
Diwan bilang, "Kalau menemukan kesulitan, coba lihat dari sudut pandang berbeda, dari landscape ke portrait misalnya.". Lalu kami memiringkan kepala kami masing-masing hampir bersamaan dan terbahak tertawa gara-gara penafsiran implisit kami yang komedi itu. Kebodohan memang hahaa, yah.. Kadang laki-laki punya obrolan seperti itu.
Kami mengobrol setelah makan malam, dan aku mengujarkan sudah berbulan semua rangkaian kalimatku hanya keluar sebagai ucapan saja. Menulis memang punya tantangan tersendiri, berbeda dengan obrolan langsung. Kita harus bisa menuliskan jalan pembuka, inti sampai penyelesaiannya. Karena pembaca tidak akan tiba-tiba mengerti apa yang kita maksudkan.
Apakah bisa langsung ke intinya ? atau narasinya meloncat-loncat ?, bisa saja. Tulisan pengantar Afrizal Malna dalam buku dan biografi : Oksigen Jawa karya Hanafi misalnya. Aku sampai membacanya belasan kali, dan masih belum sepenuhnya kumengerti.
Aku tidak sepenuhnya berhenti menulis sebenarnya, dalam beberapa kesempatan aku masih nulis sedikit, tapi ya jarang sekali. Sudah beberapa waktu ini memang banyak kuhadapi soal hal yang di luar kendali, dan itu mengganggu sekali. Urusannya soal keadilan sih haha. Aku banyak menggerutu, jadi terlihat tidak ikhlas mengerjakan ini-itu. Di waktu terjadi aku melewatinya sebagai ironi dan tragedi (penuh emosi, kadang mulutku bergerak sendiri, sialan), tapi lepas waktu itu lebih sering jadi berakhir komedi di ruanganku atau di beranda kosan dengan Riki atau teman-teman yang lain sambil ngopi.
Penghujung Juni sampai penghujung Juli. Macem-macem. Rekonstruksi (implisit dan eksplisit haha), pertemuan, perpisahan, pertemuan kembali, pertunjukkan, perjalanan..
Plus, aku seperti dapat kemampuan khusus. Aku bisa mendengar kebohongan seperti tukang parkir mendengar nyala starter motor dari kejauhan. Hahaha.
Catatan agak panjang..
Sabtu, 27 Juni 2026. Sepulang dari perjalananku ke Malang bukannya istirahat. Wawan memberitahuku bahwa lantai kamar kosan yang sebelumnya memang
ngarenteut kini keadaannya lebih parah. Lebih meluas dan lebih dalam. Jadi kami hendak memperbaikinya hari itu juga.
Kami memang tidak ada pengetahuan dan pengalaman sedikitpun tentang mengecor, campuran pasir dan semen. Ini benar-benar ngararaba. Untuk memperbaiki segini saja kami butuh waktu seharian. Hasilnya memang tidak terlalu bagus, tapi tidak jelek juga. Yah.. Minimal we ieu mah.
Tiba-tiba
kuriak. Setelah memperbaiki lantai, malam di hari itu kami lanjutkan mengecat kamar kosan. Warna dinding awalnya berwarna hijau, tidak jelek sebenarnya, hanya merasa
cedeum. Aku ingat punya sisa cat di tempat kerjaku, Wawan membawanya lalu mulailah kita mengecatnya dengan warna putih supaya lebih terang.
Kamar ini dulunya yang aku dan teman-teman kampung pakai untuk tidur bersama setelah kami disuruh pindah ke dalam. Sebelumnya kami tidur di saung luar yang benar-benar
outdoor yang jik hujan kita kena tempias dan bocor di beberapa sisi. Setelah pindah ke kamar, di sini kami bisa tidur bersama sampai bertujuh berjejeran,
patumpuk-tumpuk. Tapi karena itu kita punya banyak hal dan waktu bersama-sama. Sekarang aku sudah pindah ke kamar sebelahnya yang dulu dipakai kosan perempuan. Kamar ini lebih sering dipakai Wawan dan Ijal kalau menginap, atau sekedar kumpul-kumpul.

Minggu, 28 Juni 2026. Di sini dan di sana. Si Dede memang merencanakan untuk memperbaiki rumah, tapi tidak bilang kapan-kapannya. Ternyata waktunya berbarengan denganku beres-beres di kosan. Atuh kaditu-kadieu. Tapi mungkin gara-gara si Dede punya waktu liburan agak panjang, jadilah dia memutuskan untuk melakukannya sekarang.
Kami merubah ruangan yang dulunya kamar mandi untuk akses ke dapur dan kamar mandi yang baru. Ada bak mandi, kloset yang harus kami pugar, lalu menyaeurnya supaya tingginya sama. Tidak bisa langsung semua diperbaiki, karena sumber daya terbatas, segini aja kami ngos-ngosan.
Banyak sekali barang 'tidak jelas' di rumah. Kami bagi-bagi tugas, memilah dan membuang barang yang tidak kami pakai, di barat istilahnya
decluttering, supaya ruang lebih rapi
. Tahu-tahu di rumah sudah menumpuk banyak, si Ibu yang biasanya melakukannya. "
Ke mah butuh,", Ngke yang tidak tahu kapan. Si Dede
merepehkannya dengan
"Nanti ya nanti, nyari atau beli saja lagi.". Kami banyak sekali membuang barang setelah dipilah.
Senin, 29 Juni 2026. Perlu seharian untuk mertakan tinggi dasar, hari kedua barulah si Bapa mulai memasang kramik lantai.
Ieu mah gaya we, da duka bener duka salah masangna ge.
Azah
ngaduk, kadang
nyuluran masang, karena s Bapa mogok-mogokan gara-gara asma dan
moody. Banyak drama pokonya.
Lantai kramik yang sudah di pasang. Belum bisa dilewati karena adonan semen masih basah, belum stabil untuk dilewati.
Uti ngetes lantai setelah semua kramik terpasang.
Setelah tiga hari ngerjakan ini-itu dan bulak-balik ke saung karena di saung juga sedang berbenah. Gara-gara ini aku jadi
hideung. Aku dan s dede mengobrol sedikit tentang barang-barang yang kiranya dapat 'memperbaiki' rumah ini dan enak secara visual.

Selasa, 30 Juni 2026. Sebenarnya kerjaan rumah belum selesai, tapi s Dede harus kembali ke Bekasi. Aku mengantarnya ke stasiun, ternyata kereta yang dinaiki sama dengan kereta nya s Neng yang sama juga akan pergi ke Bekasi. Jadilah kami bertemu di stasiun.
Juli
Kamis, 2 Juli 2026. Aku dan si Bapa mengunjungi Zaki yang akan menikah tanggal 5 Juli. Tapi karena sedang agak repot di rumah,aku jadi tidak bisa ke sana. Kami
nyamungan saja akhirnya.
Dua generasi. Tinggal aku dan Diwan. Karena Ivan katanya sebentar lagi mau nyusul nikah juga.
Jumat, 3 Juli 2026. Last touch, at least for now. Si bapa masih punya sisa cat entah dari
iraha, lalu dipakainya untuk menutupi warna ruangan supaya lebih kelihatan bersih.
Malamnya Cep Thoriq ke saung. Aku sebenernya sudah
lelengutan saat ngobrol ini.
Sepulangnya Cep Thoriq aku malah jadi susah tidur. Akhirnya aku sedikit menyanyi. Membawakan Soldier of Fortune dari Deep Purple, salah satu lagu favorit yang sering diputar keluarga di rumah. Merasa bau-bau badai akan berdatangan, lagu ini enaaak buat sekedar 'melepas' hehe
Sabtu, 4 Juli 2026. Aku sarapan pagi ke rumah. Bocah-bocah tidur bersama di keranjang belanja.
Hari ini aku selesai mengecat dan membereskan kamar kosan yang biasanya dipakai tamu menginap. Azmi membeli sarung bantal baru, aku mencuci selimut yang sudah sepuluh tahun nga dicuci, lalu memotong kain
background untuk spreinya karena ngada biaya untuk membeli yang baru. Nah, lumayan
rada siga kamar teh kieu mah.
Perjalanan di luar rencana. Ganjar menelponku dia baru pulang dari Malang dan dijemput Yayi. Mengajakku ke Garut supaya Yayi tidak sendirian pulang saat kembali dari Garut. Yah.. Kukira aku perlu jalan ke luar sedikit untuk mengalihkan kelelahanku soal
kuriak. Jadilah kami berangkat,
Maghrib kami sampai di Garut. Th Evi sudah membuatkan kami makan malam, jadilah kami makan bersama. Kami mengobrol sedikit meski tidak lama. Lalu aku dan Yayi pulang lagi ke Tasik.
Minggu, 5 Juli 2026. The Termits Attack. Kamar kosanku memang sudah lama bermasalah dengan rayap-rayap. Tembok dan lantainya memang sudah banyak retak di sana-sini, dan itu jadi jalan rayap bersarang. Tapi kali ini agak parah karena menyerang lemari dan buku-buku. Bahkan ada satu buku besarku yang jadi korban. Aku sudah berpikir aku selesai soal beres-beres, ternyata masih tidak, hmeeeh.
Siang hari diajakin Tata ke rumahnya. Ternyata ini hari ulang tahunnya. Diwan dan beberapa tim inti Kuluwung sedang ada perjalanan ke Bogor, lalu kami tim sisa-nya yang harus merayakan ulang tahunnya Tata.
Baru-baru ini Tata menerbitkan buku puisinya yang pertama, dan ini seperti kado darinya sendiri untuk perjalanan hidupnya sampai saat ini. Okee, sama, lewat 30an Ceee ! Haha.
Tata menuliskan pesan untukku di bukunya. Sudah macam penulis pro ya ? Hahaha
Puisi di buku ini kebanyakan puisi-puisi cinta yang ditulis Tata sejak SMA. Pesannya untukku adalah menyudahi patah hati. Barangkali aku sudah tidak patah hati soal asmara, tapi masih ada jenis patah hati lain, misal, patah hati soal kerjaan haha. Sudah kubaca beberapa, ini terasa buku yang ringan tapi tetap emosional untuk dibaca.
Senin, 6 Juli 2026. Aku membereskan lagi barang-barang kamar setelah membersihkan soal rayap-rayap. Lemari ini sudah kututupi semua sisinya dengan
blacktape supaya tidak ada celah rayap-rayap masuk lagi.
Siang ke tempat kuli, dan ketemu
something not on my job desc. Di tempat ini kerjaanku nga jelas. Dari menghadapi anak-anak sampai ngurusin sampah, tentu kerjaan begini juga. Dan ini terjadi hampir setiap tahun. Bukannya aku nga mau ngerjain, yang begini bisa kukerjakan meski sambil mengeluh. Tapi ini soal integrasi dan komunikasi kerja di sini jelek banget. Orang-orang
teu sadar-sadar.
Ada Yesus di kamarku hahaa. Rizal mengerjakan lagu yang dibuat dari puisi Tata.
Rabu, 8 Juli 2026. Rapat di tempat kerja. Rapat tanpa solusi seperti biasa. Aku menggambar saja, objeknya tempat sampah, batu dan paku. Sampah yang lain, batu yang lain, dan paku yang lain.
Memelihara. Aku dapat buku-buku baru rentang bulan Juni ini. Aku memasangi plastik-plastik untuk melapisi cover-nya. Supaya tidak mudah rusak.
Jumat, 10 Juli 2026. Bi Ntut ngunjungi ke rumah setelah ada keperluan dari Ciawi.
Ketemu lagi sama s de Hil setelah pertemuan kami terakhir di Jakarta. Nga banyak yang diobrolkan, karena ngobrol kami memang mesti sembunyi-sembunyi sementara ini. Tapi dari 'kabar' yang dia bilang, dia sudah 'membuatkan jalan masuk' buat seseorang. Sejauh ini kita sama-sama dalam tahap oke lah ya De ? Haha
Si Dede mengirimkan fotonya di tempat kerjanya.
Disidik-sidik jadi siga si Iyan.
Sabtu, 11 Juli 2026. The Termits Attack part 2. Kubersihkan di sebelah sisi sebelumnya, mereka pindah ke sisi yang lain di belakang tumpukan buku-buku di pinggir kursi.
Atuh beberes dan beberesih deui wae. Akhirnya aku muak, aku tutup saja tembok-tembok retak itu dengan lem bakar supaya mereka ngada akses keluar ke permukaan kamar.
Dapat undangan untuk menonton pertunjukkan longser dari kg. Pongkir, salah satu teman di grup Tafsik - Lesbumi PWNU. Kg. Pongkir membawakan longser dengan alih bahasa naskah Revizor karya Nikolai Gogol ke Bahasa Sunda.
Pertunjukkan bertempat di halaman kantor walikota Tasik. Para personil punya nyali besar membawakan teater dalam format
outdoor begini. Karena tantangannya tentu akustika. Para pemeran mesti punya kontrol suara untuk berdialog supaya bisa sampai ke audiens. Beberapa aktor yang terlibat ada juga yang senior seperti kg. Amang S. Hidayat, Qeis Surya, Kido. Ada juga aktor-aktor muda yang lain yang tidak kukenali. Yah.. Geliat kesenian di Tasik memang ada saja. Aku yang sekarang lebih sering jadi penonton, makanya tidak tahu dinamika tentang itu beberapa tahun terakhir ini.
Seniorku di kampus. A Ervan dari jurusan karawitan dan pimpinan orkes keroncong tahun baru D'Lamp haha. Dia jadi komposer musik di pertunjukkan kali ini.
Selepas pentas. Qeis Surya & Rika Johara. Teh Qeis ini pemain lama, dia sudah berkecimpung di kesenian bahkan sejak aku baru memulainya saat usia SMA. Lalu teh Rika, kalau dia mah penulis andalan Kompas, sense jurnalis nya kuat banget. Selain itu beberapa tahun terakhi ini th Rika juga aktif berteater.
Minggu, 12 Juli 2026. Oh, memang tidak ada yang mau mengerjakannya. Sebenarnya bocah sudah mengerjakan ini, tapi aku dan yang lain kurang sreg dengan desain yang mereka buat. Akhirnya dirombak.
Kuli pabrik. Sampai urusan name tag kartu peserta, kami yang mengerjakan. Hehe, kami jadi seperti terlihat tidak ikhlas. Padahal yang kami keluhkan bukan soal kerjaanya.
Pembukaan kegiatan hari pertama. Terlihat baik-baik saja padahal huru-hara. Tema kegiatan kali ini banyak mengenai lingkungan. Tapi simbolis pembukaan pakai balon gas yang jadi polusi udara, bisa nyangkut di kabel, atau sampahnya akan sampai di tempat mana. Jadi, tema lingkungan apanya ?
Aku bisa saja ngaleos kamana untuk tindakan protes. Tapi melihat tunas-tunas dengan semangat begini mana bisa tega kan ?. Tapi mungkin sisi ini yang 'digunakan' orang-orang di sini. Karena mereka tahu aku lain jelema tega-an.
Riki kunjung ke saung setelah membereskan soal 'jadwalnya' yang berpotensi terancam. Tapi syukur sejauh ini masih aman, meski sebenarnya masih tidak sepadan. Lalu aku memintanya membantuku 'ngasuh' di hari kegiatan. Jadi kita
brief lagu-lagu sedikit.
Kamis, 16 Juli 2026. Dapat donat dari syukuran ulang tahunnya pa Rizky Mauldan.
Tidak lama dari perayaan ceria ulang tahun, telah sampai kabar 'tidak baik' buat kami dan 'baik' teh Ai Dewi. SK pindah tugas teh Ai keluar hari ini, dan sudah bisa langsung bekerja esok harinya. Di kantor, ramai keriangan itu tiba-tiba senyap.
Menimbang. Sudah hampir 6 tahun ini berat badanku masih sekitaran 52-54 kg. Tidak pernah melewati 55 kg.
Jumat, 17 Juli 2026. Merapikan kriminil-kriminil yang si Iyan bilang siga eceng. Aku memang sudah agak lama tidak ngurusi mereka. Karena waktunya memang agak sulit. Aku harus melepaskan emosi-emosi tidak baik. Berkebun seperti ini cukup mengalihkannya dengan lebih baik. Tangan dan kepala bisa mengerjakan 'hal berbeda'.
Diagehan. Masih ada orang baik. Bu Ai Yati memberiku makan siang (yang dimakan sore) saat aku ke tempat kuli lagi sore hari untuk menemui Iqbal.
Aku dan Iqbal tiba-tiba punya ide untuk membuat hadiah kecil untuk th Ai Dewi yang akan pindah tugas. Iqbal membeli frame, aku yang menggambar.
Di sini aku bekerja seperti orang gila, di sana si teteh sedang bahagia hehe. S teteh pergi ke Festival Gent bersama mamah dan bapa. Festival Gent ini festival besar tahunan yang diadakan di Belgia.
Sabtu, 18 Juli 2026. Hari tidak menyenangkan. Tempat ini harus kehilangan orang terbaiknya dan 'membuang' beberapa orang gara-gara keadaan.
Sudah lama aku tidak menangis begini.
Saat kami berderai air mata, yang punya tempat ini malah sama sekali tidak menaruh pandangannya.
"Nitip ya..". Aku nga bilang beliau seenaknya pergi. Beliau mengucapkannya padaku dengan sama-sama bermata sembab.
Ai Dewi Shanti. Beliau salah satu guruku yang terbaik. Setelah di tempat yang sama, aku lebih merasa beliau seperti kakakku. Menurutku beliau seorang yang cukup
strict tapi dinamis soal pendidikan. Beliau tidak pernah ngomel soal luaranku, tapi selalu mengingatkan apapun soal 'kewajiban di tempat ini'.
"Sekali lagi, pengen begini..", ucap teh Ai.
Di satu sisi ini jelas kabar buruk buat kami, ditinggalkan seorang seperti beliau, di tempat ini, dalam keadaan begini. Di sisi lain seorang yang progresif seperti teh Ai juga memang lebih pantas di tempat yang bisa membuatnya lebih berkembang, layak, dan saling mengapresiasi.
Harus begadang. Kembali lagi ke tempat kuli karena pasti nga bakal ada yang kenan ngurusi hal beginian. Untungnya Rijal dan Wawan banyak bantu masang ini-itu, mengamankan, membereskan.
Nah sekalian. Soal alumni-alumnian. Aku kadang muak sama orang-orang yang selalu dan terlalu membesar-besarkan alumni yang prestise soal kerjaan, jabatan (politik khususnya, tapi nga berguna), atau apapaun tapi tidak memberi kebermanfaatan. Tidak salah sih dengan itu. Itu juga kebanggan, tapi kadang gara-gara itu tempat ini kadang lupa dengan alumni-alumni yang membantu soal sustainable, apalagi buat 'keamanan' supaya tempat ini tetap terjaga, berjalan, terpercaya.
Senin, 20 Juli 2026. "Maaf ya telat banget,". langganan kado. Aku memang sudah bertahun tidak lagi merayakan ulang tahun. Tapi selalu dapat hadiah dari teh Oci, kadang aku yang minta juga sih hehe.
Rencana pertemuan ini sudah berulang kali ganti jadwal, kadang aku nga bisa, teh Oci nga bisa, atau bahkan pasalingsing. Yah.. Mungkin memang harus kali ini.. Yang penting masih bisa ketemu, melihat semua sehat, bahagia, itu saja.
Ketemuan sama s teh Oci, guru yang jadi temanku dari jaman abreg-abregan saat di aliyah. Partner maen musik, gibah dan nyeblak, oh sudah lama sekali kami tidak bertemu sejak dia tidak mengajar lagi di aliyah. Kami banyak ngobrol tentang waktu-waktu kami saat tidak bertemu, seperti aku yang sekarang punya pacar, lalu dia yang sekarang punya anak usia puber, hehe.. Banyak yang terjadi saat kami tidak ketemu ternyata..
Kali ini nga maen-maen. Th Oci memberiku
sketching set, ini peralatan sketsa lengkap, buku sketsa-nya, sampai senar gitar baru hueeeee. Ini benda-benda yang kuinginkan semuaaa. Nuhun yaak tehh..
Selasa, 21 Juli 2026. Last day-last team standing. Personil 'ngasuh' di hari terakhir. Iqbal kontroling acara keseluruhan, aku dan Riki bagean ngamen, Irma bagean pembawa acara. yah.. Tempat ini masih punya orang-orang yang bisa diajak kerja sama.
Agak kebingungan. Ternyata kami memang generasi pendengar musik dan lagu-lagu agak tua. Kami kesulitan dengan pilihan lagu yang sering didengarkan anak-anak generasi sekarang,
Briefing sebelum ngasuh. Ini pertama kali kami dibuat tim di acara yang sama. Irma juga bilang ini pertama kali jadi pembawa acara, tapi overall semua lancarr.. Terimakasih gengs !
Bocah sudah SD. Suhay memang cukup tinggi di antara teman-teman seuisanya.
Rabu, 22 Juli 2026. Berkeringat. Menyambut hari pertama 'kerja efektif'. Kutinggalkan selama libur, debu di sana-sini.
Kamis, 23 Juli 2026. Bahan makanan pokok yang paling boros buatku haha.
Living in the rural slum
Ibuku pulang membeli kebutuhan sehari-hari dari warung yang harganya melambung. Roti, telur, susu, obat nyamuk, deterjen sampai makanan kucing. Dipas-pasin saja, karena gajiku cuma 250 ribu tea.
Melewati jalan gang yang sudah mulai dihias, seringkali ngurusi hal seperti ini malah bikin tengkar sesama warga, bukannya bikin merdeka. Aku mengirimkan foto ini pada adikku, dia bilang sudah tidak mood melihat warna itu.
Dengan kabar buruk yang dikirim setiap hari, ternyata orang-orang masih kenan merayakan negara ini.
Orang NU bilang Hubbul wathon minal Iman, tapi wathonnya tidak mencintai kita.
Eh yang ngurusnya ketang, bukan negaranya.
Padahal khalifah, tapi kerjaannya khilaf terus ah.
Bocah-bocah tinggal empat.
Thursday night prayers : five people left
: "Eki tara ngaji..", ucap Maeje. Dipikir-pikir iya juga. Padahal ini cuma seminggu sekali saja. Aku sampai tidak punya waktu. Sesibuk apa sih aku ini.
Dulu pengajian malam jumat keluarga ini bisa sampai keluar teras rumah uwa-uwa. Sekarang, cuma tersisa lima orang saja.
Orang-orang berubah-berkembang. Karena keadaan dan karena kesadaran.
Setiapnya, punya masing-masing keputusan dan perjalanan.
Maeje masih sangat hafal menyebut nama-nama keluarga. Dari karuhun, anak, cucu, cicit, sampai yang sudah meninggal mendahului untuk dikirimi do'a. Ada juga doa-doa khusus untuk keluarga bahkan yang sakit, sekolah, belajar bekerja dan hajat-hajat lainnya.
Kadang ada yang menyela minta ikut mendoakan kenalannya. Sepertiku yang malam ini yang minta doa buat Pa Wal yang kena stroke dan si Teteh cinta yang sedang kurang sehat di Belgia.
Keduanya bukan muslim. Apa boleh mendoakan mereka ?
Temanku yang santri soleh bilang, boleh. Untuk segala kebaikan di dunia dan hidayah-petunjuk.
Lalu, akan dikabul atau tidak ?
Itu bukan urusan kita, itu kehendak yang Kuasa.
Jumat, 24 Juli 2026. Hari-hari biasa. Segini aja, cukup. Ngurusi imajinasi anak-anak, cape tapi menyenangkan. Ngausah ditambah masalah-masalah sistem dan administrasi.
Sabtu, 25 Juli 2026. Bandung short trip. Dua bulan setelah terakhir bepergian ke Bandung. Kali ini Aku ke sini lagi untuk menghadiri undangan pernikahan Diana. Berangkat pukul 11 malam bersama Yuda karena dia harus
make-up keluarganya Diana. Sampai di Bandung sekitar pukul 3 pagi, kami bermalam di penginapan di daerah Dipatiukur.
Asa namu. Sudah hampir 7 tahun kalau aku ke Bandung aku pasti tinggal di rumah Bu Clau atau Mah Ros. Kali ini malah aku di penginapan. Tidak bisa ke rumah Mah Ros karena Pa Wal kena stroke ringan, jadi mereka ada di rumah sakit.
Aku kulantang-kulinting nga jelas. A iki lagi ada kerjaan, Filbert juga hari sabtu ada kegiatan, aku sudah menghubungi mereka. Yah.. kenalan dekatku di Bandung juga tidak banyak, aku cuma merepotkan sih dipikir-pikir. Lalu aku berakhir di tempat ngopi tepat sebrang penginapan. Membaca bukunya Tata dan nulis sedikit.
Kota ini
Kota ini pernah terasa hangat. Saat kutinggali
Pada waktu lalu. Sepanjang tahun hanya ada musim semi
Karena keramahan selalu terbit. Di setiap sudut hari
Hingga sampai satu waktu kuputuskan untuk pergi.
Kali ini aku kembali. Tapi kebingungan
Harus ke mana. Melangkahkan kaki
Perlahan. Deru jalanan menyadarkan
Pandangan. Di kedalaman diri
Bahwa kita tak bisa menuntut. Apapun
Termasuk hal kecil. Seperti perhatian
Dari siapapun. Pada setiap kerumun
Temanmu. Seringkali hanya kekosongan
Karena keputusan dan keputusasaan
Pada akhirnya mesti dipilihkan. Setiap orang
Karena keinginan. Maupun kedinginan
Hanya menawarkan jawaban. Yakin atau bimbang
Barangkali benar yang dikatakan Imana
Tentang waktu. Yang diberi jeda
Hingga ruang menjadi asing
Seperti bangunan. Menyisakan puing
Kata. Akrab jadi sangat sulit ditemui
Di waktu ini. Semua tampak terlihat dekat
Tapi begitu samar. Jika kita benar-benar jeli
Semua kilau itu hanyalah warna pudar karat
Bandung, 25 Juli 2026
Kembali ke penginapan. Yuda sedang main
Billiard. Aku ikut main, dan
memang teu bisa ulin kikieuan.Nyoba sekali saja, lalu naik ke kamar.
Malam-malam di Dipatiukur,
beteung ngagerencem. Aku sebenernya nyari baso, tapi ngada, jadilah jajan baso ikan. Aku yang keluyuran pakai sarung disapa s mamang-mamangnya,
"Santri di sini ya, A ?". Aku menjawab bukan dan dengan bahasa sunda, dan aku tidak tahu kalau ada pesantren di sekitaran jalan Dipatiukur ini. Ternyata yang jualnya orang garut, keluarlah obrolan ringan khas orang sunda yang ketemu di rantau,
tos lami di dieu, nanaonan di dieu, sareng saha, dan lain sebagainya.
Esok harinya (
sigana) si Aiki
maksakeun manggihan. Kami bertemu di tempat ngopi yang kemarin aku datangi. Dia memberiku hadiah salah satu koleksi topi nya. A iki sekarang sudah ngajar lagi di sekolah, banyak ngomongin kerjaan dan jelimetnya dunia pendidikan. Lalu nyeling di mau bikin lagi kreasi musik instrumental gitar nya lagi !
Setelah ketemu a Iki, lepas dzuhur aku ketemu Filbert. Dari sekitar 20 an teman di EV, aku lebih sering komunikasi dengannya. Sudah tiga tahun juga kami selalu ketemu di hari natal. Tapi kupikir parah juga karena kita seperti cuma ketemu setaun sekali saja. Jadilah hari ini aku ketemu.
"Aku sekarang sedikit tahu soal Katolik, mau tanya apa ayo !", dia bilang padaku sambil jempol dan telunjuk ada di senyum wajahnya seperti biasa, haha. Ah dasar dia ini.
Yah akhirnya aku tanya beberapa hal seputar per-katolikan. Mulai dari Liturgi, perbedaannya dengan protestan, perjanjian lama-perjanjian baru, pengakuan dosa, rosario, simbol-simbol gereja, trinitas, dan banyak lainnya. Tidak kuhabiskan semua, supaya bisa jadi bahan untuk pertemuan selanjutnya..
"Di Katolik ada juga dosa besar dan dosa kecil.. Aku tidak tahu bagaimana di Islam. Tapi di Katolik itu berhubungan dengan kesadaran.."
-aku melihatnya mengucapkannya sambil tersenyum. Semakin waktu, dia semakin banyak tahu. Aku senaaang
Filbert mengajakku ke Katedral Bandung karena dia selesai misa mingguan.
Aku jadi mengingat awal-awal waktu pertemuan dengan cici ku. Saat itu Aku punya banyak kesulitan dan waktu-waktu tak baik saat masih kuliah dan tidak banyak juga yang kenan membantuku. Jadi aku banyak menghabiskan waktu sendirian, jadi pemikir dan perasa yang lebih 'keras'.
Tempat ini salah satu yang aku dan s teh Cici kunjungi (karena aku nganteri dia beribadah). Hmm.. Sebelas tahun sudah sejak pertemuan pertamaku dengannya. Tempat ini tidak banyak berubah.
Aku, ah kami sudah melewati banyak hal ternyata..
Berpisah lagiii. Aku harus ngejar ke acara nikahannya Diana.
Who said a catholic and moslem can't be friends ? We re getting along so long ! Thankyou Fillieee
Pukul 4 sore aku sudah di venue acara nikahan Diana di Bumi Samami, di daerah Coblong, dekat ke Tubagus Ismail-Dago. Aku pernah ke sini saat film batik Sukapura diputar di sini. Resepsi pernikahan Diana diadakan sore hari dan outdoor,
rada teu galib mun di lembur mah.
Baturan si Bapa.
: "Kamu mau ikut rewel jugak apa mau dateng dan seneng buatku ?"
*pesan terakhirnya padaku di hari-hari sebelum pernikahannya
Lha apa pulak yang mau aku rewelin. Kamu sampe 'pada waktunya' ya tentu aku udah ikut seneng buatmu !,
Selamat buat kaliaaaaan Ce Di & MasFeb ! Bahagia sehat selalu !
Kenapa sih dia selalu ada ada di mana-mana 😑😂
Musisi-aktor oh tentu santri dia mah. Cé-És ku yang rada-rada di Tafsik-Lesbumi PW.
Jadi ternyata istrinya mas Amen ini tetangganya pengantin lakik nya yang sama-sama orang Riau. Makin ke sini, orang-orang sekitaran kita kok makin sempit, ini lagi-itu lagi 😂
"Ekii, masih ingat nga ?", Tiba-tiba perempuan bercadar ngampiri aku saat ngobrol sama s a Amen. Kutilik-tilik lagi, aku ingat matanya, Dian Perwada ! Temanku waktu SMP ! Hueee dua puluh tahunan kami nga ketemuuu, ternyata dia di Indramayu sekarang, suaminya orang Sumatera, anaknya dah duaaa, lucu-lucuu..
Sehat-sehat Dian sekeluarga yaaak, sampai ketemu lagiii.
Ketemu Abah Ubed, duduk di sampingku jelang beliau nunggu kendaraan untuk pulang. Sebelumnya, aku ketemu putrinya yang pulang liburan studi di Turki.
Yahh.. Aku memang nga bisa sebebas seperti ke Bapa kalau sama beliau (akunya yang nha berani sih haha), tapi selalu senang kalau ketemu pa Kyai.
Dan ketemu s Bi Alice, kukira ini satu-satunya saudara yang kutemui di acara ini haha.
Acara resepsi pernikahan Diana selesai sekitar pukul 9 malam. Aku dan Yuda beres-beres, rencananya kami akan pulang dengan kereta, tapi jadi berubah rencana karena ada teman Yuda yang pulang ke Tasik dengan mobil kosong. Yahh lumayan menghemat hehe.
Senin, 27 Juli 2026. Masuk kuli setelah begadang sepanjang perjalanan pulang Bandung-Tasik. Mataku sudah bisa mengatakannya bahwa aku masih perlu istirahat tidur. Bisa aja bolos sih, tapi aku merasa ngaenak bolos di awal-awal, dan juga bocah-bocah lagi semangat-semangatnya.
Pulang, jalan gang menuju rumah sudah
dirarangkenan. Nga tau s Ibu, Bapa dan Ajah masih mau begini-beginian, padahal kebijakan negara kurang jahat gimana sama kita. "
Ah, raramean we,", ucap s Ibu padaku.
Selasa, 28 Juli 2026. Menutupi sablonan judul acara di tas. Menemukan tas ini di kantor dengan judul bimbingan teknis bantuan pemerintah apa gitu, yang nga jelas teknisnya seperti apa hmmeh. Yah.. Supaya tasnya bisa kupakai, tanpa atribut apapun.
Rabu, 29 Juli 2026. Wa Ica meninggal dunia. Pantesan beberapa hari ke belakang tidak ketemu, biasanya Wa Ica suka
moyan kalau pagi-pagi, ternyata Wa Ica sempat dirawat dulu. Aku dan teman-teman kampung ikut mengantarkannya sampai ke makam.
Kamis, 30 Juli 2026. I can't afford for the new one. Memperbaiki sepatu boots yang kupakai sejak tahun 2019, sepatu ini kubeli dari uang gaji dari video promosi destinasi kabupaten Tasik. Saat itu aku diajakin A Edi dan teh Er. Selain cuma beli sepatu, sisa gajinya uangnya aku pakai ngongkosin si Bapa ngalongok s Suhay ke Batam.
Jumat, 31 Juli 2026. Sebenernya, kampungku ini cukup kreatif soal kerjaan begini. Hanya saja tema dan pesan dari kreasi mereka itu sok kadang duka haha. Kali ini mereka membuat Komodo.
-
Hehe.. Beberapa waktu ke belakang ini rasanya memang agak seperti dalam ‘pembangunan’. Ada beberapa hal yang harus dibongkar, ditata ulang, lalu dibangun kembali dengan cara yang mungkin berbeda dari sebelumnya. tidak selalu dengan menambahkan sesuatu yang baru, tetapi kadang dengan memperbaiki kembali apa yang kita punya..
Lalu.. Ada juga pertanyaan, “Sampai kapan begini ya..?”, kupikir tidak semua hal harus segera mendapat jawaban. Menerka-nerka jawaban cukup mendebarkan juga, hasilnya bisa oke dan bisa juga mengecewakan haha. Tapi minimal ada hal-proses yang kulakukan, tidak hanya berdiam diri. Hari-hari tidak selalu menyenangkan, tapi sayang juga kalau cuma dilewatkan uwoooo
Jangan lupa menggerutu, sadar, lalu sukuran lagii, hehe
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
-Dari Ar-Ra'd
“I can do all things through Him who strengthens me.”
-Philippians 4:13
0 comments:
Posting Komentar