Excerpt from the other sight Time has wonderful way of showing us what really matters

Rabu, 26 Agustus 2026

Estuarium

Bulan téh langlayangan peuting
nu ditatar dipulut ku tali gaib
Entong salempang mun kuring miang
Ditatar ti Tatar Sunda
Dipulut nya balik deui ka dieu
Ieuh, masing percaya.

-Mang Koko Koswara

Lagu Kawih ini menceritakan pesan dari seorang prajurit Siliwangi kepada kekasih atau keluarga yang ditinggalkannya di tatar Sunda. Prajurit tersebut meminta agar mereka tidak khawatir (entong salempang) karena ia pasti akan kembali pulang. Bulan diumpamakan sebagai layang-layang malam (langlayangan peuting) yang dikendalikan oleh tali gaib (takdir/kekuasaan Tuhan). Hal ini melambangkan sejauh apa pun mereka pergi mengembara meninggalkan tanah kelahiran, garis takdir akan membawa mereka kembali ke rumah.

Sejatinya manusia-pun makhluk hidup lainnya memang petarung, yang 'jenis pertarungannya' berbeda-beda. Tapi yang jelas, sekuat apapun seorang petarung akan selalu memiliki rasa kerinduan untuk pulang. Memiliki banyak tafsir. Pulang, kembali, istirah, selesai. Bahkan bisa yang lainnya.

Dari macam-macam perjalanan-pertarungan yang kita pilih atau dipilihkan. Kemungkinan hasilnya tidak hanya dua, jika hanya dapat menang dan kalah saja, yang seperti itu hanya pertarungan sederhana. Tapi jikka hasilnya adalah hal apa saja yang didapatkan dari dan selama pertarungan itu sendiri, yang hasilnya bisa banyak dan sangat beragam, yang seperti itu termasuk macam pertarungan 'selanjutnya'.

-

Malam di kosan. Setelah aku tinggal bertahun di sini sengaja kupasangi semua dengan lampu warna kuning yang temaram dan kumatikan saat tidak ada keperluan. "Apa kamu tidak merasa ini terlalu gelap ? Apa kamu tidak takut ?". Jawabannya, tidak. Selain harus menghemat listrik karena hidup numpang, kukira malam memang seharusnya gelap. Dan supaya kita tetap bisa melihat hal yang tidak terlihat saat terang di siang hari..

Banyak orang selalu menyangka terang lebih baik dari gelap.

Di waktu ini,

Ada yang tidak bisa melihat karena terlalu terang.

Ada juga yang malah tersadar saat dalam gelap.

-


Selasa, 18 Agustus 2026. Uuy melahirkan lagi kedua kalinya. Kali ini anaknya lima, tiga berbulu hitam dan dua berwarna seperti si Uti neneknya.


Nyelang istirahat duhur, lewat k wa ibah. Ternyata Mang Halim 'repot'. Repot dalam istilah sunda ini ditujukan untuk seorang yang menghadapi detik-detik menjelang ajal. Saat aku datang ke dalam rumah Wa Ibah sudah banyak orang di rumahnya. Mang Halim sudah berbaring diriung, Mang Halim masih sadar, tapi tidak bisa apa-apa, suara Mang Apong masih dikenalinya saat hendak mengajak Mang Halim shalat dzuhur dengan rukhsoh berbaring. Suasana memang muram, semua di dalam rumah semua mengaji air mata di sana-sini, di depan teras bapa-bapa nunggu giliran ningali.


Diantara banyak yang duduk di luar itu aku ketemu A Indra, adiknya teh Nina yang kukira A deden. Aku tidak begitu mengenal a Indra meski mungkin a Indra juga pernah 'mengasuhku' waktu kecil. Aku mengajaknya foto bersama dan kukirimkan ke si Bapa.


Sepulang kuli, aku latihan lagi di rumah Diwan untuk acara Djarum sabtu ini dan untuk openingnya  ujian tugas akhir magister penciptaan seni-nya  Zaki hari senin depan. 


Pulang maghrib ke kosan, di rumah wa ibah (jadi kosanku ini sebelahnya rumah wa Ibah) sudah banyak orang yang hendak ngaji Yasinan buat kesembuhan mang Halim karena kondisinya belum juga membaik. Aku ikut mengaji meski di luar karena sudah penuh di dalam.

Rabu, 19 Agustus 2026. Dua hari menjelang tampil. Latihan lagi di saungnya Diwan untuk persiapan panggung tanggal 22 Agustus ini. Kami mempersiapkan empat lagu. Dua musikalisasi puisi yang berjudul Mengukir Tubuhmu dan Sajak nakal, keduanya adalah puisi kang Acep. Lalu dua lagu pop jaman baheula, Ada Rindu Untukmu - Pance Pondaag, dan Ada Rindu Untukmu - SIti Nurhaliza.

Kamis, 20 Agustus 2026. Visa fighter. Mengurusi form aplikasi Visa secara online, kami selalu mengerjakan ini berdua. Karena bahasa inggrisku untuk urusan ini terbatas. Memang agak-agak membingungkan, kami sampai menghabiskan hampir dua jam untuk mengurus ini.


Jumat, 21 Agustus 2026. Last personel gather. Aku meminta bantuan s a Izoel untuk lead guitar. Salah persepsi, dia datang setelah maghrib. Padahal kami latihan sedari selesai dzuhur. Jadi aku yang brief dia dan Wawan karena Nida, Riki dan Ijal sudah pulang.


Kabar yang dikhawatirkan benar-benar datang. Saat brief lagu-lagu dengan si a Ijul aku mendapati pesan whatsapp tentang Mang Halim yang berpulang.

Jun, Junaedi.

Entah sebab apa, dari mana dan entah sejak kapan nama itu ada padaku. Dan hanya ada tiga orang di kampung yang memanggilku dengan nama itu. Mang Halim adalah salah satunya..

Mang Halim ini seorang agamawan, di tempatku atau di daerah sunda pada umumnya, lebih dikenal dengan sebutan Ajengan. Yang kuketahui, Mang Halim ini mengajar ngaji kitab tingkat 3menengah sampai tinggi, kedua kakakku dan adikku pernah mengaji bersamanya, hanya aku yang tidak.

Kendati menghabiskan masa usia SMA ku di sekolah dengan basis pesantren, orang-orang yang mengenalku dengan baik sangat tahu jika aku tidak terlalu piawai soal ilmu-ilmu agama. Tapi Mang Halim selalu percaya bahwa aku seorang yang tidak macam-macam, punya 'dasaran', tidak akan 'lewat batas' meski mang Halim tau aku pakai kalung salib kemana-mana. Malah seringkali mencandaiku dengan memanggilku ajengan jika kebetulan bertemu yang bagaimanapun tentu sebutan itu tidak pantas dan tidak akan kuterima.

Mungkin, itu cara 'lembut' Mang Halim untuk tetap mengingatkan anak kecil ini, yang sedari dulu dipanggilnya Junaedi.

-

Jumat bertemu jumat. Sayyidul Ayyam. Aku menjenguk Mang Halim sepulang jumatan minggu lalu, jumat ini menjelang maghrib Mang Halim berpulang..


Aku tidak bisa langsung pulang menuju tempat Mang Halim karena aku masih harus berkumpul untuk keperluan teknis acara esok harinya.


Pukul sepuluhan malam aku baru selesai dan langsung mengejar ke pemakaman Mang Halim.

Hampir selang sebulan, dua sepuh di kampung berpulang.

Saat mengantar almarhumah Wa Ica yang akan dimakamkan, aku dan Mang Halim berjalan bersama, cengkrama ringan sambil mengiringkan salawatan.

Ceritaku dengan seorang perempuan juga ternyata sampai ke Mang Halim, entah bagaimana, 

Yah.. Mungkin begitulah cara di kampung berita tersebar : lewat mulut tetangga. Mang Halim membukanya dengan bertanya sejauh ini sampai mana, lalu aku mengatakan tentang kami yang punya 'hal berbeda'. Mang Halim menjawabku dengan nada rendah khasnya seperti biasa,

"Sabisa-bisa mah kudu sarua.., sok we pajuan heula.. Sugan we dipaparin hidayah"

Aku cuma tersenyum, dan ngeretegkeun doa. Mendengar semua yang dikatakan Mang halim, yang ternyata itu menjadi nasihat darinya untukku terakhir kalinya.

Aku tidak tahu saat itu mang Halim sudah dalam keadaan sakit, kalau orang bilang 'teu dirasa'. Sampai keluarganya yang bekerja denganku di tempat yang sama bercerita. Barulah aku tahu..

Aku banyak dan sering bertemu orang-orang berilmu, tapi itu tidak membuatnya jadi seorang yang arif-bijaksana. Tapi harus diakui, sepeninggal Mang Halim, di kampung-hari ini, orang-orang kehilangan tempat untuk bertanya.

Lagi, seperti yang sering diucapkan olehku..

Kenapa orang-orang baik selalu pergi lebih dulu ?

Mang Halim. Di pemakaman semua tidak ada yang ragu, insyallah khusnul khatimah.


Sabtu, 22 Agustus 2026. A Good friend is more than enough. Aku masih 'diselamatkan' bahwa di tempatku berkegiatan masih ada orang-orang yang bisa diajak kerjasama atau minimal sesederhana bergaul dengan 'sehat'. Setelah kehilangan side kick sepeninggal kepindahan Pa Asep dan Adam, aku lumayan keteteran. Beruntung aku masih sering ditolongi Wawan dan Rijal. Sekarang syukurnya ada Riki juga. Kendati berbackground pendidikan ekonomi-manajeman, Riki Piawai menggunakan alat musik tiup. Soal musik tradisi tentu dia lebih paham dariku.

Riki pernah aktif di UKM musik UNSIL, sanggar angklung Katumbiri, aktif di Sanggar Astamekar, dan di Lingkar Daulat Malaya. Kepribadiannya supel dan sama-sama caliweura. Lalu dia tipe 'berbahagia', bukan sabaraha. Seorang begini sudah jarang kutemukan lagi setelah generasi Fine Della Storia. Seorang Persis yang menikahi perempuan IPPNU yang sering kujadikan candaan. Tapi sebenernya aku senang ada hal begini. Bahwa cinta dapat merobohkan tembok-tembok pembeda.

Dalam keadaan sekarang ini, kalau aku udah ngajak Riki, berarti aku sudah ngada orang lagi untuk dikondisikan di sini. Sebenernya ngaenak, sadar jarak tempuh dia ke sini lumayan jauh dan ngajakin buat panggung yang ngada uangnya.

Jadi, aku berterimakasih sekali.


Aku sudah nga mikirin soal nama band, tim, atau apapun. Yang jelas orang-orang ini punya skill yang kubutuhkan. Dan mereka sangat kompeten tapi susungutananaaaa ampun pisan pokonya hahaha.


Panas ceu ?

Acara yang kali ini membawa tema di nuansa Indonesia rentang tahun 80-90'an. Kami jadi berdandan rada-rada kolot.

Teror kabar buruk setelah soundcheck adalah s a Izul nga bisa ikut maen karena dia muntaber. Sedangkan fill-in melodi lagu-lagu sudah diploting untuk Riki dan a Izul. Rada lewang tah di pangung teh. Tapi overall semua aman, audiens masih orang sekitaran sini, aku cukup paham soal medan, meski mulutku jadi kemana-mana hahaha.


Anthony Hutagalung, Out of expectation.

Pa Imam meminjamiku wig keriting ini. Berharap menunjukkan sisi Jimmy Hendrix, tapi yang terjadinmalah lebih ke Caca Handika haha. Aku juga sebenernya agak penasaran kalau punya rambut keriting, tapi memang teu pantes.


Citra panggung dari atas menggunakan drone.


Selesai acara kami beres-beres alat ke rumah Diwan, ternyata ada Pa Agus dan Kg. Yadi sedang mengobrol dengan Kg. Acep.


Minggu, 23 Agustus 2026.
Gladi untuk keperluan ujian magister tugas akhir penciptaannya s Zaki. Kuluwung menjadi tim lokal untuk membantu jalannya acara ini, termasuk tim musik yang kemarin main di acara sebelumnya.


Ada juga santri yang terlibat sebagai talent. Mereka akan membacakan shalawat saat rangkaian ujian penyajian ini.


Bukan maenan orang-orang sepertiku. Persiapan ujian Zaki ini rada repot karena banyak equipment yang asing buat kami selain soundsystem, yah.. meski yang ngerjainnya tim Bandung sih. Lalu kapasitas voltase listrik di aula ini tidak cukup, kami sampai mencoba alternatif menggunakan genset, tapi akhirnya kami loss voltase listriknya oleh PLN, barulah semua dirasa aman.

Senin, 24 Agustus 2026. Hari ujian Zacky. 


Persiapan hampir injury time. Semua gelisah ha ha 


:"Sungut heula, kara tangung jawab skill", hahaha. Begitulah kami bercanda. A Izul agak mendingan, jadi hari ini bisa ikut tampil sebagai opener ujian. Nah kalau full-team begini mah regreug. Tapi ada hal lain. Kesepakatan perform ini adalah Aku diminta main sebagai opener untuk mengisi selang waktu menunggu-mengumpulkan datangnya para udiens, ternyata kami harus main di depan para penguji ujiannya Zaki. Dan salah satu dari tiga itu adalah Pa Ismet, founder dan pemain Bass di Sambasunda. Kali ini aku kebagian maen basa, Panan oyag, aengaaah ripuuuhh.


Svarasoeng : Reinterpretasi Spiritualitas Bunyi Pesantren Cipasung. Begitulah judul tesis M. Zacky Musyafa. Menurut abstrak, penciptaan ini merespons fenomena memudarnya lanskap bunyi religius kultural, seperti tradisi nadoman Sunda, di era modern. Tujuan karya ini adalah mengeksplorasi soundscape Pesantren Cipasung sebagai medium artistik untuk mereinterpretasi spiritualitas bunyi ke dalam bentuk seni pertunjukan kontemporer. Tahapan penciptaan meliputi observasi lingkungan akustik, perekaman lapangan, materi bunyi sosial, musikal, dan spiritual, serta pengolahan audio secara langsung  menggunakan Digital Audio Workstation (DAW) tanpa mereduksi esensi keautentikan sumber aslinya.

Hasil penciptaan ini berwujud pertunjukan seni bunyi elektroakustik eksperimental yang imersif. Karya ini mengintegrasikan tata suara spasial, tata cahaya adaptif, dan proyeksi visual mapping berbasis multicam. Struktur dramaturgi disusun secara non-naratif merespons siklus waktu pesantren, bermula dari kesunyian, memuncak pada kepadatan bunyi kolektif, dan diakhiri oleh peristiwa murni kumandang adzan maghrib. Svarasoeng membuktikan bahwa sinergi antara otentisitas bunyi religius pesantren dan intervensi teknologi digital mampu menciptakan ruang relasional yang kontemplatif. Karya ini berhasil menghadirkan sensasi kehadiran kolektif sekaligus berfungsi sebagai medium reflektif dalam merawat warisan akustik lokal.

Buat beberapa teman yang pernah dengar lagu-lagu yang kubuat bersama di Surya atau di Kuluwung, hampir semua dia yang ambil bagian vokal~

Kami jadi opener ujian tesis magister seni si Marzaki kemarin, dan sepertinya itu akan jadi panggung kami terakhir sebelum Nida yang juga akan jadi sarjana bulan depan, yeayy ! Bocah tau-tau sudah selese, aku bener-bener memasuki usia -matang 😂

Ah Tapi pokoknua bukan jadi yang terakhir buat karya selanjutnyaa ya Nid !


Selesai ujian penyajian dan sidang ! Zaki soheh dapat Magister !


: "Eki disasarung didieu mah,..". Ucap pa Ismet padaku saat kutemani ke sana-sini. Hehe, pan ekting tea pa, kamuplase mwehehe.

Pa Ismet ini salah satu dosen favoritku saat di ISBI (STSI kalau zamanku). Spesialisasinya kecapi, tapi da sagala bisa. Tidak muluk juga kalau media menyebut pa Ismet adalah salah satu tokoh penting yang membawa musik tradisional Sunda mendunia lewat aransemen kreatif yang menggabungkan unsur lokal dengan berbagai genre musik global. Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ini sudah lama berdedikasi dalam mengenalkan karawitan Sunda, ini juga yang membuatnya sering diundang menjadi dosen tamu di berbagai universitas dunia, seperti di Oslo University (Norwegia) sejak 1994, Norges musikkhøgskole, hingga National Cheng Chi University di Taiwan. Hamdallah ketemu di Cipasung setelah bertahun, sehat-sehat paa !

Selasa, 25 Agustus 2026. Hari ini benar-benar nga kemana-mana. Karena memang kurang tidur-kurang istirahat, aku juga terkena radang di gusi dan mulut yang membuat hese baranghakan. Lalu dapat juga kabar s A Izul nuluy sakit, aku dan Wawan berniat menjenguknya sambil mengembalikan alat-alat miliknya. Ternyata lumayan jagjag, tingal se'eulna cenah.

Kami jadi merencanakan retake untuk lagu musikalisasi puisi Cipasung dan Sajak Nakal, semoga kekejar sebelum Nida selesai di sini dan pulang ke Bandung.


Rabu, 26 Agustus 2026. Familie value. Membaca blog si dede :"Tanpa kusadari, hari 'esok' adalah sesuatu yang aku nantikan. Entah itu dalam konteks positif maupun negatif. "Besok akan ada kekacauan apalagi ya?","Besok aku akan menunjukkan hal seru ini kepada anak-anak", dan lainnya. Secara tidak langsung, aku bergantung pada sebuah ketidakpastian. Itu menyenangkan, namun membuat gelisah."

Kami di rumah, tumbuh dengan ketidakpastian, kami sangat akrab dengan menerka dan berimajinasi, sejak dulu sekali. Melakukan sesuatu dengan kemungkinan yang sudah dipersiapkan memang ringan. Tapi dihadapkan keadaan yang undercontrol juga menantang, tidak disangkal memang menyulitkan terkadang. Tapi mungkin kebiasaan itu yang membuat kami anak-anak s Ibu dan s bapa jadi orang-orang yang cukup handy. Malam menyiapkan pensil dan buku, kenyataannya esoknya kami ternyata harus berperang, sudah tidak jarang.

Gara-gara ini kami juga dapat pelatihan gratis soal pengendalian diri dan emosi. Meski sok aya gegebegan, kita dapat lebih tenang menghadapi keadaan yang benar-benar memancing dan lewat batas. Kami hampir tidak pernah marah meledak di depan publik. Meski membawa segudang gerutu ke tempat kos masing-masing. Tapi kami sadar sangat sulit mengendalikan yang bukan pada kita, maka yang lebih memungkinkan adalah mengendalikan yang ada di dalam kita.


Mulang teu nyimpang, nyimpang teu mulang.

Ah, aku tahu perasan teu pararuguh semacam ini. Kakakku yang di Batam mendapat pelatihan di Jawa Tengah. Tapi tidak punya kesempatan untuk waktu pulang, ke Tasik, atau ke mertuanya di Trenggalek.

Tidak sedikitpun dari kami, empat anak ini berpikiran akan punya beberapa perjalanan seperti sekarang. Tidak semua juga mulus. Tapi ini 'memperkaya' semua indra kami. Melihat, mendengar, merasa, yang sering berbeda dari apa yang kami 'biasa' miliki', tanpa merubah yang sudah ada dan pulang dengan pengetahuan yang tidak kami ketahui sebelumnya.

Oleh-oleh tak melulu harus benda. Yang lain juga bisa, kebijaksanaan misalnya.


Balakecrakan. Hari ditutup dengan kedatangan Gibran, Wawan dan Zayin. Gibran masih membicarakan pasca pertunjukan, Wawan mengerjakan modul ajar, Zayin istirahat setelah kerja.

Yah.. Saung fungsinya begini juga..

-

Sepuluh hari, 17 ke 27. Kelahiran, bantuan, kepulangan, penciptaan, pertemuan.
Ah.. Aku jadi mudah kelelahan. Sudah tidak bisa lagi begadang-begadangan. Bisa sih, cuma istirahatnya bisa sampai dua hari. Jadi lebih baik jangan. Agustus masih sisa tiga hari, mari kita lihat apa yang akan terjadi lagi !

-

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَـٰتِ وَٱلنُّورَ ۖ ثُمَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ ١

"All praise is for Allah Who created the heavens and the earth and made darkness and light.1 Yet the disbelievers set up equals to their Lord ˹in worship˺."

-Al-An'am : 1

"If I say, 'Surely the darkness will hide me and the light become night around me,' even the darkness will not be dark to you; the night will shine like the day, for darkness is as light to you.""

-Psalm 139:11-12



Selasa, 18 Agustus 2026

A Half Stoicist August

                                         


: "Ternyata bukan soal baik dan tidak. Hari ini, yang lebih mengerikan adalah tentang seberapa cepat orang-orang menilai suatu hal bahwa itu baik dan tidak."

Ini agak ironi dengan keadaan yang lama terjadi di sekitarku. Aku dan beberapa temanku agaknya memang memiliki keinginan yang cukup muluk.. Bahwa kami Ingin keadaan selalu baik.. Atau minimal semuanya berjalan lancar. Meski tentu tidak akan semuanya begitu.. Dan seringkali kami kerepotan gara-gara tingkah kami sendiri.

Tapi, ada kepuasan emosional. Minimal buatku pribadi, menarik satu senyum saja di wajah seseorang, itu sudah sangat menyenangkan untukku. Sampai ada yang bertanya, "Kamu pernah punya trauma pada perlakuan seseorang ?, sampai kamu selalu ingin berbaik pada semuanya ?". Lalu kujawab tidak. Mungkin ada perlakuan orang yang tidak menyenangkan padaku, tapi sangat mungkin juga aku pernah melakukan hal tidak baik pada orang-orang. Aku tidak memilih itu dengan istilah trauma. Dan berbuat baik tidak juga perlu sebab.

Aku mengembalikan pertanyaan kepada temanku, "Kamu pernah mendapat kebaikan dari seseorang ? atau hal lain meski bukan dari manusia ?, bagaimana perasaanmu setelah mendapat itu ?". Di memiringkan kepala, melihat ke jendela. Perkara seperti ini sangat sederhana. Tapi tidak semua dapat merasakannya dengan utuh. Mungkin terkesan kasar, tapi itu kenyataannya.

Orang baik dan tidak-kurang baik ada di mana-mana. Tapi mengatakan seseorang buruk itu tidak membuat kita lebih baik. Itu tergantung dari apa yang kita lakukan.

Kutarik pada studi teknik yang pernah 'menjebakku', ternyata logika biner dalam ilmu perhitugan dengan nilai mutlak itu tidak bisa dipakai dalam realitas kehidupan yang memiliki banyak singgungan.

Dalam beberapa hal, orang-orang terjebak dan dibatasi dalam kurungan angka-angka.

Ah.. Aku ini berbicara apa, haha..
Baiklah, setengah agustus !


Sabtu, 1 Agustus 2026. Mengurus kriminil-kriminil yang sudah gondrong.


Sesuai yang kurencanakan hari ini aku mengapply pertemuan pengajuan visa di website VFS Global. Aku ditemani s Teteh selama mengerjakan ini, sejauh ini aman. Aku baca-baca artikel tentang pengajuan Visa Schengen yang agak rumit untuk yang baru pertama kalinya.. Banyak kekhawatiran, tapi ini langkah pertama kami untuk pertemuan selanjutnya !


Sempat nelpon si Dede untuk mengirimkan alamat kosannya, untuk alternatif alamat pengiriman dokumen visa ku nanti, tapi ternyata tetap kejauhan. Jadi sepertinya tidak,

"Saya dibekali ibu saya bismillah yang tak pernah habis."

September 2025, hampir setahun pertemuan kami yang terakhir di Yogya. Saat itu aku selesai bantu-bantu menyiapkan pameran biografi alm. Pa Yudhistira bersama bu Siska.

Sebagai anak kecil yang ikut-ikutan senang melukis, sejujurnya aku kurang suka warna-warna karya Pak Nasirun. Tapi segala ide dan kep beliau mengalahkan semua itu di mataku.

Kendati di daulat sebagai salah satu maestro seni rupa di Indonesia beliau tetap seorang yang sederhana. Merangkul para tunas muda tidak peduli siapa dan darimana.

: "Sejauh mana kau memandang semua dengan mata ? Itu sangat terbatas. Kita diberkahi pikiran dan perasaan. Itu akan menambah kekuatannya ! Seorang yang berpikir akan berperasaan, dan seorang yang berperasaan akan berpikir. Tapi itu langka !"

Nasirun, 1965-2026.
Hari ini Pak Nasirun berpulang, meramaikan sejagat dunia seni rupa Indonesia. Selamat jalan, Pak ! 


Malamnya aku diculik Yuda dan Adendi ke pemandian Citiis. Yuda memang sudah lama ingin punya waktu ketemu lagi denganku. Tapi aku banyak alesan, jadi dia tahu betul metode yang paling pas untukku adalah diculik begini, hmmeh.


Lalu setelah ngobrol barulah ketahuan ini syukurannya Ijaz yang selesai sidang S1, yang pembimbingnya adalah Yuda. Bertemu di sana, ada mang Jajang dan beberapa anak-anak sanggar Harsa. Tapi ternyata aku memang bukan tipe yang menyukai pemandian air panas (atau aku memang tidak begitu hadir sepenuhnya di perjalanan ini. Kepalaku isinya kemana-mana). Tapi yah.. Ini syukurannya Ijaz, aku senang juga untuknya yang sampai pada tahap ini. Ijaz ini seangkatan sama Rizal sebenernya, tapi Rizal tidak langsung kuliah karena memilih bekerja dulu. Sekarang juga Rizal sudah kuliah, dan kukira dia menikmati waktu-waktunya di kampus.

Bagaimanapun aku mau dia punya pengalaman belajar di perguruan tinggi, untuk memperkaya pengalamannya pribadi. Soal bisa dipakai kerja nanti, itu urusan lain lagi. 


Minggu, 2 Agustus 2026. Rukmini Affandi

"Sebentar rasanya kita sering bertemu ya.., saya lupa-lupa ingat.. Maklum sudah usia lanjut, siapa namamu, di mana saja kita bertemu ?"

-Begitu pertemuan kami hari ini di penutupan pameran himpunan perupa tasek.

Lalu aku menceritakan beberapa pertemuan yang pernah kita lewati. Barulah beliau ingat.. Dan mohon mafhum kalau beliau kadang lupa. Bu Rukmini ini salah satu putrinya pelukis maestro Affandi dari istri kedua, Ibu Rubiyem.

Meski tidak menempuh pendidikan seni formal, Ibu Rukmini belajar langsung dari ayahnya dan mendalami teknik melukis bersama pelukis Barli Sasmitawinata sekitar tahun 90-an. Karya-karya Ibu Rukmini yang termasuk ekspresionisme kerap yang mengingatkan pada gaya melukis Affandi, Tapi Ibu Rukmini tetap dapat menampilkan karakter dan keunikan pribadi.


Bersama teman-teman Kuluwung. Setelah tidak berkegiatan di pemerintahan, putri maestro lukis Affandi ini sekarang lebih banyak berproses kreatif di kediamannya. Kami terakhir ketemu saat premiere film Dokumenter Batik Sukapura di GCC 2023 lalu. Hamdallah kami bertemu lagii..


Bertemu pa Hikmat, guru seni budaya di SMA Cineam. Pa Hikmat pernah jadi ketua MGMP Seni Budaya. Jadi selain seorang guru pa Hikmat ini juga seorang pelukis.


Sepulangnya nonton pameran, kami berkunjung ke Komunitas Cermin asuhannya kang Acong untuk diskusi ringan launching bukunya Tata dan Diwan. Kami ngobrol cukup lama soal rencana teknis peluncuran buku putra-putri penyair itu.


Minggu, 3 Agustus 2026. Beres-beres ruangan. Tidak ada yang istimewa.


Lalu aku disuruh si Iyan untuk beli Mie Ayam untuk makan siang. Di sana, aku tidak sengaja ketemu teh Eti yang juga hendak membeli. Teh Eti ini anaknya Wa Adul, kakak si Bapa yang paling tua.


Selasa, 4 Agustus 2026. S Teteh mengirimkan foto uyutnya dari keluarga mama nya. Wajahnya agak mirip-mirip, terutama matanya. Tapi kata mama nya, uyutnya s Teteh memiliki warna rambut yang agak gelap, tidak pirang seperti s Teteh.


Nyanyi sedikit di penghujung hari. Memilih lagu "Have You Ever Really Loved a Woman?" yang dibawakan Bryan Adams. Melodi gitar flamenco dari Paco de Lucia pada lagu ini sudah menarik perhatianku sejak aku usia SMP.


Rabu, 5 Agustus 2026. S Aiki tiba-tiba mengirimkan video s Hari. Bocah yang pernah kuasuh di sekolah, Aiki bilang dia datang sebagai pemateri dari Kesbangpol. Hah ? kaget juga. Kalau diingat-ingat pas dia masih kumincir dan piomongeuna. Aku nga tau juga bocah tiba-tiba bisa nyusruk ke sana haha, tapi teu nanaon. Di manapun asal dia bisa menikmatinya, dan ngasih manfaat-kebermanfaatan. Itu saja.. 


Dan membawa video musikalisasi puisiku ke sekolahnya si Aiki haha.. Tapi aku senang juga.. Kalau lagu yang kubuat masih ada yang dengar.. Nuhun ya, Hari !


Nonton film Spiderman : Brand New Day sama Cep Thoriq ke bioskop. Sejak dulu aku memang seneng cerita-cerita dari Marvel, dulu cuma baca di komik-komik dan majalah Wizard terbitan Amerika punya Mang Ujang-Ne Ciah. Jadi nonton ini buatku seperti compare. Aku sangat jarang ke bioskop, dan sebenernya kurang suka. Tapi yah.. Sesekali.

Cerita Spiderman yang kali ini lebih ke menceritakan hari-harinya yang berjuang hidup sebagai pahlawan di New York pada dunia yang melupakan identitas aslinya. Peter menghadapi kesepian, tekanan melihat teman-temannya melanjutkan hidup tanpa dirinya. 'Menanggung beban tanpa diketahui siapapun', menginginkan semua hal baik pada semua orang. Tapi dia menderita gara-gara itu. Spidermen juga nga kuat, apalagi kita yang ranginang, jangan gaya-gayaan, haha

Ini nyambung dari sekuel dari filmnya yang kedua. Jadi kalau nga nonton yang kedua agak moal ngarti kenapa bisa terjadi situasi seperti ini di film Spiderman yang kali ini.


Nakal. Kami jajan dari supermarket mall, lalu menyusupkannya saat nonton.


Menjelang Agustusan. Jalan gang di kampung mulai dihias-hias. Tahun ini Desa Cilampung tidak mengadakan pawai. Sebagai gantinya ada lomba menghias kampung. 


Kamis, 6 Agustus 2026. Pergi ke Disdukcapil untuk memperbaiki KTP. Untuk syarat visa, salah satunya adalah KTP, tapi karena KTP ku belum pernah ganti, dan di KTP-ku tertera hanya berlaku sampai  tahun 2013, aku harus memperbaruinya menjadi seumur hidup. Disdukcapil Kab. Tasik ternyata sudah pindah ke komplek pemerintahan di Bojong Koneng, tidak lagi di kota, jadi lebih dekat sekarang. Gedungnya dekat dishubkominfo, dengan ruang tunggu di depan gedungnya, tidak di dalam. Kursi-kursi dijejerkan, musim kemarau, angin hembus-hembusan, dingin tapi kering. Kebul pokonamah.


Somehow. Entah bagaimana orang-orang di kampung ini selalu bersemangat soal Agustusan. Beberapa tahun ke belakang aku pernah mengorganisir kegiatan ini dengan beberapa teman, dan sangat rentan pipaseaun. Tapi orang-orang sini selalu excited. Soal merdeka dan tidak merdeka barangkali nga begitu penting buat mereka. Sama denganku, yang penting para warga bahagia, anak-anak bisa main dan tertawa, itu saja..


Jumat, 7 Agustus 2026. Nemeni Iqbal yang tiba-tiba jadi pembina Paskibra. Iqbal jadi banyak berhubungan dengan Babinsa tahun ini haha. Sekolahnya mengirimkan 20 siswa perwakilan untuk pasukan pengibar bendera untuk upacara agustus di tingkat kecamatan. 


Hari ini aku meminta slip gaji dari tempat kerjaan untuk salah satu syarat visa. Aku kaget juga, ternyata nominal yang seharusnya kuterima jumlahnya lumayan. Tapi yang kuterima bahkan tidak lebih dari setengahnya. Bisa mengira ke manakah sisa nya ?, 


Dekor jalanan kampung selesai. Penuh cahaya dan warna-warna. Rada dangdut sih,


Nyanyi lagi.. Aku sedang agak sentimen memang hehe.. Kali ini membawakan "I Want to Spend My Lifetime Loving You" yang dinyanyikan Marc Anthony dan Tina Arena tahun 98-an.

Lagu ini pertama kali kudengar dari playlist si iyan di Mp3 playernya, dulu, duluuu sekali. 


Sabtu, 8 Agustus 2026. Aku benar-benar istirahat seharian, yah hari ini aku libur.. Dari itu aku jalan kaki sore ke rumah diwan supaya badan bergerak saja, tapi malah jadi sampai malam karena adam juga ada di sana ternyata.


Diwan baru-baru ini menerbitkan buku kumplan esainya. Salah satu bagiannya ada yang menceritakan perjalanan kami saat Safari Sastra bersama alm. Pa Yudhistira. Aku jadi teringat jika aku pernah punya hari-hari semenyenangkan itu.. 


Minggu, 9 Agustus 2026. Dikirim gambar-gambar.. AKhir-akhir ini s Teteh lagi senang menggambar. Katanya buat hiburan dan being creative saja.. Aku malah tidak menggambar satupun beberapa waktu ini..


Kalau sadar, kehidupanku belakangan cuma ngurusi tanaman, kerjaan, dan rumah Diwan haha. Hari ini aku memindahkan kriminil yang berbeda jenis, dia tumbuh lebih pendek dengan daun yang lebih rimbun.

Di hari yang sama, s teteh pergi jalan-jalan sekeluarga ke Belgium Palace di Brussels.


Senin, 10 Agustus 2026. Aku sudah dapat semua dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan visa dari tempat kerja. Surat pengangkatan, izin cuti dan slip gaji yang bohong itu. Aku juga tidak mau berlama-lama di kantor, setelah kudapat semua aku langsung ngaleos.


Hari ini aku juga mendapat transferan gaji (yang sudah berbulan ini selalu dibayarkan tanggal 40, entah apa sebabnya), yang nominalnya jauh berbeda dengan slip. Jadi, mulai tahun ini aku 'melibatkan' Wawan untuk membantuku. Hal yang Wawan lakukan ini seperti yang Pa Asep lakukan padaku dulu.

Aku membaginya dengan Wawan. "Yeuh, saeutik sewang. Bae nya..", ujarku. Wawan sudah bukan orang lain. Dia tahu semua yang terjadi di 'sekitar sini'. Tapi mendapati hal ini, Wawan malah menangis. Aku memintakan maaf tempatku berkegiatan hanya bisa memberi seuprit ini. Dia malah balik menyerang,"Harusnya tempat itu yang minta maaf pada orang-orang !". Aku menutup semua keluhanku dan keluhannya. Yah segini adanya, begini yang terjadi. Entah sampai kapan tempat ini akan seperti ini.


Dari pertemuan dengan Wawan aku malah dapat bahan. Lalu 'menyalurkannya' lewat tulisan.

Selama ini

Tak pernah kubiarkan daun-daun. Mengering
Pada taman. Penuh gemuruh nyanyian
Lagu-lagu rahasia. Menutup kegelapan
Dengan senjata ayat-ayat. Dari Al Quran

Tak pernah kubiarkan daun-daun. Mengering
Dalam kemarau. Terik sepanjang musim
Menguapkan segala amarahku. Menjadi geming
Di kedalaman. Sejauh akar takdzim

Tak pernah kubiarkan daun-daun. Mengering
Dari sungai. Yang dulu pernah segar mengalir
Menuju hatiku. Kini sampai kugunakan darah
Untuk tetap mengairi bunga-bunga. Lewat dzikir

Tak pernah kubiarkan daun-daun. Mengering
Sebelum patah. Semua kerimbunan ranting
Meneduhkan jalan. Perlahan pada batas
Tempat kematian. Menguburkan ikhlas

2026

Meski jadi sering ngeluh, buatku hal jelekpun masih bermanfaat. Haha


Selasa. 11 Agustus 2026. Pa Fuad menggunakan ruanganku untuk dipakai sebagai tempat ujian. Tidak bisa disangkal, ruanganku memang lumayan konvensional untuk digunakan seperti ini. Jadi aku membantunya sedikit, merubah layout, menghubungkan audio-visual. Sisa keperluan teknis lainnya dibantu Pa Asep Kurniawan, Pa Cepy dan Iqbal. Yah.. Aku juga nga bisa bantu banyak. Cuma begini saja.


Setelah ngoceh soal hak yang 'seharusnya' kuterima, aku sebenarnya sudah mau abai tentang yang bukan kewajibanku. Termasuk hal begini. Tapi didatangi ke ruanganku, dengan mata berbinar penuh semangat untuk belajar, mana bisa aku menolaknya. Apalagi dia sampai membawakanku air minum dan makanan ringan. Aku tahu dia seorang yang pemalu, tapi dia melawannya karena ada yang ingin dia ketahui. Dan itu sudah sangat perkembangan yang baik buatnya.

Hal bersih seperti ini, yang tidak dilihat 'orang-orang sana'.


Kamis, 12 Agustus 2026. An evening humming. Nyambuti maghrib bersenandung. Yang kupakai ini Suluk yang biasa ada dipembuka shalawat Law Kana Bainana. Tapi aku tidak mau membawakannya dengan cara 'biasa'. Lalu kupilihlah dengan gaya carnatic india.

Barangkali ini cukup aneh buat orang-orang di sekitarku. Beberapa berkomentar dan mengirimkanku pesan ringan seperti,"Kunaon maneh ?". Yah.. Sebisa mungkin aku juga tak begitu mau memperlihatkan diriku pada sisi ini, pun mereka tidak perlu tahu sih.. Aku memutar-mutar playlist koleksi laguku, tapi tidak ada yang cocok beberapa hari ini. Dan sholawat ternyata ampuh mengatasi ini.

Ditambah aku ngahariring saat perpindahan sore ke petang. Sela jeda menunggu shalat maghrib, seperti menuju pergantian hari. Gara-garanya aku jadi diserang perasaan mengingat orang-orang yang baik padaku, perjalanan dan hidupku..


Malam harinya aku diajak Fahrezi untuk ngopi di luar. Ternyata Fahrezi juga baru-baru ini selesai sidang jenjang S1. Kami lumayan lama tidak bertemu. Aku niatnya mau ngobrolin soal skripsinya tentang apa, tapi malah jadi kesana-kemari, sempat juga sama-sama 'prihatin' soal keadaan di sini, dan yang kaget dia sudah berani ngobrol tentang perempuan haha.


Kamis, 13 Agustus 2026. Lantai kramik di ruanganku meletup terangkat dan ini terjadi saat ditengah-tengah kegiatan. Bocah-bocah kaget, aku juga kaget karena bunyinya juga seperti ledakan, spontan aku 'mengevakuasi' bocah-bocah, menyuruh mereka supaya langsung ke luar ruangan.


Aku mengabari Pa Andri sebagai bagian sarana. Kami berusaha mencegah kerusakan lebih, tapi akhirnya malah merembet sejajar lebih dari setengah luas ruangan.


Nuhun Pa Andri, meski nga tau kapan ini akan dibenerin oleh pihak 'sana', minimal sekarang aman dulu saja.


Jumat, 14 Agustus 2026. Lomba agustusan. Supaya 'kegiliran', aku meminta bocah-bocah untuk menjadikan s pa riki dan bu tita menjadi juri.


Pulang jumatan aku menjenguk mang Halim yang sakit, dan pulang dari rumah sakit. Keadaanya memang agak parah. Penyakitnya belum terdiagnosa secara jelas. Mang Halim dibawa ke rumah Wa Ibah, supaya bisa dapat terjaga lebih intens. Saat aku menjenguk ada Wa Ibah, Mang Apong, Bi Ade, Ma Anon, dan satu lagi bapa-bapa yang aku tidak tahu namanya.


Sore hari Eki datang ke saung. Ini memang sudah dia rencanakan.

Everyone has their roughtime. Ternyata ini juga waktu-waktu yang agak berat untuk Eki. Keadaan bisnisnya sedang kurang baik. Dan yang menyebalkan adalah ini gara-gara kebijakan pemerintah.


Sabtu, 15 Agustus 2026. Rada jarang s Eki bangun pagi kalau menginap di saung. Menunggunya bangun saja aku sudah bisa merapikan sisi taman luar ini, setengah hari.


Malam hari, aku menghadiri haol pa KH. Koko. Menemui Cep Thoriq. Sebagai puteranya Pa Oko, bukannya duduk di depan, dia malah ngerjain ini itu. 


Ketemu a Imen saat sama-sama berdirian di belakang. 

"Yang jelek dari tipe orang sepertimu adalah pasti memasukkan segala sesuatu ke dalam hati. Apalagi yang tidak menyenangkan.. Di manapun dan ke manapun, akan selalu ada yang menyukai dan tidak menyukai kita. Itu pasti !, Tinggal bagaimana caramu menghadapinya.."

"Aku tidak bisa berlama-lama di sini sekarang.. Lain kali tinggalah di rumahku lebih lama.., ajak yang lain, tapi harus buat sesuatu, apapun itu, ya !"

Ucap a Imen padaku.


Minggu, 16 Agustus 2026. Aku memang sudah berencana rawatin gitarku ini. Dia terlalu liar. Aku agak sebal dengan ucapan dari seseorang yang awalnya aku cuma mau bantu-bantu, tapi akunya aja yang keusilan sampai bawa-bawa gitarku si Shiva ini ikut tigebrus segala ke kerjaanku, mereka keenakan.

Maaf sampai karatan, neck nga jelas, badan retak sana-sini,..

Kalau aku inget bahwa Shiva ini titipannya Cici ku, hadiah ulang taunku ke 19, di kasih di Bandung, di Puri Tomat-Dago, pertama aku tau punya Cici katolik, aku udah dosa nga jagain gitarnya dengan baik.. Meski cici ku bilang yang penting bermanfaat.

Mulai sekarang kukira gitarku ini ngausah kemana-mana lagi. Tinggal di rumah aja ya.. Kita nyanyi lagu-lagu yang seperti biasa kita dengerin sajaa, ok! Ngausah dengerin yang laen-laen, apalagi lagu-lagu dari 'sebelah'~

*Suwun buat teh Oci Maolan jugak yang udah ngasih senar baruuu disaat gajiku cuma seuprit ha ha ha


Nah, Shiva udah ganteng setelah dirawat sedikit.


Tiba-tiba undangan juri sesaat sebelum mau berangkat. Dua santri datang ke kosanku memberikan suratnya. Padahal aku udah sengaja nga nongol-nongol dan nga bersuara akhir-akhir ini, tetep aja kena.


Sore hari, ngadiri bedah buku "Misi Menggagalkan Doa", buku kumpulan cerpen karya Yoga Palwaguna ini masuk dalam daftar panjang dan pendek penghargaan sastra Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.


Diajakin s Mas, Tata, sama Fey nyore ke sini. Ketemu orang-orang lama dan baruu.. Oh jelas aku bukan penulis.. Tapi aku senang kalau lihat orang-orang bicara, terkhusus sastra. Apa ya.. Buat pembaca yang jelek sepertiku, lebih mudah 'mencerna' lewat ungkapan lisan-oral. Biasanya, setelah itu barulah aku tertarik ke 'bentuk aslinya'. 


Irhan. Oom-oom penolong baik hati yang juga penulis, yang sepuluh taun nga ketemu setelah tugas di Basarnas Pangandaran.

Favorit dia mh, s mimih hahaa.. Biasanya kita janjian dulu kalau mau ketemu, kali ini kita nga sengaja sama-sama datang. Lalu berpose lah kami selesai acara,


Aku jadi kepikiran buat ngedit ini setelah pose terakhir kami, yin yang haha.


Pulangnya dijajanin kopi sama Tata di kopi Siloka.


Senin, 17 Agustus 2026. Bangun kesiangan. Tapi aku juga salse karena s Mas bilang soal juri-jurian kira-kira pukul 11-an. AKu juga ngada niatan ikut upacara. Berangkat bareng Tata yang sama-sama kesiangan juga, akhirnya kami hadir di belakang saja. Yang handel kerjaan juri jadi bang TB Waidzin. Yasudah, aku datang bersenang-senang saja.


Selesai kegiatan orang-orang yang datang dijamu makan. Aku ngaikut makan karena udah dikasih sarapan sama si Dede. Saat ngobrol di belakang ada s Bibi lewat mau pulang dan ngajakin untuk foto bersama. Jadilah kami berempat berdiri. S Bibi dan Bu Enung (ujung sebelah kanan) adalah guru-gurunya Diwan saat MI.

"Resep ningal araktif nu aranom teh, Diwan, Eki.", ujar Bu Enung. Aku sama Diwan hanya saling lirik dan senyum. Nga tau aja isi kepala kita ini kecamuk semua hahah. Tapi yah.. Orang-orang juga nga perlu tahu sih..

Disarankan memakai pakaian dengan aksen merah-putih, yang mana males sebenernya, aku memakai karembong warisan dari Wa Loloh.

Aku juga jadi menulis sedikit sepulangnya..

-

Doaku dikabul

Meminta hujan pagi hari. Supaya upacara tidak lama
Karena isinya selalu sama. Kebohongan semata
Seperti wajah tawa kami. Pada potret ini
Adalah warna merona. Supaya gelap tersembunyi

Saling hangat menyapa. Setelah dijamu
Rinai hujan sekejapan. Dan suara para tamu
Bercakap ringan. Namun tidak mengada-ngada
Seperti yang biasa dilakukan penguasa

Dalam satu lagu. Yang terus bersemilir
Di telingaku. Sejak empat tahun lalu
Liriknya kutulis. Namun belum juga menemukan akhir
Sampai hari ini. Biar ku ucapkan dua bait saja padamu

"Dengarkan, coba dengarkanlah 
Apa yang ada di sana. Di puncak tertinggi itu ?
Seseorang yang kehilangan arah
Namun tak kenan melangkah. Pada waktu"

"Menyakiti banyak sekali. Hati
Tanpa seorangpun tahu
Termasuk dirinya. Sendiri
Perlahan dingin. Menjadi batu"

2026


Selesai kegiatan 17-an aku langsung pulang karena s Dede harus balik lagi ke Bekasi. Dia pulang bener-bener cuma sehari saja. Pamit, kami mengantarnya sampai depan.


Can nanaon.

Ada perasaan yang beda buat keberangkatan s Dede kali ini. Biasanya aku yang jemput-antar s Dede kalau dia pulang. Kali ini S Dede berangkat dengan s Ucup. Saleongna s Dede, aku jalan balik ke kosan. Dan tiba-tiba jadi kepikiran, "Kitu mereunnya mun si Dede sudah melanjutkan hidup dengan seseorang..". Aku senang dan sedih juga hehe. Di sisi lain kukira s dede aman dengan s markucup. Sisi lainnya tugasku sebagai kakaknya sekarang ada yang menangani.. Hehe aku sudah mulai tergantikan.. Tapi yah.. Si Dede juga sudah besar sekarang. Mungkin lebih dewasa juga dariku. Aku senang saja..

-

Setengah bulan ini, aku tahu bukan hanya aku yang kesulitan sendirian, kerjaanku aman (uangnya yang tidak aman haha), dapat beberapa penglihatan, dua kali bernyanyi, dua kali menulis puisi. Yang di kepalaku ? oh masih ada lagi !


-


فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ۝١٥٩

It is out of Allah’s mercy that you ˹O Prophet˺ have been lenient with them. Had you been cruel or hard-hearted, they would have certainly abandoned you. So pardon them, ask Allah’s forgiveness for them, and consult with them in ˹conducting˺ matters. Once you make a decision, put your trust in Allah. Surely Allah loves those who trust in Him.

Ali 'Imran : 159

-

Whoever of you loves life and desires to see many good days. Keep your tongue from evil and your lips from telling lies.Turn from evil and do good; seek peace and pursue it.

Psalm 34: 12, 13, 14