Selasa, 06 Januari 2026

Consideration

Engkau tahu ?

Setiap bagian hari memiliki catatan. Jejak langkah kaki
Yang seringkali dilewatkan para pembaca. Adalah waktu
Pada sudut-sudut bumi yang kerap jauh berbeda. Arti
Terkadang dapat ku temukan. Dalam kesabaran kalbu

2022


Dua minggu bulan Desember yang terasa terburu-buru. Aku disuguhi banyak hal, tapi diantara yang tidak biasa adalah pengambilan keputusan. Aku tipe yang jarang dihadapkan dengan kondisi ini. Bukannya cari aman, tapi lebih kepada banyak hal yang jadi pertimbangan (yang kadang kala malah menghambat langkah ke depan).

Waktu ini juga aku mendapat banyak pertolongan dari yang dekat sampai berjauhan. Mengetahui aku masih punya tempat di hati mereka ternyata menyenangkan. Makanya aku selalu mencoba untuk berbuat baik pada siapapun (kecuali pada orang yang kesalahannya sudah tak bisa kutoleransi, biasanya aku lebih pada tidak peduli). Perasaan bahagia saat ditolong saat membutuhkan, itu benar-benar melegakan. Syairatnya bisa dari apapun, tapi hakikatnya tetap dari Tuhan yang maha pengampun.

Tulisan ini rancangannya sudah kubuat sejak aku melalui hari-hari lalu. Tapi baru sempat kuselesaikan pada hampir seminggu pertama di tahun baru.

Tapi yang jelas, aku selamat, dan bisa melaluinya, meski banyak hambatan di sepanjang jalannya.


-


PPG : The Rush Weeks of Terror.

Menyoal ini. aku harus cerita sedikit tentang programnya sebenarnya bagus ini. Program pendidikan lanjutan setelah sarjana (S1/D4) bagi lulusan kependidikan maupun non-kependidikan untuk menjadi pengajar profesional bersertifikat, dengan tujuan meningkatkan kompetensi pedagogik (ilmu keguruan), profesional, sosial, dan kepribadian sebagai pendidik yang baik. Benefit dari mengikuti program ini adalah sertifikasi pendidik (kalau buat pegawai negeri katanya ini bisa menambah nilai apa gitu, atau jadi 'kemudahan' kenaikan, katanya). Disamping itu, ada tunjangan, tapi tentu saja yang itu ketika kita memenuhi syarat-syarat tertentu (yang merepotkan), oh dan tentu juga dengan biaya 'sogokan' kepada berbagai pihak supaya kita mendapatkan itu. Mengerikannya itu sudah dianggap normal. 

Banyak sekali pendidik-pendidik mengejar titik ini. Tapi buatku ini cuma terasa sedikit tergesa-gesa, aku tidak punya cukup waktu dan sumber daya untuk mengikutinya, karenanya aku memutuskan untuk tidak ikut.

Aku meminta saran ke si Ibu dan si Bapa. Mereka sih senang-senang saja aku dapat kesempatan ini. Tapi "Sok we kumaha Eki. Mun kirana kaudag, ya paju. Mun henteu oge teu nanaon, ke mereun aya deui. Da ti babaheula ge hirup teu make nu kitu oge lin ?". Oke, aku sudah bulat untuk tidak ikut.

Senin, 1 Desember 2025. Teror support dari teman kerja. Bu Dety ini guru yang baik. Dia maksa-maksa aku untuk ikut (dia juga termasuk yang masuk PPG bersama denganku). Aku sudah jelaskan alasannya ada banyak hal. Tapi dia terus 'menginsist' supaya aku mengurus-ngurus ini. Akhirnya, baiklah aku coba saja. Dengan catatan, kalau aku dihadapkan keadaan-dipersulit ngurusi persyaratan-persyaratan tentang ini, aku tidak akan ikut.


Dengan sumber daya yang kumiliki-yang tersisa, aku pergi ke Kantor Polisi mengurus berkas-berkas administrasi. Mula-mula, aku cek kesehatan. Butuh surat keterangan sehat dan NAPZA dari kantor polisi. Aku menghabiskan waktu sekitar satu jam dan dikenakan biaya Rp. 195.000,- untuk mendapatkan suratnya. Lalu mereka bilang bahwa aku sehat, hah ? kalian tau dari manaaaa aku sehat. Nga tau isi kepalaku kecamuk begini, hmmm. Tidak jelas.


Lalu membuat SKCK, surat resmi yang diterbitkan oleh Polri yang menerangkan ada atau tidaknya catatan riwayat kejahatan atau kriminalitas seseorang berdasarkan data kepolisian. Agak aneh. Ini juga indikatornya tidak jelas. Aku melihat semua orang sangat bisa membuatnya, menerangkan bahwa seorang itu tidak pernah terlibat kriminalitas. Tidak ada kuesioner, wawancara, atau catatan riwayat diri yang disuguhkan. Kukira, meski seorang jahatpun masih bisa dengan mudah mendapatkan surat ini. 


Untuk biaya sebagai surat 'pembuktian' ini juga relatif murah, mengingat kejahatan adalah hal yang krusial, Aku hanya menghabiskan Rp. 35.000,- untuk ini. Tapi dengan waktu menunggu yang hampir tiga jam.

Lalu surat ini selesai.

Sebentar, aku baru sadar, ngurusi surat-surat ini rasanya lancar. Sebelum dzuhur semua persyaratan surat-surat administrasi sudah ditanganku. Aku kembali ke tempat kerja dan memberikannya pada temanku Iqbal, lalu ia membantuku mengupload semua berkas persyaratan ini. "Apalagi setelah ini, Bal ?", tanyaku. "Sudah, sekarang tinggal ikut proses kegiatannya,", Iqbal menjawabnya. 

: Ehh.. Aku benar-benar ikut ?

Ya !


Hari itu pula, pukul 13.00, aku sudah ikut orientasi program PPG ini. Kuota pertemuan online lewat kanal Zoom sudah penuh, kami yang tidak kebagian ikut Live Streaming lewat kanal Youtube. Gila, ternyata ada beribu orang yang ikut di periode ini bersama-sama denganku.



Selasa, 2 Desember 2025. Hari pertama setelah orientasi. Jadi, aku salah seorang mahasiswa PPG-Pascasarjana UPI per-hari ini.


Kerujitan dimulai. Di awal-awal, dosen pembimbing kami memberi tahu kami bahwa batch atau periode PPG tahap kami ini terbilang beruntung karena hanya berlangsung dua minggu saja, normalnya dulu setahun, paling singkat 48 hari.



Tapi itu berarti ada yang harus 'ditukarkan'. Kami harus mengejar mempelajari modul belajar utama yang banyak itu, menyelesaikan latihan-latihan soal dan mengerjakan jurnal-jurnalnya hanya dalam waktu seminggu saja. Itupun selalu terpotong setengah hari karena kami mesti ikut kuliah bimbingan secara online di setiap harinya.


Perbegadangan. Aku benar-benar menunda semua agenda dan izin dari pekerjaan untuk mengurusi ini. Karena memang tidak ada waktu. Kami harus menyelesaikan semua tuntutan tugas-tugas ini secepatnya.
-

Rabu, 3 Desember 2025. Kuliah bimbingan hari ketiga. Setiap hari kami harus menyelesaikan satu modul ajar (yang di dalamnya ada banyak sekali yang harus dibaca-dipelajari, dan dikerjakan soal latihannya), lalu mengerjakan jurnal pembelajarannya.


Dalam penyusunan jurnal pembelajaran harus ada umpan balik dari rekan sejawat. Tiada waktu untuk mencari orang sesama tenaga pendidik, de Hasbi jadi korban untuk diminta sebagai narasumber responsi refleksi dari jurnal yang ku buat.


Hari ini pertemuan online jadi dua kali. Yang kali kedua hari ini menerangkan tentang teknis Uji Kinerja PPG (outputnya nanti adalah video simulasi saat mengajar). Gelangnya banyak, bertato pula, Dosennya kelihatan nyentrik meski jokes-nya tetep Bapa-bapa. Jadi, dari hasil zoom ini  kami harus bisa mengerjakan video UKIN hanya dalan tiga hari saja sebelum masuk tahap periode uploadnya. Belum selesai ini, sudah datang hal yang lain lagi. Hmmeh


Disela-sela hari ini ditelpon sahabat-sahabatku saat SMA, Ganjar dan Randi. Mereka mengajak bertemu di Garut , tapi aku tidak bisa memenuhi permintaan mereka karena agak repot ngurusi ini.


Sebelum melakukan UKIN (Uji Kinerja), persiapannya tentu kita harus buat modul ajarnya dulu (RPP namanya kalau kurikulum sebelumnya), urusan begini yang paling aku tidak mengerti karena aku tidak punya latar belakang pendidikan. Jadilah Adam korban patanyaan tentang ini. Dia menghabiskan waktu sejak sore sampai lewat jam 8 malam di kosanku menerangkan tentang modul ajar.

-
Tetap aja nga ngerti. Lalu korban selanjutnya, Iqbal. Aku sampai hujan-hujanan untuk ke rumahnya minta diterangkan kembali lebih lanjut soal modul ajar setelah sebelumya Adam yang menjelaskan. Hal begini memang aku susah ngerti. Maklum ya..


Kamis, 4 Desember 2025. Seperti biasanya, aku menghabiskan minggu terakhir desember di rumah Mah Ros, mereka sedang proses pindahan rumah, aku malah tidak bisa bantu-bantu karena aku sekarang sedang dalam tahapan ujian. Mah Ros bilang tidak apa-apa, selesaikan saja urusanku di sana lebih dulu. Lalu dia mendoakan kelancaranku menghadapi keadaan ini.


Dua hari sebelum take video UKIN. Modul ajarku belum juga selesai. Adam jadi korban kembali untuk membantuku mengerjakan itu. Akhirya garis besarnya selesai, katanya sisanya improve nanti kalau-kalau ada yang tidak terlaksana, atau mungkin yang dilakukan diluar rencana.


Jumat, 5 Desember 2025. Beres-beres ruangan untuk ujian video. Rizal dan Wawan sibuk mengurusi pertunjukkan yang digarap mereka bersama Diwan. Akhirnya kali ini Azmi yang jadi korban membantuku beres-beres.


Simulasi. Aku sudah seperti orang gila ngomong sendiri. Video ukin yang dibuat mesti sampai 90 menit tidak kurang tidak lebih. Dan saat simulasi, dalam 40 menit saja aku sudah selesai. Apa yang harus kulakukan dengan sisa 50 menitnya lagi !? tanyakan pada rumput yang bergoyaaang hueeeee. Esok bagaimana esokla.


Sepulang beres-beres untuk besok. Aku menemui a Irwan yang baru pulang studi doktoralnya dari Jerman. Obrolan kami lebih banyak tentang pengalamannya selama belajar di sana. 


Sabtu, 6 Desember 2025. Membuat bahan-bahan media ajar dan bahan-bahan untuk besok take video. Kalau sedang terfokus begini, aku suka lupa diri. Baru sadar sudah hampir belakangan ini aku cuma makan sekali sehari.


Ririwa. Aku banyak dibantu orang, termasuk gerombolan ini, Tita, Pipit dan Irma. Mereka membantuku saat penyususnan modul ajar dan  pengambilan video ujianku.

Pengambilan video kukira lumayan relatif lancar meski ada beberapa gangguan teknis, tapi masih bisa diatasi. Aku boro-boro kepikiran dokumentasi, pokoknya mesti selamat saja hari ini haha.


Setelah aku selesai take video, Riki ngalongok. Tidak lama dari itu Wawan juga datang. Riki membawakanku kopi seliter dan roti. Dia punya pengalaman lebih dulu menyoal PPG ini, dan dia tahu, yang kubutuhkan setelah kelelahan ujian video ini adalah kopi !


Teman yang baik adalah rizki dengan tingkat berbeda. Suwun ooy !


Selesai ujian, aku ngejar panggung Festival Sapa Warga berbasis Kebudayaan bersama teman-teman Kuluwung. Sebenarnya aku sudah keleyengan di sini, sadar nga sadar bermain di atas panggung.


Ini KDM-ku, mana KDM- mu ?


Kami selesai perform. Kalau lihat responnya masyarakat suka, hanya saja kupikir bahasa penyampaian konten performnya perlu 'diturunkan' sedikit supaya masyarakat lebih dapat memahami apa yang kami bawakan dengan bahasa yang lebih sederhana-memasyarakat.


Sedikit cuplikan penampilan kami. 


Minggu, 7 Desember 2025. Aku sebenernya masih ada yang mesti diselesaikan, tapi seharian bekerja di depan laptop membuatku pusing. Lalu kebetulan ada Ayung yang pulang kampung, dia baru pulang dari Inggris, dia memang bekerja dengan Iko Uwais di Jakarta. Jadi sambil makan kami dapat oleh-oleh obrolan dari sana.


Eki menelponku petang. Tapi tidak lama karena data internetku habis. Eki memang Eki, dia seenaknya saja ngisi pulsa internetku.. Hueee. Sisa malam, aku mengerjakan kembali hal-hal soal PPG.



Selasa, 9 Desember 2025. Pagi yang agak ringan jika dibanding hari-hari sebelum ujian video. Aku punya pagi yang lebih lambat, biasanya gesat-gesut. S uti keur memejeuhna minah-minah anakna, sekarang k kamar s iyan.


Bocah-bocah.


Hari ini bantu-bantu Bu Dety yang kebagian ujian video. Pakai ruanganku lagi, dan layout posisinya dirubah. Yah.. kita sama-sama saling bantu.


Iqbal memberi instruksi contoh-contoh seperti yang dia lakukan juga pada saat aku hendak menghadapi ujian ini.


Ujian video dimulai. Beginilah riweuhnya tim pendukung. Mereka berfungsi sebagai time keeper untuk memastikan durasi video pas dan juga pemberi tanda peralihan aktivitas kegiatan sesuai modul ajar yang dirancang.


Iqbal dan aku kontroling kamera dari luar ruangan.


Disela-sela ngerjakan PPG, aku juga harus bergelut dengan tugas-tugas dan ujian kuliah di tanggal 12 desember ini. Malam ini sebenarnya ada pelantikan anggota ekskul sanggar, aku sampai nga bisa datang karena ngurusi banyak hal.


Kamis, 11 Desember 2025. Untuk urusan ini, Ijal dan Wawan yang jadi korban mengcover 'kehadiranku' dan 'fungsi- ku' di acara sanggar.


Aku paya ngelol wungkul. Memastikan semua aman, tidak membantu mereka sama sekali. Dan ya.. Mereka undercontrol, Wawan dan Ijal sangat bisa menghandel keadaan. Ah.. Terbantu sekali


Jumat, 12 Desember 2025. Ujian kuliah hari pertama pagi-pagi jam 8. Ujian mata kuliah perencanaan pembelajaran, kebetulan bentuk ujiannya peer-teaching, jadi aku tinggal mengulangi ujian video ku yang kemarin, sama persis, pedah pelajarana ganti ku bahasa inggris. Jeda duhur, aku bingung jumatan dimana, akhirnya ke mesjid agung kompleks bupati. Ujian selanjutnya mata kuliah english syntax, relatif aman.


Malamnya aku ke rumah Yuda. Aku harus meminjam laptop yang proper untuk ujian tulis PPG di hari minggu. Awalnya aku mau pinjam pada Pa Andri, tapi keadaan tidak memungkinkan, akhirnya Yuda yang jadi sasaran.


Di rumah yuda aku juga ketemu A Dendi. Jadilah aku dengar-dengar cerita dulu.


Sabtu, 13 Desember 2025. Simulasi ujian. Aku harus mencari tempat yang kondusif dengan minim noise suara dan sinyal internet yang bagus. Dari itu aku meminjam perpusnya Cep Thoriq untuk ujian esok hari.


Sehari sebelum ujian tulis. Malamnya S dede mengirimiku Kopi.


Cctv ojol yang mengantarkanku kopi. Katanya aku keliatan begung.


Minggu, 14 Desember 2025. Hari ujian tulis PPG. Kebagian sesi 2, jam setengah dua siang. Tapi kami sudah harus bersiap jam 12 siang, sudah mulai absen dan lain sebagainya. Ujiannya dua jenis, soal pilihan ganda dan soal esai studi kasus dengan durasi 150 menit, 120 menit untuk pilihan ganda, 30 menit untuk esai. Terlalu lama sebenarnya untuk yang pilihan ganda, lalu soalnya tipe soal yang jawabannya semua benar tapi dipilih yang paling tepat, membuat konsentrasi kabur. Aku menyelesaikan yang pilihan ganda dengan 70 menit saja, jadi mesti nunggu 50 menit untuk masuk ke ujian esai. Dan durasi 30 menit untuk ujian sesai terlalu cepat buatku yang tidak biasa menulis tipe 'akademik'. Kukira aku melewati 350 kata minimal (ketentuannya begitu, tapi kurasa Esai yang kubuat terkesan rancu, kumpulan fakta yang kutuliskan tidak 'tersambung' dengan mengalir. Aku agak tidak percaya diri dengan itu.


Setelah 3 jam, ujian selesai. Menguras tenaga dan kepala. Hasilnya, entahlah.


Wajah-wajah lelah. Aku yang awalnya tidak akan ikut dan tidak begitu tertarik soal ini, dua minggu penuh tekanan, akhirnya menyelesaikan semua tahapan segala tentang per-ppg-an ini.

Kelegaanku hanya cuma mengingat banyak sekali yang membantuku dan kurepotkan buat sampai sini. Tenaga, ruang, waktu bahkan uang. Makanya Aku sangat berterimakasih pada semua mereka itu, tanpa bantuan mereka, kiranya aku tidak semata-mata aku akan selesai melewati ini.


Foto terakhir sebelum kami menutup sesi ujian tulis online. Tidak satupun dari mereka yang kukenal. Kebanyakan mereka dari daerah Indonesia bagian timur.


Setelah ujian selesai Neng Nadia dan santri-santri asramanya berkunjung ke perpusnya Cep Thoriq. Aku jadi minggir sedikit karena aku merokok, ada Jazel juga putri nya Furqon, aku kirimkan foto ini padanya.


Tidak lama dari itu Furqon akhirnya nyusul. Dia memang beberapa kali mengirimku pesan untuk bertemu, tapi memang belum ada waktu pas buat ketemu. Nah kali ini aku ada di sekitaran rumahnya, jadilah kami ketemu di perpusnya Cep Thoriq.


Pulang, laporan. Segala keluhan, bantuan, dan lika-liku ujian.


Senin, 15 Desember 2025. Kembali ke hari biasa, indahnya. Pertama yang kuurus adalah tanaman-tanamanku. Mereka sudah gondrong tidak jelas dan sudah ditumbuhi rumput liar dimana-mana.


Selesai mengurus taman yang sepetak ini, menghabiskan setengah hari. Tapi selalu enak setiap kali aku selesai kegiatan begini. Aku bisa duduk di pinggirnya berlama-lama.


Lepas maghrib, Yusman Arie berkunjung. Arie ini adalah musisi Tarawangsa yang berasal dan berdomisili di Bandung. Kami saling kenal saat sama-sama sebagai performer di acara Napak Jagat Pasundan di Pangandaran 2-3 bulan lalu. Hari ini dia mampir setelah punya panggung di Bantarkalong-Tasik Selatan.


Tiba-tiba Pentas.

Memang sudah saling tukar pesan, tapi kami kami pikir memang kami akan bertemu hanya untuk berbincang ringan saja. Rencana berubah saat celotehan si Cece Cahyana menginsist Arie untuk memainkan salah satu lagu dengan Ék-Ék -nya (begitulah instrumen yang ia bawa disebut-di kampung halamannya).

Seketika aku membereskan panggung kecil di sebelah kanan saung untuk dipakai pertunjukkan eksklusif ini. Malam menuju tepat ditengahnya, lampu dan dupa dinyalakan, jangkrik, katak dan air mengiring sayup. Rizal Dzikri tiba-tiba didapuk menemani pada kecapi, maka terdengarlah Yusman Arie Narawangsa di Suryashvara.


Venue eksklusif. Tidak ada flyer publikasi, penonton terbatas, menuju tengah malam pertunjukkan lebih terasa khidmat.


Tarawangsa Arjasarian.

Rizal Dzikri kena 'tembak' jadi pengiring, karena tidak satupun dari kami ada yang piawai memainkan kecapi. Rizal juga berfungsi sebagai MC, sebagaimana sekarang dia adalah mahasiswa jurusan komunikasi, jadi ini juga sesi latihan buatnya dalam hal public speaking.


Teman-teman yang hadir. Kebetulan di Saung akhir-akhir ini sedang sering dikunjungi oleh beberapa orang. Malam itu ada Ovike Ismael, Rizky Polem Poetra, Cece Cahyana, Zoel Fahmi, Diwan dan satu santrinya. Jangan tanya Azmi dan Wawan, mereka memang 'penduduk' tetap di sini.


Sedikit tentang Tarawangsa. Meski ada kesamaan secara fungsi, Arie menjuturkan adanya perbedaan antara pertunjukkan Tarawangsa di Jawa Barat (misal dengan Sumedang & Tasik) dengan pertunjukkan Tarawangsa di tempat tinggalnya. Seperti kata Tarawangsa-nya sendiri, di Arjasari-Banjaran bukan merujuk sebagai alat musiknya. Tarawangsa-Narawangsa lebih merujuk pada kata kerja pertunjukkannya secara keseluruhan. Dan instrumennya, di Arjasari-tempat Arie tinggal disebut Ek-ek atau Rengek.


Cuplikan performance.

Dengan grup duo nya Astungkara, Arie sudah merilis single lagu Tarawangsa yang berjudul "Gading" yang bisa kita dengarkan di Spotify, bisa cek di link di bawah ini ya :




Dipikir-pikir, saung memang dibuat untuk hal seperti ini.

Pentas seperti kecil di sini-seperti ini, kami lakukan terakhir di tahun 2023 dalam rangka munggah Wesaka. Saat Pa Rais Krishna, Pa Asep Muharam, Surimong, Rizal Dzikri, Yudi Guntara dan Mela Putri membawakan tembang-tembang Sunda.

Kami berharap sih bisa meakukan pentas-pentas kecil seperti ini secara lebih terjadwal kedepannya.


Selasa, 16 Desember 2025. Berniat pulang shubuh, Arie malah pulang menjelang dzuhur karena semuanya jadi begadang. Kami berfoto dulu sebelum dia pulang. Kendati kami sama-sama membawa alat musik gesek, kedua instrumen ini sangat punya rasa yang berbeda.


Aku melihat Arie ini juga cenderung sebagai orang tradisional-spiritual. Dia memberikanku oleh-oleh benih padi. Orang zaman dulu mungkin biasa memberikan oleh-oleh semacam ini saat berkunjung atau bertamu di suatu tempat, tapi zaman sekarang, siapa yang berkunjung ke saung dan masih melakukannya kebiasaan ini ?, kukira Arie adalah orang yang pertama yang melakukannya.


Padi Hawara Sala

Arie bilang ini adalah bibit padi terakhir khas Arjasari-Banjaran. Dan sesuai 'titah' guru sepuhnya, Arie diminta untuk 'menitipkannya' pada orang yang 'tepat'. Sebagai sampereun, kalau-kalau suatu saat padi Hawara Sala ini sudah tidak ada di tempat tinggalnya. Jadi, Arie menyebarkan benih-benih ini di banyak tempat yang ia 'percayai'. 

Terimakasih Arie, sampai ketemu lagi !



Petang, mencari makan malam. Malah melihat fahrezi yang lagi jajan. Dia memang tidak merokok dan tidak begitu ngopi, dia lebih senang dengan jajanan model begini.

--


Rabu, 17 Desember 2025. Membereskan kelas sebelum ditinggal liburan. Agak berantakan sekali, karena di akhir-akhir sebelum libur banyak sekali yang menggunakan tempat ini.


Aku tidur siang sampai sekitar pukul 2. Lalu aku diboyong Diwan dan lainnya ke kota, ternyata Kindi pulang dari Yogya. Kami merayakan kedatangannya,


Aku juga dapat sedikit waktu untuk menggambar.


Kamis, 18 Desember 2025. Tiba-tiba jadi ikut ke Pangandaran. Awalnya aku memang tidak akan ikut, pertama aku memang kurang suka dengan pantai, kedua tidak ada alokasi dana untuk ini. PPG menguras semuanya, aku sebenarnya masih ada sedikit uang, tapi itupun ku mpet-mpet untuk ongkos pulang ke Bandung. Aku jadi ikut karena Pa Andri tidak jadi ikut, pa Andri sudah membayar untuk ini, tapi putrinya tiba-tiba sakit, jadilah aku yang 'mewakilinya' pergi.


Menemani temannya si Bapa. Kurasa, di tempat biasa aku berkegiatan sekarang, Om Dedi ini lah salah satu dari sedikit yang masih mencintai tempat ini dengan tidak berubah. (Meski sudah berkali berganti rezim, Om ini tetap setia).


Kami tiba di pantai saat pagi hari. Tidak ada sunrise, hari mendung sejak awalnya. Orang-orang yang ikut di perjalanan ini juga hujan-hujanan saat bermain di pantai.

Aku tidak ikut berkegiatan, jalan-jalan sendiri, baca buku di pinggiran. Rasanya baru sebulan lalu aku kesini untuk panggung NJP.


Menuju sore, kami bergeser ke Batu karas. Aku duduk-duduk sendiri melihat orang-orang di kejauhan. Lalu tiba-tiba Pa Asep Kurniawan ikut duduk juga. Pa Asep ini dikenal sebagai guru yang 'bersih', tidak banyak bicara sepertiku, kalem, figur yang cocok memang untuk guru agama. 


Akhirnya ada sesi waktu bebas. Aku kabur nyari kopi. Sekali lagi, di daerah pantai lebih mudah menemukan bar dari pada kedai kopi, ini satu-satunya yang kutemukan dengan berjalan hampir 3 Km, yah lumayanlah.


Aku ke sini bersama pa Rizky guru Ekonomi (tengah) dan Pa Ilham guru Bahasa Inggris (kanan).


Kami sempat ngobrol dengan orang Belanda di kafe ini. Ternyata dia pernah bekerja sebagai pengajar untuk studi sejarah. Kami jadi punya 'kuliah singkat' tentang kerajaan Belanda di sini.


Setelah agak lama nongkrong bertiga, Pa Rizky dan Pa Ilham ditelpon panitia untuk acara tukar kado. Aku tidak ikut karena tidak tahu ada hal seperti ini, dan aku tidak menyiapkan kado. Tapi akhirnya aku punya waktu sendiri buat melukis.


Sedikit catatan yang kudapat di perjalanan kali ini.


Lalu bocah ini datang, bersama keluarganya. Dan dia juga ternyata menggambar, haha pertemuan yang baik !


Sebelum pulang. Foto hasil AI. Tidak ada sunrise tidak ada sunset. Cuaca pantai sedang abu-abu. Aku merasa perjalanan kali ini biasa saja. Tapi yah.. Lumayan.
--


Jumat, 19 Desember 2025. Aku sudah kembali ke saung. Pagi yang tidak tergesa-gesa, aku memotong kriminil-kriminil untuk kutanam lebih banyak.


Pagi hari di saung. Sawahdi pinggirnya mulai dibenahi untuk ditanami lagi.

--


Sabtu, 20 Desember 2025. Hari pertama libur. Aku membuat lebih banyak anakan kriminil. Ini kurencanakan untuk kutanam di Gunung Rukem. Dengan ini aku membuat 60 anakan stek batang Kriminil.


Minggu, 21 Desember 2025. Memanfaatkan sampah. Ada dua botol Cola, aku hendak membuangnya, tapi hari ini senggang, jadilah aku memutuskan menanam Suplir ini pada botol.


Lalu saat aku membuatnya, si kembar kesayangan H. Imam datang menonton.


Suplir-suplir ini selesai, kugantug di antara tiang saung.

Lalu, Inspeksi tiba-tiba.

Eki datang membawa keluarganya dari Garut. Mereka sebenarnya akan pergi ke Pangandaran, tapi mereka mampir dulu sekalian ke saung. Atuh jol riweuh.


Mereka pasedek-sedek duduk di saung, untungnya aku bangun pagi dan sudah kubereskan saung ini, jadi teu balatak teuing. 


Meski aku cukup sering mengunjungi Eki di Garut, aku jarang ketemu dengan keluarganya karena aku biasa diampihan di rumah yang lain. Kebetulan aku hari ini ketemu full-team. Aku juga jadi bertemu Bapaknya Eki yang biasa tinggal di Jakarta.


Saung ini keliatan lucu kalau di foto, padahal aslinya berantakan.


Ibunya Eki. Aku jadi menjelaskan ini-itu soal tanaman-tanaman, padahal aku juga tidak sebagaimana tahu. Hanya sebagai penyuka saja.


Tapi yang penting mereka semua kelihatan sehat dan bahagia !

Adik-adiknya Eki, Zidan dan Neng Dea, lalu istrinya Mba Riani.

Nuhun Ngkiw sudah berkunjung, meski sebel teu bebeja heula ! 



Pulang ke rumah, sendalku dipakai main oleh Anak si uti. Aku masih tidak tahu siapa nama jelasnya, si Dede bilang si Chippi-Chappa karena ada dua, ada yang bilang Yajuz dan Majuz segala haha.


Siangnya aku menghadiri undangan nikahan Danny.


Malah dapat hadiah. MC pernikahan memberikan pertanyaan untuk doorprize, dan pertanyaan yang keluar adalah tanggal lahir Danny. Aku biasa mengucapkan ulang tahun ke teman-temanku, jadi ingat tanggal lahirnya. Jadilah aku mendapat hadiah ini.


Senin, 22 Desember 2025. Sisa-sisa renovasi. Aku tidak cukup tenang meninggalkan tempat ini sebelum benar-benar rapi karena akan kutinggal agak lama. Jadi hari ini aku membersihkan sampah-sampah sisa-sisa renovasi pembangunan, seharusnya, ini adalah tugas dari para pekerja-pekerja pembangunan itu. Tapi di sini adalah di sini, mereka selesai, dan meninggalkannya begitu saja. Jadilah aku dibantu Wawan, membereskan semuanya sampai setengah hari.

-

Masih ada sisa dua minggu Desember yang perlu dituliskan.

-

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا۝ ٥

"So, surely with hardship comes ease. Surely with ˹that˺ hardship comes ˹more˺ ease."
-Ash-Sharh : 5-6

-

 "God is our refuge and strength, an ever-present help in trouble".
-Psalm 46:1


0 comments:

Posting Komentar