Excerpt from the other sight Time has wonderful way of showing us what really matters

Sabtu, 14 Oktober 2023

Teras Bumantara ; Kosmogoni Rumah Topeng Besi

 


“Hidupkanlah sesuatu, maka sesuatu itu akan menghidupimu”, penyair Acep Zamzam Noor pernah mengucapkan kalimat ini dalam suatu seminar yang kudengar secara langsung. Oktober adalah bulan yang selalu ingin kuhindari sejak kegelapan 2019. Tapi pada tahun ini, Oktober memberikanku banyak kejutan yang lumayan manjur ‘memalingkan’ penanda waktu yang paling buruk dalam garis masa hidupku sampai sekarang ini.


Jum’at, 13/10/2023. Aku diundang untuk menghadiri Pentas Teras Bumantara, oleh Sanggar Terasi – Sekolah Tinggi Teknologi Cipasung Angkatan ke 10. Kegiatan ini berisikan pentas kreasi teman-teman sanggar dan pengukuhan anggota baru Sanggar Terasi. "Bumantara yang berarti semesta dalam bahasa sanskrit, ini sebagai perlambangan pengenalan ruang penciptaan untuk para anggota baru, dan panggilan kepulangan untuk para anggota lama..", ujar Vizkha Anggrilla, kordinator divisi Seni Rupa sanggar terasi menerangkanku tentang judul acara.

Sanggar Terasi angkatan 1 setelah pementasan teater sederhana pada hari Pendidikan Nasional, 2013.

Sanggar Terasi ini kiranya adalah UKM seni di Sekolah Tinggi Teknik yang berhasil membuatku keteter dan stress berat untuk  mendapatkan gelar sebagai seorang insinyur itu (meski keilmuan tentang ini masih belum bisa kumanfaatkan sebagai workfield-sampai sekarang). Hanya karena aku berambut panjang, framing sosial terhadapku waktu itu sudah condong ke arah seni-seni-an, padahal tidak sepenuhnya benar juga. Tahun 2013, kampusku dulu menghadapi waktu-waktu akreditasi. Dari itu, Aku dan ‘korban-korban’ lainnya diminta pihak ketua tiga kampus untuk membuat unit-unit kegiatan mahasiswa, maka lahirlah UKM seni Sanggar Terasi ini pada bulan Juli 2013 sebagai salah satunya.

Beberapa anggota sanggar terasi angkatan 2 & 3, generasi Yudha Alisy & Ayu Jette, 2014.

Penamaan UKM ini memang agak jijay (aku tahu), pasalnya aku tidak bisa memikirkan nama lain yang keputusannya ditunggui dalam waktu kerja satu malam, banyak sekali yang harus dikerjakan seperti logo, filosofi, rancangan kegiatan, program kerja dan lain-lain. Nama Terasi ini barangkali sudah kita kenal sebagai bumbu masakan yang terkenal dengan bau-nya (semoga saja berkah nama ini adalah bau kebahagiaan dan kesuksesan, bukan bau yang lain ya hehe), nama Terasi ini sebenarnya akronim dari kata Teater, Tari, Rupa, Musik & Puisi. Aku berharap bisa mencakup semua bidang seni yang akhirnya membuatku kerepotan juga sebagai ketua 'terpaksa' pertama. Beberapa orang pada tahun itu juga memanggilnya dengan mahasiswa-mahasiswa Topeng Besi. Sesuai dengan logo-nya yang orang bilang lebih mirip klub robotik daripada ukm seni hehe. Tapi sebenarnya kami dulu menyesuaikan itu dengan perlambangan mentalitas mahasiswa jurusan Teknik yang kebanyakan ‘gede kawani’.

Terlambat datang dua jam setengah, hampir jam lima sore aku baru bisa merapat di tempat acara. Segan dan ragu, karena aku merasa sudah tidak ada yang mengenaliku di sini, terlebih aku harus mengisi waktu sebagai pembicara tentang sejarah singkat sanggar ini. Tapi ternyata aku bertemu beberapa ‘wajah lama’, ada Siti Alpiah Vira yang sekarang sudah dipanggil Ibu karena sudah jadi bu Dosen hehe, M. Arief Billah – Seniorku saat aku belajar di Sanggar Kobong tahun 2010 lalu, Qiesar Putri dan Dzesy Agresti generasi terakhir yang ku kenal di sanggar Terasi, lalu Sopyan Andriansyah dan Vizkha Anggrilla – pengurus Sanggar Terasi sekarang. Sembari mengikuti acara kami mengobrol ringan seputar kabar karena lumayan sudah lama tidak bertemu.

 Qiesar Putri, Ketua Sanggar Terasi angkatan 9

Aku dikehendaki untuk mengisi waktu bercerita tentang Sejarah singkat sanggar ini.. Ditemani Vizkha sebagai moderator, dimulai dengan membacakan curriculum vitae-ku yang sebenarnya sama sekali tidak penting. Bagiku, meskipun siapapun telah banyak meraih pencapaian-pencapaian prestisius secara subyektif tapi nyatanya tanpa diiringi kebermanfaatan-kemaslahatan, nonsense-tidak berguna.

Djezy Agresti, Ketua BEM STTCipasung yang juga salah satu anggota Sanggar Terasi

Membawa para anggota-anggota baru pada masa lalu. Barangkali sejarah memang cukup penting, bukan untuk meninggikan diri, selain untuk silaturahmi, tapi juga sebagai pengingat jejak supaya dapat terus dimaknai dan diperbaiki..


Acara dilanjutkan pada pengukuhan anggota baru. Dua hari sebelumnya Sopyan menanyakan padaku adakah Sanggar Terasi memiliki seremonial khusus atau sumpah anggota terkait pengukuhan pengukuhan. Aku menjawabnya, tidak ada, jika teman-teman pengurus sekarang berinisiatif membuat hal semacam itu ya kubilang silakan, itu lebih baik.. Sanggar Terasi pada periodeku hanya berjalan atas dasar cinta dan kesetiaan. Karena sedari dulu, dengan segala keterbatasan, tempat ini memang tidak pernah menawarkan apapun, karenanya aku tidak ‘berhak’ mengikat dan menuntut teman-temanku untuk tinggal hanya karena ‘keterpaksaan’, meski begitu aku bersyukur teman-temanku dulu loyal-solid meski sepak terjang permasalahan selalu ada, dan kami bersyukur bisa mengatasi itu meski dengan pahereng-hereng heula.

Sopyan Andriansyah, Ketua Sanggar Terasi angkatan 10 (sekarang, 2023)

Tapi luar biasa lagi, pengurus terbaru ini merancang pengukuhan dengan seremonial sederhana yang menurutku mendalam makna. Sopyan sebagai ketua sanggar membacakan redaksi sumpah pengukuhan yang diikuti bersama, dimulai dari Dzesy, kami bergiliran berurutan menyalakan api lilin sebagai penanda cahaya regenerasi. Aku dapat melihat binar-binar cahaya pada bunga-bunga muda di rumah topeng besi.

 

Sepuluh tahun berlalu. Aku tidak pernah menyangka sama sekali Sanggar Terasi akan berumur panjang melewati waktu. Kesulitanku ‘melahirkan’ barangkali tidak lebih besar dari kesulitan mereka yang sudah kenan untuk merawat dan mencintai tempat yang dulu pernah membuatku bertahan hidup. Untukku yang sejak lama baru kembali, tiba-tiba mereka jadi sebanyak ini..

Masih ada yang bersedia melanjutkan langkah-langkah dari jejak-jejak yang aku dan teman-temanku tinggalkan. Aku bersyukur dan berbahagia jika ternyata ada hal bermanfaat yang pernah kami lakukan. Cita-cita masih dilanjutkan, kekuatan do'a dan harapan. Meski membutuhkan satu dasa warsa, yang mereka berikan hari ini barangkali sudah jauh lebih besar dari apa yang telah pernah kulakukan.


Rangkaian acara berisi tampilan-tampilan seni yang di luar ekpektasiku. Penampil-penampil divisi musik dari para anggota lama, musikalitas mereka memukau & skillfull, banyak anggota-anggota potensial. Hanya aku belum menemukan kreativitas original yang mereka buat sendiri, yah sambil jalan beproses, begini saja mereka sudah jauh lebih baik daripada zamanku-pada saat usia mereka. 

Penampilan divisi tari. Pada divisi ini salah satunya ada laki-laki yang piawai menari, ini mengingatkanku pada sanggar generasi Yuda Alisy. 

Juga ada divisi seni rupa (akhirnyaaa aku punya penerus huhuu), mereka melukis secara live menorehkan warna-warna dengan seketika. 


Melihat semua penampilan dengan senyum sambil agak berkaca-kaca. Betapa Sanggar Terasi ini sudah banyak berkembang sekarang. Aku jadi teringat teman-teman semasa perjuangan di sanggar ini yang terlah terpencar kemana-mana.. Dan entah masih menyukai hal semacam ini atau tidak. Jika mereka melihat keadaan sanggar ini sekarang tentu mereka akan bangga..

Pada akhir acara, secara impulsif aku 'merusak' ikut campur pada karya kolaborasi lintas divisi para anggota yang sekarang, bukan karena apa-apa, aku hanya ingin merasakan spirit mereka ketika di panggung. Dan ternyata sesuai yang kuharapkan, melegakan !


Asep Furqon Nugraha, Siti Khoiriyah. Patreon divisi seni musik Sanggar Terasi angkatan 2, 2014.

Dulu, cukup sulit membangun atmosfir ini di tempat yang memandang kesenian hanya sebagai produk. Mau bagaimanapun disiplin pendidikanku dan teman-teman secara akademik saat itu adalah teknik, dan industri selalu memandang hampir semua hal dari sudut pandang nilai komersil, bahkan yang terburuk -eksploitasi. Semua berdasarkan perhitungan demi 'keuntungan' besar secara material. Dan Sanggar Terasi ini adalah tempat dimana aku dan teman-teman dulu bisa melepaskan diri nilai-nilai itu secara bebas, merayakan kegelisahan yang tidak pernah tuntas.

Seni adalah keterpanggilan hati.

Aku sangat berterimakasih pada kalian semua, aku masih diizinkan untuk pulang ke sini. Sanggar Terasi, rumah para kesatria topeng besi.


2023

*Foto-foto : Bizan Afzani Fasya, arsip pribadi.





























Minggu, 08 Oktober 2023

Roller Coaster Rasa ; Dua tahun 'pengendapan' Wulan Purwanti

Kata berlebihan memang selalu tidak baik, termasuk dalam bekerja. Kehilangan celah menggambar, menulis atau hanya sekedar melamun, hari-hari akhir ini agak berat. Tidak semua hal baik, tapi minimal masih bisa diatasi. Tapi kukira ini tidak bisa untuk jangka waktu yang lama. Jadi.. Memenuhi undangan peluncuran resmi buku antologi puisi dari temanku ini barangkali waktu yang tepat untukku 'melarikan diri'.

Aku bukan tipikal yang menyenangi berkendara dengan motor. Berangkat saat Petang dari Tasik, sendirian.  Laluan jalan Tasik-Garut yang semula berwarna jingga perlahan menuju gulita. Aku perlu waktu sampai dua jam untuk sampai.

Agak lama setelah empat bulan sejak terakhir aku ke sini untuk membantu hajat akting Linda Kania yang luar biasa, kali ini aku menemui Wanakumbara lagi-lagi di ranah kekaryaan. Angkatan 9 Wanakumbara ini memang agak berbeda untukku, meskipun hanya berempat, setiap dari mereka semuanya potensial dan menonjol. Mereka punya kegelisahan yang dipelihara dan disampaikan dengan bentuk yang berbeda-beda. Masih ada Tio Febriansyah yang juga seorang penulis, juga Santa Habsyie yang senang membuat dan membagikan vlog perjalanannya yang kebetulan tidak bisa hadir pada hari ini.

Minggu 9 Oktober, 2023. Meski aku hampir menghabiskan setengah bulan September di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang udaranya lebih panas dari Tasik, Musim panas yang sudah terasa berkepanjangan ini mulai mengganggu aktivitas ketika di rumah, tapi di Garut, udara dingin masih bisa dirasakan meski dibawah sinar terik.

Wulan Purwanti. Salah satu anggota Komunitas Pecinta Alam Wanakumbara angkatan termuda ini ternyata memiliki bakat terpendam sebagai seorang penulis. Sosoknya mengingatkan kami semua pada almarhumah Desy Sylvia, salah satu anggota terbaik kami yang juga sama-sama suka menulis. Kami tidak menyebutnya sebagai reinkarnasi, karena keduanya punya ke-khasan karakter masing-masing. Tapi yang jelas aku merasa bahagia dan banhga bahwa ada seseorang yang mewarisi spirit Desy di keluarga Wanakumbara.

Roller Coaster Rasa, buku kedua Wulan Purwanti ini berisi 100an lebih puisi yang diendapkan selama dua tahun. Aku ikut sedikit ikut campur soal karyanya yang kali ini dengan mencoba membuatkan lukisan untuk cover buku ini karena diminta Wulan. Sesuai dengan interpretasiku dari blurb, lukisan ekspresionis dengan media cat air diatas kertas watercolor ini memberikan kesan pertama pada wajah karya-karyanya. Aku tidak menyebutnya ini dengan pencapaianku ditahun ini, terlebih ini bukan apa-apa. Gambar tidak jelas seperti ini bisa dibuat oleh siapa saja. Tapi aku selalu senang jika yang kulakukan bisa bermanfaat untuk kekaryaan seseorang. Ia selalu abadi, tidak masalah bagiku meskipun itu hanya berada dalam sebagian ingatan.

Bertempat di kafe D'Yons, jln. Pramuka-Garut. Diinisiasi oleh Media Penulis Garut (MPG), acara berlangsung dengan kondusif. Lebih dari tiga puluh orang hadir sebagai audiens. Wulan tampil dengan anggun, berbusana hitam bawahan corak dedaun. Wulan bercerita tentang bukunya yang berisi pengalaman perjalanan-perasaannya. Pemilihan diksi pada tulisannya yang bebas dan beberapa diiringi rima, puisi dalam buku ini berisi banyak puisi roman-populer yang belakangan ini digandrungi kawula muda.

"Perasaan selalu membutuhkan pengakuan", ujar wulan saat diskusi buku. Audiens-audiens cukup proaktif pada sesi diskusi menanyakan tentang proses kreatif Wulan menyoal puisi. Aku sangat senang ketika Wulan menjawab semua pertanyaan dari audiens.. Dia sangat terlihat keren dan luwes, aku berpikir bocah ini sudah berkembang dan memiliki keberanian besar, bahkan melebihi kami semua yang ada di sini.

Jalur turun naik kehidupan yang sudah diperkirakan itu masih sering kita terus diulang-ulangi lagi, meskipun kita sendiri tahu kita akan mendapatkan perasaan-perasan yang kadang tidak diinginkan. Wulan Purwanti, tantangan besar kepenyairan salah satunya adalah kepiawaian merawat rasa yang kerap menjadi utopia kebanyakan manusia.

Usai launching buku, aku bersama rombongan Wanakumbara bergeser ke Jl. Patriot, ke tempat tinggal Sandi 'Aro' Suhendar. Kami makan siang bersama, lalu secara impulsif kami bergiliran membacakan puisi yang terkumpul pada buku Wulan yang terbaru. Tiba-tiba sastra dirayakan dengan kegembiraan juga rasa haru.

Persembunyian kadang sengaja ditahan sebagai pertanahan harga diri, tetapi kejujuran hati selalu menawarkan kedamaian.. Tidak mudah untuk memilih diantara keduanya, tapi tentang kejujuran, kita masih bisa memilah dengan cara apa disampaikan.

Seperti Wulan, ia menggunakan puisi sebagai ungkapan yang baginya lebih fasih, dari dalam hati.

Jumat, 22 September 2023

'Anak-anak' Yudhistira

Perjalanan rangkaian Safari Sastra IV bersama penyair Yudhistira ANM Massardi yang kali ini agak menguras tenaga buatku hehe. Bagaimana tidak, kami menyusur dan pentas di lima kota dalam 3 hari. Dan sebagai 'gantinya', setelah hari terakhir pentas di Pacitan kami diberikan 'jalan-jalan' ke Solo.

Aku tidak pernah barang sekalipun singgah-tinggal ke kota ini sebelumnya. Biasanya hanya lewat ketika jenguk saudara di Surabaya, Trenggalek dan Malang. Jadi ini sangat menyenangkan bisa mampir kesini. Pa Yudhis punya segudang teman-kolega, tokoh-tokoh nasional seantero Indonesia. Ini tidak mengherankan untuk namanya yang besar buatku. Setiap dibawa 'jalan-jalan', aku sering dikenalkan pada beberapa diantara mereka yang kebetulan bertemu. Selain itu yang menarik, Pa Yudhis ini punya banyak anak-anak yang 'dibesarkan' di berbagai kota, tapi tentang Solo ini lebih sering disinggung dalam pembicaraan bersama Pa Yudhis ketika aku melakukan perjalanan bersamanya sejak safari sastra-ku yang kedua. 

Saat malam pertama menginap di Solo, akhirnya aku dapat bertemu dengan Gema Isyak Adam, salah satu 'anak' Yudhistira yang sering dibicarakan padaku sejak tahun 2021 itu. Lead tim musikalisasi Safari Sastra Yudhistira yang pertama, personil grub band rock bernama Soloensis. Aku sudah melihat rekaman saat mereka pentas bersama Renny Djajoesman di kanal Youtube karena penasaran, dan memang terdengar 'keras' buatku haha..

Akrab dipanggil Isyak, dengan persona awal dengan rambut panjangnya, 'Ini orang kalau bicara pasti nyentak-nyentak..", ujarku dalam hati haha. Ketika dia bicara, lho malah dia lebih kalem daripada aku yang sering jéjérétéan haha. Sangat berbeda saat dia berada diatas pentas. Kami mengobrol ringan saling bertanya kabar dan interes. Isyak ini juga seorang yang kreatif.. Dia pandai ngrengreng batik, pada bahan kain sampai pada body gitar !. Wawasannya luas, kita sampai ngobroli soal filsafat (yang jadinya tidak ringan ngobrolnya haha). Kalau soal bermusik sudah ngausah ditanya, dia yang musisi 'beneran' tentu punya jam terbang dan pengalaman yang lebih banyak dariku yang masih 'magang' ini hehe. Kalau Pa Yudhis ini membawanya dalam perjalanan sastranya memang sudah kapabel, moal hariwang. Menjadi anak Yudhistira yang dibawa soal permusikan, Isyak ini seperti kakak seperguruanku kalau dalam dunia shaolin hehe. Aku mesti banyak belajar darinya..

Kami juga membicarakan rencana 'keributan' lain di tahun depan bersama pa Yudhis, peluncuran buku kumpulan puisi baru di perayaan 70 tahun Yudhistira pada Februari tahun 2024 di Galeri Indonesia Kaya-Jakarta. Jika memungkinkan, Isyak yang musisi bergenre Rock-Progresif dan selalu bermelodi semangat ini akan berkolaborasi denganku si pemain biola kacangan yang lagunya selalu bermelodi minor yang paling menderita haha. Jika ini lancar, Ini akan menarik buatku.. Sejauh mana kita akan saling 'mentoleransi' tentang pemaknaan musik-sastra bagi kami.

Menjelang akhir pertemuan kami bergantian menyanyikan beberapa lagu ringan bersama-sama. Salah satu oleh-oleh safari sastra yang selalu kudapatkan-Pertemuan menyenangkan !

2023

Sabtu, 02 September 2023

Temu Punggawa Saptawikrama Lesbumi Se-Jawa Barat : my first all night long with the greens


Aku jarang membuka sisi kehidupanku yang ini dan memang belum lama. Sedari awal mulai 'ngepost' foto twibon kegiatan ini banyak yang bertanya-bercelotéh tentang ini. Sebenarnya bukan karena apa-apa, hanya aku agak malu, bukan tentang NU-nya, tapi lebih tentang kredibilitas dan kontribusiku pada NU. Apalagi perangaiku yang 'nyaliwang' sangat tidak mencerminkan masyarakat NU yang seharusnya 'baik'. Beberapa bilang, "Ih ningan", "Teu nyangka.." atau dengan celotehan yang sedang tren saat ini, "Apa kamu se-NU itu ?" 😂

Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia ini mempunyai lembaga-lembaga dibawahnya, salah satunya Lesbumi. Lesbumi ini semacam lembaga kebudayaan Nahdlatul Ulama. Lesbumi menghimpun berbagai macam artis (konotasi kalimat ini lebih kepada seniman, bukan artis yang sering bikin keributan di tv atau yang labil tiba-tiba ganti arah ke pemerintahan) : perupa, pemain pentas, pemusik, sastrawan dan ahli seni lainnya. Lembaga ini juga beranggotakan ulama yang memiliki latar belakang seni cukup baik. Sejujurnya aku juga tidak tahu kenapa aku berada di sini. Tiba-tiba berada diantara guru-guruku, orang-orang berwawasan tinggi (bukan hanya tentang seni tapi juga tentang keilmuannya tentang NU dan keagamaan). Tapi yang jelas tentang ini, buatku ini adalah salah satu warisan Alm. Pa Kyai Abun untukku.. Saat masih jeneng Beliau 'menitipkan'ku pada 'orang-orang hijau' meskipun beliau tahu kiranya aku bukan tipikal orang yang dapat 'bergumul' disini. Jadi.. Lepas dari apapun, dawuhnya, asalkan aku bisa 'bermanfaat' saja.. (meskipun lebih sering 'dimanfaatkan' sih 😂) Dan tentu aku tidak bisa menolak Beliau.

Tentang Saptawikrama Lesbumi, ini adalah keputusan strategis yang paling ditunggu oleh PBNU dalam Rakernas LESBUMI karena merupakan bagian integral dari pedoman kebijakan Nahdlatul Ulama (NU) dalam merumuskan kebijakan dan menentukan sikap terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi warga NU (Nahdiyin) pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Keputusan strategis yang meneguhkan posisi Lesbumi PBNU sebagai Garda Nasional Peradaban, Kesenian dan Kebudayaan Islam Nusantara ini menandai kehadiran dan fungsi penting Lesbumi dalam meneguhkan Islam Nusantara untuk membangun peradaban Indonesia dan dunia. Saptawikrama adalah Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara yang meneguhkan Hasil Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, pada 1-5 Agustus 2015. Aku tidak akan bercerita banyak tentang ini karena aku yakin teman-teman NU sudah mengetahui tentang ini.

Temu Punggawa Saptawikrama Lesbumi se-Jawa Barat yang diadakan di PWNU pada 31 Agustus-1 September ini barangkali menjadi media silaturahmi para 'Punggawa' Lesbumi yang berisi 27 anggota Lesbumi PCNU kabupaten dan kota yang berada di Jawa Barat.

Ketua PCNU Kab. Tasikmalaya, KH. Atam Rustam (tengah)

Diberangkatkan dan didoakan langsung oleh Ketua PCNU Kab. Tasikmalaya, KH. Atam Rustam Lesbumi PCNU Kab. Tasikmalaya memberangkatkan 6 orang perwakilan, diantaranya Irfan Hilmi sebagai ketua, Didin Syarifudin sebagai wakil ketua, Teteng Mukhlis Aziz (sebagai anggota, tidak menjabat di lesbumi pcnu karena Pa Teteng juga ada dalam kepengurusan PWNU, tidak boleh merangkap jabatan), Neng Simah sebagai sekretaris, Diana, dan aku sendiri.


Acara dimulai agak terlambat (seperti kami perwakilan Lesbumi PCNU Kabupaten Tasikmalaya yang juga datang terlambat hehe).


Kami tiba di lokasi saat sudah masuk acara pembukaan, tiba di aula besar PWNU kami langsung bergabung dengan peserta lain dari berbagai daerah.


Ada beberapa lukisan sisa acara pameran PWNU, salah satunya karya Siti Syaimah Ruhiat, adik kelasku saat di Cipasung.

D'Ranyay sedang melantunkan rajah bubuka

Dibuka oleh rajah bubuka oleh D'Ranyay, ini barangkali salah satu tim divisi musik Lesbumi PWNU, rajah yang dibawakan adalah kalimat dan shalawat Laa Haula Wala Kuwata Illa Billah dan Shalallah 'Ala Muhammad dikemas apik diiringi kolaborasi instrumen tradisi dan modern terdengar sangat syahdu, kami para peserta bisa mengikutinya dengan mudah dan pereum beunta saking merdunya. Aku pribadi merasakan goosebumps saat mereka membawakan rajah, melipir sedikit, aku merasa saat di acara Everness Festival - Hungaria tiga tahun lalu. Pada segmen spirituális zene (nyanyian spiritual) yang biasa dipakai untuk stimulus meditasi dan yoga pada acara itu meski yang dibawakan kebanyakan mantra Buddha dan Hindu. Ternyata rajah 'kita' juga sangat memungkinkan sekali untuk memberikan konsentrasi spiritual. D'Ranyay membuktikan itu untukku secara pribadi. Suatu saat aku mesti membuat hal seperti ini di kampung halaman atau dimanapun.. Berharap seperti mereka yang bisa memberikan kebahagiaan, pengingat kepada yang Maha Kuasa dan kerinduan kepada Rasulullah dengan cara yang indah.

Ketua PB Lesbumi, KH. Jadul Maula (tengah)

Acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan yang diberikan oleh ketua Lesbumi PWNU Dadan Ahmad Hamdani, lalu ketua PB Lesbumi KH. Jadul Maula dan ketua PWNU Jawa Barat KH. Juhadi Muhammad sampai break time ashar.

Ketua Lesbumi PWNU Jawa Barat, Dadan Madani (tengah)

Acara kembali dimulai setelah shalat ashar, diisi oleh penampilan-penampilan dari beberapa perwakilan Lesbumi dari berbagai daerah. Diantaranya Bandung Barat, Cianjur, Bogor, Ciamis, Tasikmalaya dan tentu saja tuan rumah Lesbumi PWNU. Tipikal penampilan relatif bervariasi, aku melihat betapa Lesbumi setiap daerah yang hadir di sini memiliki potensi yang besar menyoal kredibilitasnya tentang pengetahuan seni dan sisi spiritualitasnya masing-masing.


Break maghrib, acara disambung acara inti yakni diskusi. Ada tiga bahasan utama pada acara temu punggawa tersebut yaitu arah kebijakan kebudayaan Jabar, islam, dan kebudayaan di Jawa Barat yang diampu pada tiga akar kebudayaan, yaitu Sunda, betawi dan Pantura. Kang Dadan sebagai ketua lesbumi PWNU Jawa Barat menyampaikan PR besar Lesbumi NU di Jawa Barat saat ini yaitu terkait bagaimana mengangkat jamiyah NU dari sisi kebudayaannya agar seimbang dengan Jatim dan Jateng. Dan memang ku sadari juga Lesbumi pwnu Jabar belum begitu 'terlihat' (bisa jadi karena memang aku baru belakangan ini bergabung, dan aku tidak tahu hal-hal yang terjadi sebelumnya). Apalagi di subdistrik seperti di pc-pc, pun di kabupaten Tasik tempat tinggalku sekarang.


Narasumber pada diskusi ini antara lain seniman budayawan Acep Zamzam Noor, DR. KH. Asep Salahudin (keduanya memiliki kyai asli Tasik, KH. Ilyas Ruhiat - Cipasung dan Abah Anom - Suryalaya) selain itu dan DR. Ifa Faizah Rohma, MP.d dari LP Maarif pada sesi pertama. Diseling istirahat yang diisi musikalisasi puisi oleh Kg. Adew Habsta, Teh Cici dan kawan-kawan D'Ranyay, diskusi dilanjutkan pada sesi kedua dengan narasumber KH. Jadul Maula dan KH. Sastro Adi. Acara diskusi berlangsung sampai lewat tengah malam, buatku yang pertama kali ikut kegiatan ini memang mengaprove tentang 'Orang-orang NU ini kuat soal begadang-begadangan' haha.. Tapi diskusi berjalan relatif efektif dan interaktif.

DR. KH. Asep Salahudin

Ada yang menarik yang kudapat dari diskusi, seperti yang diujarkan KH. Asep Salahudin, "Seni adalah washilah, bukan syariah", jadi bagaimanapun tradisi dan agama akan berbenturan sampai kapanpun, tapi kita bisa mengambil 'sufisme' keduanya sebagai jalan tengah. Tak selesai begitu saja, Acep Zamzam Noor menutup diskusi dengan punchline-nya, "Lesbumi itu harus kreatif, imajinatif dan surealis", disambung oleh KH. Asep Salahudin, "Dan dalam diri seorang Lesbumi perlu terdapat keseimbangan body, mind dan spirit".


Oh ya, sesuai yang kuharapkan tentang kegiatan ini, aku bisa bertemu dengan beberapa orang hebat, diantaranya penulis Kg. Iip D. Yahya. Penulis. Kg. Iip menulis buku "Ajengan Cipasung: Biografi KH. Moh. Ilyas Ruhiat" terbit pada tahun 2006, yang bukunya baru kubaca saat usia SMA, setelah 5 tahun KH. Ilyas Wafat.. Buku ini begitu berjasa untukku yang tidak bisa mengenal KH. Ilyas secara 'langsung', sedikitnya aku bisa membayangkan perangai Kyai yang orang-orang sebut sebagai Ajengan santun.. Kang Iip juga yang memasukkan tulisanku padai website NU Jabar Online tentang obituari kehilanganku terhadap KH. Abunyamin Ruhiat yang wafat november tahun lalu.


Isa Perkasa. Untuk khalayak per-seni rupaan Jawa Barat barangkali nama Isa Perkasa sudah tidak asing didengar. Di kalangan pelukis nasional, selain Hanafi, Acep Zamzam Noor, Herry Dim dan Tisna Sanjaya, gaya lukisannya dulu juga jadi influence buatku yang waktu remaja itu masih belajar melukis. Selain mengelola galeri Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, pelukis nasional-internasional kelahiran Majalengka yang menetap di Bandung ini ternyata 'terlibat' dalam É-Én-Uan dan akhirnya kami bertemu lagu disini setelah 4 bulan lalu aku mengisi acara di galeri yang dikelolanya.

Dua hari ini terasa melelahkan, tapi juga 'menyegarkan' untukku bahwa ternyata NU memiliki 'ruang-ruang' yang khusus, bahkan untuk orang-orang yang sering dikatai 'nyelénéh' di sosialnya. "Setiap orang punya bagiannya masing-masing", seperti yang dikatakan alm. Kyai Abun  padaku barangkali diperlihatkan di sini. Makna dari Al-Qur'an Surah Ali Imron ayat 190, yakni "Membaca pergerakan dan perputaran bumi ini adalah tanda orang-orang yang berakal." Orang-orang yang menyukai seni (bukan ikut-ikutan tren) biasanya memiliki tingkat kegelisahan tinggi yang progresif mengenai apa yang mereka rasakan, dilihat dan dengar. Dan permasalahannya bagi mereka adalah langkah proses untuk menggunakan 'bahan' tersebut supaya dapat dirasakan outputnya (oleh siapapun) dengan lebih indah dan patut. Dan mungkin bagi seorang muslim, ini juga sebagai pengingat tentang nisbat. Keindahan kecil dari makhluq tidak akan pernah berbanding dengan keindahan Khaliq.


Setelah acara selesai, rombongan Lesbumi PCNU kab. Tasik kembali pulang. Tapi aku dan Neng Simah menginap di PWNU, Neng Simah mesti menghadiri Istighosah Kebangsaan yang diadakan PWNU Jabar esok malam harinya.

2023


Minggu, 06 Agustus 2023

Summer Soilstice by Kuluwung

Diwan Masnawi sedang kembali ke tanah air disela 'peredarannya'. Sebagai salah satu putera mahkota Cipasung dan anak dari seniman-budayawan besar, teman masa kecilku ini jadi partner berkegiatan kreatif bahkan 'picilakaeun' setelah kami sama-sama beranjak dewasa. Akhirnya pertemuan kami kembali ini menghasilkan rencana kegiatan yang terealisasi malam kemarin.

Dari yang kudengarkan, Diwan berkeinginan untuk 'mengguar' dan mengenal kembali salah satu unsur alam yang vital dalam kehidupan yakni 'tanah'. Sebagai seorang muslim, tanah barangkali sedari awal sudah dikaitkan dengan penciptaan secara sejarah. Sebagai manusia, kehidupan kita juga tidak bisa lepas dari unsur tanah.


"Dalam budaya perkotaan dan sosial ekonomi kita hari ini setiap orang mampu makan tanpa harus menanam, memanen, mengolah, juga memasak bahan makanan. Kita hanya tinggal mencari warung, dan langsung menyantapnya saja - dengan syarat kita punya uang. Kita bisa makan dari hasil mengajar matematika di sekolah, atau menjadi model di majalah, tanpa harus menyentuh tanah dan air atau pisau di dapur."

"Kita bisa melompati dua tahap, yakni produksi dan persiapan, lalu dengan begitu saja tiba pada tahap konsumsi. Efisien, tanpa perlu repot-repot."

"Namun, sempatkah kita, menatap makanan kita dan menerawang lebih jauh tentang bagaimana perjalanan makanan itu bisa sampai di piring kita. Perjalanan nutrisi yang menjadi energi bagi kita menjalani keseharian."

"Lebih jauh dari itu, sekitar 95% makanan kita berasal dari tanah. Namun, sempatkah kita menyentuhnya dan menghayati tubuh besar kita yang terhampar di permukaan Bumi ini, yang kelak kan menyatu dengan tubuh kecil kita. Sebagai pertautan antara makrokosmis dan mikrokosmis ini. "

Soilstice. Gabungan dua kata yang dipilih Kuluwung ini berasal dari kata Soil dan Stice. Soil yang berarti tanah dan Stice yang berarti titik balik matahari. Bermaksud 'melihat kembali' pada satu unsur kehidupan penting yang untuk beberapa kini nilainya terlihat dipandang sebelah mata.

Kuluwung sebagai former membuat kegiatan diskusi dan workshop pada Soilstice ini. Diskusi tentang tanah secara scientific dan filosofis dari berbagai perspektif karena dihadiri juga oleh Bapak Jajang Indra, guru basa sunda, budayawan yang juga seorang naturalis sebagai salah satu narasumber. Bagaimana etiket pandangan seorang 'Sunda' memaknai tanah. Bagi masyarakat umum, barangkali kita juga sudah mulai tidak mengenali tentang 'tanah', salah satu unsur semesta yang telah memberi kita 'fasilitas' kehidupan. Sebagai contoh kecilnya seperti anak-anak kita terkesan dijauhkan dari tanah sejak kecil, "Kade kotor !", kalimat yang mengarah bahwa tanah adalah hal yang mesti dihindari (dalam beberapa kasus ini menyebabkan alergi karena perkembangan fisik pada anak tidak begitu 'mengenali' tanah).

Higienis menurut pandangan kita yang sekarang adalah bersih setelah kita mencuci apapun (termasuk mencuci 'uang', 'otak' juga 'ideologis', cih) dengan sabun atau bahan kimia lain. Ruang untuk tanah 'tumbuh' sudah semakin berkurang karena alih fungdi dan pembangunan. Polusi-polusi yang dirasakan 'diatas' & 'dibawah' yang makin marak, kondisi tanah semakin jadi 'tidak sehat'. Efek lebih jauhnya adalah dapat berpengaruh pada unsur kehidupan lain seperti air, udara dan tetumbuhan.

Tanah bersedia kita 'injak'.
Tanah bersedia merendah supaya kehidupan diatasnya dapat tetap 'melangkah'.

Sudahkah kita bersyukur dan berterimakasih untuk itu ?

Kegiatan dilanjutkan dengan workshop pengolahan tanah sebagai media tanam oleh Wildan Ahmad sebagai streamer yang sedang naik daun dan seorang praktisi pertanian milenial. Ini barangkali hal pertama dan paling mudah untuk dilakukan sebagai pemanfaatan tanah yang bisa kita lakukan dalam berkehidupan sehari-hari.

Wildan menjelaskan detail keperluan material yang perlu dipersiapkan ketika menggunakan tanah sebagai media tanam, secara alami dan secara artifisial kimia, yang mana yang lebih baik tentu adalah yang alami ujarnya. Tapi kita mesti menawarkan 'waktu' yang agak lama sebagai nilai tukar yang patut untuk memaknainya.

Sebenarnya alam akan 'recover' dengan sendirinya, tapi pada kehidupan zaman industri ini yang terkesan terburu-buru, yang terpenting adalah kita bisa mendapat keuntungan besar, pasti tentang itu. Ketika ada hal yang 'diringkas' baik tentang bahan, proses, dan waktu, itu akan mengakibatkan hal lain yang tidak 'sapanuju'.

Kita mungkin bisa saja acuh atas efek negatif itu jika semisal skalanya kecil, tapi lain ceritanya jika efek negatif yang dihasilkan skalanya besar sekali karena penyumbangnya permasalahan ini memang banyak. Manusia mesti bersiap dengan apa yang terjadi dengan itu, bahkan bagi kita yang tidak sama sekali ikut campur, seringkali keadaan berakhir dengan pertanyaan yang jawabannya abu-abu.

Ba'da maghrib, sesi terakhir dari rangkaian kegiatan Soilstice ini adalah pertunjukan seni musik tradisional Tarawangsa. Tarawangsa adalah salah satu instrumen tradisional yang cukup tua, bahkan lebih tua dari ensembel Karawitan yang dewasa ini populer dan terangkat lagi. Tarawangsa sudah jarang ditemui di masyarakat, pun di daerah perkampungan. Dalam tradisi suku sunda, barangkali Tarawangsa adalah salah satu kesenian yang berkaitan dengan tanah - budaya pertanian yang merupakan letak dasar atau salah satu fondasi kehidupan.

Sebelum perform Katara Badranaya yang dilead Kg. Andy Uger de Blanc membawa dua personil lain, Kg. Deki di Tarawangsa & Kg. Aduy di bagian jentreng menjelaskan tentang Tarawangsa, sejarah, waditra dan keterkaitannya pada kehidupan kesundaan dan secara umum.

Dipenghujung acara para partisipan dipersilakan menari untuk merespon dan merefleksikan suara Tarawangsa dalam bentuk gerakan tari sederhana.

Semua memejamkan mata, semua bertelanjang kaki. Mendengar suara, merasakan bumi. Aku merasa Katara Badranaya membawa Kuluwung pada trance yang positif sebagai bad energy-bad emotional release, ini seperti meditasi.

Dengan cahaya temaram pada malam. Soilstice yang diusung oleh Komunitas Kuluwung mengantarkan kerinduan kami semua tentang suasana purba dengan cara yang bersahaja. Kembali dan mengembalikan semuanya pada sang Maha.

*Foto-foto : dokumentasi Sopia Nindia Anggraeni - Cep Thoriq

Selasa, 01 Agustus 2023

Tiger Lair

Selama belajar di EV, teknis pengkondisian partisipan adalah dengan membuat kelompok-kelompok kecil. Dari 18 partisipan imersi, kami dibagi menjadi lima kelompok dengan jumlah 3-4 orang perkelompok. Ini untuk memudahkan alur informasi saat pembelajaran dan ini memang sangat efektif. Meski begitu ini tidak jadi membuat sekat antar sesama partisipan, kami juga punya banyak waktu untuk berbaur dengan teman-teman yang lain.

Angkatanku di EV kali ini sangat beruntung karena setiap kelompok didampingi oleh dua leader native speaker. Satu guru senior dari tim Pennsylvania dan satu mahasiswa internship dari perguruan tinggi di Amerika.

Tim kami bernama Tiger Lair, ini adalah nama yang diusulkan oleh Ilham. Lair dapat bermakna sarang atau suatu tempat yang ada di belantara hutan. Kami menganalogikan bahwa kelompok kami adalah harimau-harimau dengan semangat berburu pengetahuan di EV. Malam pertama setelah orientasi kami membuat bendera kelompok kami, Filbert dan Rezal mengambil bagian besar dalam ini, karena aku dan Ilham tidak begitu piawai soal menggambar.

Yollande 'Landy' William
Dari semua pengajar dalam tim Pennsylvania, Ms. Landy barangkali adalah pengajar paling tua dari segi usia. Tapi meski begitu desire mengajarnya masih tinggi. Ms. Landy selalu on-time dan strict tentang penggunaan waktu. Awalnya aku agak kesulitan ketika berkomunikasi pada beliau. Ms. Landy berbicara dengan nada rendah dan pronounce speaking yang cepat, kadang beliau tidak sadar bahwa kami masih belajar tentang listening hehe. Selain itu setiap kali aku-kami bertanya tentang hal yang tidak dimengerti dalam pembelajaran Ms. Landy tidak langsung memberikan jawaban konklusi, Ms. Landy selalu membawaku-kami untuk berputar dulu tentang pertanyaan yang diajukan, kadang saat 'menjelajah' fikiran, kami jadi menemukan sendiri jawaban dari apa yang kami tanyakan. Beberapa hari setelah hari awal, aku lebih merasa cara mengajarnya adalah seperti pola parrenting orang tua kepada anak saat di rumah, advice-nya selalu membuatku tertegun. Aku seperti diceritai oleh Ibuku sendiri, dan memang aku merasa beliau adalah figur seorang Ibu saat di EV. Barangkali karena usianya, dan melihat kami yang masih muda. Kendati di usianya yang tua, Ms. Landy selalu bersemangat dan kadang berteriak ketika bersemangat hehe. Tidak berlebihan jika semua membandrol beliau dengan nama 'Mother's Tigers'.


Kami berfoto di depan bangunan utama Green Gate saat hendak makan malam.

Katy Marie 'Swift' Ross
Native speaker dari tim mahasiswa internship yang menjadi leader kami. Berbackground studi pendidikan, Katy adalah perempuan dengan intelegensia tinggi dan seorang problem solver. Ini terbukti ketika dia menyelesaikan berbagai problema-problema yang terjadi di kelompok kami. Kendati berusia lebih muda dariku, kurasa Katy lebih dewasa dariku dalam berbagai hal. Dia bisa mengorganisir kami dengan baik. Kami Tiger Lairs adalah kelompok yang iya iya tapi rewel hehe, Katy mengurusi semua kebutuhan kami saat kegiatan, bahkan tentang urusan makanan, tapi kami tidak pernah melihatnya datang dengan alis yang dikerutkan. Dia selalu berusaha ramah dan tidak memperlihatkan kelelahannya (padahal disamping mengurusi kami dia juga punya banyak Pe-Er paper yang harus diselesaikan di perkuliahannya). Pada kelas tambahan yang impulsif, Katy juga mengajar tentang  penulisan kerangka One Minute Speech (Katy memeriksa tulisan kami satu persatu, bahkan dengan koreksi gramatikal-nya), lalu penulisan essai, dan metoda ketika menghadapi interview pada perusahaan asing. Kami Tiger Lairs tentu beruntung dan bangga  'diasuh' olehnya.

Belakangan, Katy ketahuan pandai bernyanyi dan bermain piano. Kami Tiger Lairs jadi menambah 'Swift' pada nama tengahnya.

Ilham Abdullah, the mature one.
Diantara empat anggota kelompok Tiger Lairs barangkali Ilham adalah yang paling dewasa dalam pemikiran (juga paling tua dalam segi usia 😆🤟), tapi itu tidak berarti menaruh jarak pada adik-adiknya di Tiger Lairs. Dengan pengalamannya bekerja di Jepang, Ilham punya banyak pengalaman menarik untuk diceritakan. Ilham yang supel dan banyak pengetahuannya dapat dengan mudah bergaul dengan semuanya. Dia selalu excite pada hal-hal yang baru yang ditemukan dalam keseharian kami di EV. Ilham juga jadi sasaranku ketika aku hendak 'curhat', karena dia selalu punya penyelesaian yang bijak (maaf yaa hehe kamu jadi kerepotan mendengarkan ceritaku 😅) . Di hari-hari terakhir program, Ilham membelikan kami semua para partisipan laki-laki makanan seblak yang membuatku hampir bolos kelas Ms. Susan keesokan harinya gara-gara sakit perut hahaha. Tapi itu malam yang menyenangkan, kami mengobrol banyak hal sambil makan-makan.

Temanku 'nakal' ketika di EV ini adalah seorang muslim yang baik pribadinya daripadaku. Aku selalu terdiam saat dia membaca ayat Al-Qur'an dengan tartil di kelas interfaith dialogue.

Fibert 'Fillie Fish' Elian, the quiet.
Dengan persona awal saja aku tahu dia seorang yang jenius, ini terbukti ketika Filbert menyelesaikan-mengkomunikasikan ide tentang penampilan yang kami rencanakan pada dua Ms. Landy dan Katy. Filbert adalah anggota kami yang paling pendiam. Aku juga seorang pendiam dan penyendiri, tapi dia lebih pendiam haha. Matanya memaknai banyak hal, dia orang yang pertama sadar saat diantara kami kelihatan bengong. Dia pasti bertanya 'apa kau baik-baik saja ?', sebuah atensi yang tidak dimiliki oleh banyak orang. Tapi pada awal-awal, aku selalu kebingungan menebak perangainya. Dia bisa tiba-tiba sangat diam dan tidak berbicara sedikitpun setelah dia terlihat menikmati momen sebelumnya. Maksudku jika memang dia memiliki sesuatu yang tidak menyenangkan aku-kami bisa mendengarkannya.. Tapi seringkali dia hanya menggunakan isyarat angguk kepala atau bagian alis dan mata. Kadang dia mengirimkan chat yang panjang hanya karena dia 'malas' berbicara. Belakangan aku mulai mengerti kepribadiannya karena kami mulai dekat satu sama lain.

Fillie yang memeluk kepercayaan Buddha adalah temanku bangun di pagi hari. Dia selalu bangun lebih dulu daripadaku yang wajib shalat shubuh. Dia kentara sering berkeliaran dini hari hanya untuk berterimakasih pada pepohonan, binatang-binatang, tempat dan alam sekitar. Dibalik sifatnya yang pendiam, aku menemukan bahwa dia yang paling menjaga keterikatan.

'Baby' Rezal Alfarizky, the cheerful youngest tiger.
Si kesayangan Ms. Landy karena mungkin si Bungsu di Tiger Lairs, dan dikenal semua orang di EV. Rezal adalah seorang dengan perangainya yang selalu riang, dia bisa mencerahkan keadaan sesuram apapun dengan prilaku dan cara bicaranya. Semua akan tersenyum tertawa dengan kehadirannya. Kadang-kadang aku suka lupa umur ketika bersamanya haha. Meski begitu, Rezal ternyata adalah seorang volunteer di suatu yayasan sosial di Bandung, Rezal punya kepedulian tinggi dengan mengajar bahasa inggris pada anak-anak yatim dan kurang mampu. Selain itu dia adalah super stars Tiger Lairs, dia mengguncang EV saat panggung karaoke night bersama partnernya Celine Sophia !

-

Ini foto kami saat hari terakhir di pembelajaran bahasa inggris dengan Ms. Susan.


Ini foto kami saat malam terakhir setelah refleksi. Masing-masing dari kami mendapat penghargaan dengan bermacam-macam predikat dari dua leader kami.

Ada yang jadi pikiranku tentang tim ini, maksudku kami dikelompokkan secara acak, tapi rasanya kami tiba-tiba merasa cocok dan melengkapi satu sama lain.. Ini membantu kami juga belajar dengan lebih baik saat di EV. Sempat kutanyakan pada panitia registrasi pendaftaran, saat kami menulis nama kami ketika registrasi, mereka mendoakan setiap dari kami supaya mendapat companion yang pas dengan kepribadian kami. Dan aku bersyukur dengan itu.. Kami masih berkomunikasi satu sama lain meskipun program EV telah selesai..

Aku beruntung ada diantara mereka. Terimakasih..