Do you still have a friend who still sing sincerely ?-
Aku pergi ke Bandung sebenarnya untuk ‘reuni kecil’ program
Envision-2019 di Green gate tanggal 11-12 Juni, tapi sehari sebelumnya aku
malah tiba-tiba berkeliaran dengan teman lamaku !
Fikri Binarsukma. 'Pure-blood artist descendant' asli
kelahiran Ciamis ini memang aktivitasnya di Bandung. Sebagai full-time guru
seni musik yang kerap membuat gaduh para siswinya dan juga musisi-gitaris tulen ini sulit sekali ditemui, beberapa kali
aku hendak berkunjung selalu saja kebetulan dia berhalangan bertemu. Tapi
yahh.. Dengan kegiatannya yang seabreg memang bisa kubayangkan sih.
Kami pertama kali bertemu (belum kenal) pada tahun 2015 saat
acara konser musikalisasi puisi Fine Della Storia-nya Komunitas Azan.
Fikri sebagai talent, aku mah biasa sasapu. Acara ini diinisiasi oleh Diwan
Masnawi yang sudah mulai bergerak sebagai core initiator Komunitas Azan
yang diampu oleh ayahnya Acep Zamzam Noor. Belakangan, Diwan memulai langkahnya
sendiri dengan membuat Komunitas Kuluwung, yang sebenernya isinya tetep sama
aja haha.
Ini memang sangat impulsif, dua hari sebelumnya aku ‘iseng’
mengirimnya pesan karena sedang ada di Bandung. Acaraku ada di tanggal 11, dan
aku punya hari kosong di tanggal 10, jadi aku menanyakan kesediaan waktunya
kira-kira sedang senggang atau tidak. Sebenarnya di waktu-waktu ujian sekolah
seperti ini aku yakin dia sibuk, tapi yah ieu mah susuganan. Dan ternyata Fikri
senggang, dan mengiyakan untuk mengajakku orang kampung ini berkeliling seputar
art-site di Bandung !
Aku sebenarnya mengincar Selasar Sunaryo Artspace karena
tempat ini menyuguhkan banyak hal, tapi ternyata tempat itu tutup di hari
senin. Setelah bertukar referensi, menimbang beberapa tempat, akhirnya
terpilihlah Grey Art Gallery di jalan Braga. Yah.. Selain galerinya, kukira
Braga cukup menarik meski untuk hanya sekedar berjalan kaki (kecuali tentang
keramaiannya, sebisa mungkin hindari berkunjung pada akhir pekan hehe).
Fikri menjemputku ke rumah Oma. Padahal sudah kutolak karena
kukira jadi merepotkan, karena lumayan
cukup jauh juga dari tempat tinggalnya di Sarijadi untuk ke Ciumbuleuit.
Sesampainya dia ke rumah, kita mengobrol ringan sebagai pembuka (yang
sebenarnya tidak ringan haha) dan minum kopi dulu dan malah jadi berangkat saat
pertengahan hari.
Ini memang sudah agak lama juga untuk kami. Kami terakhir
bertemu dua tahun lalu saat aku dalam agenda Safari Sastra Yudhistira, saat di
Universitas Katolik Parahyangan. Dan sekali lagi setelah enam tahun kita berbagi panggung yang
sama di sana.

Grey art Gallery. Sebenarnya dengan arsitektur sisa bangunan
lama kami mengharapkan lukisan-lukisan dengan gaya abstrak, surealis, warna
monokrom dan tipikal ‘kesuraman’ lain. Tapi ternyata hari itu di Grey Art
Gallery sedang berlangsung pameran The Redmiller Blood Experience
bertema The Great Ocean Stories pada 2024 ini bertajuk “INSAN(G)”,
sebuah presentasi tunggal karya-karya Peter Rhian Gunawan. Pameran The
Redmiller Blood Experience bertema The Great Ocean Stories pada 2024 di Grey
Art Gallery ini diselenggarakan dengan kolaborasi bersama penulis Sundea
Salamatahari, seniman Erwin Windu Pranata, Gummy Art Studio, Mahasiswa-mahasiswi
Institut Teknologi Nasional (ITENAS), dan BillMohdor studio yang hampir semua
karyanya menggunakan warna-warna terang yang kiranya terlalu manis untuk
pengunjung ‘Om-om’ seperti aku dan fikri haha.

The Great Ocean Stories merupakan eksperimen yang
berfokus pada wahana perjalanan bawah laut yang mengangkat cerita tentang
bagaimana seseorang boleh rehat sejenak dari hiruk pikuk hidup dunia nyata yang
melelahkan dan meluapkan imajinasi sebebas-bebasnya, merenung, dan introspeksi
diri sehingga siap dan kuat ketika kembali menghadapi kenyataan dunia nyata.
Di lantai utama karya instalasi karya Peter Rhian Gunawan membangun
suasana pantai. Pelepah-pelepah pohon kelapa yang telah kering di pasang merata
pada tiap pilar di ruangan. Replika sekoci ditempatkan di bagian tengah ruangan
yang lantainya ditaburi genangan pasir pantai kecoklatan. Mawa pasir Pantai, ka
Tengah kota. Sok aya-aya wae memang nu resep sesenian teh.
Salah satu hal menarik dari pameran ini adalah
karya-karnyanya dibalut dengan teknologi Augmented Reality atau AR. Gambar
bergerak atau animasi dengan bentuk GIF (Graphics Interchange Format) bisa
disaksikan setelah kita memindai kode gambar lalu terhubung ke akun Instagram
pribadi. Aku kebayang aja sih seberapa banyak mereka bikin gambar-gambar buat
bahan augmented reality ini hehe..
Seperti ini kira-kira yang bisa kita lihat saat men-scan kode untuk salah satu karya pada pameran ini.
Pada bagian kedua tema pamerannya ini ruangan bawah Grey Art
Gallery ditata dengan lampu yang temaram. Kemudian digantung pula empat bentuk
ubur-ubur yang terkesan sedang melayang. Sosok Redmiller dimunculkan dengan
ukuran besar berbentuk tiga dimensi.
Pada bagian dindingnya dipajang beberapa board dengan
marker glow in the dark berisi pertanyaan yang dapat kita tulis
jawabannya.
Pada pamerannya kali ini, Peter
juga berkolaborasi dengan 14 mahasiswa Desain Komunikasi Visual Institut
Teknologi Nasional (Itenas) Bandung. Kami sempat juga mengobrol dengan Syahda
Nabila, salah satu seniman-mahasiswa Itenas yang terlibat pada pameran kali
ini. Syahda menuturkan pameran ini adalah salah satu tugas mata kuliah proyek
DKV. Dan dengan sentuhan begini kukira pameran ini masuk ke wilayah seni rupa
kontemporer, tapi tetap mengesankan !.
Terdapat juga 130-an karya
lukisan murid-murid Peter yang berusia 4-8 tahun tentang suasana bawah laut.
Anak-anak ini punya selera warna Pop !, tapi minimal anak-anak ini teu ngagamar
gunung nu aya jalan ditengah tea ning haha.
Melewati sore hari, beteung sudah
kekerebekan. Kami meninggalkan galeri lalu mencari sesuatu yang bisa dimakan
(apapun asal jangan makan teman), dan aku dipilihkan bakso yang tidak jauh dari
jalan Braga. Dan Abang-abang baksonya bernama Rian asli Palembang ini ternyata fans dream theater yang kocak
kalau bicara haha. Makan sore kami jadi banyak tawa.
Disela-sela perjalanan hari ini
aku dan Fikri sebenarnya banyak sekali mengobrol. Khususnya di ranah seni
music, yah.. Mumpung ada sumber yang proper kan’ ya. Berbicara tentang gitar
klasik, sejarahnya, virtuoso, luthier, gaya flamenco, akustika sampai ke
masalah frekuensi.
Dalam musik, nada mayor dan minor
tidak bisa dikatakan hanya menangkap kesan senang dan sedih saja. Begitupun dalam
seni rupa tentang pilihan warna terang dan gelap seperti dalam pameran yang
kita kunjungi hari ini. Semua karya memiliki jiwanya sendiri, entah itu rupa, musik, tari teater ataupun sastra. Pertama
tergantung pencipta-penciptaannya. Kedua, tentu perspektif orang-orang yang
menerimanya. Ini membuatku berpikir betapa orang-orang seperti Fikri ini atau
mungkin orang-orang yang menyukai seni dengan lebih khusyuk kiranya memiliki realitas
lain yang mungkin lebih besar yang belum terjelajahi dibanding realitas
kehidupannya itu sendiri.
Petang, sebelum pulang aku dibawa
dulu melewati jalan Asia-Afrika, katanya banyak hantu, robot dan superhero
berkeliaran di sana. Tapi ternyata tidak ada, kami tidak bertemu mereka.
Seperti Selasar Sunaryo, kukira hari senin mereka juga libur bekerja.
Aku diantarkan pulang kembali ke
Ciumbuleuit, padahal sudah kubilang aku bisa naik transportasi lain. Kesian
kan’ dia jadi bulak-balik. Tapi aku tetap diantar, jadi merepotkan huee. Selain itu sudah
kusuruh makan dulu karena kata Oma biar dia makan malam dulu di rumah, tapi dia
malah langsung pulang.

Menabung pertemuan selama dua
tahun tidak jelek juga. Meski melelahkan, kita jadi punya banyak hal yang
dibicarakan.
Hari baik. Terimakasih Aikiiii !
وَٱلْمُؤْمِنُونَ
وَٱلْمُؤْمِنَـٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ
عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ
وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ
٧١
“The believers, both men and
women, are guardians of one another. They encourage good and forbid evil,
establish prayer and pay alms-tax, and obey Allah and His Messenger. It is they
who will be shown Allah’s mercy. Surely Allah is Almighty, All-Wise.”
-At-Tawbah : 71
"Therefore encourage one
another and build one another up, just as you are doing."
-Thessalonians 5: 11