Kamis, 20 November 2025

How Far This Life Bring You In ?


I don't have to be where I don't want to be at all
Maybe I'll go far

Going nowhere, sitting in a dream
Ah, in a dream

-Sitting in a dream - Deep Purple

-

Entah kenapa lagu ini kuputar berulang dalam perjalanan kali ini. Situasi lingkungan beraktivitas kian memburuk. Selalu saja ada masalah, kukira ini yang menyebabkan kurangnya semangatku mengerjakannya. Jangan bicarakan soal finansialnya, tempatku biasa beraktivitas sejak dulu memang bukan buat mencari 'keuntungan' dari sisi itu. Aku lebih melihat memungkinkannya kebebasanku berekspresi, hidup 'menyendiri' di sini, fleksibilitas pergerakanku, tapi tetap memegang amanah dari seseorang, itu saja. Jadi perjalanan seperti kali ini adalah dosis kesekian untuk ngabangbalerkeun perhatianku dari sebelah sana. Kurun tiga tahun ini tidak karuan sekali pokoknya. Ah sudahlah, aku mau cerita perjalanan kali ini, jelek sekali paragraf pembukanya.



Kamis, 13 November 2025. Hari keberangkatan ke Pangandaran, setelah aku cukup sering bepergian, aku lumayan bisa memilah barang-barang bawaanku. Mana yang esensial yang harus selalu ada, mana yang pelengkap, mana kebutuhan inti untuk tujuan perjalanan. Akhirnya seperti biasa, aku membawa dua tas carrier yang agak besar dan tas selempang handy warisan dari alm. Mang Nanang yang isinya keperluan-keperluan esensialku. 


Berangkat ke Pangandaran sesuai perencanaan dua bulan sebelumnya. untuk acara Ngaruwat Jagat - Napak Jagat Pasundan, ini adalah tindak lanjut dari program NJP Kamonesan yang skalanya lokal.


Pukul sembilan tim kami sudah di kantor DSO Djarum Tasik di Manngkubumi untuk dilepas-berangkatkan ke Pangandaran. Cuaca relatif aman, hujan biasanya turun setelah lewat tengah hari.


Aku dibonceng si Cece dari kosan ke sini. Di kantor DSO Djarum sudah banyak yang datang, tim penari, tim pemusik dan dua orang official dari DSO Tasik untuk menemani kami secara prosedural di Pangandaran.


Di-brief oleh Pa Pandu lalu do'a bersama untuk kelancaran perjalanan dan pertunjukkan. Aku nga tahu posisi Pa Pandu apa sih hehe, yang jelas cukup tinggi lah secara hierarki kantornya. Beliau seorang yang asik juga, dia masih mentolerir behavior dan mulutku yang kemana-mana kalau bicara.


Tim DSO perwakilan Tasik bersiap berangkat !


Melewati Ciamis. Suka ingat si A Iki setiap lewat Ciamis, karena yah.. Satu-satunya temanku yang orang Ciamis ya cuma dia. Lalu satu-satunya yang masih kenan nemeni aku kemana-mana kalau sedang di Bandung hehe.


2 jam pertama dari sekitar 4 jam perjalanan, Mpuy dan Yudi sudah tibra hahaha. Tapi Mpuy ngasih aku makanan saat mulai kelaparan di tengah jalan.


Begitupula si Cece dan Pa Ronnie haha, nah Pa Ronnie itu salah satu official yang menemani kami dari kantor DSO Djarum. Yang di belakang A Gingin bagian artistik, lalu kg. Ahmad dan si Kakang.
 

Menjelang dzuhur, kami istirahat dan makan siang di rumah makan Cobek Beti - Tunggilis. jl. Banjar-Pangandaran. Makanan khas rest-area, menu standar restoran sunda, masih amanlah. 


Sampai di Pangandaran sekitar ashar, Hotel Grand Mutiara, aku ingat s Iyan pernah difoto di depan hotel ini dulu saat bersamaku ke sini, dan aku yang malah nginap di sini ha ha. Beruntung hotel ini tidak terlalu jauh dari venue acara, mungkin sekitar 10 menit saja dengan jalan kaki.


Dan ternyata LO (Liaison Officer, panitia yang menjadi perantara komunikasi antara penyelenggara acara dengan tamu atau pihak luar.) untuk kami tim Tasik adalah a Cesar 'Abay' Akbar, kami kenal dan pernah sama-sama saat proses penggarapan Batik Sukapura nya teh Erni. Saat itu a Abay ngambil bagian sebagai composer musik untuk core film itu.


Sore hari, jalan sedikit ke pantai. Ini tinggal nyebrang dari penginapan. Warna langit tidak bagus-bagus amat, aku cuma cari angin jalan karena kelamaan duduk. Sejujurnya aku tidak begitu suka pantai secara pribadi. Selain karena cuaca dan udara agak panas, yah.. Ada beberapa hal lain.

Aku menulis sedikit,

Pangandaran

Pada pasir-pasir itu. Kita pernah berjalan
Berdamping langkah. Untuk hari kelahiranmu
Menyebrangi ombak. Menaiki sampan
Diiring dzikir bahagia. Pada luas banyu

Garis digambarkan Tuhan. Jingga dan biru
Dengan ketabahannya. Masing-masing padu
Seperti kita. Pernah memecah badai berdua
Meniti pelabuhan demi pelabuhan. Dalam balada

Perlahan lirik-lirik terdengar sumbang. Pada telinga
Dan mata. Menyembunyikan tumpukan rahasia
Yang dinyanyikan. Melewati terbit dan benam waktu
Perlahan menjadi bait akhir lagu. Cintamu padaku

2025


Sisa malam hari, ketika orang-orang ngelayap menikmati jalanan pantai Pangandaran, aku diam saja di penginapan, kugunakan untuk menulis jurnal di bulan ini lalu latihan biola sedikit sama s aijul.


Jumat, 14 November 2025. Hari ke dua. General rehearsal untuk gelaran pertunjukkan Napak Jagat Pasundan - Ngaruwat Jagat. Pagi sekali, pukul tujuh kami sudah berangkat ke venue acara di lapangan Grand Emerald Pangandaran. Kami tim Tasik kebagian giliran pertama,


Wajah-wajah masih mengantuk.


Panggung sehabis hujan. Stage masih ditutup-tutupi plastik. Semua sudah sibuk. Dan panggungnya besar sekali ! Sampai ada tiga level, kami pemusik ada di paling belakang, level 1 & 2 dipakai untuk perform penari.


Agak lama set-up. Karena kami harus menunggu nayaga NJP setting duluan. Merasa seperti ranginang karena tim Nayaga NJP set-up dengan serius. Aku mana paham soal beginian. Selama suara biolaku tidak cempreng dan kasih reverb sedikit aku merasa aman. 


Sebenarnya, ini adalah senyum palsu karena gegebegan. Bagaimana tidak, gigireunku adalah Nayaga NJP yang mengkomposisi lagu yang kami mainkan. Sedikit saja salah, tentu ketauan yang mpunya lagu.


Perlu dua jam sampai selesai gladi. Kami tiga kali running, dua kali lancar, anehnya yang terakhir aku ada beberapa miss-note, kena polotot lagi akhirnya hueee. Harus latihan lebih banyak.


Selesai gladi, pulang jalan kaki. Aku tertarik gambar mural dinding di seberang venue, The Wonder Woman. Ibu ex-mentri kelautan ini salah satu yang 'kuhormati' di kalangan eksekutif. Aku nga begitu apa soal perpolitikan, tapi melihatnya cara dia 'bersikap dan bekerja' dalam satu periode tahun 2014-2019, aku cukup menyukainya.


Setelah selesai gladi setengah hati, kami tepar. Kelelahan persiapan ungkat-angkut-main dan kena omel-koreksi. Tidur selama dua jam siang. Sebangunnya di depan kamar sudah ada teh Las, akulah langsung minta rambutku ditata. Teh Lastri ini kukira dia penari paling senior dalam garapan tim perwakilan kali ini. Alumni SMKI Bandung jurusan tari, dengan usianya sudah 'matang', dialah kukira yang paling proper urusan koreografi pada garapan kali ini.


Ngobrol di depan kamar bareng Ari Yusman. A Ari ini pemain alat musik Tarawangsa, kukira dia berasal dari Sumedang gara-gara Tarawangsanya, ternyata a Ari ini perwakilan dari Kabupaten Bandung, dan di Arjasari (kampung di sekitaran Banjaran-Bandung) ada juga Tarawangsa. A Ari menceritakan tentang adanya perbedaan pada setiap Tarawangsa di berbagai daerah di Jawa Barat, pada teknik bermain, repertoar lagu-lagu juga fungsinya. Dekat-dekat ini a Ari sedang bersiap merilis single Tarawangsa pertamanya, ini lebih ke genre meditatif-ambience, menarik !


Jalan ke pantai lagi sedikit sendiri sambil mendengarkan lagu yang sama Sitting in a Dream - Ronnie James Dio with Deep Purple.


Dan warna langit tiba-tiba bagus ! A burning sky scenery. Damai tapi seperti  menyimpan dendam. Aku berdiri sendirian di pinggiran menikmati ini,


Lalu riuhlah perkumpulan, buru-buru berpotret di pantai dengan warna indah ini. Aku baru ketemu Diwan hari ini karena di menginap di hotel yang berbeda. 


Another shoot. Langitnya sudah mulai gelap.


Malam harinya aku mencari kafe di sekitaran pantai. Tapi agak susah, malah kebanyakan yang ditemukan ini bar yang menyuguhkan minuman beralkohol. Setelah hampir menyerah dan memutar arah, ketemulah kedai minuman yang kukira untuk segmen anak-anak muda, membeli latte, tapi rasanya pop ice, yah harganya masih oke sih. Aku berniat nulis di sini, tapi malah jadi ngobrol panjang bareng Imong dan Wawan.



Sabtu, 15 November 2025. Kami sudah bersiap check-out dari hotel dan bergerak menuju tempat acara.


Talent tag. Tanda ini yang memberikan kami akses keluar masuk backstage.


Cuaca panas, kami menukarkan voucher kopi gratis, kukira kopinya dingin, pekteh panas kacida, hoream nginumna ge ha ha. Tampak juga panggung utama yang besar ini sudah full-set.

Kami sudah berganti kostum. Ceritanya ini kostum nelayan, padahal kalau disidik-sidik nelayan selalu pakai baju tangan panjang untuk melindungi dari panas matahari, yah entahlah, mungkin nelayan taun sabaraha ieu mah. Tapi topi dudukuy ini sangat membantuku sih, melindungi.


Bersiap di side wing stage. Kami menunggu dipanggil untuk tampil.


Cuplikan kami saat tampil.



Aku tidak tahu suara biolaku terdengar dominan begini, kukira hanya dari speaker control aja yang terdengar keras. Tapi ternyata sampai depan juga terdengar keras. Jadilah kedengeran sekali aku banyak main salah, duh wirang.


Selesai tampil ! Kami cuma sepuluh menit berada di panggung, tapi nervous karena tampil sebagai pembuka, dan dilihat langsung Nayaga NJP, berasa sedang ujian pertunjukkan. Tapi overall masih dikata amanlah, meski maenku jelek.


Setelah selesai tampil kami yang giliran pertama sangat salse, punya waktu banyak sekali menunggu pertunjukkan kolaborasi yang dijadwalkan pukul 10 malam, jadi pertunjukkan kolaborasi ini bergenre kolossal dengan pemain gabungan yang diseleksi dari 15 Kota, Nida, Imoet dan Yudi yang menjadi perwakilan DSO Tasik untuk itu.. Aku keliling-keliling sampai cape dan kesel, sampai ketiduran pula. Cuaca hujan nga berenti-berenti, tapi penonton tetap antusias, mereka memakai payung dan jas hujan berbondong buat nonton pertunjukkan.


Nida Nadzifa - Hurricane Makes Her Fly

Bocah ini, aku sudah melihatnya bernyanyi sejak masih SMP. Lalu mengikuti sepak terjang perjalanannya di Sanggar Gama, berlanjut ke Sanggar Harsa.

Nga banyak vokalis yang 'kenan kurepotkan' setelah generasi St. Choiriya, Cuneng Hujan, Nissa Nuralfi Azizah. Dan sudah lebih tiga tahun terakhir ini suaranyalah yang kiranya dapat 'menerima dan memekarkan' lagu-laguku yang kadang aneh-aneh.

Dengan garapan penciptaan komposisi yang kukira lebih ke genre world music yang mungkin belum pernah dia coba sebelum ini, dan dia masih bisa mengatasi itu-dia menyanyi dengan memukau !

Nah.. Dia sudah punya panggung yang lebih besar dariku, bertumbuh dengan baik di sisi ini.

Jadi.. Kalau begini.., dia sudah mulai melampauiku.

Aku senang sekali melihatnya menyanyi malam ini, on her parts, i gotta goosebumps and tears of joy after, soo proud of you !

Keep singing ya !


Rahmat 'Imoet' Hidayat, kami jadi menamainya Mutia Salsabila Putera di sanggar haha. Seniman tradisi muda ini sangat kalem dan paling oke adabnya diantara kami, dalam pertunjukkan kolaborasi 15 Kota itu Imoet kebagian memainkan alat musik Kendang.


Yudi Guntara, yah kalau dia sudah tidak asing. Kami sering maen panggung bareng, tapi untuk skala ini, kami baru punya kesempatan kali ini. Soal piawai tentang musik sunda, dia memang ngausah ditanya, sudah bakat dari lahirnya. 


--- /// ---


Panggung besar yang berbeda.
Yah.. Dengan segala permasalahannya, 
Tiga hari panjang, pengalaman.
Aku mesti latihan lebih banyak supaya bisa bermain dengan lebih baik.











0 comments:

Posting Komentar