Excerpt from the other sight Time has wonderful way of showing us what really matters

Kamis, 01 Mei 2025

Ignasia : Ngolémbar


Katineung naha janten ke’eung.
Padahal bulan keur nembongan

Ci soca nyangkrung nyaksian
Jungjunan kululuasan
Ngantunkeun kuring sorangan
Dipikir da memang takdir ilahi


-Cicih Cangkurileung, Kliningan.

-

Aku tidak pernah menyukai Jakarta, sebagai tempat yang harus kutinggali. Tempat segala masalah terbit (terutama soal kebijakan pemerintah) yang katanya sampel wajah negara. Dari mata seorang pemuda kampung yang kehidupan sehari-harinya berjalan dengan sendirinya, Jakarta memperlihatkan banyak pertanyaan yang entah harus ditanyakan kemana. Hal kecil seperti salah jalan saja di sini jadi begitu rumit, kadang harus memutar jalan berkali-kali sampai membuat alis berkernyit. Pergerakan yang serba terburu-buru, udara panas, air tidak segar. Hari tidak pernah mati, tapi kamu adalah sendiri ?. Orang-orang Jakarta, atau siapapun yang mencoba peruntungan di tempat ini kukira sungguh-sungguh pemberani. : atau tak punya pilihan lain lagi.

-

Selama tiga hari aku datang ke sini untuk memaknai obituari seorang yang berjasa dan kusegani, selama itu juga aku bulak-balik Jakarta-Bekasi. Setelah semua selesai aku hendak pulang ke kampung. Tapi aku ingin memastikan sesuatu, kedamaian lain yang selalu jadi pertanyaan orang-orang padaku setelah lima tahun berlalu, tentang siapa yang telah mengalahkanku.

: Seorang yang selalu mengirimkan senyum bahagianya saat ke gereja, seorang yang menyalamiku saat aku merayakan Idul fitri. 

Dari itu aku kembali lagi ke Jakarta. Benar, kota yang memekarkan banyak gulana.

Beberapa menit sebelum tengah malam, kami merencanakan sua setelah dia selesai gereja, setelah aku seharian berkeliling kota. Ia memilihkan kedai yang namanya benar-benar hanya bisa disimpan di dalam kala. Aku sebenarnya tidak peduli di manapun, selama itu sama-sama tidak menyulitkan kita.

Esok harinya aku datang lebih dulu. Barangkali begitu lelaki lumrahnya memulai pertemuan dengan perempuan yang menjadi tuju. Memilih kopi tanpa gula, membayar dengan uang ‘nyata’ ketika orang-orang sudah ramai menggunakan transaksi yang tak terlihat mata.

Menunggunya datang, aku duduk di lantai dua. Sambil membaca buku yang ditulis Joko Pinurbo yang entah kenapa beberapa puisinya cocok dengan hari-hari terakhirku. Sebagai harga lain untuk bertemu, kita mesti sama-sama menukarkan jarak yang jauh dan waktu.

-

Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu

Di kota kata masih ada mata yang hening pandang
Mata waktu, mata sunyi : memanggil, menelan.
Seperti gua yang menyimpan hangat di dalam
Ceruk cinta yang haus mata. Ceruk perempuan

Malam ini aku aku akan tidur di matamu.


-Joko Pinurbo, 2004.

-

Tidak lebih dari sepuluh menit, dia datang mengucapkan salam ringan padaku. Mengenakan baju berwarna coklat canvas, dia bilang untuk pertemuan dia harus memastikan mengenakan pakaian yang 'pantas'.. Kujawab aku tidak pernah melihat tentang itu. Aku sudah merasa senang, selama ia masih kenan, selama kita ada berdekatan.

Duduk saling berhadapan, memulai obrolan dengan kabar seperti seorang yang sering bertemu. Membawakan cerita masing-masing pada hari-hari lain sebagai sumbu, sebelum hangat nyala sua menjadikannya merdu.

-

Aku tidak bisa akan datang ke dalam pesta
Di mana akan kaupertemukan aku
Dengan sajak-sajakku, seperti mempertemukan
Dua anak rantau yang lama memendam rindu
Tapi pura-pura sungkan bertemu.

- Aku Tidak Bisa Berjanji, Joko Pinurbo. 2004

-

Kita sama-sama tersenyum saat membaca penggalan puisi itu berdua. Karena aku hendak mengajaknya bertemu saat aku dalam acara sehari sebelumnya. Tapi dia berhalangan hadir karena harus ke gereja. Dia meminta maaf padaku tentang itu. “Kita sudah dan sedang bertemu, jadi tidak perlu memikirkan tentang itu..”, ujarku.

Pembicaraan mengembarakan kita, membuat waktu mengalir tak terasa. Aku jadi tiba-tiba lebih banyak bicara. Tapi Ia selalu mendengarkan setiap perkata atau tanya, khawatir membuatnya bosan, pelan aku meminta maaf padanya. Ia memaklumiku sebagai hanya lelaki kampung yang suka melukis, senang merawat bunga-bunga yang dapat ia temukan di mana saja, "Tidak apa-apa, aku suka..", ujarnya.

Itu membuatku merasa sangat 'diterima'.

"Namamu tersemat Antonius. Ini agak membingungkanku..", tanya nya padaku. "Itu nama pemberian dari seseorang untukku. Ini waktu dan seorang yang tepat. Jika kau tahu, ceritakanlah tentang nama ini padaku..", jawabku sambil tersenyum. "Saint Antonius, seorang suci Katolik. Seorang pelindung untuk hal-hal yang hilang. Bahkan pada kami seorang katolik, ada do'a khusus untuknya. Dipanjatkan untuk memohon berbagai hal, terutama untuk membantu menemukan barang-barang yang hilang, mendapatkan pekerjaan, dan mendapatkan kedamaian batin. Termasuk cinta yang belum ditemukan.", ia menjelaskan dengan mengembalikan senyuman.

-

Tapi, kukira pada akhirnya semua pembicaraan menyenangkan itu hanya untuk mengalihkan masing-masing kesadaran saja. Kesadaran tentang bahwa kita berada pada jalan yang berbeda. Dan kita tidak bisa melakukan apa-apa.

Seketika kita jadi saling terdiam. Lalu Ia melihat kecamuk di mataku, dan dia meredakannya, memegang tanganku.

Ada linang di mataku. "Tidak.. Aku membuat seseorang menangis.. Maafkan aku..", ia jadi berbicara tergesa. "Kamu tidak melakukan apapun.. Dan kamu tidak salah.. Tidak perlu meminta maaf..", sejenak aku memalingkan pandanganku.

Sebuah lagu mengalun di kedai itu, dia mengujar padaku kenapa harus terdengar lagu ini. "Sejujurnya, aku tidak tahu lagu ini.. Aku tidak pernah mendengarkannya..", ujarku padanya. Lalu aku menunjukkan lagu-lagu yang sering kudengarkan.. Pange Lingua Gloriosi, Credo I-IV, Kyrie Eleison. Ia terlihat kaget bahwa aku mendengarkan lagu-lagu ini. "Ini nyanyian kesukaanku.. Nyanyikanlah sedikit..", matanya melihat padaku. "Suaraku tidak bagus. Tidak hari ini.., mungkin untuk pertemuan lain ya..", jawabku..

: Saling menangkap suara, keramaian jadi terasing pada kami berdua.

“Boleh aku memelukmu ?”, tanya nya padaku. “Biar aku yang berpindah ke sebelahmu. Tetaplah di situ..”, jawabku. Kami jadi duduk bersebelahan. Tangannya melingkar dipinggangku, kepalanya tepat di dadaku. Kami berada pada keheningan.

"Jantungmu berdetak kencang.", ia menyela dalam pelukan.

"Bagaimana tidak, setelah ini aku akan kembali mendapat hari-hari sumbang". Jawab jujurku dari kedalaman.

Ia menyela tengadah pada wajahku, menyisir rambutku dengan jarinya dengan pelan, "Rambutmu bagus..". "Kamu menyukainya ?", ujarku. "Iya..", pelan menjawabku. "Aku tidak sering bersama perempuan. Dan selain ibuku, kau perempuan pertama yang mengatakan menyukai rambutku.., hal yang kusukai yang ada pada diriku sendiri.. Beberapa kali waktu lalu aku memotongnya untuk seseorang, tapi itu tidak pernah cukup untuk seorang atau siapapun yang tidak benar-benar menerimaku. Jadi.. Aku berterimakasih padamu..". Ia diam memelukku lagi.

Ia mencium kalung salibku. Aku mencium harum rambutnya.

"Aku membisikkan sesuatu pada salibmu..", ujarnya. Aku tidak menanyakan ia membisikkan apa.. Tapi matanya memberitahuku bahwa itu hal yang baik bagiku, seorang yang tak memiliki kuasa.

“Ini tidak baik.. Setelah ini carilah seorang lain, dan lepaskan aku.”, akhirnya aku mendapat kalimat ini darinya. “Itu akan kujawab nanti.. Sekarang, tetap duduk di sini. Aku tidak seperti yang lain yang memiliki banyak waktu denganmu lagi..”. : Kita masih sama-sama diam.

-

"Sampai kau menemukan seorang yang lain bagimu. Dan mungkin bertahun yang lain lagi bagiku."

-

Nama Antonius itu bagiku bekerja berkebalikan. Karena nyatanya aku lebih banyak mendapat kehilangan.

-

Ignasia

Di sisi sebuah kota. Kau dan aku berdua
Berbicara bagaimana kita akan melewati segalanya.
Lalu sama-sama lirih berbisik meminta jalan paling baik
Yang kelak akan diberikan masing-masing Tuhan kita.

-Jakarta menuju Tasik, 2025

-

Memberikan rasa pada hal apapun, seseorang, benda-benda, peristiwa, tempat dan waktu dapat membuatnya tinggal lebih lama bahkan abadi dalam ingatan-dalam jiwa. Barangkali semua perasaan berasal dari muara yang sama. Tapi disadari atau tidak, kesedihan tinggal lebih lama daripada bahagia.

Keduanya dimulai dari kata tanya yang berbeda. Bahagia dengan karena, sedih dengan mengapa.

-

Pami teras kana takdir,
Jungjunan pasti diri loba mungkir
Saha nu lepat?
Anu ngolémbar
Duh, ngolémbar

-

Padanya, aku sangat berterimakasih. Sekejapan, aku merasa sangat hidup, sebelum kembali redup.

Memasuki bulan kelahiran, aku pernah diberikan kebahagiaan oleh seseorang 'dari seberang jalan'.

Rona kedamaian yang langka. Darinya, aku mengetahui bahwa hatiku ternyata masih dapat bekerja.

: Terimakasih, Ignasia.


2025


Senin, 21 April 2025

Mengunci Ingatan : Setahun Kepergian Yudhistira

 


Kita pun menonton awan berdansa dengan bulan
Seperti para lansia menarikan kenangan kesenangan bersama cucu
Memandikan hujan
Hingga kau datang mengalungkan kedua tangan
Di leher yang tak kuat lagi menyangga kerinduan
Sebab pelupuk mata mendambakan pejam

Yudhistira ANM Massardi - Kepada Waktu yang Tak Pulang

-


Aku selalu merasa bahagia bahwa sampai sekarang aku masih selalu tetap dilibatkan tentang
Yudhistira Massardi. Dan si ‘anak’ jauh ini merasa agak sedih karena merasa tidak melakukan apa-apa selain mendoakan segala kelancaran dari maksud Bu Siska, putera-puterinya serta keluarga. Ibu Siska Yudhistira Massardi mengabariku sejak berbulan lalu tentang pameran karya-karya Bapa dan launching buku biografi Bapa . Membaca setiap cerita Ibu, kegelisahan, keajaiban, sampai kenangan-kenangan yang kembali terbuka dalam perjalanannya sampai pada hari ini sesuai harapan.



Rabu, 16 April 2025. Aku bertolak pagi hari dari Tasik menuju Bekasi untuk ‘pulang’ menghadiri pembukaan pameran. Enam jam perjalanan Tasik-Bekasi seperti yang biasa dikatakan orang sebenarnya tidak pernah tepat. Perjalanan terganggu beberapa hal, radiator bis bocor, berganti bis, perbaikan jalan tol, aku benar-benar menghabiskan setengah hari itu dengan keberangkatan saja. Padahal Ibu sudah memintaku untuk mengantarnya untuk prepare pameran bersama vendor.


Sampai di Bekasi pukul lima kurang sepuluh. Ibu bertanya padaku apakah aku lelah jika langsung mengantarnya ke PDS. HB. Jassin-Taman Ismail Marzuki Jakarta, aku sontak menjawabnya tidak. Aku ingin segera ‘bertemu’ dengan Bapa.


“Eki, ini baju Bapa yang kamu minta waktu itu.. Ibu baru menemukannya..”, ujar bu Siska sambil memberikan ‘warisan’ dari Bapa buatku sebelum berangkat. ”Aku akan memakainya besok, Bu..”, sahutku dengan cepat. Warnanya hitam dengan corak merah. Kesan yang dalam, keberadaan ingatan yang merekah.


Kami berangkat bertiga. Ibu, Aku dan Mas Adit yang juga koleganya Bapa. Mas Kafka putera bungsu Bapa menyusul bertemu di tempat pameran.


Mas Adit mengatur beberapa karya yang belum di display.


Layout dan display pameran sudah hampir selesai dengan empat poster besar Yudhistira menyambut kedatangan yang sudah membuatku merinding diiring obrolan dengan Bu Siska diperjalanan.


Aku sangat beruntung untuk datang lebih dulu sebelum pameran ini dimulai esok harinya. Aku punya waktu yang lebih awal dan intens mendikte segala hal tentang perjalanan Bapa. Merenungi setiap ‘masa-nya’ tanpa terdistraksi pengunjung lain. ‘Membaca’ Bapa, sejak masa kecilnya, sampai usia dengan nama besarnya. Langit Jakarta cerah malam itu, tapi hujan perlahan turun bercucuran. Di pipiku.


Kamis. 17 Juni, 2025. Pembukaan Pameran Karya Yudhistira.


Tidak seperti di kampungku. Jarak dan waktu di Jakarta bekerja dengan cara lain, tidak bisa ditebak. Dari itu Aku, ibu dan keluarga berangkat lebih awal sejak sore hari. Display pameran selesai, panggung pembukaan sudah sudah berdiri. Para tamu undangan mulai berdatangan. Seniman-budayawan terkemuka, jurnalis-wartawan senior, orang-orang media, sampai pemerintahan tingkat tinggi. Jika berbicara Yudhistira, aku sudah harus terbiasa dan tidak heran dengan orang-orang ‘besar’ yang akan kulihat di sekitaran.

Aku bertemu kembali dengan keluarga Bapa A Iga, Mba Taya, Mas Kafka, Mas Egi, Mba Dea, Mba Lisa, Pa Noorca, Bu Rayni, Pa Adhie dan banyak lagi. Teman-teman Bapa yang kukenali selama perjalanan Safari Sastra, Mba Wita Maharajo, Renny Djajoesman, Taufik Abrie, Pa Yanto Musthofa. Semuanya datang untuk mengenang Bapa dengan bahagia. Saling bertukar kabar dan cerita, selama kami tidak saling berpandang mata.


Iga Massardi, putera sulung Bapa. Kami punya waktu lama saat menunggu acara dimulai. Aiga menanyakanku bagaimana kabar dan kegiatanku setahun setelah tidak bersama Bapa. Karena a Iga akan tampil pada akhir seremonial, aku bertanya padanya apakah musisi senior sepertinya masih punya perasaan gugup saat akan memulai tampil.. Dia menjawab, "Aku lebih gugup karena harus berbicara mewakili Bapa.."..


Noorca M. Massardi. “Aku bukan Yudhis, panggil Om saja”..


Taufik Abrie. Salah satu wartawan-jurnalis andalan Bapa yang meliput semua kegiatan kami saat Safari Sastra.


Kiara. Puterinya a Iga. Bersama om Bandungnya, begitulah ia memanggilku.


Jose Rizal Manua, salah satu temannya Bapa. Budayawan, sastrawan, pemeran, dan pelatih akting Indonesia. Jose juga merupakan pendiri teater anak-anak, Teater Tanah Air pada 1988.


Rita Sri Hastuti. Wartawan senior yang masih aktif menulis dan menjabat sebagai ketua departemen pemberdayaan perempuan pada Persatuan Wartawan Indonesia.


Juga tidak disangka ketemu dengannya. Imana Tahira, teman masa kecilku. Tata datang mewakili ayahnya Acep Zamzam Noor yang berhalangan hadir. Cipasung bertemu di Jakarta.

-


Yudhistira ANM Massardi. Novelis-penyair itu dikenang dengan penuh rindu. Pembukaan pameran dan launching Biografi Yudhistira berjalan dengan syahdu. Sambutan-sambutan diberikan oleh keluarga dan teman-teman dekat Bapa dengan membacakan puisi-puisi ciptaannya.


Simbolis launching buku biografi Yudhistira ANM Massardi : Mengunci Ingatan langsung oleh Bu Siska.


Sambutan dari keluarga besar oleh Pa Noorca.


Pembacaan puisi, perwakilan dari sahabat dekat. Renny Djajoesman.


A Iga putera sulung Bapa menutup seremonial pembukaan pameran dengan membawakan lagunya yang menjadi judul buku Biografi Yudhistia : Mengunci Ingatan.


Hampir semua kulihat yang berdiri ke atas panggung membawa linang di matanya. Ini seperti bukti bahwa Bapa selalu memiliki tempat istimewa dihati mereka..


Lepas dari apapun, buatku ini adalah pameran yang emosional. Aku hanya sedikit mengetahui tentang Bapa dari singgungan obrolan almarhum Bapa selama aku memiliki waktu perjalanan bersama. Darisini aku mulai ‘dibukakan’ tentang Bapa di hari-harinya yang lain.


Bapa sangat apik menyimpan karya-karyanya. Berbarengan dengan launching buku Biografinya, pameran Mengunci Ingatan ini menawarkan kita untuk melihat karya-karya besar Bapa seperti naskah asli novel Arjuna Mencari Cinta-nya yang fenomenal, novel-novel Bapa yang lain pada cetakan pertama dan terjemahan, buku-buku puisi, kartu pengenal kerja, artikel, jurnal-jurnal ulasan, lukisan-lukisan, ruang kerja, baju-baju, sampai surat-surat cintanya pada Bu Siska.


Jejak indah ini adalah harta.

Mba Wita Maharajo menceritakannya padaku tentang Bapa sambil berjalan menyusur potret-potret Bapa pada section lini masa. Aku seperti dibawa masuk pada masa mereka pada hari-hari itu. Tapi aku bertambah bahagia, mengetahui bagaimana Bapa dari pandangan sahabat-sahabatnya..


Lalu Renny Djajoesman, memperlihatkan fotonya bersama Bapa dan Pa Noorca saat masih muda.


Lalu memboyongku pada potret Bapa bersama Franky Sahilatua. “Lihat ini, mereka sangat menawan saat masa-masa itu. Sebelum Safari kita, Yudhis bilang padaku bahwa dia bertemu anak yang mirip dengan Franky saat bernyanyi padaku, lalu aku ketemu kamu..”, Ujarnya.. Aku jadi terdiam. Aku tidak tahu cerita ini.. Dan Aku tidak tahu bagian mana yang menurut Bapa mirip, meski aku senang bisa membuat Bapa senang, tapi kukira Bapa terlalu berlebihan.. Aku sedih juga menyadari bagaimanapun aku belum sempat bisa menyanyikan yang terbaik apapun untuk Bapa..



Jika Bu Siska bilang tidak hanya menginginkan sekedar pameran dan berharap sosok Bapa benar-benar hadir dan masuk pada ‘kedalaman’ pengunjung, pameran ini benar-benar ‘bekerja’ untukku. Aku semakin mengenali Bapa ‘pada waktunya yang lain’. Ibu bilang sayang Bapa hanya bisa menemaniku ‘setengah jalan’, tapi buatku ini adalah kebahagiaan. Betapa dengan hanya waktu sesingkat itu Bapa dapat mengubahku pada banyak pandangan.


Barangkali aku hanya membersamainya pada lima tahun terakhirnya saja, tapi Bapa selalu hidup di dalamku, selamanya.


Aku juga sangat berterimakasih pada Ibu. Telah dan tetap mencintai seorang yang sangat bermakna untukku..


Pameran Karya Yudhistira ini terbuka untuk umum, berlangsung di PDS. HB. Jassin, Taman Ismail Marzuki – Jakarta. Sampai tanggal 8 Mei 2025.

Bagi yang ingin memesan buku Mengunci Ingatan : Biografi Yudhistira ANM Massardi, bisa menghubungi nomor CP di bawah :
Taya : 081213933890

2025


Selasa, 04 Maret 2025

Daily God's Offer #8 : Multitasking-Multi living life


Tingkat 'pergerakan' yang cukup tinggi. Beberapa hari dalam bulan ini sampai tidak punya waktu untuk diri sendiri. Tidak semua selesai sesuai yang dikehendaki, tapi minimal hampir semuanya dapat dilewati. Dan minimal, aku tidak melarikan diri.

Tidak kutuliskan dengan rarangkén dan perumpamaan-perumpamaan. Serba-serbi Februari. Sebenarnya ini belum semuanya. Masih ada hari-hari yang kiranya lebih menarik untuk ditulis terpisah. Tapi Maret sudah mau hampir lewat seminggu, jadi ini harus kuselesaikan dulu.


Rabu. Februari 5, 2025. Menjenguk Luthfan anaknya Om Dedi di rumah sakit SMC yang hari jum'at lalu kecelakaan.

Ijal dan Nida mengambil vokal untuk musikalisasi terbaru kami. Selepas Pa Asep pindah tugas, aku keteter mengerjakan hal-hal yang biasa Pa Asep kerjakan. Jadi penggarapan lagu ini lebih banyak dioprék oleh Ijal. Lagu ini sebenarnya adalah lagu yang pernah kugarap setahun lalu, tapi baru kukerjakan hanya bagian intro, bait pertama dan reff awalnya saja. Dari sana Ijal membantu menyelesaikan sisanya. Melihat mereka mulai mandiri belajar memproduksi kekaryaan aku senang juga. Meski bukan DAW yang profesional (Digital Audio Workstation, software yang digunakan untuk merekam, mengedit, dan memproduksi audio digital), ini berarti mereka sudah bisa mulai kulepas untuk lebih mengeksplorasi di sisi ini.


Kamis. Februari 6, 2025. Ridwan, Pa Cecep, Neng Sur dan Tri. Kerja kelompok tugas presentasi mata kuliah English Phonetics & Phonology. Semester dua, dengan segala rutinitas biasaku sebelumnya, aku tidak mengira perkuliahan akan mengambil jatah waktuku lumayan besar. Dengan ini sih Aku mesti lebih lagi pintar mengatur waktu (dan keuanganku yang segitu-gitunya).


Sabtu. Februari 8, 2025. Presentasi kebagian giliran pertama. Menghabiskan waktu sampai habis perkuliahan yang seharusnya dipakai 3 kelompok. Tapi yah.. Lumayan, aku kebagian teman-teman kelompok yang koperatif, jadi semua relatif berjalan lancar.


Ip smester ini. Hanya 3,25. Haha.. Aku tidak menyangka dapat sekecil ini. Meski sejak awal ini bukan tujuan utamaku, tapi minimal aku bisa mengukur kepalaku yang mulai menumpul ini. Aku dapat nilai C pada mata kuliah Pendidikan Pancasila. Padahal kehadiran, tugas, UTS, UAS kukerjakan semua dan cinta negara meski entah negara mencintaiku.


Nga dimana-dimana kerjaanku pasti seputaran beres-beres. Setelah proses pemindahan kampus dari Tangerang ke Tasik. Kampus ini masih dalam tahap pembangunan. Dengan keadaan daerah geografis tanah merah, kelas selalu jadi kotor saat musim penghujan, jadilah kami bagian 'piket' bergantian.


Februari 9, 2025. Sabtu, selama perkuliahanku hari ini, Ijal dan Nida menyelesaikan take bagian vokal secara keseluruhan. Dari sana aku tinggal merapikan prétélan-prétélan kecilnya saja.


Mendengar hasil rekaman Ijal dan Nida hari ini, kukira lagu ini bisa dianggap selesai. Malam harinya aku menggambar untuk dipakai pada Albumart lagu musikalisasi puisi terbaru ini.


Sedikit celotehan Ijal tentang penggarapan musikalisasi puisi kali ini.


Di sabana. Seekor Kuda. Lagu musikalisasi puisi ini selesai dan sudah dapat didengarkan. Genre yang menurutku agak berbeda dari lagu-lagu yang pernah kubuat sebelumnya. Dengan hentakan ritme Cajon dan tanpa biola, lagu ini terdengar seperti lagu pop-balada tahun 90'-an. Ijal benar-benar total mengerjakan ini, hampir semua fill-in bagian gitar dia yang mencarinya. Memberikan sedikit tipikal tremolo rasa flamenco, lagu ini agaknya terdengar cocok ketika didengar saat diperjalanan. 


Februari 10, 2025. Pengukuhan ketua suku baru Sanggar Gama. Jadi mulai tahun ini Alvi Shihab sudah digantikan oleh Barca Zarbaliyev. Pakaian yang jadi trade mark sanggar gama saat pelantikan memang mencolok dibandingkan ketua ekskul lain, tipe-tipe pemberontak !. Ijal membuatkan tombak yang mirip senjata Grimm Reaper sebagai properti.


Seperti 'pas' pada waktunya, setelah lagu "Di Sabana. Seekor Kuda" selesai, hari ini laptop yang kugunakan ini mesti dikembalikan kepada yang mpunya. Laptop punya Dedin ini sudah hampir dua tahun ada padaku. Dipikir-pikir, aku yang keterlaluan sih memang. Mana ada minjem sampai dua tahun ya.. Haha. Laptop ini katanya akan digunakan De Idan (adiknya Dedin) untuk bekerja. Semua kekaryaan digital yang kubuat dua tahun ini kukerjakan di sini. Seketika aku juga harus memindahkan data-data pribadiku di laptop ini. Semua hampir 100 Gb. Yah.. Dari sini sepertinya akan agak lama untukku untuk membuat lagu-lagu baru karena kendala 'ketiadaan' perangkat. Aku memanh sepertinya harus punya laptop sendiri, tapi lumeyen mihillll hwehehe. Terimakasih Dedin !


Telpon dari Danlanud Sultonny. Lewat perantara Pa Atik Suwardi, Pa Sultony menelponku untuk membantu mengisi biola pada acara Sertijab di Skadik Wing 602 TNI AU di Lanud Wiriadinata. Meski kelelahan, lewat isya aku mesti bergerak ke Cibereum yang jarak tempuhnya 40 menit dari Singaparna untuk gladi.


Ketemu a Andi Uño. A Andi ini adalah gitaris pribadi Pa Komandan Sultony. Dia sudah 'beredar' di kalangan prajurit udara di Skadik lebih dari setahun lalu. Jadi aku akan membersamainya esok hari pada acara. Sehari-harinya, A Andi adalah musisi lepas & gitaris tetap untuk accoustic home band di Leleson Cafe. Piawai bermain gitar secara ritmik maupun finger style, selain itu juga dia bernyanyi. Sangat toleransi untukku yang awam bermain biola dan minim referensi-koleksi lagu-lagu Indonesia. Jadi aku tinggal mengikutinya saja.



Gladi di GSB Skadik 600 - Lanud Wiriadinata. Untungnya, beberapa lagu-lagu yang ditawarkan a Andy adalah lagu-lagu Best Western Selection seperti When The Children Cry-nya White Lion dan Love of My Life-nya Queen. Aku lumayan kelabakan dengan pilihan lagu-lagu Indo-Pop nya, aku memang tidak begitu mengikuti perkembangan musik-musik Indo sih..


Februari 11, 2025.
Bermain di panggung acara. Syukurnya lagi, di acara ini kami lebih banyak memainkan lagu-lagu instrumental yang improve untuk mengisi suasana.


Skadik 602 Wing Pendidikan 600 adalah satuan di TNI Angkatan Udara yang bermarkas di Tasikmalaya, di tempat inilah para siswa TNI AU mendapatkan pembekalan-pembekalan dan kelas persiapan. Tidak biasa untukku, Circumstance militer yang kaku, apa-apa harus diawali dengan, "Mohon Izin". Pengalaman baru juga untukku, menghibur orang-orang yang berseragam. 


Komandan Skadik Wing 602 - Ahmad Sultonny. Kukira Bapa-bapa ini adalah penyanyi yang menjadi prajurit. Pasalnya suaranya tidak kukira sebagus itu. Sempat kuremehkan, "Yah.. Paling suara Bapak-bapak,", gumamku dalam hati. Ternyata saat mengiringinya, suaranya mengerikan keren !. Dari timbre juga secara teknik. Beliau memang terbiasa nyanyi kayaknya sih.


Pemusik 'pegangan' Danlanud Sultonny. Aku sebagai pemain adisional biola untuk mereka. "Jangan susah ditelpon, kita akan sering nyanyi kedepannya, di sini, atau kita main di tempat lain. Terimakasih sudah bantu saya, ya !", ujar Pa Sultony saat aku hendak berpamitan.


Sepanjang perjalanan Singaparna-Cibereum aku memang mendengarkan lagu yang baru selesai kubuat dengan Ijal. Jalur panjang jalan Letjen Mashudi, lagu ini memang cocok sekali didengarkan berkendara sendiri. Yah.. Aku dan Ijal masih punya setumpuk kerjaan lain di bulan ini. Jadi bisa dibarengi dengan lagu ini.



Februari 14, 2025. Rajaban (Lebih tepat disebut Sya'banan, karena sudah masuk bulan Sya'ban) mauidzoh hasanah langsung oleh pimpinan pesantren Cipasung, KH. Ubaidillah Ruhiat.

Aku menulis sedikit rangkuman di Rajaban kali ini.
Ada banyak hal yang menjadi sebab tidak diijabahnya do'a-do'a kita, salah satunya adalah karena hati yang tertutup..

Banyak jenisnya.. Diantara itu.. 
1. Orang yang mengenal Allah, tapi kewajiban kita terhadap-Nya tidak dijalankan. Misalnya Shalat, tapi semaunya. Shalat apa, dikerjain waktu apa. Allah suka dengan kerukunan, tapi malah bikin perselisihan.
2. Orang yang mengaku umat Rasulullah, tapi tidak mengikuti mengerjakan sunnahnya. Atau minimal bangeeet memberikan waktu khusus untuk Rasulullah, misalnya rajaban aja pada ngaikutan, mana mau Rasulullah ngasih syafaatnya buat kita nanti. Istigosah, tapi yang mau didoakannya malah nga pada datang. Tidak yakin apakah mereka mau didoakan.
3. Orang yang menyebut setan sebagai musuh, tapi masih menganggapnya teman. Karena  nurut sama 'pendapatnya' setan, buat males-malesan misalnya, atau tidak adil menempatkan diri misalnya.
4. Orang yang sering memberi nasihat, tapi prilakunya melakukan kebalikannya. Misalnya nasihat menjaga lingkungan, tapi malah nebangin pohon, buang sampah sembarangan. Nasihat nyuruh menjaga marwah, tapi malah merusaknya.
5. Orang yang suka minum minuman keras. Ada juga yang misalnya tidak meminum/ memakan hal-hal yang haram, tapi minum dan makan dari hak-hak orang lain.
6. Orang yang membaca Alquran tapi isi dan hikmahnya tidak dilakukan. 



Februari 15, 2025. Kuliah lagi, tiba-tiba presentasi lagi karena kelompok lain tidak lengkap kehadirannya. Dengan sat-set, bersama teman kelompok lain, kami berhasil melewatinya. Aman.


Wawan menelponku tentang persiapan penggarapan musikalisasi puisinya untuk dia mainkan di Bandung saat peluncuran buku antologi puisi Kemarau di Surga.


Om haris datang ke Tasik. Jadi selepas petang aku bergegas ke rumah Om Dedi. Ini seperti wajib kutemui setiap kali dia datang ke Tasik. Salah satu sahabatnya si Bapa yang masih menjaga 'keakraban' mereka sampai seuisa ini. Om Haris datang ke Tasik untuk menghadiri pernikahan putrinya Pa Acep Adang.

Alumni sastra Russia Unpad ini memang selalu enerjik dan loba gaya. Ngobrol soal Moskow pada zamannya tahun 1982 yang masih sebagai Uni Soviet sama zamanku di 2011 yang sudah bubar menjadi Russia dan beberapa negara merdeka lainnya. Beberapa hal masih sama, beberapa hal sudah berbeda.

Mereka yang dulunya geng meresahkan sekarang jadi keliatan seperti bapa-bapa ronda, haha. Yah.. Yang penting mereka tetap sehat semua.


Fenruari 16, 2025. Nabeuh di Paniis. Kerjaan sampingan begini sudah cukup lama buatku sejak terakhir kali, apalagi ini hampir full-team. Lumayanlaa buat nyambung nambah jajan dipertengahan bulan.


Sisa perayaan. Setelah nabeuh, aku ke tempat kerja untuk membereskan beberapa hal. Dan inilah pemandangan dari atas. Bekas-bekas makanan hajatan. Tempat ini agak aneh sekarang. Meski labelnya Islam, tapi tidak menghendaki untuk libur ikut partisipasi pawai muharaman. Kalau nikahan (anaknya), sekolah ini boleh nga jelas. Sampai tiga hari lagi. Ah sudahlah.


Karangan bunga ucapan yang jadi sampah, loba deuih. Aku mengambilnya beberapa dan kusimpan di ruanganku. Tentang ini, Aku juga tidak tahu apakah hal begini memang harus dilakukan dan jadi kebudayaan di hajatan kita ?. Maksudku ucapan selamat kiranya bisa diganti dengan 'hanya ucapan', atau diganti dengan 'memberikan' hal lain yang lebih bermanfaat. Karena selain lebar kemangna, sampah yang jadi sisa juga lumayan besar skalanya, kesian yang beberes.

Tapi yang jelas, di negara yang punya sila keadilan sosial, hal-hal begini ini fungsinya sebagai penanda perbedaan strata. Kamu di bawah, dan aku di atas. Begitu kan, ya' ?

 

Februari 19, 2025. Buku antologi puisi Kemarau di Surga beres cetak dan sudah berada di rumah Diwan. Gibran berfoto dan mengirimkannya di grup whatsapp. Aku tidak banyak bantu-bantu Diwan sampai proses ini karena memang agak minggu-minggu yang agak repot.


Februari 20, 2025.
Kakakku yang di Batam mendapatkan pelatihan ke Bandung. Sejak dia pindah kerja ke sekolah yang rada 'bagusan', dia jadi sering jalan-jalan. Tahun kemarin juga dia ke Bandung dan aku juga sempat menemuinya. Kali ini aku tidak sempat, karena sedang mengurusi ujian, selain itu kali ini kakaku datang ke Bandung ke daerah Soreang. Agak jauh dari pusat kota. Jadilah adikku yang menemuinya.



Jumat. Februari 21, 2025. Praktek Prakarya dan Kewirausahaan. Anak-anak di sekolah membuat jajanan makanan yang budget harga jualnya jangan lebih dari Rp. 1000,-. Selain itu dalam upaya mengurangi sampah sesuai tema Gaya Hidup Berkelanjutan, mereka tidak boleh menggunakan packing penyajian produk sekali pakai seperti styrofoam dan gelas plastik. Jadi yang membeli harus membawa alat makan sendiri. Ini bagus ! 


Kasian mereka dapat wali kelas yang aneh.


Sabtu. Februari 22, 2025. Back to normal life. Hari perkuliahan yang biasa dengan jadwal penuh dan tunduh.



Diteror tempat kerja untuk menggambar Pa Ceceng Kosasih, kepala SMPN 2 Singaparna untuk hadiah kenang-kenangan (gerak gimik karena sekolah tempatku kerja ikut promosi PPDB expo di sekolahnya). Aku menggambar ini lewat tengah malam dengan mata yang sudah ngantuk lelengutan. Keadaan kertas gambar watercolor yang cuma tinggal satu lagi, aku tidak boleh melakukan kesalahan. Ditambah keesokan harinya aku harus pergi ke Bandung untuk acara launching buku. Tapi syukurnya selesai, meski tidak tahu mirip atau tidak yang penting aku bisa melanjutkan perjalanan.

-
Aku sampai perlu memberikan empat hari untuk menghimpun tulisan receh ini. Itu berarti kepalaku mondar-mandir ke sana kemari. Masih ada yang lain yang belum kutuliskan, tapi sekarang segini saja dulu.

-

"The great day in your life and mine is when we take total responsibility for our attitudes. That's the day we truly grow up."

John C. Maxwell

كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ 
"Every soul will be detained for what it has done,"
-Al-Muddaththir : 38

"So then every one of us shall give account of himself to God."
-Romans 14: 12