Memilih menulis di malam hari saat Tasik berudara 'panas'. Kamar kosan kubiarkan terbuka, aku mendengarkan lagu At The Edge of The White Rock -nya Aine Minogue yang diulang-ulang supaya mood-ku konstan. Aku tahu ini keterlaluan. Menulis minggu terakhir Agustus di pertengahan Oktober, jadilah catatanku tidak tersusun. Tapi dengan sebenarnya dua bulan terakhir ini memang 'menguras' segalanya. Nga sempat melakukan hal-hal seperti ini. Dan aku masih punya pe-er menuliskan bulan September dan Oktober hueee. Tapi tidak apa-apa, daripada hilang, lebih baik terlambat.
Baiklah, ini Oktober terakhirku di tahun 2025.
Berangkat ke Bandung untuk ikut pelatihan angklung yang diadakan oleh Kemenkebud Wilayah IX. Aku berangkat dengan s Pa Riki, kami bertemu di stasiun, pas sampai pas hujan. Beda dengan Riki, dia sudah hujan-hujanan bahkan saat berangkat dari rumahnya di daerah Cibereum. Kereta kami melaju pukul 14.25 sore.
Selama perjalanan kita banyak mengobrol. Riki ini seorang guru ekonomi, tapi piawai sekali memainkan alat musik tiup. Musikalitasnya alami. Sebagai sesama penyuka musik-non akademik, kami seringkali bertukar 'pelajaran'. Lalu dia juga menceritakan tentang keluarga kecilnya,
Sampai ke stasiun Kiaracondong pukul 17.01 dengan langit gerimis.. Bandung memang selalu ramai
Saat keluar dari stasiun aku berbarengan dengan Ibu-ibu membawa layangan hias. Kukira ini adalah oleh-oleh untuk anaknya atau cucunya. Kolot mah nu kieu ge diringkid.. Sangkan barudakna barungah.. Jadi ingat kalau dulu si Bapa atau s ibu bepergian pasti selalu ada yang dibawa pulang.. Hehe.. Kangen juga masa kecil.. Tau-tau sekarang aku yang sering bepergian..
Tidak sering.. Kali ini aku dan Riki menginap di PWNU. Perjalanan ke Bandung yang agak aneh rasanya. Biasanya kalau ke Bandung aku pasti menginap di rumah mah Ros. Kali ini aku jadi terlunta begini hehe.. Selain tidak bisa menginap di rumah mah Ros karena keluarga sedang pulang ke U.S dan nga nyimpen kunci rumah, tempat ini relatif lebih dekat ke tempat acara daripada ke Ciumbuleuit sih..
Sampai di PWNU. Aku diterima oleh kang Aji selaku sekretaris Lesbumi PWNU. Dikasih kunci, ruangan Lesbumi berantakan, aku jadi beres-beres sampai ngepel segala. Tapi yah.. Itung-itung beresin rumahnya teman-teman.. Mau gimanapun NU juga beberapakali memberikanku 'kemudahan'. Tidak banyak yang kami lakukan malam itu, selain kelelahan kami juga mesti ngejar berangkat pagi-pagi untuk datang ke acara workshop.
Selasa, 26 Agustus 2025. Pukul 07.00, dari PWNU kami menuju tempat pelatihan di gedung Kementrian Kebudayaan Wilayah IX, di jalan Cinambo, di daerah Ujung Berung. Melewati jalan Soekarno Hatta - pagi-pagi, adalah sebuah kepastian bahwa kami mendapatkan kemacetan di jalanan yang sudah terkenal dengan legenda lampu merah terlama itu. Berangkat menggunakan Grab car, kami menghabiskan Rp. 50.000,- untuk transport ini. Hampir setara ongkos kereta berangkat kami haha..
Kami sampai ke tempat acara 10 menit sebelum di mulai. Lalu langsung registrasi. Peserta sudah banyak, dan tidak ada yang kukenali satupun. Duduk di paling depan. Riki memang interes banget soal angklung, selain itu dia memang mengemban tugas dari petinggi sanggarnya : Asta Mekar, pokoknya dia mesti bawa ilmu untuk disebarkan di sanggarnya di Tasik. Beda denganku yang mengikuti pelatihan ini untuk 'sekedar tahu', yang penting ada kesempatan jalan keluar saja..
Kami dibagi kaos untuk kegiatan. Berdasar permintaan Ibu-ibu peserta, jadi ini dipakai saat mulai kegiatan. Padahal rencananya ini akan dibagikan setelah acara. Biasa ning ibu-ibu mah sok hayang seseragaman. Jadilah acara dimulai agak terlambat gara-gara darangdan.
Istirahat sesi 1. Mulek juga seharian dapat materi teoritik tentang angklung. Kami ke bawah, nyari tempat rokoan. Lalu difoto di ruang resepsionis Kemenkebud Wilayah IX.
Gamelan 'enyaan'. Wilahana berbahan material bagus, ah seandainya setiap sekolah-sekolah minimal punya set gamelan begini.
Ada juga artefak-artefak sejarah peninggalan kebudayaan Sunda.
Saat kami keliaran ketemu para pemateri, jadilah kami foto bersama.
Pemateri pertama, Whayan Christiawan, M.Sn. Aku sudah kenal dengan pa Whayan sejak di kampus ISBI (STSI kalau zamanku), selain itu, beliau pernah promosi kampus di SMA. Beliau dosen prodi musik bambu, memang expert di bidang instrumen musik dengan material bambu.
Pa Whayan berbagi materi tentang teori dasar musik. Rada lieur, karena aku pribadi tidak pernah belajar teori musik 'yang benar', tentang konversi not, famili chord, sampai pengaruh 'suasana' ketika kita merubah sedikit saja pemilihan chordal-nya. Tapi tidak melulu 'kaku', Pa Whayan juga sangat menyarankan untuk sesekali 'membebaskan' perasaan kita saat menyusun musik. Kadang yang spontanitas punya kekuatan besar, tapi alangkah lebih baik jika kita membersamai itu dengan teori-teori musik dasar, supaya mudah mengarahkan, kata beliau.
Pemateri kedua, Yadi Mulyadi, S.Pd, M.Pd. Pa Yadi memberikan materi tentang Strategi dan Metode Pelatihan Angklung
Pemateri ketiga, kali ini oleh Pa Viedy Sandi Sepdian. Kang Viedy membawakan materi tentang teknik & strategi bermain musik angklung.
Lalu kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan langsung mempraktikan memainkan angklung. Ini kami merasa macem bocah-bocah TK, pada malu-malu naik ke atas podium haha.
Oh ya, tempat ini punya perpustakaan yang lumayan lengkap soal seni tradisi, khususnya untuk kesenian tradisi Jawa Barat. Tapi sepi pengunjung, mungkin entah tidak tahu, atau mungkin gara-gara tempatnya agak nyingcet.
Tim pengiring yang dibawa oleh kang, selain soal angklungnya, di workshop kali ini aku malah lebih tertarik dengan kontra bass yang dipakai aa bertopi itu haha.
Coaching terakhir. Kami memainkan angklung bersama-sama secara komunal, dikonduktori oleh Kang Viedy.
Acara selesai hampir jam 5 sore. Ditutup oleh ketua BPK wilayah IX, ibu Retno.
Peserta workshop Ngamumule edisi guru seni se-Jawa Barat - 2025.
Enak kayanya ya punya set angklung sebanyak ini, lebih leluasa buat ngeksplor lagu-lagu. Memainkan angklung sebenarnya bisa dikatakan relatif mudah, tapi mengorganisir para pemainnya yang repot hehe
Sejak awal kontra bass ini sudah mencuri perhatianku. Sejauh ini dari jenis-jenis instrumen musik, sepertinya aku cenderung ke alat musik dawai. Meski ngada yang bener-bener ahli sih,
Yah.. Hari menyenangkan. Minimal aku masih ulukutek dengan hal yang kusukai. Lepas dari masalah-masalah lingkungan kerja yang tidak sehat itu.
Nunggu grab pulang. Riki akhirnya ikut lagi denganku ke PWNU, jadinya dia milih naik kereta untuk pulang, dan kereta nya pukul 8.40 pm, jadi dia nunggu kereta di PWNU.
Nah, dipikir-pikir, setelah Riki pulang, aku kesepian juga sendirian di PWNU haha. Akhirnya aku minta ditemani a Iki. Sebenarnya Aku punya cukup banyak kenalan di Bandung, tapi tidak banyak juga yang fit dengan kelamparanku, akhirnya dia yang kurepotkan. A Iki menjemputku ke PWNU dan membawaku ador-adoran,
Aku dibawa a Iki ke Taman Saparua, ini semacam Foodcourt. Sepanjang jalan adalah jajanan semua, aku tidak menyangka seramai ini, padahal ini bukan akhir pekan. Kami berdua menyusur jalan saling lalu lalang dengan pengunjung lain. Banyak perempuan cantek mwehehe. Lalu aku dibawa ke salah satu food stall kopi, ini dia pernah kesini katanya, dan kopinya lumayan enak lah.. Buat yang suka jajan mungkin tempat ini cocok, tapi buatku yang suka ngobrol agak kurang, karena harus teriak-teriak bertarung dengan orang yang lalu lalang ramai kalau ngobrol haha.
Aiki kali ini cerita ayahnya masuk RS lagi.. Yah sama dengan ibuku, kalau liat diagnosa, penyakitnya Jantung. Lalu juga tentangnya, bahwa dia sekarang sudah bersama seseorang yang menurutnya cocok. Yah.. Aku sih senang-senang aja mendengarnya. Its mean dia sudah punya pakumaha di perantauannya di Bandung. Dia terlalu baik sih, kalau jahat sebenernya dia bisa pisan haha.
23.49, lapar. Keliaran di pinggiran kota Bandung. Yang tersedia adalah makanan-makanan tenda 24 jam, aku memilih mie rebus jadinya. Nga nyangka porsinya sebuanyak ini haha..
Kamis, 28 Agustus 2025. Hari esoknya aku sudah berada di Kopo, menginap di rumah Satria Barkah, salah satu alumni Cipasung. Rumahnya bagus sekali, rumah-rumah zaman dulu. Bahkan punya pendopo gaya Jawa terpisah di depan rumahnya. Di sini aku sudah bersama Diwan, Gibran dan Rizal untuk mengisi acara pa Jakob.
Aku sebenernya nyelam sambil minum aer di perjalanan kali ini. Awalnya aku ke Bandung untuk mengisi acara perayaan 70 Tahun berkarya Jakob Soemardjo bersama teman-teman Kuluwung sesuai permintaan Imana Tahira. Tapi di hari-hari mendekat, aku dapat kesempatan untuk pelatihan angklung dari BPK wilayah IX Kemenkebud di tanggal sehari sebelumnya. Jadi aku mendapatai dua acara dalam sekali perjalanan.
Acara perayaan 70 Tahun berkarya Jakob Soemardjo ini bertempat di Museum Bandung. Aku cukup sering lewat tempat ini ketuka di Bandung, tapi tidak pernah masuk ke dalamnya. Tiba-tiba hari ini aku jadi salah satu pengisi di sini.
Selasar. Tempat ini cukup steril dari sampah dan asap rokok, jadi untuk para perokok mereka lebih milih 'minggir'. Selain itu acara ini menyediakan bazaar buku-buku karya Jakob Soemardjo dan buku-buku sastra lainnya. Ditambah ada tersedia kopi dan kudapan, lebih enaklah tempat ini haha.
Tata, teman kecilku yang sudah jadi gadis. Dia yang menginsist perwakilan komunitas Kuluwung untuk menjadi pengisi acara ini. Tata ini juga sudah jadi wartawan untuk kuatbaca.com, ini platform digital berita yang lebih banyak meliput tentang sastra.
Di dalam ruangan acara, kita disuguhkan dengan seni-seni instalasi.
Lewat neng Tata, dibantu Diwan, kesampéan juga aku nyanyi depan Pa Jakob. Bersyukur merayakan ulang tahun beliau ke 86 dan 70 tahun beliau berkarya.
Sayangnya, aku tidak menyanyikan lagu dari tulisan-tulisan Pa Jakob. Agak malu juga sebenarnya, tapi ya mau bagaimana lagi, Neng Tata atau Diwan pun tidak memberitahu atau setidaknya 'menganjurkan' untuk membawakan tulisan-tulisannya. Tapi Pa Jakob sepertinya tidak masalah dengan itu, beliau terlihat menikmatinya saja.
Prof. DR. Jakob Soemardjo.
Orang-orang yang belajar dan menyenangi seni, paling tidak membaca salah satu dari sekian banyak buku karyanya yang berjudul "Filsafat Seni". Mengenalinya sebagai pengajar di ISBI Bandung (STSI pada jamanku). Beliau ini orang Jawa yang Sundanis, lebih sunda dari orang sunda.
"Saya pernah tidak naik kelas. Nilai pelajaran bahasa inggris saya dulu 9, pengetahuan umum 8, tapi pelajaran berhitung saya cuma 4. Saya memang tidak pandai hitung-hitungan. Tentang apapun, termasuk soal perasaan,", Ujar beliau sambil tersenyum.
"Kamu terus nyanyi ya.., dengan bahagia. Nda usah hitung-hitungan."
: Akan coba kuusahakan, Pa..
Acara selesai sore hampir menuju petang. Di acara ini aku juga mendapat beberapa pertemuan tak berencana.
Ada a Fahmi, kakak tingkat jurusan karawitan (kalau di kampung susyah ketemuu, malah ketemu di Bandung) yah.. Dia sekarang lagi fokus di padepokan Jaipongan Jugala sih.
Kang Ferry Curtis, musisi balada senior nih di Bandung. Aktif kemana-mana menyuarakan soal literasi,
Annisa 'Ica' Resmana. Penulis -vokalis ini sama-sama gerak juga di musikalisasi puisi denganku, tapi yaah beda kelaslah denganku mah hehe.. Seminggu lalu baru ketemu di acara bedah bukunya di Tasik, sekarang ketemu lagi di Bandung.
Pa Herry Dim. Siapa yang nga kenal beliau, pelukis kenamaan bandung yang karyanya sering berpamer di kancah nasional sampai internasional. Lama sekali sekali tidak bertemu..
Lalu ada Irwan Jamal juga, dia membawakan cerpen Pa Jakob dengan gaya monolog.
Diluar obrolan-obrolan 'pakar', acara begini, buatku lebih ke silaturahmii..
Pameran buku-buku karya Pa Jakob, diset oleh pa Herry Dim.
Tasik Pride di Banduung !
Bersama beberapa penulis senior Bandung, kang Hikmat Gumelar salah satunya.
Jumat, 29 Agustus 2025. Sempat keteter setelah acara, tadinya kami rombongan Tasik mau langsung pulang. Tapi kami kelelahan, syukurnya kami dikasih 'suaka' oleh Neng Tata dan teman-teman kantornya. Jadi malam hari setelah acara kami menginap di Poetry Ilustration Guest House bersama teman-teman kuatbaca.com. Mereka semua orang-oran baiiik,
Sebisa mungkin aku ingin teman-teman di sekitarku juga punya kesempatan 'perjalanan'. Termasuk bocah ini, setelah pernah kubawa Safari Sastra ke Jawa timur bersama pa Yudhistira di tahun 2023, Rizak dibawa ke Bandung oleh Diwan bersama teman-teman Kuluwung.
Owner Poetry & Ilustration Guest House. Ternyata yang mpunya tempat ini juga seniman.
Penataan interior rumah begini tentu bukan orang 'konvensional' haha. Tapi beneran enak sekali tempatnya.
A few minutes before we leave. Kami berpisah lagi 'sementara'. Terimakasih Tataaaa, sampai ketemu di perjalanan dan kebaikan selanjutnya.
Di perjalanan pulang, a Iki mengirimkanku video, ini
notebook dariku yang kukasih saat dia selesai wawancara dan diterima di tempat kerja barunya. Hamdallah, hadiah kecil ini bermanfaat~ Yeay
Mampir Garut sekejapan, jenguki dede Gevardian, bungsunya sobat SMA ku. Lucuuuu masih bulet kaya cimol 🤤
*Aku udah pantes jugak bawa anak begini sih haha
Bapaknya lagi serius beresin doktoralnya di Malang. Jadi Ganjar sedang sering bulak-balik ke Jawa Timur, kebetulan sekali pas mampir pas ada di Garut.
Di sepanjang jalan adalah basah
Hujan. Bergemuruh suara sumbang
Karena selalu saja kutemukan patah
Setiap kali kaki menginjakkan pulang
2025
Sesampainya di Tasik, aku udah disambut dengan pohon Rosella-ku yang tumbang. Saat aku di luar kota katanya di sini sering angin besar.
Sabtu, 30 Agustus 2025. Wawan selesai yudisium, selangkah terakhir menuju wisuda-nya. Dia berfoto dengan Rizal dan mengirimkannya padaku. Rizal ikut partisipasi pentas seni di acara yudisium, pakai jas almamater, padahal dia belum 'legal' sebagai mahasiswa universitasnya, haha
Malam harinya, bantu pemuda-pemudi kampung acara agustusan. Sebenarnya aku nga begitu berenergi,
semu-semu hoream. Tapi apa daya, masyarakat harus tetap
diladangan.Minggu, 31 Agustus 2025. Menikmati istirahat sehari sebelum kembali menghadapi senin. Aku tidak kemana-mana dan tidak mau kemana-mana. Pagi-pagi cukup beres-beres, nyapu, ngepel, nyiram tanaman-tanaman, lalu buat teh mawar.
Sebagai 'produktivitas' di hari terakhir Agustus kali ini, aku memasang kolase dari album kaset pita lagu-lagunya Fuise, band duet kenamaan Bandung yang 'memberikan' karyanya ke saung.