seperti biasa,
"Sabisa-bisa mah kudu sarua.., sok we pajuan heula.. Sugan we dipaparin hidayah"
Aku cuma tersenyum, dan ngeretegkeun doa. Mendengar semua yang dikatakan Mang halim, yang ternyata itu menjadi nasihat darinya untukku terakhir kalinya.
Aku tidak tahu saat itu mang Halim sudah dalam keadaan sakit, kalau orang bilang 'teu dirasa'. Sampai keluarganya yang bekerja denganku di tempat yang sama bercerita. Barulah aku tahu..
Aku banyak dan sering bertemu orang-orang berilmu, tapi itu tidak membuatnya jadi seorang yang arif-bijaksana. Tapi harus diakui, sepeninggal Mang Halim, di kampung-hari ini, orang-orang kehilangan tempat untuk bertanya.
Lagi, seperti yang sering diucapkan olehku..
Kenapa orang-orang baik selalu pergi lebih dulu ?
Mang Halim. Di pemakaman semua tidak ada yang ragu, insyallah khusnul khatimah.
Sabtu, 22 Agustus 2026. A Good friend is more than enough. Aku masih 'diselamatkan' bahwa di tempatku berkegiatan masih ada orang-orang yang bisa diajak kerjasama atau minimal sesederhana bergaul dengan 'sehat'. Setelah kehilangan
side kick sepeninggal kepindahan Pa Asep dan Adam, aku lumayan keteteran. Beruntung aku masih sering ditolongi Wawan dan Rijal. Sekarang syukurnya ada Riki juga. Kendati berbackground pendidikan ekonomi-manajeman, Riki Piawai menggunakan alat musik tiup. Soal musik tradisi tentu dia lebih paham dariku.
Riki pernah aktif di UKM musik UNSIL, sanggar angklung Katumbiri, aktif di Sanggar Astamekar, dan di Lingkar Daulat Malaya. Kepribadiannya supel dan sama-sama caliweura. Lalu dia tipe 'berbahagia', bukan sabaraha. Seorang begini sudah jarang kutemukan lagi setelah generasi Fine Della Storia. Seorang Persis yang menikahi perempuan IPPNU yang sering kujadikan candaan. Tapi sebenernya aku senang ada hal begini. Bahwa cinta dapat merobohkan tembok-tembok pembeda.
Dalam keadaan sekarang ini, kalau aku udah ngajak Riki, berarti aku sudah ngada orang lagi untuk dikondisikan di sini. Sebenernya ngaenak, sadar jarak tempuh dia ke sini lumayan jauh dan ngajakin buat panggung yang ngada uangnya.
Jadi, aku berterimakasih sekali.
Aku sudah nga mikirin soal nama band, tim, atau apapun. Yang jelas orang-orang ini punya
skill yang kubutuhkan. Dan mereka sangat kompeten tapi
susungutananaaaa ampun
pisan pokonya hahaha.
Panas ceu ?
Acara yang kali ini membawa tema di nuansa Indonesia rentang tahun 80-90'an. Kami jadi berdandan rada-rada kolot.
Teror kabar buruk setelah
soundcheck adalah s a Izul nga bisa ikut maen karena dia muntaber. Sedangkan
fill-in melodi lagu-lagu sudah diploting untuk Riki dan a Izul.
Rada lewang tah di pangung teh. Tapi overall semua aman, audiens masih orang sekitaran sini, aku cukup paham soal medan, meski mulutku jadi kemana-mana hahaha.
Anthony Hutagalung, Out of expectation.
Pa Imam meminjamiku wig keriting ini. Berharap menunjukkan sisi Jimmy Hendrix, tapi yang terjadinmalah lebih ke Caca Handika haha. Aku juga sebenernya agak penasaran kalau punya rambut keriting, tapi memang teu pantes.
Citra panggung dari atas menggunakan drone.
Selesai acara kami beres-beres alat ke rumah Diwan, ternyata ada Pa Agus dan Kg. Yadi sedang mengobrol dengan Kg. Acep.
Minggu, 23 Agustus 2026. Gladi untuk keperluan ujian magister tugas akhir penciptaannya s Zaki. Kuluwung menjadi tim lokal untuk membantu jalannya acara ini, termasuk tim musik yang kemarin main di acara sebelumnya.
Ada juga santri yang terlibat sebagai talent. Mereka akan membacakan shalawat saat rangkaian ujian penyajian ini.
Bukan maenan orang-orang sepertiku. Persiapan ujian Zaki ini rada repot karena banyak equipment yang asing buat kami selain soundsystem, yah.. meski yang ngerjainnya tim Bandung sih. Lalu kapasitas voltase listrik di aula ini tidak cukup, kami sampai mencoba alternatif menggunakan genset, tapi akhirnya kami loss voltase listriknya oleh PLN, barulah semua dirasa aman.
Senin, 24 Agustus 2026. Hari ujian Zacky.
Persiapan hampir
injury time. Semua gelisah ha ha
:"Sungut heula, kara tangung jawab skill", hahaha. Begitulah kami bercanda. A Izul agak mendingan, jadi hari ini bisa ikut tampil sebagai opener ujian. Nah kalau
full-team begini mah
regreug. Tapi ada hal lain. Kesepakatan perform ini adalah Aku diminta main sebagai opener untuk mengisi selang waktu menunggu-mengumpulkan datangnya para udiens, ternyata kami harus main di depan para penguji ujiannya Zaki. Dan salah satu dari tiga itu adalah Pa Ismet, founder dan pemain Bass di Sambasunda. Kali ini aku kebagian maen basa,
Panan oyag, aengaaah ripuuuhh.
Svarasoeng : Reinterpretasi Spiritualitas Bunyi Pesantren Cipasung. Begitulah judul tesis M. Zacky Musyafa. Menurut abstrak, penciptaan ini merespons fenomena memudarnya lanskap bunyi religius kultural, seperti tradisi nadoman Sunda, di era modern. Tujuan karya ini adalah mengeksplorasi
soundscape Pesantren Cipasung sebagai medium artistik untuk mereinterpretasi spiritualitas bunyi ke dalam bentuk seni pertunjukan kontemporer. Tahapan penciptaan meliputi observasi lingkungan akustik, perekaman lapangan, materi bunyi sosial, musikal, dan spiritual, serta pengolahan audio secara langsung menggunakan
Digital Audio Workstation (DAW) tanpa mereduksi esensi keautentikan sumber aslinya.
Hasil penciptaan ini berwujud pertunjukan seni bunyi elektroakustik eksperimental yang imersif. Karya ini mengintegrasikan tata suara spasial, tata cahaya adaptif, dan proyeksi visual mapping berbasis multicam. Struktur dramaturgi disusun secara non-naratif merespons siklus waktu pesantren, bermula dari kesunyian, memuncak pada kepadatan bunyi kolektif, dan diakhiri oleh peristiwa murni kumandang adzan maghrib. Svarasoeng membuktikan bahwa sinergi antara otentisitas bunyi religius pesantren dan intervensi teknologi digital mampu menciptakan ruang relasional yang kontemplatif. Karya ini berhasil menghadirkan sensasi kehadiran kolektif sekaligus berfungsi sebagai medium reflektif dalam merawat warisan akustik lokal.
Buat beberapa teman yang pernah dengar lagu-lagu yang kubuat bersama di Surya atau di Kuluwung, hampir semua dia yang ambil bagian vokal~
Kami jadi opener ujian tesis magister seni si Marzaki kemarin, dan sepertinya itu akan jadi panggung kami terakhir sebelum Nida yang juga akan jadi sarjana bulan depan, yeayy ! Bocah tau-tau sudah selese, aku bener-bener memasuki usia -matang 😂
Ah Tapi pokoknua bukan jadi yang terakhir buat karya selanjutnyaa ya Nid !
Selesai ujian penyajian dan sidang ! Zaki soheh dapat Magister !
: "Eki disasarung didieu mah,..". Ucap pa Ismet padaku saat kutemani ke sana-sini. Hehe, pan ekting tea pa, kamuplase mwehehe.
Pa Ismet ini salah satu dosen favoritku saat di ISBI (STSI kalau zamanku). Spesialisasinya kecapi, tapi da sagala bisa. Tidak muluk juga kalau media menyebut pa Ismet adalah salah satu tokoh penting yang membawa musik tradisional Sunda mendunia lewat aransemen kreatif yang menggabungkan unsur lokal dengan berbagai genre musik global. Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ini sudah lama berdedikasi dalam mengenalkan karawitan Sunda, ini juga yang membuatnya sering diundang menjadi dosen tamu di berbagai universitas dunia, seperti di Oslo University (Norwegia) sejak 1994, Norges musikkhøgskole, hingga National Cheng Chi University di Taiwan. Hamdallah ketemu di Cipasung setelah bertahun, sehat-sehat paa !

Selasa, 25 Agustus 2026. Hari ini benar-benar nga kemana-mana. Karena memang kurang tidur-kurang istirahat, aku juga terkena radang di gusi dan mulut yang membuat hese baranghakan. Lalu dapat juga kabar s A Izul nuluy sakit, aku dan Wawan berniat menjenguknya sambil mengembalikan alat-alat miliknya. Ternyata lumayan jagjag, tingal se'eulna cenah.
Kami jadi merencanakan retake untuk lagu musikalisasi puisi Cipasung dan Sajak Nakal, semoga kekejar sebelum Nida selesai di sini dan pulang ke Bandung.
Rabu, 26 Agustus 2026. Familie value. Membaca blog si dede
:"Tanpa kusadari, hari 'esok' adalah sesuatu yang aku nantikan. Entah itu dalam konteks positif maupun negatif. "Besok akan ada kekacauan apalagi ya?","Besok aku akan menunjukkan hal seru ini kepada anak-anak", dan lainnya. Secara tidak langsung, aku bergantung pada sebuah ketidakpastian. Itu menyenangkan, namun membuat gelisah."
Kami di rumah, tumbuh dengan ketidakpastian, kami sangat akrab dengan menerka dan berimajinasi, sejak dulu sekali. Melakukan sesuatu dengan kemungkinan yang sudah dipersiapkan memang ringan. Tapi dihadapkan keadaan yang undercontrol juga menantang, tidak disangkal memang menyulitkan terkadang. Tapi mungkin kebiasaan itu yang membuat kami anak-anak s Ibu dan s bapa jadi orang-orang yang cukup handy. Malam menyiapkan pensil dan buku, kenyataannya esoknya kami ternyata harus berperang, sudah tidak jarang.
Gara-gara ini kami juga dapat pelatihan gratis soal pengendalian diri dan emosi. Meski sok aya gegebegan, kita dapat lebih tenang menghadapi keadaan yang benar-benar memancing dan lewat batas. Kami hampir tidak pernah marah meledak di depan publik. Meski membawa segudang gerutu ke tempat kos masing-masing. Tapi kami sadar sangat sulit mengendalikan yang bukan pada kita, maka yang lebih memungkinkan adalah mengendalikan yang ada di dalam kita.
Mulang teu nyimpang, nyimpang teu mulang.
Ah, aku tahu perasan teu pararuguh semacam ini. Kakakku yang di Batam mendapat pelatihan di Jawa Tengah. Tapi tidak punya kesempatan untuk waktu pulang, ke Tasik, atau ke mertuanya di Trenggalek.
Tidak sedikitpun dari kami, empat anak ini berpikiran akan punya beberapa perjalanan seperti sekarang. Tidak semua juga mulus. Tapi ini 'memperkaya' semua indra kami. Melihat, mendengar, merasa, yang sering berbeda dari apa yang kami 'biasa' miliki', tanpa merubah yang sudah ada dan pulang dengan pengetahuan yang tidak kami ketahui sebelumnya.
Oleh-oleh tak melulu harus benda. Yang lain juga bisa, kebijaksanaan misalnya.
Balakecrakan. Hari ditutup dengan kedatangan Gibran, Wawan dan Zayin. Gibran masih membicarakan pasca pertunjukan, Wawan mengerjakan modul ajar, Zayin istirahat setelah kerja.
Yah.. Saung fungsinya begini juga..
-
Sepuluh hari, 17 ke 27. Kelahiran, bantuan, kepulangan, penciptaan, pertemuan.
Ah.. Aku jadi mudah kelelahan. Sudah tidak bisa lagi begadang-begadangan. Bisa sih, cuma istirahatnya bisa sampai dua hari. Jadi lebih baik jangan. Agustus masih sisa tiga hari, mari kita lihat apa yang akan terjadi lagi !
-
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَـٰتِ وَٱلنُّورَ ۖ ثُمَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ ١
"All praise is for Allah Who created the heavens and the earth and made darkness and light.1 Yet the disbelievers set up equals to their Lord ˹in worship˺."
-Al-An'am : 1
"If I say, 'Surely the darkness will hide me and the light become night around me,' even the darkness will not be dark to you; the night will shine like the day, for darkness is as light to you.""
-Psalm 139:11-12