Di sisi utara, bagian yang dekat dengan jalan desa
Terpacak dua tonggak kayu yang satu dengan lainnya.
Masing-masing doyong ke arah berlawanan
Seperti dua orang tak saling mengenal yang berpapasan di jalan.
Terpisah, tak terhubung
Tiada bukti yang bisa kupegang
Tentang itu selain ingatanku
Sebaliknya tiada bukti terisa
Bahwa tonggak-tonggak saling menolak
Selain masa-masa sebelumnya
Tak tersisa lagi tanda-tanda
Tampaknya pembuktian itu butuh waktu lebih lama dari yang banyak orang perkirakan
Sampai kudapatkan jalan
Dan tak memberi tahu siapapun lebih dulu
Untuk memenuhi permintaan
Membawa semuanya pulang, Terlepas dari belenggu.
-
November. Yang pertama terpikir olehku adalah mengembalikan pembiasaan menulis jurnal per satu atau dua minggu. Supaya bisa 'menyimpan' dengan baik. Ternyata, aku terlalu banyak melakukan banyak hal untuk orang lain dibanding buatku sendiri. Ini tidak jelek, hanya saja butuh 'jalan tengahnya'. Supaya itu ieu bisa kasampeur.
Sekarang, sebelum tidur, aku kembali meresume apa saja yang terjadi hari ini, ketemu siapa, yang menarik, yang menyebalkan, yah.. Apa saja. Minggu pertama November,
Minggu, 2 November 2025. Hari pertama si Ibu pulang dirawat. Pagi-pagi sudah diasuh si Dede panen katuk. Kami anak-anaknya masih mencari alternatif 'kesibukan' apa yang cocok buat s Ibu, karena Ibu sudah tidak boleh melakukan hal-hal berat, tapi harus tetap bergerak, meski ringan-ringan saja.
Lalu tiba-tiba s Bapa ke kosan. Katanya mau beli plastik buat media produksi tapi tokonya masih tutup. Jadinya nongkrong di pinggiran kamar.
Siangnya aku baru pulang. Di rumah s bapa dan s ibu sudah sibuk. Akhir-akhir ini memang kegiatan s Bapa adalah membuat emping. Karena pohon tangkil di gunung sedang berbuah banyak.
Yah.. Kieu we ulukutek duaan,
Ini yang sudah jadi. S Bapa dan s Ibu sudah jual beberapa produk empingnya kurun sebulan ini, tapi yah market-nya masih lingkaran kawawuhan. Kebanyakan dari kolega-kolega si Dede. Yang ini aku minta gratis sama s Bapa buat dikirim ke bu Siska ke Bekasi.
Siangnya Aku ngeprint foto ke kampung sebelah. Kebetulan ada santri yang sedang mengisi lagu buat mp3 nya. Kutanya masih pake mp3 hari ini ?, "Karena tidak boleh bawa handphone di pesantren, dan tidak ada hiburan.", ujarnya. Ah.. Rasanya kembali ke zamanku dulu SMP saat si Iyan punya Mp3 Player, untungnya aku punya si Iqbal yang punya komputer kalau buat sekedar browsing lagu-lagu,
Selasa, 4 November 2025. Ide perjalanan tiba-tiba. Jalan pagi ke Galunggung bersama Fahrezi. Agak siang sih jadinya. Kami jadi berangkat hampir pukul 7 karena aku bangun kesiangan.
Bocah ini.. Jadi dulu, 2021, awal-awal saling mengenal adalah di tempat ini. Aku pernah nemani dia mesti membuat video kaligrafi, sekarang sudah lewat empat tahun kami ke sini lagi dan dia sudah lebih tinggi. Badannya, juga ilmunya.
Kami juga jadi merekam shalawat di sini. Sebenarnya gara-gara ini aku bangun kesiangan untuk berangkat. Jadi kami recording dulu malam sebelumnya sampai lewat tengah malam di kosan. Dan tadinya cuma dia aja yang inframe, tapi yasudahlah.. Jadi ikut-ikutan.
Video nya bisa ditonton di link di bawah ini ya :
https://youtu.be/0wgx7yZ99gc?si=0xcpu8Gg0LzaFmJs
Kamis, 6 November 2025. Nyelang kuli, saat istirahat aku
ngelol ke perpusnya Cep Thoriq, saat di rumahnya aku diperlihatkan buku-buku 'harta karun'.
Saat dibuka ternyata ini adalah buku
Scrabook atau yang biasa kita kenal dengan klipping. Dulu kegiatan klipping begini sempat tren di kalangan anak-anak muda, mungkin sampai generasi si Iyan s Mbek kalau usia kakakku. Zaman saat semua hal didapatkan hanya di media cetak. Langsung disuguhi The Beatles, Chuck Berry, Jimmy Hendrix, Scorpion, Rod Stewart sampai generasi R.E.M, itu berarti buku klipping ini dibuat sekitar tahun 60'an.
Another side of The Cleric. Ini ternyata milik-dan dibuat almarhum Pa Kyai Koko saat beliau masih muda. Maksudku aku tahu kalau Pa Oko suka dengan musik-musik barat, tapi tidak memyangka saja sampai punya 'dokumentasi' seperti ini-serapi ini. Beberapa band, penyanyi dan musisi ditempel berdaarkan linimasa diskografia-nya, beberapa lagi klipping bebas.
Dan yang tidak kalah mengesankan adalah tulisan tangannya. Kita tau la ya template tulisan tangan 'gaya tua' sepuh-sepuh kita, nah tulisan tangan Pa Oko ini sangat-sangat fancy-pop, berbagai jenis font, pokoknnya seperti usia belasan banget.
Tidak lama dari aku, Najmi juga datang. Najmi juga terkesan dengan ini. Akhirnya mereka menceritakan tentang kisah-kisah lalu dari penuturan ibunya juga almarhum ayahnya Najmi. Aku tersenyum saja di depan mereka berdua. Melihat sisi lain-cerita lain keluarga mereka, yang mungkin jarang diketahui orang.
Sabtu, 8 November 2025. Aku biasa kuliah saja hari ini. Sampai siang hari Tata mengirimku pesan mengajakku untuk ke Langgam Book & Coffee untuk hadir di acara bedah buku cerpen berjudul
Melepaskan Belenggu karya Rumadi, penulis asal Pati. Langgam ini adalah kafe dengan segmen pembaca buku, selain itu langgam juga punya penerbitan, banyak buku-buk sastra yang diterbitkan di sini. Sampai di Langgam Coffee & Book, selfie dulu sebelum order. Dan ternyata Fey juga ikut !
Imana Tahira, bertanya soal proses kreatif, pemaknaan dan keinginan 'cara kematian' berdasar buku dan personal Rumadi. Yah puterinya sastrawan sih. Dia juga cerita bahwa dia sedang menggarap draft puisinya, dia ingin menerbitkan antologi puisinya sendiri.
Selesai acara bedah buku. Aku sebenarnya tidak paham soal cerpen-cerpenan. Buatku yang penting adalah 'keluar malam-nya' haha, aku jarang ada waktu barengan main dengan Tata sejak dia di Jakarta, atau Fey yang kemarin di Yogya, yah kalau sama Diwan mah seringlah. Aku juga sudah lama tidak punya jatah melakukan hal seperti ini. Dan yah.. Menjaga 'energi' buat tetap menulis.
Setelah acara perut kami
kekerebekan. Lalu kami menuju jajanan makan angkringan di jalan Mitrabatik. Di sinialh Tiga muda
hopeless romantic dari empat itu melepaskan keruwetan kisah cintanya masing-masing, bergiliran. Karena diantara kami berempat ini cuma Fey yang sedang dalam kondisi kehidupan percintaannya baik-baik saja haha. Kami pulang tepat pukul 12 malam, hari panjang.
Minggu, 9 September 2025. Hari relaks seperti yang terbayangkan. Bangun agak siang, beres-beres harian, nyuci selimut, jemur jas hujan, lalu menimpa catatan lama dengan warna abstrak. Buku ini hadiah natal dari Bu Clau tiga tahun lalu. Sempat kupakai catatan saat awal-awal kuliah, tapi dipikir-pikir sayang juga, sepertinya mau kupakai untuk nulis-nulis hightlight catatan harian kedepannya.
Aku menemukan box bekas yang tidak dipakai di gudang mang Cucu. Kubersihkan lalu kupakai untuk case efek biolaku, bukan peruntukannya sih, tapi ukurannya lumayan fit, okelah.. Yang penting efekku lebih aman saat dibawa-bawa.
Aku ngambil tidur siang di rumah s ibu dua jam sampai pukul satu siang lewat. Aku ke kosan, ngangkatin jemuran karena langit sudah sangat gelap. S Azmi sedang bikin kopi, aku minta dibuatkan dari saringan kedua, dan yaaa.. Americano. Pahit dan segar.
Jelang petang aku recording sedikit biolaku. Lagu The Time for Us dari film Romeo & Juliet. Melodi ini cukup punya kenangan untukku. Beberapa nada ada yang sumbang, tapi biarlah.
Senin, 10 September 2025. Dengan pertimbangan rontok parah, akhirnya aku harus memotong rambutku sampai 6cm. Sejauh aku mulai gondrong tahun 2012, rambutku tidak pernah rontok begini. Setiap bangun
sakepeulan-sakepeulan. Aneh juga, dari dulu aku tidak pernah repot soal treatmen rambut, sampoan juga pake warungan sudah cukup. Setelah tanya-tanya dan browsing, kemungkinan yang paling dekat adalah adanya stress yang berkepanjangan. Tapi yah.. Dipikir-pikir lagi memang itu barangkali sebabnya.
Lagi-lagi : terkadang harus merusak untuk memperbaiki.
Setelah Zayn memulai karirnya sebagai barber, aku tidak pernah memotong rambutku di tempat lain, atau oleh orang lain. Sudah kenal, tau bagaimana keinginanku, bisa 'protes' dengan ringan, dan memberi saran soal gaya potongan rambut buat muka pas-pasan sepertiku.
Selasa, 11 November 2025. Latihan NJP terakhir di Tasik sebelum pentas di Pangandaran tanggal 14 ini, jadi dua hari lagi. Semua pemusik dikasih pinjam pangsi,
dudukuy sama baju cabe buat kostum nanti saat pentas. Kukira 80%an aman lah.. Jari-jari mulai ingat positioning saat main biola untuk garapan ini.
19.00, selesai latihan. Evaluasi, pengarahan dan informasi terkait teknis pemberangkatan. Kami akan mewakili DSO Tasik (apasih DSO ? Nga tau aku jugak haha), pokonya perwakilan tasik intinya. Jadi kami akan bertemu 15 DSO lagi dari kota-kota lain di Pangandaran.
Rabu, 12 November 2025. Kalau bilang hari minggu adalah hari libur, buatku ngada bedanya. Maka hari rabu satu-satunya jadwalku kosong, biasanya kupakai istirahat total. Beres-beres 'deep clean'. Tapi hari ini aku pakai untuk merekam lagu Doa Nabi Adam, tidak tahu sudah dua hari ini ngidam doa ini. Akhirnya aku rekam dari pagi sekali sampai selesai malam. Belum kupublish, lagi didengar-dengar dulu kalau-kalau ada yang mesti diperbaiki.