Excerpt from the other sight Time has wonderful way of showing us what really matters

Minggu, 28 Januari 2024

A step that written by writings

Salah satu kesulitan adalah menyediakan waktu untuk 'sengaja' menulis. Seharusnya memang dijadwalkan. Menulis buatku salah satu hal menyenangkan, bukan soal tulisannya, tapi menggunakannya sebagai pengingat.

Waktu yang berjalan murudul membuatku sulit buat sekedar menyempatkan menulis catatan. Menyambung hidup dengan kewajiban-kewajiban lain, makanya aku selalu 'nanggung' dengan subyek yang kukonsentrasikan -tidak baik.

Masalahnya karena selalu ada perbedaan perasaan ketika 'kekuatan' menulis saat ingatan dan ruh dari waktu yang dilewati masih ada dengan ketika 'menyimpannya' agak lama. Yah meskipun keduanya punya nilai lebih dan kurangnya masing-masing. Menulis spontan sangat kunikmati karena energi perasaannya dapat secara otomatis 'menyetir' kita, sedang jika diendapkan kita bisa mengingat setiap detail, tapi mesti melihat ke dalam dengan 'agak keras'. Keduanya kadang bergantian kulakukan.

Panggilan kedatangan

Safari Sastra Yudhistira ke lima dengan tajuk "Puisi Gugat Politisi". Kali ini aku sebagai bagian dari tim tidak serta ikut sebagai tim musik, sebagai gantinya aku bertugas 'ngabadal' pa Taufik Abrie untuk menulis reportase. Panggung ke lima bertempat di Perpustakan Ajip Rosidi di Bandung. Aku diminta Pa Yudhis untuk membantu. Jadi dia cover semua akomodasi perjalanan untukku kecuali soal tempat menginap, karena cuma sehari saja, dan Bandung relatif tidak terlalu jauh dari Tasik (jauh ogé sih sebenerna hehe).

Dua malam sebelumnya, Wawan dan Rijal membantuku menggarap musikalisasi puisi yang baru. Aku yang kurang referensi sekarang lebih sering butuh bantuan. Dan mengajak mereka ini tentu bukan tanpa alasan, mereka masih bersedia berproses dengan bahagia, bukan dengan 'sabaraha'. Dan kukira begitulah kreasi digunakan semestinya.



Kukira, mereka berdua sudah berkembang, mungkin setara bahkan melebihiku soal musikalitas. Wawan mendapat 'hook' pada satu bait verse pertama, jadi kami terus mengejarnya sampai alur lagu ditemukan. Merekamnya secara mentah sebagai guide supaya kami aman mengingatnya sebelum kami take recording dengan lebih baik.

Sabtu. Januari 20, 2024. Aku berangkat ke Bandung dengan bis. Budiman adalah yang paling aman setelah kehabisan tiket kereta. Aku diantar Wawan sampai terminal.



Bisku berangkat pukul 14.00, dan itu berarti aku akan sampai bandung sekitar petang. Diperjalanan, aku biasa mendengarkan musik atau membaca buku, menyelang rasa kantuk. Buku yang sedang (dan masih) kubaca kali ini adalah buku cerita-cerita pendek Anne Frank yang luput dari media besar. Berbahasa inggris, pemberian dari Omah Rosemarie tahun lalu.

Benar saja, aku sampai ke Bandung pada pukul 17.30. Aku bisa saja seperti biasa nginap di rumah Omah di Ciumbuleuit, tapi jika lewat petang mereka biasanya sudah istirahat, dan mereka pasti akan 'menyiapkan' segalanya untuk kedatanganku. Jadi aku tidak mau merepotkan mereka. Selain itu, di rumah Omah tidak boleh dan tidak bisa merokok hehe. Jadi aku memilih untuk 'merepotkan' teman lama, M. Rofi'u Darojat. Teman satu almamater dulu yang sudah jadi praktisi seni di Bandung. Biasa dipanggil Fiu, dia bahkan menjemputku ke terminal bis. Agak aneh belakangan ini, lewat petang langit masih cerah, dan gelap mulai datang pada sekitar pukul 18.30, aku merasa langit di sini seperti di luar negeri yang biasanya gelap mulai pukul 20 malam. Tapi ini pemandangan terbaik yang kubutuhkan setelah duduk lama di perjalanan.

Fiu tinggal di Balebat, Setyabudi. Tidak jauh dari Universitas Pendidikan Indonesia. Aku jadi mengingat perjalanan pertamaku ke Bandung bersama kakak perempuanku karena kami dulu menginap di sekitaran Gegerkalong. Tidak lama setelah sampai, pacarnya Fiu, Shalza berkunjung juga dikosan. Nah, mereka ini punya musik duet bernama Fuise yang core-nya adalah puisi-puisi Fiu. Tapi setelah beberapa waktu Fuise berubah menjadi format Band. Gaya musik mereka asik juga, daya orang kota memang berbeda (dan karena mereka lebih proper pengetahuan musiknya) mereka lebih produktif daripadaku sendiri. Dalam kurun waktu ini mereka sudah merampungkan beberapa lagu.

Kosan Fiu adalah kamar produksi musik, banyak sekali alat musik dan perangkat rekaman. Gara-gara ini aku malah impulsif 'ngefill' bagian bass pada guide lagu yang kugarap bersama Wawan dan Rijal. Aku ngoprék sampai pukul 2.30 pagi. Balébat memang kadang merubah siang menjadi malam. Tapi harus kuputuskan istirahat karena tujuanku datang adalah untuk acara keesokan harinya.




The art of urban slow-living.
Kehidupan rutinku di kampung yang tidak mencerminkan suasana kampung, semua dimulai sejak fajar. Tapi tidak dirasakan 'kesalséan' yang tercermin dari kehidupan kampung yang sering diceritakan. Ini makanya aku senang melakukan perjalanan. Menjadi seorang lain, dengan identitas lain. Melepaskan subyek-subyek yang 'tersemat' di kehidupanku yang sebenarnya. Bangun tidur siang rasanya sudah lama sekali untukku. Di Balebat, terbangun jam 10 pagi gara-gara hujan besar, kamar Fiu punya jendela yang menyuguhkan hehijauan yang 'cukup' untuk menyegarkan mata dipagi hari. Udara di daerah Setiabudi memang lebih dingin, dan ini sangat mengundang untuk berleha-leha.

Kesan pertama yang kudapat dari paviliun Balebat. Ruang utama yang langsung menyambut kedatangan, ini membuatku teringat suatu tempat di Vilnius.

Balebat paviliun ukurannya lumayan besar. Dan ruangan-ruangan tersambung dengan lorong-lorong tinggi yang menggunakan cahaya.

Ada beberapa kucing dan satu anjing yang sengaja dipelihara di sini.

Salah satu teman Fiu mulai bekerja jam 11 pagi. Dan dia mengatakan, "mumpung masih pagi, perasaan masih baik untuk mengerjakan sesuatu". Pukul 11 pagi ? Hehe.. Ini mungkin normal untuk mereka yang tinggal di sana. Buatku ini sangat siang sekali, pukul 11 sudah kugunakan untuk jeda istirahat jika di kampung.

Sesuai tujuanku ke sini untuk meliput Safari Sastra Yudhistira #V. Pukul 12, menuju perpustakaan Ajip Rosidi di Jl. Garut no. 02, Bandung. Setengah jam perjalanan, dan orang-orang sudah berkumpul di kedai Jante, kedai kafe di pinggir perpus. Yudhistira, Iman Soleh, Hawe Setiawan, Candra Wardani, Yuka Mandiri dan juga beberapa yang tidak kukenali mengobrol ringan sebagai pembukaan sebelum acara dimulai.

Renny & Yudhis. Sahabat lama, mereka pernah sama-sama aktif di Teater Bulungan Jakarta Selatan. Teater yang banyak melahirkan aktor-aktor kawakan pada masa itu. Diusia mereka sekarang, mereka masih punya spirit besar untuk menyebarkan kebaikan dengan menggunakan kesenian sebagai mediumnya. Ini friendship goal buatku. Kadang, aku juga ingin punya pertemanan yang bisa bertahan sampai ke tahap ini.

Hawe Setiawan, sastrawan-budayawan, dosen Universitas Pasundan sebagai fasilitator memberikan sambutan.

Yudhistira menceritakan sedikit tentang gagasan dilakukannya Safari Sastra ini. Terkait dengan keadaan politik Indonesia sekarang, sebagai penyair yang merasa gelisah. Puisi mesti digunakan sebagai media sebagai 'pencerah'. "Ketamakan bangsa ini sudah sangat memprihatinkan, dan harus ada orang yang menghentikannya.



Renny Djajoesman, aktor teater-penyanyi rock legendaris Indonesia itu selalu punya kejutan pada repertoar yang membuat audiens memberikan perhatiannya.

Yuka Mandiri, putri Renny Djajoesman dari pernikahannya dengan Putu Wijaya. Ini seperti reinkarnasi, suara dan power Yuka diwarisi sekali dari ibunya. Yuka juga adalah seorang aktor teater senior di Jakarta.

Kucing perpus yang ikut menjadi audiens.

Tata, putri Yuka-cucu Renny Djajoesman. Yang nampak malu-malu naik, tapi bagaimanapun kami semua tahu dia menahan 'jiwa kesenimanannya' karena ditodong sang nenek yang dipanggilnya Tini untuk naik panggung.

Acara selesai, barangkali audiens kali ini tidak terlalu banyak. Tapi mereka semua bukan orang-orang biasa. Panggung Bandung kali ini diisi oleh seniman-seniman senior yang ikut berpartisipasi membacakan puisi-puisi Yudhistira. Iman Soleh misalnya, belliau membacakan puisi dengan pembawaan teaternya yang khas. Lalu Hawe Setiawan yang secara spontan mebaca-menerjemahkan puisi Yudhistira ke dalam Basa Sunda.

Aku dan Balebatians, Fiu-Shalza-satu lagi aku lupa, kami berpisah di sini. Aku mesti ke Jalan Braga untuk menyusul pa Yudhis karena Bu Siska tidak ikut, jadi tugasku menemani sisa waktunya sampai petang. Selain itu aku juga mesti nengok adikku juga mumpung ke sini.

Kami berkumpul di Simpul Space. Lebih banyak mengobrol tentang progres masing-masing. Kami sedang menyiapkan acara pada 28 Februari mendatang untuk 70 tahun Yudhistira. Akan ada peluncuran buku antologi puisi barunya, dan akua akan ikut serta sebagai salah satu pengisi acara.

Berjalan-jalan di Braga usai makan malam yang dipercepat.

Foto bersama terakhir sebelum kami pisah dan pulang. Tulisan bapa ini dulu pernah kubaca saat aku usia SMA. Dan dengan entah, sekarang kami jadi sering bepergian bersama.

Pukul 17 sore aku sudah berada di stasiun untuk kembali ke Tasik.

Ini barangkali perjalanan paling singkat, aku terasa gurung gusuh. Sebenarnya perjalanannya kunikmati, hanya semua rasanya terlalu cepat saja.

Di kereta, aku malah ketemu Empal. Salah satu asuhan Pa Yudhis yang tahun lalu kami bertemu di Solo.

22.30, aku sudah berada di Tasik. Dan besoknya harus kembali kepada realita. 



Sabtu, 06 Januari 2024

We can't deny : That words are just not enough.


Tawaran 'perayaan' masih banyak yang tersisa. Tapi aku memilih untuk belum mau kemana-mana. Meski seringkali mudah merasa sepi, tapi kadang aku tidak mau bertemu siapa-siapa. Keramaian sama sekali bukan solusi. Dan hehe, aku masih berutopia untuk mendapatkan pertemuan yang romantik. Sebenarnya Aku sendiri lumayan kerepotan dengan sikapku ini-tidak baik.


Januari 4, 2024. Kamis, langit cerah pada pagi. Kuisi dengan sedikit membaca dan menulis. Tapi udara terasa gerah sampai pukul sepuluh, barangkali pertanda kedatangan politisi ke kampung tetangga, lalu cuaca mendung, dan hujan turun dengan deras saat mulai menuju pertengahan hari tepat sepulangnya. Alam seketika membersihkan udara dari ilusi omongan dan janji-janji manis mereka.

Pertemuan kali ini adalah pengecualian, karena sudah jauh-jauh hari direncanakan, aku akan berkunjung ke rumah salah satu kenalan yang lama tidak bertemu berbulan-bulan. Rencana awalnya adalah sehabis natal, tapi tidak bisa, karena aku mesti membantu Diwan Masnawi tentang Jauns Solis-nya. Jadilah hari ini aku pergi menemui teh Indri.


Alexandria Indri Wibawa, pelukis, penulis dan seorang notaris berparas antagonis (untuk beberapa, untukku sih tidak, karena dia baik bangeeet, belum pernah kena api kemarahannya). Untuk seorang anak yang culangung, Teh Indri tidak pernah mengomentari 'gayaku' berteman dengannya. Padahal di kalangannya dia sangat dihormati sesuai dengan namanya, ber-wibawa. Saling kenal cukup lama membuat kami tidak berjarak untuk membicarakan semuanya.


Aku tidak ada masalah pergi sendirian sebenarnya, tapi aku ingat Jajang Indra yang akrab dipanggil MJ (bukan Mary Jane) berkata padaku sesekali ingin diajak jika hendak menemui teh Indri. Akhirnya kami berangkat berdua, menuju Sindangkasih menembus hujan yang tak kunjung reda dari Singaparna.

Kembali ke Sindangkasih. Aku melewati jalan yang dulu pernah kusinggahi dengan seseorang-juga keluarganya ke tempat ini. Meski itu waktu yang baik, tapi cukup memuakkan untuk mengingatnya kembali pada waktu  sekarang-pada waktu yang berbeda, dengan keadaan yang berbeda pula.


Perlu satu jam untuk sampai, disambut dua anjing kecil yang berisik, Daster dan Emeng. Memasuki rumah teh Indri yang berinterior klasik. Hiburan di sini hanya buku-buku, radio dan pemandangan alam. Memaksaku untuk kembali seperti kepada zaman dulu, kecuali tentang distraksi notifikasi whatsapp yang kuabaikan semua karena bukan pesan darimu. *Utah


Suster Cecillia, yang akrab dipanggil teh Uci juga menyusul datang. Kebetulan teh Uci baru sebulan pindah ke kompleks yang sama dengan teh Indri, hanya beda blok saja. Akhirnya kita berempat, berkumpul bersama.

-

Kami sebenarnya berharap untuk duduk-duduk di halaman rumah, tapi hujan belum jua berhenti. Teh Uci membawa selusin donat yang dia buat sendiri. Dan ini adalah sumber energi kami satu-satunya selain rokok dan kopi. Bertopik-topik obrolan kita bicarakan. Dari yang ringan menuju petang obrolan mulai sampai ke tepi jurang.


Pembicaraan mulai menarik saat teh Indri menggiring kami tentang buku yang akhir-akhir ini dia baca. Salah satunya buku Outgrowing God - Richard Dawkins. Penulis Britania raya yang dikenal ateis. Buku filsafat pemikiran ini benar-benar bahaya dibaca telanjang-tanpa fundamen spiritual. Dan sangat beresiko dibaca ketika dalam keadaan psikologi rentan atau dalam fase yang lemah keimanan.

Bagaimana tidak, dalam awal-awal buku ini dapat dibaca pernyataan menarik seperti, "Apakah manusia akan tetap berbuat baik pada sesama (juga lingkungan) jika tidak ada entitas 'pencipta', tanpa embel-embel surga dan neraka ?". Ini semakin menarik, ketika Dawkins menuliskan kutipan-kutipan dari Alkitab, Al-Quran atau cerita-cerita keteladanan tokoh-tokoh dalam perjalanan besar agama. Kami jadi saling berargumen dari perspektif Islam dan Kristen, menyahuti tulisan-tulisan Dawkins. Tapi filsafat adalah pemikiran, dan tidak ada satupun dari kami yang seorang filsuf (kecuali teh Indri, mereun). Jadi semua dikembalikan pada sudut pandang masing-masing. Kami tidak mengiyakan atau menolak tentang argumen yang berterbangan diantara kami, tiada pertentangan. Malah kami sambil sesekali menertawai keadaan.

Gara-gara buku ini, ada imbasnya. Membicarakan keadaan sosio-kultur di negara tercinta. Belakangan kami mengakui sering 'diceramahi' gara-gara hanya kami sedikit agak berbeda dari kebanyakan 'manusia' di lingkungan kami berkehidupan fana. Dewasa ini orang-orang jadi lebih senang berbicara tinggi-tanpa diiringi oleh pengindahan pelaksanaanya, atau tanpa ketauladanan yang ada pada dirinya.

-Aku juga bukan orang baik. Sedang berusaha untuk lebih baik.

Lebih menjijikan lagi, mereka 'mengandalkan' dalil-dalil agama sebagai senjata. Kami yang menerima hal seperti itu seperti mendapati kebohongan dengan jujur kata. Hanya melewat sebagai kebisingan di telinga.

Seperti yang diketahui semua, bahwa berbuat tentu lebih sukar daripada bertutur dengan panjang lebar.

Hal-hal baik dari buku apapun bahkan kitab suci tidak akan berfungsi jika tanpa pengamalan sebagai darma. Karena ayat yang benar-benar hidup adalah dengan prilaku yang nyata.

Refleksi awal tahun, rasanya malah kudapat dari pertemuan pada hari keempat di tahun dua ribu dua empat. Berfaedah, keputusan menghabiskan hari-hari akhir liburan ini dengan ke sini memang tepat sudah.


Aku dapat oleh-oleh Epipermum dari teh Indri untuk kusimpan di Saung.



Senin, 01 Januari 2024

The old year now away is fled

Alas my love you do me wrongTo cast me off discourteously;And I have loved you oh so longDelighting in your company.

- English traditional.

Lama sejak dulu Aku sudah tidak pernah menganggap tahun baru sebagai awal. Jadi.. setiap hari buatku adalah waktu yang baru dan tentu pertarungan baru. Kebanyakan orang membuat perayaan besar, diiringi dengan pertemuan, do’a dan resolusi. Ini hal baik, supaya tetap ada hal yang ‘dikejar’. Aku mendapat banyak undangan ‘pesta perayaan’, tapi dengan berat hati aku mesti menolaknya dulu kali ini. Lantas, bagaiman aku memaknai pergantian ? Hehe. Aku mengisinya dengan kegiatan yang kupilih sendiri.

Desember 31 2023. Jauns Solis.

Diambil dari Bahasa Latvia yang berarti “Langkah Baru”, kegiatan yang digagas oleh Komunitas Kuluwung-nya Diwan Masnawi, sohib dan teman kecil yang sama-sama tumbuh menyukai kesenian. Berbeda dengan perayaan tahun baru dua tahun sebelumnya yang terkesan menggunakan gaya euphoria urban, kali ini Komunitas Kuluwung lebih membawa kegiatan ini dengan secara lebih ‘sunyi’ (yang akhirnya tidak sunyi-sunyi amat sih hehe). Sebagai filsuf muda, Diwan  berujar bahwa kesadaran spiritual tidak kalah penting dari tingginya ilmu. Dengan konten pembacaan puisi-puisi, shalawat bersama, refleksi, dan do’a Bersama, Jauns Solis ini menurutku membawa ‘kelegaan’ setelahnya.


Pembacaan puisi dari teman-teman, semua bergiliran dan dapat bagian. Pilihan venue indoor selain karena cuaca hujan seharian ini memang tepat. Minim distraksi noise-noise suara dari sekitaran.Ini khidmat, setiap orang mendengarkan kata-perkata dari penuturnya.



Setiap pembacaan puisi diselang oleh lantunan shalawat yang disajikan syahdu oleh Sanggar Harsa.


Diwan yang cuma kebagian prolog akhirnya tergoda juga membaca puisi. Aku menemaninya sebagai pengiring.


Bertemu teman masa kecilku, Imana Tahira ! Dia ini kakaknya Diwan. Orang-orang banyak bilang dia berubah setelah tinggal di kota besar, buatku masih sama saja, tetap brutal hehe. Jika berbicara umur sebenarnya yang seumuran denganku adalah Tata. Dulu waktu kecil kita sering main bersama meski ingatannya agak kabur, tapi setelah Diwan melaju dewasa aku malah lebih banyak berkegiatan bersama Diwan. Tapi mendapati mereka berdua dalam satu acara menyenangkan juga !


Teman-teman yang hadir.


Sedikit tentang Diwan, kami sudah lama berkolega, bahkan sebelum kami lahir ke dunia haha. Jadi Bapakku dan bapaknya Diwan sejak dulu sudah punya banyak bersama dalam petualangan-petualangan. Potret diatas kusandingkan, membayangkan apakah kami juga akan sampai pada waktu ketika sama-sama kulit mulai keriput.


Duduk diantara para cendikiawan muda. Hagoromo, Pt dan KH. Thoriq Aziz. 


Januari 1, 2024. Setiap dari audiens Jauns Solis hari sebelumnya menuliskan whistlist-resolusi untuk tahun 2024. Keesokan harinya, kami memasukannya dalam botol lalu menguburnya di depan rumah dimana Komunitas Kuluwung biasa beraktivitas. Dan kami akan membukanya lagi tahun depan. Apakah ada hal yang tercapai atau minimal 'sesuai' dengan apa yang dituliskan.

Aku tidak banyak melakukan banyak hal setelahnya karena memang cukup kelelahan begadang. Jadi Cuma beres-beres venue sisa kegiatan, lalu ke ruangan jenguki tanaman-tanaman. Aku tidak begitu mau pulang dulu karena kalau di rumah pasti tidur. Jadi sebisa mungkin aku mau mengisi hari dengan apapun.


Januari 2, 2024. Bangun tidak kesiangan dong hehe. Pagi-pagi sudah ada kabar baik, salah satu sepupu favorit dikeluarga pihak bapakku sudah melakukan 'tunangan' di hari pertama 2024. Rencananya mereka akan menikah 10 hari setelah hari raya Idul Fitri. Jadi.. Aku akan kembali ke Cianjur lagi nanti.


Mendapat buku agenda dari mah Clau sebagai hadiah natal. Aku akan menggunakan buku ini, pada tahun ini.

Perayaan tahun baru. Selain tentang selebrasi, di Indonesia, ini biasanya mengundang perdebatan, bahkan untuk mengucapkannya. Apalagi saat pesta demokrasi periode sebelumnya (jika ingat). Kita sampai terbagi dua kubu. Saat orang-orang beradu argumen sampai ke dalil-dalil, aku cuma ketawa saja. Karena memang nanaonan maséa keun nu kitu 😂.

Aku lebih memaknai tahun baru sebagai 'pengulangan'. Karena tahun awal mereun tahun 1, dan kita tidak tahu tahun berapa akhirnya. Seperti tabel tambah dalam matematika yang yang dimulai dari bilangan 0 sampai tanpa batas penjumlahan. Ini seperti 'pit-stop' dalam balapan kalau buatku, jadi mesti mengecek apa yang sudah kulalui, keadaan motor, tapi mesti melanjutkan perjalanan lagi.

Tahun lalu, aku tidak membuat resolusi. Karena memang waktuku kacau sejak awal. Impulsif barangkali juga menyenangkan, menerka apapun yang akan terjadi sebagai misteri. Ada yang lancar ada juga yang bikin kerepotan karena tanpa persiapan. Dan gara-gara itu, aku mesti membuat jadwal per-hari. Gara-gara aku tidak mau waktu yang sia-sia, hehe. Kali ini aku mau bikin hybrid saja. Aku tuliskan resolusi, tapi juga dinamis. Bukan buat apa-apa, sekali lagi, supaya menjadi pengingat bahwa ada yang dikejar..

Ini sudah kutuliskan di kertas yang ditulis saat Jauns Solis, tapi biar kutulis lagi disini :
1. Voyages.
Masih di nomor 1 sejak dulu, Aku tetap menyukai perjalanan. Karena ini barangkali satu-satunya yang memungkinkan bisa memperkayaku innerku sekarang. Karena kalau semisal sekolah lagi, banyak faktor yang dipertimbangkan sana-sini. Tapi pendidikan juga termasuk dalam Voyages ini, kalau ada kesempatan sih mau bangeeet hehe.
2. Parrents & familie health
Aku tidak peduli orang mau berkata bahwa aku termasuk Sandwich generation, Trapped Child atau apapun itu. Ini salah satu prioritas buatku.
3. Companion
Pasangan hidup buatku masih kata yang muluk. Aku masih belum melihat hilal ke arah sana. Meski begitu aku rentan kesepian, jadi tentu akan yang lebih menyenangkan jika punya seseorang yang bersedia menerima dan menemani. Tidak mesti pacar saja, bisa jadi teman, guru, apapun-siapapun.
4. Things
Meski orang ekonomi rendah, aku tetap punya hal yang kubutuhkan. Ini whistlist aja, jadi tidak apa-apa. Aku berharap mau punya laptop sendiri buat berkarya. Mau nulis, bikin lagu, ngolah gambar atau apapun. Kalau biola masih ada, masih bisa dipake. Dan ganti handphone deh, meski ini masih ada tapi sudah tidak proper haha.
5. Better me
Ini akan jadi yang paling berat. Pertama kualitas ibadah. Masih banyak solat bolong. Lalu rasanya aku terlalu sering berbicara banyak di tahun 2023 kemarin. Jadi akan kukurangi itu. Perangai mesti lebih menyenangkan. Aku ingin gondrong lagi, minimal sebahu deh (ini akan memicu permasalahan di tempatku kerja, tapi biar kucoba mendobrak nilai-nilai lama). Dan terakhir, aku akan mencoba berhenti merokok.  Ini mulai kurasakan dampaknya (secara kesehatan dan keuangan, hahaa), kita cobaaaa !

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوۡرِ عِنۡدَ اللّٰهِ اثۡنَا عَشَرَ شَهۡرًا فِىۡ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوۡمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضَ مِنۡهَاۤ اَرۡبَعَةٌ حُرُمٌ​ ؕ ذٰ لِكَ الدِّيۡنُ الۡقَيِّمُ ۙ فَلَا تَظۡلِمُوۡا فِيۡهِنَّ اَنۡفُسَكُمۡ​ ؕ وَقَاتِلُوا الۡمُشۡرِكِيۡنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوۡنَكُمۡ كَآفَّةً​  ؕ وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الۡمُتَّقِيۡنَ‏ ﴿9:36﴾

"Surely the reckoning of months, in the sight of Allah, is twelve months, laid down in Allah's decree on the day when He created the heavens and the earth; and out of these months four are sacred. That is the true ordainment. Do not, therefore, wrong yourselves, with respect to these months. And fight all together against those who associate others with Allah in His Divinity in the manner that they fight against you all together,36 and know well that Allah is with the God-fearing."
-At-Tawbah 36

Teach us to number our days, that we may gain a heart of wisdom.
-Psalm 90: 12