Excerpt from the other sight Time has wonderful way of showing us what really matters

Selasa, 03 Februari 2026

Grow, Bloom and then Fall


The long and winding road
That leads to your door
Will never disappear
I've seen that road before
It always leads me here
Lead me to you door

: The Long and Winding Road - The Beatles

-

Lagu ini adalah salah satu lagu The Beatles favoritku. Salah satu lagu yang sering kudengarkan saat mendapati waktu-waktu sulit atau kurang menyenangkan. Paul McCartney menulis lagu ini pada 1968, saat perpecahan The Beatles semakin jelas. Dengan inspirasi jalanan tenang di Skotlandia, Paul seperti menangkap perasaan sedih namun penuh harapan bahwa jalan hidup akan selalu membawa kembali ke tempat yang seharusnya. Liriknya juga bisa punya tafsir lain tentang lagu cinta tentang seseorang yang mencoba meyakinkan kekasihnya untuk memberinya kesempatan, menghadapi jalan panjang untuk mencapai hatinya.

Buatku pribadi, aku lebih mendengarnya pada musikalitas yang sederhana dan lirik yang pas. Tidak mesti sesuai dengan keadaan hari-hariku yang berbeda dari maksud lagunya. Lagu-lagu hari ini terkesan lebih kompleks, skillfull, tapi aku merasa lagunya tidak memiliki ruh. Dan memang benar, tidak bertahan lama di telinga.


Senin, 26 Januari 2026. Bolos upacara. Tidak ada sebab apapun, hanya ingin pagi yang santai saja. Kalau bolos begini biasanya melipir ke rumah Diwan, bolos tepat di pinggir tempat kerja. Tapi memang pilihan yang tepat, ditawarkan pemandangan bagus, sesampainya bunga-bunga teratai merah muda masih memberikan senyum masih mekar sisa semalam.


Latihan fisik untuk menanggung beban umat. Diwan masih sedang berbenah saung barunya, menata taman, dan potongan-potongan sisa tebangan pohon. Termasuk tunggul ini, dia memindahkannya dari satu sisi ke sisi yang lain.


Bab seni musik. Kali ini tentang sejarah musik, tentu musik barat. Aneh juga, di buku-buku pelajaran selama ini selalu soal musik barat, itupun relatif lengkap daripada sejarah musik tradisional kita sendiri. Para penyusun pustaka dan kurikulum pendidikan kita memang masih saja tidak berkembang dan 'sadar' ya. Profesor-doktor banyak banget, tapi ngada manfaatnya. Akhirnya aku kukulibekan sendiri nyari bahan.


Selesai diskusi-presentasi. Ini adalah kelas yang rumpun pelajaran bahasa nya lebih banyak. Isinya cuma 25 orang, dan menurutku segini cukup (lebih enak sih 20-an), supaya pengkondisian bisa lebih efektif. Tapi kelas ini relatif aman, anak-anaknya responsif meski kadang sok celetak celetuk. Tapi masih menyenangkanlah.


Sopia mengirim pesan foto, biji-biji hanjere dari saung sudah dia buat menjadi gelang-gelang. Rajin memang.. Dan semuanya bagus..


Usia-usia yang mulai mengganti kopi dengan tolak angin. Badanku sudah tidak bisa diajak begadang. Kalaupun begadang, gantinya adalah tidur dua hari. 


Selasa, 27 Januari 2026. Visual jurnal, aku mengajak mereka menuliskan hal-hal yang ditemukan selama mereka berlibur ditambah dengan ilustrasi sederhana, tidak perlu bagus secara bentuk, yang penting mewakili ekspresi dan kreasi. Bisa jadi apapun, menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Selain memang ada dalam silabus, aku juga sekalian bereksperimen. Dan sesuai dugaanku, sebagian besar dari mereka tidak dapat 'mengingat' dengan baik. Mereka kebingungan tentang apa yang sudah mereka lewati. Itu berarti mereka kurang memaknai waktu, mereka menjalani peristiwa tidak dengan kesadaran dan kehadiran penuh. Dengan segala distraksi pada zaman ini, mereka kehilangan banyak hal.

Suatu yang lainnya, mereka adalah pelajar menengah atas, tapi beberapa dari tulisan tangan mereka sulit untuk dibaca. Ini juga bentuk 'kemunduran lain' dari kemajuan teknologi. Bahkan ada juga yang pergi sekolah tanpa membawa buku dan alat tulis. Kasus di sini bukanlah tidak mampu, tapi tidak ada kemauan dan kesadaran, bahwa belajar adalah proses yang penting. Pe-Er besar semua tenaga pendidik.


Sore hari aku memang berencana ke rumah Diwan untuk meminta lumpur dari kolamnya. Aku mau menggunakannya untuk campuran fertilizer tanaman-tanaman di ruanganku yang tanahnya belum pernah diganti sejak tiga tahun lalu. Sesampainya di rumah Diwan ternyata sedang memanen buah rambutan.


Selain rambutan, ada juga pepaya, nanas dan bunga rosela.


Ngala leutak. Cuaca memang sudah mendung sejak aku hendak berangkat. Jadilah kami hujan-hujanan sambil memindahkan lumpur-lumpur dari kolam ikan.


Lumpur yang kami pindahkan cukup banyak. Kami simpan sementara di pinggir rumahnya, aku belum punya uang untuk membeli tanah untuk tanaman-tanaman, yah sembari menunggu kadar airnya berkuranng.


Kopi liong dan seupan cau. Hidangan hangat setelah badan kedinginan hujan-hujanan.


Rabu, 28 Januari 2026. Melati dan Kemuning yang mekar di pagi hari yang sama. Keduanya adalah bunga favoritku, wangi mereka sekilas mirip, tapi tetap melati juaranya.


Sesuai yang direncanakan jauh-jauh hari, aku pergi ke kampungnya Imong untuk sekedar 'nongkrong' di gunungnya (begitulah dalam bahasa sunda, kami menyebut bukit atau dataran yang agak tinggi dengan kata gunung). Pagi hari, Aku, Ijal dan Imong sudah sampai saung tempat Bapaknya Imong memproses gula aren.


Cuaca sehabis hujan, di hutan begini tentu banyak nyamuk. Yah.. Seperti di gunung rukem saja.. Bedanya di sini tidak ada kuburan, dan lalingih karena Bapaknya Imong memang biasa sehari-hari beraktivitas di sini.


Dari itu aku membakar dupa. Selain untuk mengusir nyamuk juga supaya harum saja. 


Bapaknya Imong sudah berangkat sejak pagi sekali, kami terlambat untuk ikut untuk melihat bagaimana proses menyadap Lahang. Jadi, Bapaknya Imong memang biasa berkeliling 'menjenguk' pohon-pohon Aren di sekitar hutan Jeunjing. Akhirnya kami hanya bisa menunggu kedatangan Bapaknya saja, sambil duduk dan ngopi.


Lebih dari satu jam barulah Bapaknya Imong datang. Dengan lahang segar yang dibawa dengan lodong (Bambu yang dipakai untuk menyadap Aren).


Lahang segar langsung dari pohonnya. Rasanya memang berbeda dari yang pernah kubeli dari penjual yang kadang ketemu berkeliling. Lahang memang dikenal dengan berbau asap, tapi yang ini kukira sensasi bau asapnya lebih tipis, lalu dingin, tidak panas atau hangat. Eweuh rasa biang dina genggerong. Mungkin begini lahang yang benar-benar alami. Bapaknya Imong bilang untuk segera dihabiskan, karena dalam satu jam saja rasanya akan berubah asam, dan warnanya akan berubah lebih ke kuning kecoklatan.


Sisa Lahang dari satu botol yang diberikan Bapaknya Imong diolah menjadi gula. Lagi, berbeda dari gula yang biasa dibeli di warung-warung. Gula ini bertekstur lunak, mudah dihancurkan/diiris, beraroma khas karamel, dan warna cokelat cerah. Rasa manisnya tidak giung, tidak meninggalkan rasa pahit, dan tidak keras saat disimpan. Imong membekali ibuku tiga gandu untuk di bawa pulang ke rumah.


Rizki kedatangan, hadiah dari alam. Jamur-jamur ini tumbuh liar di hutan, Bapaknya Imong hanya berkeliaran sebentar dan sekitaran saja, pulang-pulang membawa ini.


Menikmati hutan Jeunjing, Buninagara, Tanjung Jaya.


Kamis, 29 Januari 2026. Hari yang biasa saja. Sampai menuju sore, gelondong kayu pohon durian yang sudah mati ini lapuk. Saat dulu ditebang kami tidak bisa memindahkannya karena berat dan berpotensi merusak bonsai-bonsai di sekitarnya. Dulu pohon ini yang mayung ngiuhan saung. Sekarang mau tidak mau kami harus memotong-motongnya dan memindahkannya..


Jumat, 30 Januari 2026. Seminggu lalu Bu Yani Yulia mengirimkanku pesan untuk menyampaikan salamnya pada Wa Ibah karena Bu Yani katanya memimpikannya. Saat berangkat kuli aku kebetulan ketemu wa Ibah, jadi aku punya kesempatan menyampaikannya.


Rapat di tempat kuli. Harusnya semua hal dievaluasi, termasuk soal social capital, tapi hari ini kiranya rapat lebih condong pada salah satu bantuan pemerintah yang disetop mulai bulan ini. Jadi, tempat ini kehilangan 50% dari bantuan keuangannya. Efeknya adalah penangguhan gaji dan pengurangan gaji karyawan. Yang menyebalkan adalah yayasannya terkesan tutup telinga, bahkan bertanya balik harus bagaimana (kepemimpinan macam apa ini). Padahal, aku sangat yakin, dengan pengelolaan yang optimal, segala kebutuhan operasional sangat memungkinkan untuk bisa mengatasii keadaan ini, bahkan tanpa bantuan pemerintah sekalipun. Tapi ya.. Mereka mungkin enggan melakukannya (atau tidak peduli tempat ini akan jadi seperti apa).

Mereka bilang salah satu solusinya adalah menambah jumlah siswa. Itu memang solusi praktis, tapi menurutku berjangka pendek. Mereka tidak ada yang membawa obrolan tentang bagaimana kita mengelola jumlah banyak itu (kalau misal memang terjadi). Jika manajemen pengelolaanya sama saja seperti sekarang, kukira tidak akan ada perbedaan dan bukan solusi jangka panjang. Aku tidak menapikkan diri bahwa aku juga butuh uang, tapi melihatnya menjadikan ini sebagai komoditas-jadi  terkesan seperti bisnis, (tanpa perbaikan kualitas) ini juga memuakkan.

Kita selalu terkonsentrasi pada human capital dan mengesampingkan social capital. Lebih buruk, ke keuntungan pribadi. Bukan kemaslahatan jamak. Apanya yang pendidikan.

Negara ini kotor, menyuguhkan kabar buruk setiap hari. Dari atas bahkan sampai bawah.

Tapi paling tidak yang kuterima dari rapat ini adalah aku harus cari kerjaan lain untuk bisa menutupi kebutuhan-kebutuhan hidupku 'yang lain'. Kemana, ya ?

Aku lulus PPG. Tapi sejak awal memang tidak apa soal iming-iming tunjangannya. Jadi, segala hal kemarin yang kulakukan dan 'kukorbankan' bisa kukatakan sebagai perjudian saja. Namanya juga judi, ya maenannya bandar.


Sore hari. Sudah seminggu sebelumnya Cep Thoriq meminta ketemu, tapi baru bisa kulakukan hari ini. Dia bilang cuma pengen ngobrol yang bukan kerjaan dan beban, tapi ya tetap saja kami saling 'mengeluarkan' obroloan itu. Lalu dia juga bilang akan berangkat umroh tanggal 3 februari mendatang. Dengan kopi 'serius', kami ngobrol sampai jam 10 malam.


Pulang ke saung, si Cece masih kerja menggarap lagu. Efek dari kopi baru dirasakan setelah aku pulang, aku tidak bisa tidur sampai jam 3 pagi.


Sabtu, 31 Desember 2026. Memasang lighting untuk keperluan ujian pertunjukkan. Hampir kuurungkan karena aku kurang tidur malam sebelumnya, tapi kadung sudah bilang ke Ijal dan Wawan bahwa hari ini kami akan melakukannya. Akhirnya tetap kami kerjakan dan selesai dzuhur. Aku sudah tidak punya uang, syukurnya ada makan siang gratis untuk ngupahan Ijal dan Wawan yang membantuku mengerjakan ini.


Memasang Lighting controller punya mang Cucu, ini sudah tahun ke tiga kami selalu meminjamnya. Yah.. Paling aku nanti minta uang ke sekolah untuk biaya sewa nya.


Menuju sore hari aku sudah pulang ke saung, lalu hujan besar turun. Timing yang pas, rehat setelah kerjaan seharian.


Menghadiri Haul Gusdur. Awalnya aku ragu-ragu buat ikut, tapi yasudahlah, ini malam minggu dan aku tidak tahu acara seperti ini bagaimana. Haul Gusdur ini acara tahunan, kali ini di ponpes Mathlabul Hidayah Nursalam - Cigalontang. Acara dimulai dengan Hadroh, Pembacaan Al-Quran & Shalawat, Mahalul Qiyam - Barjanzi, dan parade sambutan (banyak banget sambutan) aku sampai ngantuk. Lalu diakhiri dengan diskusi, kali ini temanya agama dan lingkungan, jadi masih okelah.


Sebenarnya, aku datang cuma mau lihat Diwan dan nonton dua bocah ini main musik karena Ijal dan Wawan kebagian ngisi acara dipenghujung sebelum pembacaan do'a.


Bonusnya, ketemu lagi teman lamaku Husni Aziz yang sudah berenti ngajar di kampus karena diangkat tugas di KUA Cigalontang, kami sudah lama nga ketemu. Lalu ada a Arif dari Ansor juga. Pulang jam 1 malam.


Minggu, 1 Februari 2026. Pagi hari minggu tenang. Aku cuma berencana mau lihat-lihat dan ngurus tanaman-tanamanku hari ini. Kriminil-kriminil yang kutanam di depan rumah maeje sudah mulai tumbuh, mangadam memang rajin mengurusinya.


Lalu, pagi tenang itu berubah jadi tegang. Si Bapa mengirimiku pesan kalau ibuku jatuh gara-gara pingsan, vertigonya kumat. Aku langsung pulang, dan Ibu sudah baringan di kasur. Seiring dengan jatuh itu, penyakit jantungnya juga ikut kambuh, tiada lain, harus dibawa ke IGD. Kebetulan si Iyan memang akan ke rumah, jadi kami semua ke rumah sakit. Seharian di sana, hasil diagnosa, iu harus dirawat inap.


Besok senin, aku harus masuk kuli. Jadi Aku pulang setelah maghrib, Bapa yang menunggui Ibu di rumah sakit. Hujan dan terang bulan yang biasa kusukai, malam ini berubah menjadi rasa gelisah. Aku cuma berharap tidak lama-lama saja.. Semua pulang, seperti biasa.


Selasa, 3 Februari 2026. Sore hari Ibu sudah bisa pulang dari rumah sakit. Iyan 'mengatur' kepulangan ke rumah karena rumah Iyan lebih dekat ke rumah sakit, selain itu aku masih kuli. Mereka tidur lebih awal, keduanya kelelahan. Tapi minimal sudah di rumah, dan aku bisa tenang sedikit sekarang.

-


Menyanyikan dua verse awal lagu ini..


Disela-sela hari-hari 1-3 Februari aku melihat jurnal menggambar mereka. Sebenarnya aku tidak juga terlalu fokus melihat sisi kualitas bentuk gambar yang mereka buat, tapi juga soal 'pembangunan' kalimat yang mereka rancang. Ada yang detail, ada yang sederhana, ada yang cuma 'syarat mengerjakan' saja. 

Setiap ini, aku mengobrol dengan yang membuatnya-per satu orang, ini privasi mereka. Sampai ada salah satu yang meminta maaf padaku karena ilustrasi yang dia buat tidak bagus. "Maaf Pak, gambarnya jelek. Nggak bisa, kurang minat sama menggambar sih..", ujar salah satu dari mereka. Di sisi lain, ini melukaiku he he, karena itu berarti dia tidak tertarik dengan pelajaranku yang notabene berhubungan dengan gambar. Di sisi lain, dia seorang yang jujur, dan tetap berusaha melakukan tugasnya. Segitu juga sudah cukup, karena mungkin kecerdasan setiap orang berbeda-beda. Yang penting dia paham tentang esensi dan teknis tentang hal yang kita sama-sama pelajari hari itu.

Melihatnya, dia mungkin sepertiku yang dulu enggan belajar matematika. Sejak kecil, aku sudah melihat bentuk angka-angka ini sebagai sesuatu yang terlalu pasti, tidak ada yang perlu dimaknai lagi. Tidak mengasyikan, aku tidak bisa berkelana di dalamnya. Efeknya aku sering melewati pelajaran matematika tidak dengan benar, dan membuatku selalu kesulitan dengan angka-angka. Terlebih tentang bagi kurung, dulu saat usia SD setiap aku punya pe-er tentang itu selalu dibantu ibuku, dan sudah pasti kena omel, karena aku memang sulit sekali mengerti-menangkap itu. Dan iya, kiranya sejak dulu, bahkan sampai hari ini, aku memang tidak pandai soal 'membagi', tentang apapun itu.

-
Aku sudah kehilangan rambutku. Nanti harus kehilangan apalagi ?

Bulan kedua. Tahun ini agak tidak ramah bahkan di awal tahun,
Mungkin masih ada harapan-harapan lain diantara embun.





Rabu, 28 Januari 2026

Rearrange The Rhythm


Bertahun. Beban-beban yang tertahan
Terjatuh. Mengubahnya menjadi kesadaran

Di pekaranganku. Sudah tidak banyak lagi tumbuh peduli
Karena tidak saling merasa memiliki

Laluan cerita. Bisa datang dari apa saja
Yang tidak mungkin dikembalikan seperti semula

Membuang yang tidak perlu
Bisa jadi harus memilih yang baru

Tapi sisa-sisa nya masih bisa terlihat.
Disimpan oleh waktu

2026

-


Tentang tahun baru, sejak lama buatku memang tidak ada yang berubah selain soal penamaan bulan dan penomorannya saja. Karena kiranya setiap waktu yang datang adalah waktu yang baru. Diperekpek di bulan-bulan penghujung tahun sempat membuatku keteter dan 'goyah', tapi masih bisa dilewati (yeah !).

Tidak ada perayaan khusus. Aku yang punya kegiatan saat malam pergantian tahun (tahun ini) juga rasanya aneh. Di tempat ramai dengan kemeriahan, aku malah merasa gegebegan. "Apakah melakukan hal seperti ini tidak apa-apa ? Apakah ini tidak berlebihan ?Apakah kebanyakan orang melakukan hal seperti perayaan ini setiap tahun ?". Kembang api, jalan-jalan, musik yang berisik, pacaran, kebut-kebutan, mabuk-mabukan. Aku malah jadi merasa aneh dengan diri sendiri saat itu.

Lalu setelah kuhitung, catatan tahun ini tidak lebih banyak dari tahun sebelumnya. Padahal kegiatan rasanya selalu saja ada. Ternyata, aku banyak kehilangan waktu dan kalah oleh kemalasan untuk sekedar mengingat hari-hari lalu. Catatan resolusi yang kutulis di rumah Diwan tahun 2024 kemarin pun belum sempat kubaca, tahun ini malah belum menuliskan harapan apa-apa. Sibuk dengan kegiatan memang menyenangkan, tapi banyak kebiasaan yang jadi tumpul. Seperti menulis, membuat lagu, tahun kemarin sangat minim kekaryaan soal itu, dan ketika mencobanya kembali jadi hararese. Meski sempat melukis beberapa kali.

Sambil berjalan diawal-awal, mungkin aku akan menuliskan yang kukejar di tahun ini. Yah.. Kita lihat saja.


Senin, 29 Desember 2025. Pulang dari Bandung lebih awal karena ada kerjaan 'ngamen' tahun baru. Belum sehari di Tasik, pagi-pagi H. Imam menghampiriku lewat pintu belakang rumahnya (yang mana langsung menghadap kosanku), memberitahuku nanti malam Rajaban di Madrasah, "Can beberes jang Eki..", ujarnya. Aku seketika berbenah, memilah barang-barang di saung yang kiranya bisa digunakan untuk dekor, dan kebiasaan jelekku adalah dekornya selalu harus desain baru, meski materialnya sama, masih bisa diotak-atik lah (ngaririweuh sorangan memang).


Masih ada rasa-rasa sisa natal, haha. Kalau karpet memang selalu yang itu (punya H. Imam), tapi kebetulan memang warnanya merah. Wawan membawa sampur-sampur tari punya sanggar Harsa, lalu kami dapat bunga-bunga sisa pernikahan di Aula yang masih segar, ditambah dengan dua lampu berdiri yang memang ada di kosan, oh cocok !


Pulang dulu ke rumah untuk membawa perkakas berat. Sibocah nyamperkeun, siga si Oli pisan.


Sambutan RW baru. Aku baru tahu Daniel menjabat sebagai RW untuk kampungku. Aku sangat tahu bagaimana caliweura na dia saat sekolah sih, tapi pas sambutan mah rada bener ngomongna teh, haha. It's mean dia sudah tumbuh dan berkembang. 


Lalu ternyata mubalighnya adalah Pa Asep Nursamsi. Ini kedua kalinya Pa Asep mengisi pengajian di madrasah akmpungku. Pa Asep ini dosen agamaku saat kuliah, yah.. Tentu harus bersiap dengan selingan-selingan candaan yang ditujukan padaku. Belum apa-apa pa Asep sudah ngahereuyan, "Rada barereum nya didieu mah. Ari ieu nu hurung dina meja keur naon, Ki ?", ujarnya. Karena aku memasang lentera di meja nya haha.


Paket irit. Aku sendiri yang 'membiasakan' ada penampilan pembuka seperti ini setiap PHBI, kali ini hanya aku dan Wawan saja yang ngurusi. Sekarang aku sudah malu kalau ngajak orang-orang main begini, karena ya teu diburuhan. Tapi kebetulan ada Zahra, vokalis dari Borolong kaler, yang mana aku nga ingat sama sekali. Bocah ini sudah besar, terakhir aku melihatnya saat dia masih usia SD, ternyata dia menghabiskan masa SMP dan SMA sambil pesantren di Ciamis, dan sekarang dia kuliah di UNIK - Cipasung, okeee bisa kugunakan haha. Kami membawakan beberapa shalawat dan tentu doa rajab.


Nga sering punya kesempatan foto diaping dua guruku ini.


Selasa, 30 Desember 2025. Latihan di Kopi Sarasa 2 di Cisayong. Berangkat hujan-hujanan, ini latihan terakhir untuk main di malam tahun baru. Aku sudah bolos tiga kali latihan karena menghabiskan liburan di Bandung. Sebenarnya aku tidak begitu pede main beginian. Yaa karena sisa pemainnya selainku semua pemaen beneran.


Rabu, 31 Desember 2025. Pagi-pagi berkunjung ke rumah a Rais untuk meminjam vest, buat kostum main nanti malam. Karena kata s a Ervan kita harus keliatan 'jadul' sebagai performer kali ini.


Lalu Aku malah diminta untuk melihat dan menyetem kecapi baru punya MAN 2 Tasikmalaya. Bagus sekali. Dan yang jelas sekolahnya koperatif. Minta kebutuhan 'tingal sor'. Tidak seperti di sekolah sebelah, minta sejak tahun kapan, sampai sekarang tidak kunjung juga ada pengadaan.

: Sama sekali tidak perhatian. Padahal untuk kemajuan, jadi jangan harap ada perkembangan.


Pulang dulu ke rumah untuk persiapan. Beginilah anak-anak si Uti kalau liat sendalku di depan rumah.


Sudah di tempat acara di Kopi Sarasa 2 sejak ashar, padahal mainnya nanti petang. Aku tidak mau sampai hujan-hujanan lagi seperti hari kemarin, ribet, tapi kudikersakeun da eweuh hujan, ampun pisan da. Di sana sudah ada a Ervan di sana sebagai team leader, jadi kita menunggu personel lain datang.


Keroncong "The Lamp", geleuh memang ngarana. Duka da si a Ervan jol milih ngaran eta teu puguh-puguh. Jadi kami mengcover lagu-lagu populer zaman ini ke bentuk keroncong. Ini salah satu yang bikin aku 'ogah' maen. Lagu-lagu populer pilihan untuk perform malam ini tidak ada yang kuketahui. Tapi karena yaa butuh buat 'jajan' aku jadi mesti ngenali dan ngapalin lagu-lagu itu.




Kami berpersonilkan 6 orang. A Ervan sebagai leader pada Cello petik, a Izul pada Bass, de Fik pada Cuk, Yudi pada suling, Memsky pada vocal, aku pada biola, satu lagi pemain Cak aku lupa namanya.


A Ervan ini alumni STSI. Aku sebenarnya sudah lama mengenalnya sejak kehidupan di Bandung, zaman-zaman dia masih di band Pandanwangi. Tapi ya tentu dia tidak mengenalku. Tapi kami ketemu lagi saat program Napak Jagat Pasundan - Kamonesan di Cipasung.



Pengunjung malam itu ramai. Penonton cukup antusias, tapi entah karena musiknya atau gara-gara tahun barunya.


Teman-teman Kuluwung juga hadir. Agak aneh buatku, karena biasanya aku tidak keliaran keluar kalau malam tahun baru begini. Biasanya melingkar saja di rumah Diwan, baca catatan tahun lalu dan nulis catatan buat tahun depan.


Dari itu kami tetap melakukan kebiasaan kami itu di sini, saat aku break sesi pertama Tapi tidak begitu kondusif, : teu karasa. Karena tempatnya ramai dan berisik. Tapi disamping itu aku sih senang mereka sambil jenguki aku ngamen di sini.


Si Cece juga hadir. Dia ngejar hampir tengah malam ke sini, karena dia juga ngamen di tempat lain.


Kamis, 1 Januari 2026. Aku punya malam panjang, tidur selesai waktu shubuh. Gara-gara itu aku jadi bangun jam sembilan pagi. Dan di saung sudah ada tamu, ini Koh Chandra. Aku sebenernya nga kenal, dia memang mau ketemu aijul. Kami sempat ngobrol sebentar, yang jelas dia adalah seorang yang tertarik soal perspiritualan. Sisa hari ini, aku tidur seharian mengganti begadang full malam sebelumnya.


Jumat, 2 Januari 2026. Jendela rumah mahaji akhirnya rusak juga. Serpihan kusen jendela dan kaca pecah geletakan di mana-mana. Aku membereskannya sampai jam 8an.


Lalu menanam anakan kriminil-kriminil di gunung rukem. Aku membawa 60 stem, tapi di gunung rukem yang luas jadi seuprit aja. Tidak terasa kehadirannya. Yah.. Ini juga sambil eksperimen aja sih, ingin tahu apa dia akan tumbuh di sini atau tidak.

Berantakan sisa perjalanan ke Bandung dan main taun baruan. Males banget buat beres-beres.


Sabtu, 3 Januari 2026. Berangkat ke Garut lepas duhur sama si Wawan buat menghadiri undangan ulang tahun Wanakumbara. Baru sampai Selebu kami sudah diserang hujan. Kami menunggu reda sampai satu jam. Aku bawa Wawan karena agak repot menenteng lukisan buat Jimmy.


Sampai di Garut jelang ashar. Pemandangan favorit di belakang rumahnya Ganjar, hamparan sawah dan gunung perkebunan teh Satria, dan di sini tidak hujan, hmmeh.


Emping produksi s bapa dan si ibu, oleh-oleh buat Ganjar.


Sehabis ashar ke rumah Jimmy buat nganterin lukisan yang kubawa.


Aku sudah lama mau ngasih ini ke Jimmy, tapi memang waktunya agak susah belakangan ini. PPG-lah, ujian kuliah lah, liburan juga. Jadi acara Wanakumbara ini kesempatan yang pas buat ngasih ini ke Jimmy. Satu lukisan ukuran standar dan dua ukuran 25 cm. Ketiganya satu seri, jadi mesti dipasang berdampingan. Yah.. Tunai sudah keinginanku buat ngasih ini ke Jimmy. Nga tau deh dia suka atau tidak.


Acara ulang tahun Wanakumbara. Seharusnya tanggal 12 Desember, tapi keadaan anggota sekarang sudah sama sekali berbeda. Semua orang tumbuh dan bergerak. Diluar dugaan cukup banyak juga yang datang meski tidak semuanya. Ternyata seusia ini salah satu yang berharga adalah waktu.


Angkatan pangais bungsu dan bungsu di Wanakumbara. Linda Kania dan Fajar. Sekarang Linda sudah bekerja di desa, lalu Fajar berkuliah di ISBI mengambil jurusan teater. 

Minggu, 4 Januari 2025. Aku masih di Garut dan hendak pulang ke Singaparna. Furqon mengirimku video anaknya Jazel yang berkunjung ke teras kelas, biasanya dia berkunjung sambil ngasuh dan melihat tanaman-tanamanku, Jazel sekarang sudah mulai 'berani' ngobrol denganku.


Senin, 5 Januari 2026. Ke Gunung Rukem bersama si Bapa untuk menanam lebih banyak kriminil. Yah.. Yang minggu kemarin di tanam ternyata tumbuh juga meski tidak 'optimal'. Mungkin karena di gunung agak hieum, tidak terpapar matahari langsung.

Rabu, 7 januari 2026. Si Cece mengakuisisi kamarku karena mengerjakan musik jinggle dengan judul "Welcoming" seharian. Aku agak capek, setelah maghrib Wawan menggantikanku.


Kamis, 8 Januari 2026. Bunga anggrek di depan saung yang mekar sejak pagi. Wanginya semerbak.


Sedang di seberang, cuaca bersalju lebat.


Imong ke saung untuk ngefill bagian sulingnya dalam lagu. Gibran membuat Latte dan Espresso.


Sambil nyela nunggu Imong take video, kami membuat teaser semacam video pengantarlah sebelum kami upload video musiknya. Membuat video semacam ini sebenarnya kacau, tidak seperti kelihatannya ini, salah bicara lah, kata-kata kasar lah, ketawa nga berentilah haha. Tapi menyenangkan..

Minggu, 10 Januari 2026. Selang sehari, guide musik untuk video klip selesai dibuat. Kami berempat berangkat ke Galunggung pagi hari. Cuaca cerah sekali, padahal kami berangkat pagi-pagi sekali. Itu berarti kami harus sat-set, bisi kaburu panas.

Selesai membuat video kami berfoto dengan pose 'resmi'.

Maghrib. Secara impulsif aku tiba-tiba memotong rambutku pendek. Salah satunya gara-gara PPL, tapi tidak sepenuhnya gara-gara itu. Rambutku juga tahun 2025 rontok parah, lalu mau coba menjadi 'normal' seperti yang dikata orang. Zayin berkali-kali bertanya padaku meyakinkan ini benar potong pendek, dia tahu sekali aku tidak nyaman berambut pendek dan senang berambut panjang.

Minggu, 11 Januari 2025. Kerjaan siraman mendadak. Ini sebenarnya kerjaan Pa Asep dan Imong, tapi Imong tidak bisa, jadi Pa Asep nyari handel. Lalu akulah korbannya. Agak kaku, karena aku sudah hampir 4 tahun tidak main kecapi untuk siraman seperti ini, loba tigejebur, loba silung. Tapi masih dalam taraf aman lah. Dan yang jelas dapet amplop hehe. Yah.. Seni bertahan hidup. 


Senin, 12 Januari 2026. Pelepasan PPL di SMPI Cipasung. Sampai hari ini, sejujurnya aku belum 'mantap' untuk berada di dalam ini, ada beberapa pertimbangan soal finansial, waktu, dan 'kesehatanku'. Tapi hari ini ya ikut saja dulu. Aku bertemu beberapa guru di sana yang mengenaliku, yah.. Biasanya aku 'bersinggungan' dengan mereka pada acara perpisahan-perpisahan sekolah saja.


Senam pagi. Guru-guru di sini senang melakukan hal seperti ini.


Selasa, 13 Januari 2026. Video musik jinggle pendek dengan judul "Welcoming" upload di Instagram.


Rabu, 14 Januari 2026. Menghadiri Teras Bumantara - Sanggar Terasi bersama si Yuda. Ini semacam pengukuhan anggota baru untuk Sanggar Terasi STT Cipasung. Kami kebagian mengisi tentang sejarah dibentuk dan berkembangnya Sanggar Terasi pada masa-masa kami. Jadi.. Sanggar Terasi tahun ini sudah punya 11 angkatan sejak pembentukannya di tahun 2015.


Jumat, 16 Januari 2026. Menanam kriminil lagi di Gunung Rukem, ternyata ada Maeje dan Mang Adam sedang ziarah. Mereka memang rutin melakukannya setiap hari jumat. Jadilah aku ikut dulu yasinan, setelah itu baru aku menanam kriminil-kriminilnya.


Kata maeje ini makam Abah Dayat-kakekku dari keluarga si Bapa. Aku menanam kriminil di sekeliling batu 'tanda' makamnya.

Maghrib aku membawa kalender 2026 dari si Ibu yang mendapatkannya dari apotek sekitaran rumah. Aku menimpahnya dengan warna abstrak, geleuh soalna iklan haha.


Sabtu, 17 Januari 2026. Membawa bambu dengan panjang 7 m dari gunung rukem. Bambu ini akan kami pakai untuk menggantung kain background hitam buat keperluan ujian praktek teater, Ijal dan Wawan membantuku. Karena tidak ada bantuan kalau dari sekolah.


Seharian dikerjakan, selesai. Banyak perubahan dari rencana, tapi lumayan. Tinggal masang buat lampu, itu nanti saja kalau sudah dekat-dekat waktu ujiannya.


Hari ini ada Adul juga berkunjung ke sekolah, tapi teu kaladangan da nyeta keur baranggawe, untungnya ada Daniel dan Polem yang menemaninya. Adul ada kerjaan ke Tasik, jadi mampir ke sekolah buat istirahat. Mengetahui aku senang dengan tanaman-tanaman, dia selalu membawa sesuatu dari Greenhouse-nya di Bandung. Kali ini dia membawakanku bunga Mawar bermacam warna. Bunga favoritku selain kemboja, melati, sedap malam, kemuning dan kertas.


Biasanya aku menyimpan bunga-bunga di kosan atau di kelas. Tapi yang kali ini kelewat bagus, jadi aku membawanya ke rumah buat si Bapa dan si Ibu.


Selasa, 20 Januari 2026. Ibunya Wawan masuk rumah sakit, diagnosa awalnya penyakit Jantung seperti ibuku ditambah penyakit Gula sejak lama. Aku dan Ijal menjenguknya ke rumah sakit bersama Ijal.


Pulang dari rumah sakit cuaca turun hujan. Aku dan Ijal jadi makan Bakmie di Kokol sembari menunggu hujan reda.


Minggu, 18 Januari 2026. Hidupku dipenuhi kriminal dan kriminil hueee. Hari ini aku menanam lebih banyak di taman saung, supaya nanti kalau sudah rimbun bisa dipotong dan ditanam dimana-mana.


Kamis, 22 januari 2026. Menghadiri undangan dari Sanggar Asta Mekar lewat Riki Hamzah, temanku yang sama-sama mengajar di SMA. Ini adalah diseminasi karya, semacam laporanlah, karena program ini disponsori oleh Kementerian Kebudayaan-Dana Indonesiana dalam sekup penciptaan karya seperti proyek film Batik Sukapura yang kuikuti tahun 2023 lalu, tapi dengan bentuk karya lain. Dengan judul "Laras Jiwa", Asta Mekar membuat karya dengan konsep healing music atau musik penyembuhan. Aku tidak asing dengan ini, pasalnya sejak dulu aku sudah mendengarkan banyak musik-musik mantra hindu dan buddha yang biasanya digunakan sebagai penyembuhan juga buat para 'pemeluknya'. Kalau buatku mah sebagai ambience saja. Karena memang kalem kedengerannya sih..

Tapi yang kali ini agak berbeda, karena medium musik yang digunakannya adalah musik tradisi Sunda dengan laras Madenda, Salendro, Degung dan Lindu. Meski aku belum merasakannya secara 'optimal'-aku belum mencapai trance-nya, karya Asta Mekar ini sangat menarik. Dari sekian banyak sanggar tradisi di Tasik, dengan metode relaksasi meditatif dituntun instruktur (seperti yang bisa ditemukan dalam Yoga yang tren belakangan ini), mungkin sanggar Asta Mekar inilah yang pertama mengangkat musik tradisi pada sisi pengobatan-penyembuhan. 


Berangkat bersama Diwan. Sudah lama tidak 'iyang' dengannya. Iyang ini adalah bahasa kami untuk menyebutkan bepergian. Terakhir kita punya perjalanan ke seminar pendidikan saja.


Riki Hamzah. Kendati guru Ekonomi, dia sangat piawai memainkan alat musik tiup. Dia maen todong-todong aja saat sesi tanya jawab, aku jadi kebagian memberi tanggapan karya. 


Dan tidak sengaja juga ketemu Fiona Callaghan, dulu akrab disapa dengan nama Juag.


Pulang dari acara aku mampir ke rumah Diwan, melihat saungnya yang belakangan ini dibangun. Saungnya lebih luas dari saung kosanku, dengan gaya Joglo, saungnya bisa menampung 10-15 orang dengan duduk lesehan, sudah lengkap dengan lampu, aliran listrik bahkan tungku hawu-nya. Enakeun,


Kami mengobrol sampai waktu shalat maghrib, dan shalat di saungnya.


Pulang dari Diwan da langsung indit deui ka Tasik. Aku ketemu Yuda yang baru pulang dari Jepang. Yah.. Aku yang minta kopi sih. Kami juga sudah lama tidak bertemu sejak 2 bulan lalu aku meminjam laptopnya untuk ujian tulis PPG.


Kami ngopi di Alchemist Roastery di jalan HZ. Musthofa. Tempat ngopi di kepadatan pemukiman jalan utama kota Tasik, ternyata area ke belakangnya luas.


Jumat, 23 Januari 2026.  Pa Adul & Pa Asep. Rajaban di mesjid Pancasila, rajaban sekolah ceritanya, tapi yang ikut kurang dari setengahnya warga sekolah. Agak ironi untuk sekolah dengan label sekolah Islam. Aku kadang menerka tentang apa yang terjadi dengan 'kedalaman spiritual' orang-orang hari ini. Maksudku, aku juga bukan seorang yang baik, tapi aya rasa dosa mun teu miluan teh. Apa ya, agak berlebihan kalau sampai bilang teu kaburu. Lagi pula ini diadakan di sekolah dan pada hari efektif, seharusnya tidak sulit untuk menghadiri, meskipun hanya 'sekedar datang' saja.


Mubaligh yang diangkir kali ini adalah Ust. Teguh, alumni sekolah ini, dan juara 2 AKSI Indosiar. Mubaligh ngora dengan metode ngaji keur budak ngora, karena memang mungkin mustami'nya di sini para siswa, jadi ya.. Menyesuaikan.


Pulang rajaban, jumaahan sama Riki. Kejauhan dia kalau ngejar pulang ke Cibeurum, moal kaburu.


Sabtu, 24 Januari 2026. Sejak memutuskan cuti kuliah, ini adalah sabtu yang lama kurindukan. Pagi yang lambat, ngurusi tanaman-tanaman, beres-beres. Ah.. Enak sekali punya hari begini lagi. Cuaca berangin besar dari pagi, melihat berita ini adalah efek angin monsun Asia. Kerjaan 'kosan' selesai menjelang dzuhur, aku menggambari tanganku dengan henna, ini juga sudah lama sudah tidak kulakukan, tidak ada makna khusus dari simbolnya, iseng-iseng saja.

Aku sedang menyesuaikan kembali ritme hari-hari yang dulu sempat terjeda.


Minggu, 26 Januari 2026. Mengecek gunung rukem setelah hari berangin sehari sebelumnya. Saung tempat suluh terlihat ambruk, tapi memang sebelumnya sudah rusak sih. Saung utama paranti si Bapa terlihat aman, dan bala sekali. Gunung rukem yang didominasi pohon bambu, daun-daun yang bala adalah daun bambu. Sekalian ngecek kriminil-kriminilku, mereka tumbuh tapi kecil terus, mungkin karena cahaya matahari yang tidak terlalu intens.


Si Dede ketemu Dehilma di Jakarta. Belakangan ini si Dede memang sedang aktif dengan kegiatannya bersama perempuan.id, aku nga tau platform apa itu. Yang jelas keliatannya acara ngobrol dan kadang-kadang crafting-bikin kerajinan dari manik-manik. 


Tengah malam (untukku), Eteh mengirimiku foto jadwal penerbangannya untuk bertemu denganku dari Belgia ke Indonesia. Kami harus sama-sama mengatur jadwal, ya.. Karena dia bekerja aku juga bekerja. Setelah memilah beberapa alternatif tanggal, akhirnya bulan terpilihlah bulan Mei untuk kami bertemu..