Excerpt from the other sight Time has wonderful way of showing us what really matters

Jumat, 14 Juni 2024

A thing that is worth to be waited

You’ll find that some friends are like whisky

The older, the better.

-

As planned. This June 11-12, I will meet my old friend Drew Rinehart. We first met when Drew was in the Envision program in 2019. It's like a little reunion for us. At that time one of his programs was teaching English. So I helped a little bit because my English isn't very good.


Envision has several sub-ministries, including Refugee ministry, Teaching English, Music & Art ministry, Orphanage ministry, Sports ministry, Organic Farm ministry, and many more. But roughly this envision program has a goal for social ministry.

- Back to the good old days.


I guess Drew was one of my first friends in the early days when I was at Green gate. He's a typical sports-man, he used to play tennis at his house. I didn't really like sports, but at that time Drew invited me to play basketball, but I ended up just walking around the court haha.

 

Drew made me a map of the U.S.

See ? For someone who don’t know the U.S like me, Its simply to understand haha, cool.

Sometimes we have a coffee together.

CDB days !


- Back to present


Five years later, after arranging few things, we finally got to meet again! It was great to see our old good buddy. Drew actually invited me to come to his wedding in July last year, but I was in the EV scholarship program at the time. So I wasn't able to make it to come.

After Drew got married, we called each other several times, I once had a chance to talk by phone with his wife Anna. And today I finally got to meet her too! Anna is such a lovely person. In my eyes, she's totaly matches Drew. And yes, I'm so glad that Anna is with him.

See ? how they really get along ! Sometimes I want to get married too if I see something like this, especially when they’re our friends, hehe. What a lovely couple !

-


Granolas for breakfast, it's been missed!

 

At breakfast I also met Ms. Budi and her two children, Azeez and Shqyla. Ms. Budi is of Indonesian-Malaysian descent, but has lived in the U.S. Her children only speak English. Ms. Budi's family is close to Anna. It's summer break in the U.S., so they all went on vacation. Azeez and Shqyla are children who get along easily. It didn't take long for us to become close

Actually, Green gate is a nice place and good enough for us to talk about the days when we didn't meet. But we didn't want to miss this meeting by being 'ordinary'. We went to The Parlor!

Azeez and Shqyla looked very happy riding the mini go kart rides.


Siblings friendly race results ! Azeez the winner ! Haha

After that, we took a walk around Brunswick. No one told me that it will be a loooong walk haha, but the distance didn't really matter because we talked the whole way.

Brunswick cliff. It wouldn't be right if we visited without taking a photo here, we have Ryan on that day as well !

After an 'unplanned long march' almost until late afternoon, we went to Downtown to sit and get coffee.  A short break, the kids were exhausted, but the photobox got them excited again. After that we had dinner and then went back to Green gate.

Cute Shqyla


Our tired faces today haha!


Gifts from Drew and Ms. Budi, my bag is suddenly full!

 

I'm glad they're all good. We have no idea at all how God works. But to think how He organizes life here, and there, in so many parts of the world, it's a miracle. Not everything always goes smoothly, but we can try to make the best of it!

 

Actually two days wasn’t enough for us, but still, It was good meetings afterall.

Thanks Drew, so good to see you again !

As you said before I leave to back, until later !

 

وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ ٦٩

“As for those who struggle in Our cause, We will surely guide them along Our Way. And Allah is certainly with the good-doers.”

-Al-Ankabut : 69

 

"My command is this: Love each other as I have loved you. Greater love has no one than this: to lay down one’s life for one’s friends.”

-John 15: 12-13


Selasa, 11 Juni 2024

Boys days out !


Do you still have a friend who still sing sincerely ?

-

Aku pergi ke Bandung sebenarnya untuk ‘reuni kecil’ program Envision-2019 di Green gate tanggal 11-12 Juni, tapi sehari sebelumnya aku malah tiba-tiba berkeliaran dengan teman lamaku !

Fikri Binarsukma. 'Pure-blood artist descendant' asli kelahiran Ciamis ini memang aktivitasnya di Bandung. Sebagai full-time guru seni musik yang kerap membuat gaduh para siswinya dan juga musisi-gitaris tulen ini sulit sekali ditemui, beberapa kali aku hendak berkunjung selalu saja kebetulan dia berhalangan bertemu. Tapi yahh.. Dengan kegiatannya yang seabreg memang bisa kubayangkan sih.

Kami pertama kali bertemu (belum kenal) pada tahun 2015 saat acara konser musikalisasi puisi Fine Della Storia-nya Komunitas Azan. Fikri sebagai talent, aku mah biasa sasapu. Acara ini diinisiasi oleh Diwan Masnawi yang sudah mulai bergerak sebagai core initiator Komunitas Azan yang diampu oleh ayahnya Acep Zamzam Noor. Belakangan, Diwan memulai langkahnya sendiri dengan membuat Komunitas Kuluwung, yang sebenernya isinya tetep sama aja haha.

Ini memang sangat impulsif, dua hari sebelumnya aku ‘iseng’ mengirimnya pesan karena sedang ada di Bandung. Acaraku ada di tanggal 11, dan aku punya hari kosong di tanggal 10, jadi aku menanyakan kesediaan waktunya kira-kira sedang senggang atau tidak. Sebenarnya di waktu-waktu ujian sekolah seperti ini aku yakin dia sibuk, tapi yah ieu mah susuganan. Dan ternyata Fikri senggang, dan mengiyakan untuk mengajakku orang kampung ini berkeliling seputar art-site di Bandung !

Aku sebenarnya mengincar Selasar Sunaryo Artspace karena tempat ini menyuguhkan banyak hal, tapi ternyata tempat itu tutup di hari senin. Setelah bertukar referensi, menimbang beberapa tempat, akhirnya terpilihlah Grey Art Gallery di jalan Braga. Yah.. Selain galerinya, kukira Braga cukup menarik meski untuk hanya sekedar berjalan kaki (kecuali tentang keramaiannya, sebisa mungkin hindari berkunjung pada akhir pekan hehe).

Fikri menjemputku ke rumah Oma. Padahal sudah kutolak karena kukira jadi merepotkan, karena  lumayan cukup jauh juga dari tempat tinggalnya di Sarijadi untuk ke Ciumbuleuit. Sesampainya dia ke rumah, kita mengobrol ringan sebagai pembuka (yang sebenarnya tidak ringan haha) dan minum kopi dulu dan malah jadi berangkat saat pertengahan hari.


Ini memang sudah agak lama juga untuk kami. Kami terakhir bertemu dua tahun lalu saat aku dalam agenda Safari Sastra Yudhistira, saat di Universitas Katolik Parahyangan. Dan sekali lagi setelah enam tahun kita berbagi panggung yang sama di sana.

Grey art Gallery. Sebenarnya dengan arsitektur sisa bangunan lama kami mengharapkan lukisan-lukisan dengan gaya abstrak, surealis, warna monokrom dan tipikal ‘kesuraman’ lain. Tapi ternyata hari itu di Grey Art Gallery sedang berlangsung pameran The Redmiller Blood Experience bertema The Great Ocean Stories pada 2024 ini bertajuk “INSAN(G)”, sebuah presentasi tunggal karya-karya Peter Rhian Gunawan. Pameran The Redmiller Blood Experience bertema The Great Ocean Stories pada 2024 di Grey Art Gallery ini diselenggarakan dengan kolaborasi bersama penulis Sundea Salamatahari, seniman Erwin Windu Pranata, Gummy Art Studio, Mahasiswa-mahasiswi Institut Teknologi Nasional (ITENAS), dan BillMohdor studio yang hampir semua karyanya menggunakan warna-warna terang yang kiranya terlalu manis untuk pengunjung ‘Om-om’ seperti aku dan fikri haha.

The Great Ocean Stories merupakan eksperimen yang berfokus pada wahana perjalanan bawah laut yang mengangkat cerita tentang bagaimana seseorang boleh rehat sejenak dari hiruk pikuk hidup dunia nyata yang melelahkan dan meluapkan imajinasi sebebas-bebasnya, merenung, dan introspeksi diri sehingga siap dan kuat ketika kembali menghadapi kenyataan dunia nyata.

Di lantai utama karya instalasi karya Peter Rhian Gunawan membangun suasana pantai. Pelepah-pelepah pohon kelapa yang telah kering di pasang merata pada tiap pilar di ruangan. Replika sekoci ditempatkan di bagian tengah ruangan yang lantainya ditaburi genangan pasir pantai kecoklatan. Mawa pasir Pantai, ka Tengah kota. Sok aya-aya wae memang nu resep sesenian teh.

Salah satu hal menarik dari pameran ini adalah karya-karnyanya dibalut dengan teknologi Augmented Reality atau AR. Gambar bergerak atau animasi dengan bentuk GIF (Graphics Interchange Format) bisa disaksikan setelah kita memindai kode gambar lalu terhubung ke akun Instagram pribadi. Aku kebayang aja sih seberapa banyak mereka bikin gambar-gambar buat bahan augmented reality ini hehe..



Seperti ini kira-kira yang bisa kita lihat saat men-scan kode untuk salah satu karya pada pameran ini.


Pada bagian kedua tema pamerannya ini ruangan bawah Grey Art Gallery ditata dengan lampu yang temaram. Kemudian digantung pula empat bentuk ubur-ubur yang terkesan sedang melayang. Sosok Redmiller dimunculkan dengan ukuran besar berbentuk tiga dimensi.

Pada bagian dindingnya dipajang beberapa board dengan marker glow in the dark berisi pertanyaan yang dapat kita tulis jawabannya.

Pada pamerannya kali ini, Peter juga berkolaborasi dengan 14 mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung. Kami sempat juga mengobrol dengan Syahda Nabila, salah satu seniman-mahasiswa Itenas yang terlibat pada pameran kali ini. Syahda menuturkan pameran ini adalah salah satu tugas mata kuliah proyek DKV. Dan dengan sentuhan begini kukira pameran ini masuk ke wilayah seni rupa kontemporer, tapi tetap mengesankan !.

Terdapat juga 130-an karya lukisan murid-murid Peter yang berusia 4-8 tahun tentang suasana bawah laut. Anak-anak ini punya selera warna Pop !, tapi minimal anak-anak ini teu ngagamar gunung nu aya jalan ditengah tea ning haha.

Melewati sore hari, beteung sudah kekerebekan. Kami meninggalkan galeri lalu mencari sesuatu yang bisa dimakan (apapun asal jangan makan teman), dan aku dipilihkan bakso yang tidak jauh dari jalan Braga. Dan Abang-abang baksonya bernama Rian asli Palembang ini ternyata fans dream theater yang kocak kalau bicara haha. Makan sore kami jadi banyak tawa.

Disela-sela perjalanan hari ini aku dan Fikri sebenarnya banyak sekali mengobrol. Khususnya di ranah seni music, yah.. Mumpung ada sumber yang proper kan’ ya. Berbicara tentang gitar klasik, sejarahnya, virtuoso, luthier, gaya flamenco, akustika sampai ke masalah frekuensi.

Dalam musik, nada mayor dan minor tidak bisa dikatakan hanya menangkap kesan senang dan sedih saja. Begitupun dalam seni rupa tentang pilihan warna terang dan gelap seperti dalam pameran yang kita kunjungi hari ini. Semua karya memiliki jiwanya sendiri, entah itu rupa, musik, tari teater ataupun sastra. Pertama tergantung pencipta-penciptaannya. Kedua, tentu perspektif orang-orang yang menerimanya. Ini membuatku berpikir betapa orang-orang seperti Fikri ini atau mungkin orang-orang yang menyukai seni dengan lebih khusyuk kiranya memiliki realitas lain yang mungkin lebih besar yang belum terjelajahi dibanding realitas kehidupannya itu sendiri.


Petang, sebelum pulang aku dibawa dulu melewati jalan Asia-Afrika, katanya banyak hantu, robot dan superhero berkeliaran di sana. Tapi ternyata tidak ada, kami tidak bertemu mereka. Seperti Selasar Sunaryo, kukira hari senin mereka juga libur bekerja.

Aku diantarkan pulang kembali ke Ciumbuleuit, padahal sudah kubilang aku bisa naik transportasi lain. Kesian kan’ dia jadi bulak-balik. Tapi aku tetap diantar, jadi merepotkan huee. Selain itu sudah kusuruh makan dulu karena kata Oma biar dia makan malam dulu di rumah, tapi dia malah langsung pulang.

Menabung pertemuan selama dua tahun tidak jelek juga. Meski melelahkan, kita jadi punya banyak hal yang dibicarakan.

Hari baik. Terimakasih Aikiiii !

 

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ ٧١

 

“The believers, both men and women, are guardians of one another. They encourage good and forbid evil, establish prayer and pay alms-tax, and obey Allah and His Messenger. It is they who will be shown Allah’s mercy. Surely Allah is Almighty, All-Wise.”

-At-Tawbah : 71

 

"Therefore encourage one another and build one another up, just as you are doing."

-Thessalonians 5: 11







Jumat, 07 Juni 2024

Live another day : Find another reason to stay

Suatu hari pada minggu ini, aku berangkat ‘berkegiatan’ berjalan kaki melewati jalanan gang di perkampungan. Lalu bertemu dengan seorang bapak-bapak yang memikul bambu. Pagi buta, mataku sudah mengirimkan kalimat ke dalam kepala. Ditengah maraknya retail-retail minuman ‘gaya’ masa sekarang, aku bertanya-tanya adakah hari ini orang-orang yang masih membeli dan meminum lahang ?

Berada pada zaman yang penuh dengan ‘percepatan’, banyak orang bisa mendapat hal-hal dari yang tidak ‘kelihatan’ (dengan cara ‘bersih’, bahkan ‘paling kotor’). Tapi kukira hari-hari jadi berlalu dengan terburu-buru, tidak sadar atau bahkan kita terpaksa sampai kehilangan-menghilangkan makna waktu. Aku, tidak mau sampai punya kehidupan yang ‘semiskin itu’.

Hidup dengan memiliki usia yang merasakan ‘lampau’ dan ‘kini’ memang sangat menolong generasiku menyesuaikan diri. Tapi kadang aku penasaran dengan cerita-cerita bagaimana orang-orang dari ‘masa lalu 'bertahan' dan memperjuangkan dirinya mengimbangi waktu yang sepertinya tiba-tiba ‘melampaui’ mereka.

Hari ini, mata lebih sering melihat yang ‘tidak nyata’. Telinga lebih sering mendengar suara yang 'tidak jelas darimana asalnya'. Kukira, kini banyak dari kita juga yang sudah mulai kehilangan ‘rasa’.

Orang-orang dari ‘masa lampau’ itu kadang bisa mengatasi masalah besar hari ini dengan lebih sederhana. Yang generasi hari ini sering menyebutnya dengan ‘sulit’ atau bahkan ‘sudah tidak berguna’.

Barangkali kita dapat menemukan kearifan yang pernah kita lewatkan.. Jadi, tidak ada salahnya untuk sesekali ‘kembali’..

-


Juni 1, 2024. Akhir pekan yang sangat biasa. Seharusnya hari ini aku pergi ke rumah Oma Rosemarie untuk membawa donasi buku-buku untuk kugunakan di sekolah. Ini sudah kedua kalinya (yang pertama di tahun lalu). Tapi urung karena Oma bilang mesti disortir dulu. Yah.. Aku tidak punya pilihan selain menunggu. Aku akan membawanya minggu depan. Jadi nanti anak-anak di sekolah dapat membaca beberapa buku-baru lagi. (keur nu sok maca).


Juni 2, 2024. Hari ini aku sudah merencanakan untuk ngurusi tanaman-tanamanku. Pertama di saung dulu, aku menanam potongan anak-anak Lily Paris dan Sansivera. Tidak lama dari itu hujan turun. Ini sudah lama sejak terakhir hujan, cuaca juga panas dua minggu ini.

Hari ini Dede Rifqi anaknya Wa Dadah menikah di Jakarta. Sebagian teman-teman di kampung pergi menghadiri undangan. Aku tidak ke sana karena kebetulan sedang ada yang dikerjakan.

Kamboja yang kupindah-tanamkan dari saung ke taman belakang sudah beberapa kali berbunga. Kali ini aku temukan dengan kelopak yang berjumlah enam. Ini jarang sekali ditemukan. Karena biasanya bunga kamboja mekar dengan kelopak berjumlah lima. Menurut mitos, bunga kamboja yang berkelopak enam begini katanya bisa (atau pertanda) membawa keberuntungan haha. Yah.. Lepas dari semua itu yang penting mereka bisa tumbuh lebih rindang. Memberikan warna ke tempat yang sejak dua tahun kepergian alm. Bapa berwarna abu-abu.

Juni 3, 2024. Jeda. Aku menggunakannya untuk menulis tentang 40 hari Yudhistira 11 mei lalu. Ini keterlaluan memang. Tapi aku baru memiliki waktu yang benar-benar senggang seharian. Sebagai amatiran, Aku butuh waktu lama untuk hanya menulis seperti ini saja. Selain itu karena aku mesti mengingat-kembali pada hari itu juga. Tulisannya bisa dibaca di link dibawah :

40 Hari Yudhistira : Datang-pulang untuk ‘Ayahku’ yang lain

Juni 4, 2024. Aku terlibat dalam Garapan film documenter terbarunya teh Erni Agustin Rahayu yang baru tentang Calung Renteng Tarawangsa. Tapi bulan Mei-Juni ini kebetulan agak padat untukku. Akhirnya aku memutuskan untuk ‘mundur’ dalam tim produksi. Memang sayang sekali tapi aku juga tidak mau jadi hambatan dalam proses pembuatan filmnya karena mesti menunggu jadwalku senggang yang tidak tahu kapan. Syukurlah Elang Andrean-salah satu koleksi actor teh Erni bisa menghandel scene yang jadi bagianku. Teh Erni mengatakan padaku untuk tetap ikut andil dalam film ini, jadi nanti aku akan bersama tim credit music pada tim pasca produksi. Yah.. Aku belum tahu aku bisa melakukannya atau tidak, aku sudah lama tidak memegang tarawangsa, tapi semoga bisa kulakukan.

 

Masih ada sisa waktu malam. Aku sebenarnya lebih ingin bernyanyi, yah lagu apa saja sih. Tapi ternyata tidak ada lagu yang cocok. Akhirnya aku jadi ‘ngoprek keyboard, dan sudah lama juga aku tidak main. Lalu barulah timbul mood, memilih sedikit intro lagu Another Day dari Dream Theater yang dikenalkan si Iyan mungkin sepuluh tahun lalu.

Juni 5, 2024. Sekolah sedang sibuk-sibuknya karena menjelang ujian akhir semester. Teh Ii Iryani, guru Pelajaran agama ku dulu saat SMA membawa bahan-bahan untuk membuat rujak ke perpustakaan.Aku bukan tipe penyuka makanan pedas seperti bumbu rujak salah satunya. Untuk memperbaiki mood, Aku mengambil satu apel nya saja lalu kembali ke ruanganku. Aku jarang ‘bergaul’ ke selain ruanganku sebenarnya. Hanya untuk menghindari obrolan tidak perlu. Karena kalau aku sudah bicara kadang aku melewati batasnya, lalu akan merasa dosa setelahnya. Jadi lebih baik sekalian tidak melakukannya.

Juni 6, 2024. T-shirt ini pemberian dari Aeni Nurazizah. Santriah penulis dari pesantren Raudlatu Thalibin - Rembang, pesantrennya Gus Mus, kami bertemu saat dulu aku mengunjungi Rembang yang jadi salah satu tempat Safari Sastra Yudhistira. Bukan tanpa alasan aku memakainya, ini hari terakhir intensif di tempatku berkegiatan, karena aku yakin hari ini akan sibuk. Jadi aku selalu memakainya saat keadaan begini. Dan benar saja, pagi-pagi aku sudah disuguhi 'pertengkaran' di kantor, lalu tipe penyebab pertengkarannya adalah tipe yang paling kubenci - gara-gara uang. Lalu tiba-tiba jadi ikut beres-beres bantu tim panitia karena ‘kurang tenaga’, aku juga mengerjakan beberapa berkas administrasi dan mengurusi administrasi ‘lain’ yang memuakkan. Kerjaan model begini tidak cocok untukku. Padahal ini bukan apa-apa dibanding semalaman suntuk menuliskan cerita tentang Yudhistira dua hari sebelumnya. Tapi yah.. Yang penting semuanya selesai dikerjakan hari ini.

Hari ini ibuku kontrol rawat jalan ke rumah sakit. Ini dilakukan setiap bulan, alhamdulillah hasil cek kali ini aman, kesehatan ibu relatif baik. Hanya bulan depan katanya mesti cek lab. Sudah berbulan-bulan ini jika ibuku control begini diantar si Bapa (dulu aku yang biasa mengantar), jadi aku bisa melakukan kerjaanku yang lainnya. Selain itu ini juga memberikan mereka waktu buat jalan-jalan berdua.

Juni 7, 2024. Keluarga dari Cianjur pulang ke Tasik. Aku senang kalau mereka datang. Selain bisa ketemu, aku senang Uwa yang tinggal sendiri ada teman mengobrol.. Apalagi Bibi yang satu ini memang 'rame' kalau sudah bicara. Aku sebenarnya datang untuk mengantarkan obat dan bilang ke Uwa aku akan berangkat ke Bandung lagi besoknya, tapi akhirnya jadi menemani mereka makan malam. Kami banyak mengobrol setelahnya. Tentang yang lalu, dan sekarang.

Ceu Hilma membawakanku oleh-oleh. Salah satu hal menyenangkan Ketika punya yang sama-sama suka buku di keluarga adalah aku bisa ‘mulungin’ buku-buku yang sudah dia jarang baca.

Alokasi ‘dana pribadi’-ku buat beli buku sebenernya hampir tidak ada. Paling kalau ngebet banget pengen beli, barulah beli. Itupun dengan menggantikan 'hal' lain yang mesti dipenuhi mwehehe. Dan dengan beginilah salah satu caranya koleksi buku-bukuku bisa bertambah. Aku juga bukan orang yang sebagaimana suka membaca buku. Aku melakukannya ketika punya jeda waktu senggang, waktu menunggu, atau kadang saat diperjalanan saja. Tapi sebenarnya memang membaca buku harus punya jadwal serius sih hehe.. Minimal pengetahuanku bertambah, meski maunya sih lanjut sekolah haha. Tapi yah.. Dengan kepajeulitan hidupku sekarang sementara begini saja dulu..

-

Minggu pertama di bulan Juni.

 

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌۭ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰبِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًۭا يُفْتَرَىٰ وَلَـٰكِن تَصْدِيقَ ٱلَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَىْءٍۢ وَهُدًۭى وَرَحْمَةًۭ لِّقَوْمٍۢ يُؤْمِنُونَ ١١١

 

“In their stories there is truly a lesson for people of reason. This message cannot be a fabrication, rather ˹it is˺ a confirmation of previous revelation, a detailed explanation of all things, a guide, and a mercy for people of faith.”

-Yusuf : 111

 

“Remember the days of old, consider the years of all generations. Ask your father, and he will inform you, Your elders, and they will tell you.

-Deutronomy 32 : 7