Dekor jalanan kampung selesai. Penuh cahaya dan warna-warna. Rada dangdut sih,
Diwan baru-baru ini menerbitkan buku kumplan esainya. Salah satu bagiannya ada yang menceritakan perjalanan kami saat Safari Sastra bersama alm. Pa Yudhistira. Aku jadi teringat jika aku pernah punya hari-hari semenyenangkan itu..
Minggu, 9 Agustus 2026. Dikirim gambar-gambar.. AKhir-akhir ini s Teteh lagi senang menggambar. Katanya buat hiburan dan
being creative saja.. Aku malah tidak menggambar satupun beberapa waktu ini..
Kalau sadar, kehidupanku belakangan cuma ngurusi tanaman, kerjaan, dan rumah Diwan haha. Hari ini aku memindahkan kriminil yang berbeda jenis, dia tumbuh lebih pendek dengan daun yang lebih rimbun.
Di hari yang sama, s teteh pergi jalan-jalan sekeluarga ke Belgium Palace di Brussels.
Senin, 10 Agustus 2026. Aku sudah dapat semua dokumen yang dibutuhkan untuk pengajuan visa dari tempat kerja. Surat pengangkatan, izin cuti dan slip gaji yang bohong itu. Aku juga tidak mau berlama-lama di kantor, setelah kudapat semua aku langsung
ngaleos.
Hari ini aku juga mendapat transferan gaji (yang sudah berbulan ini selalu dibayarkan tanggal 40, entah apa sebabnya), yang nominalnya jauh berbeda dengan slip. Jadi, mulai tahun ini aku 'melibatkan' Wawan untuk membantuku. Hal yang Wawan lakukan ini seperti yang Pa Asep lakukan padaku dulu.
Aku membaginya dengan Wawan. "Yeuh, saeutik sewang. Bae nya..", ujarku. Wawan sudah bukan orang lain. Dia tahu semua yang terjadi di 'sekitar sini'. Tapi mendapati hal ini, Wawan malah menangis. Aku memintakan maaf tempatku berkegiatan hanya bisa memberi seuprit ini. Dia malah balik menyerang,"Harusnya tempat itu yang minta maaf pada orang-orang !". Aku menutup semua keluhanku dan keluhannya. Yah segini adanya, begini yang terjadi. Entah sampai kapan tempat ini akan seperti ini.
Dari pertemuan dengan Wawan aku malah dapat bahan. Lalu 'menyalurkannya' lewat tulisan.
Selama ini
Tak pernah kubiarkan daun-daun. Mengering
Pada taman. Penuh gemuruh nyanyian
Lagu-lagu rahasia. Menutup kegelapan
Dengan senjata ayat-ayat. Dari Al Quran
Tak pernah kubiarkan daun-daun. Mengering
Dalam kemarau. Terik sepanjang musim
Menguapkan segala amarahku. Menjadi geming
Di kedalaman. Sejauh akar takdzim
Tak pernah kubiarkan daun-daun. Mengering
Dari sungai. Yang dulu pernah segar mengalir
Menuju hatiku. Kini sampai kugunakan darah
Untuk tetap mengairi bunga-bunga. Lewat dzikir
Tak pernah kubiarkan daun-daun. Mengering
Sebelum patah. Semua kerimbunan ranting
Meneduhkan jalan. Perlahan pada batas
Tempat kematian. Menguburkan ikhlas
2026
Meski jadi sering ngeluh, buatku hal jelekpun masih bermanfaat. Haha
Selasa. 11 Agustus 2026. Pa Fuad menggunakan ruanganku untuk dipakai sebagai tempat ujian. Tidak bisa disangkal, ruanganku memang lumayan konvensional untuk digunakan seperti ini. Jadi aku membantunya sedikit, merubah layout, menghubungkan audio-visual. Sisa keperluan teknis lainnya dibantu Pa Asep Kurniawan, Pa Cepy dan Iqbal. Yah.. Aku juga nga bisa bantu banyak. Cuma begini saja.
Setelah ngoceh soal hak yang 'seharusnya' kuterima, aku sebenarnya sudah mau abai tentang yang bukan kewajibanku. Termasuk hal begini. Tapi didatangi ke ruanganku, dengan mata berbinar penuh semangat untuk belajar, mana bisa aku menolaknya. Apalagi dia sampai membawakanku air minum dan makanan ringan. Aku tahu dia seorang yang pemalu, tapi dia melawannya karena ada yang ingin dia ketahui. Dan itu sudah sangat perkembangan yang baik buatnya.
Hal bersih seperti ini, yang tidak dilihat 'orang-orang sana'.
Kamis, 12 Agustus 2026. An evening humming. Nyambuti maghrib bersenandung. Yang kupakai ini Suluk yang biasa ada dipembuka shalawat
Law Kana Bainana. Tapi aku tidak mau membawakannya dengan cara 'biasa'. Lalu kupilihlah dengan gaya
carnatic india.
Barangkali ini cukup aneh buat orang-orang di sekitarku. Beberapa berkomentar dan mengirimkanku pesan ringan seperti,"Kunaon maneh ?". Yah.. Sebisa mungkin aku juga tak begitu mau memperlihatkan diriku pada sisi ini, pun mereka tidak perlu tahu sih.. Aku memutar-mutar playlist koleksi laguku, tapi tidak ada yang cocok beberapa hari ini. Dan sholawat ternyata ampuh mengatasi ini.
Ditambah aku ngahariring saat perpindahan sore ke petang. Sela jeda menunggu shalat maghrib, seperti menuju pergantian hari. Gara-garanya aku jadi diserang perasaan mengingat orang-orang yang baik padaku, perjalanan dan hidupku..
Malam harinya aku diajak Fahrezi untuk ngopi di luar. Ternyata Fahrezi juga baru-baru ini selesai sidang jenjang S1. Kami lumayan lama tidak bertemu. Aku niatnya mau ngobrolin soal skripsinya tentang apa, tapi malah jadi kesana-kemari, sempat juga sama-sama 'prihatin' soal keadaan di sini, dan yang kaget dia sudah berani ngobrol tentang perempuan haha.
Kamis, 13 Agustus 2026. Lantai kramik di ruanganku meletup terangkat dan ini terjadi saat ditengah-tengah kegiatan. Bocah-bocah kaget, aku juga kaget karena bunyinya juga seperti ledakan, spontan aku 'mengevakuasi' bocah-bocah, menyuruh mereka supaya langsung ke luar ruangan.
Aku mengabari Pa Andri sebagai bagian sarana. Kami berusaha mencegah kerusakan lebih, tapi akhirnya malah merembet sejajar lebih dari setengah luas ruangan.
Nuhun Pa Andri, meski nga tau kapan ini akan dibenerin oleh pihak 'sana', minimal sekarang aman dulu saja.
Jumat, 14 Agustus 2026. Lomba agustusan. Supaya 'kegiliran', aku meminta bocah-bocah untuk menjadikan s pa riki dan bu tita menjadi juri.
Pulang jumatan aku menjenguk mang Halim yang sakit, dan pulang dari rumah sakit. Keadaanya memang agak parah. Penyakitnya belum terdiagnosa secara jelas. Mang Halim dibawa ke rumah Wa Ibah, supaya bisa dapat terjaga lebih intens. Saat aku menjenguk ada Wa Ibah, Mang Apong, Bi Ade, Ma Anon, dan satu lagi bapa-bapa yang aku tidak tahu namanya.
Sore hari Eki datang ke saung. Ini memang sudah dia rencanakan.
Everyone has their roughtime. Ternyata ini juga waktu-waktu yang agak berat untuk Eki. Keadaan bisnisnya sedang kurang baik. Dan yang menyebalkan adalah ini gara-gara kebijakan pemerintah.
Sabtu, 15 Agustus 2026. Rada jarang s Eki bangun pagi kalau menginap di saung. Menunggunya bangun saja aku sudah bisa merapikan sisi taman luar ini, setengah hari.
Malam hari, aku menghadiri haol pa KH. Koko. Menemui Cep Thoriq. Sebagai puteranya Pa Oko, bukannya duduk di depan, dia malah ngerjain ini itu.
Ketemu a Imen saat sama-sama berdirian di belakang.
"Yang jelek dari tipe orang sepertimu adalah pasti memasukkan segala sesuatu ke dalam hati. Apalagi yang tidak menyenangkan.. Di manapun dan ke manapun, akan selalu ada yang menyukai dan tidak menyukai kita. Itu pasti !, Tinggal bagaimana caramu menghadapinya.."
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini sekarang.. Lain kali tinggalah di rumahku lebih lama.., ajak yang lain, tapi harus buat sesuatu, apapun itu, ya !"
Ucap a Imen padaku.
Minggu, 16 Agustus 2026. Aku memang sudah berencana rawatin gitarku ini. Dia terlalu liar. Aku agak sebal dengan ucapan dari seseorang yang awalnya aku cuma mau bantu-bantu, tapi akunya aja yang keusilan sampai bawa-bawa gitarku si Shiva ini ikut
tigebrus segala ke kerjaanku, mereka keenakan.
Maaf sampai karatan, neck nga jelas, badan retak sana-sini,..
Kalau aku inget bahwa Shiva ini titipannya Cici ku, hadiah ulang taunku ke 19, di kasih di Bandung, di Puri Tomat-Dago, pertama aku tau punya Cici katolik, aku udah dosa nga jagain gitarnya dengan baik.. Meski cici ku bilang yang penting bermanfaat.
Mulai sekarang kukira gitarku ini ngausah kemana-mana lagi. Tinggal di rumah aja ya.. Kita nyanyi lagu-lagu yang seperti biasa kita dengerin sajaa, ok! Ngausah dengerin yang laen-laen, apalagi lagu-lagu dari 'sebelah'~
*Suwun buat teh Oci Maolan jugak yang udah ngasih senar baruuu disaat gajiku cuma seuprit ha ha ha
Nah, Shiva udah ganteng setelah dirawat sedikit.
Tiba-tiba undangan juri sesaat sebelum mau berangkat. Dua santri datang ke kosanku memberikan suratnya. Padahal aku udah sengaja nga nongol-nongol dan nga bersuara akhir-akhir ini, tetep aja kena.
Sore hari, ngadiri bedah buku "Misi Menggagalkan Doa", buku kumpulan cerpen karya Yoga Palwaguna ini masuk dalam daftar panjang dan pendek penghargaan sastra Kusala Sastra Khatulistiwa 2026.
Diajakin s Mas, Tata, sama Fey nyore ke sini. Ketemu orang-orang lama dan baruu.. Oh jelas aku bukan penulis.. Tapi aku senang kalau lihat orang-orang bicara, terkhusus sastra. Apa ya.. Buat pembaca yang jelek sepertiku, lebih mudah 'mencerna' lewat ungkapan lisan-oral. Biasanya, setelah itu barulah aku tertarik ke 'bentuk aslinya'.
Irhan. Oom-oom penolong baik hati yang juga penulis, yang sepuluh taun nga ketemu setelah tugas di Basarnas Pangandaran.
Favorit dia mh, s mimih hahaa.. Biasanya kita janjian dulu kalau mau ketemu, kali ini kita nga sengaja sama-sama datang. Lalu berpose lah kami selesai acara,
Aku jadi kepikiran buat ngedit ini setelah pose terakhir kami, yin yang haha.
Pulangnya dijajanin kopi sama Tata di kopi Siloka.
Senin, 17 Agustus 2026. Bangun kesiangan. Tapi aku juga salse karena s Mas bilang soal juri-jurian kira-kira pukul 11-an. AKu juga ngada niatan ikut upacara. Berangkat bareng Tata yang sama-sama kesiangan juga, akhirnya kami hadir di belakang saja. Yang handel kerjaan juri jadi bang TB Waidzin. Yasudah, aku datang bersenang-senang saja.
Selesai kegiatan orang-orang yang datang dijamu makan. Aku ngaikut makan karena udah dikasih sarapan sama si Dede. Saat ngobrol di belakang ada s Bibi lewat mau pulang dan ngajakin untuk foto bersama. Jadilah kami berempat berdiri. S Bibi dan Bu Enung (ujung sebelah kanan) adalah guru-gurunya Diwan saat MI.
"Resep ningal araktif nu aranom teh, Diwan, Eki.", ujar Bu Enung. Aku sama Diwan hanya saling lirik dan senyum. Nga tau aja isi kepala kita ini kecamuk semua hahah. Tapi yah.. Orang-orang juga nga perlu tahu sih..
Disarankan memakai pakaian dengan aksen merah-putih, yang mana males sebenernya, aku memakai karembong warisan dari Wa Loloh.
Aku juga jadi menulis sedikit sepulangnya..
-
Doaku dikabul
Meminta hujan pagi hari. Supaya upacara tidak lama
Karena isinya selalu sama. Kebohongan semata
Seperti wajah tawa kami. Pada potret ini
Adalah warna merona. Supaya gelap tersembunyi
Saling hangat menyapa. Setelah dijamu
Rinai hujan sekejapan. Dan suara para tamu
Bercakap ringan. Namun tidak mengada-ngada
Seperti yang biasa dilakukan penguasa
Dalam satu lagu. Yang terus bersemilir
Di telingaku. Sejak empat tahun lalu
Liriknya kutulis. Namun belum juga menemukan akhir
Sampai hari ini. Biar ku ucapkan dua bait saja padamu
"Dengarkan, coba dengarkanlah
Apa yang ada di sana. Di puncak tertinggi itu ?
Seseorang yang kehilangan arah
Namun tak kenan melangkah. Pada waktu"
"Menyakiti banyak sekali. Hati
Tanpa seorangpun tahu
Termasuk dirinya. Sendiri
Perlahan dingin. Menjadi batu"
2026
Selesai kegiatan 17-an aku langsung pulang karena s Dede harus balik lagi ke Bekasi. Dia pulang bener-bener cuma sehari saja. Pamit, kami mengantarnya sampai depan.
Can nanaon.
Ada perasaan yang beda buat keberangkatan s Dede kali ini. Biasanya aku yang jemput-antar s Dede kalau dia pulang. Kali ini S Dede berangkat dengan s Ucup. Saleongna s Dede, aku jalan balik ke kosan. Dan tiba-tiba jadi kepikiran, "Kitu mereunnya mun si Dede sudah melanjutkan hidup dengan seseorang..". Aku senang dan sedih juga hehe. Di sisi lain kukira s dede aman dengan s markucup. Sisi lainnya tugasku sebagai kakaknya sekarang ada yang menangani.. Hehe aku sudah mulai tergantikan.. Tapi yah.. Si Dede juga sudah besar sekarang. Mungkin lebih dewasa juga dariku. Aku senang saja..
-
Setengah bulan ini, aku tahu bukan hanya aku yang kesulitan sendirian, kerjaanku aman (uangnya yang tidak aman haha), dapat beberapa penglihatan, dua kali bernyanyi, dua kali menulis puisi. Yang di kepalaku ? oh masih ada lagi !
-
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ ١٥٩
It is out of Allah’s mercy that you ˹O Prophet˺ have been lenient with them. Had you been cruel or hard-hearted, they would have certainly abandoned you. So pardon them, ask Allah’s forgiveness for them, and consult with them in ˹conducting˺ matters. Once you make a decision, put your trust in Allah. Surely Allah loves those who trust in Him.
Ali 'Imran : 159
-
Whoever of you loves life and desires to see many good days. Keep your tongue from evil and your lips from telling lies.Turn from evil and do good; seek peace and pursue it.
Sangat mengkhawatirkan untuk kita bulan ini, semoga bulan depan jauh lebih baik 😅😅
BalasHapus