Dan Gerimis Itu
Seperti rindu. Yang dingin
Mendekap. Tubuhku basah
Menjadi sunyi. Pada cermin
Malam. Di atas sajadah
Mendekap. Tubuhku basah
Menjadi sunyi. Pada cermin
Malam. Di atas sajadah
Mata terpejam. Seperti hari
Berganti. Terang dan gelap
Sudah tak lagi memiliki arti
Karena doa. Dikirimkan senyap
Berganti. Terang dan gelap
Sudah tak lagi memiliki arti
Karena doa. Dikirimkan senyap
Dan harum. Bunga-bunga
Bermekaran. Dalam ingatan
Tersimpan. Rahasia-rahasia
Musim. Penanda perjalanan
Bermekaran. Dalam ingatan
Tersimpan. Rahasia-rahasia
Musim. Penanda perjalanan
2025
Paling tidak, aku harus sempat menulis satu puisi setiap bulan. Meski entah termasuk puisi atau tidak, yang penting menulis dulu. Apa ya.. Seperti ada yang belum selesai saja rasanya. Seperti tulisan pembuka di atas, mungkin itu satu-satunya yang kutulis rentang pertengahan November sampai Desember ini.
Ada banyak hal.Temuan-pertemuan, tantangan, ingatan, dan banyak lagi, hidup memang seyogya nya begitu mungkin. Yah.. Tidak semua bisa dituliskan, tapi itu semata-mata karena keterbatasanku soal tulis menulis sih. Tapi sekali lagi, aku mencoba untuk tidak melewatkan apapun !
Tapi sekarang, ada juga yang sukanya membangun tapi menebang.
Jadi, Diwan kebagian menilai penulisan puisinya, aku kebagian pembacaannya. Sebenarnya, aku tidak begitu ahli soal beginian. Hanya keliatannya aku sering berkenaan dengan itu, publik kiranya menilai agak berlebihan. Jadilah bermodalkan pengalaman-pengalamanku yang terbatas itu aku beberapa kali melakukan hal seperti ini. Tapi karena ada 'teman' lain, aku merasa lega karena ada yang bisa 'menambal' ketidaktahuanku.
Rabu, 19 November 2025. Hari yang seharusnya tanpa ada jadwal yang jadi penuh gara-gara aku bolos seminggu ke Pangandaran. Tugas kerjaan, tugas-tugas kuliah yang menumpuk, tapi ya kalau tidak dikerjakan terus aja numpuk. Jadi aku berniat menggunakan hari ini untuk menyelesaikan semuanya.
Setelah dikerjakan, ternyata tugas-tugasku hanya selesai tiga sampai sore hari. Tugasnya sebenernya tidak begitu sulit, tapi karena banyak dan perlu banyak 'pengeditan' sana-sini. Selain itu, kerjaan tipe 'dokumen' begini memang bukan gayaku.
Kepala yang panas itu perlu penyegaran. Saat hendak mau mandi, aku tiba-tiba kepikiran untuk hujan-hujanan saat petang hehe
Malam harinya aku menghadiri haul ke 3 Pa Abun. Tidak ngajak siapa-siapa, tidak bilang siapa-siapa. Setelah kehilangan teman-temanku yang biasa datang bersama, kebiasaanku tentang haol jadi begini, duduk dulu sebentar sebagai syarat datang, biasanya bertemu dengan orang-orang secara alami saat begitu.
Ketemu a Dendi di rumah bang TB saat hendak pulang. Aden sedang duduk di teras dikerumuni beberapa orang, murid-muridnya dan murid-murid Bapa. Aku duduk sebentar menemani, lalu bergegas pergi lagi.
Ada Agus juga. Ini teman kuliahnya Ganjar sebenarnya, tapi kami jadi kenal karena Agus tinggal di rumah Aden dan aku sering kunjung ke rumah.
Hampir mau pulang, Cep Thoriq mengirimiku pesan, dia mau makan dulu, kami jadi ke perpusnya. Setelah dia makan (dan aku juga ikut makan akhirnya, banyak sekali hidangan makanan di rumahnya), dia terlelap tidur. Kukira dia kelelahan karena banyak ngurusi ini-itu untuk kegiatan haol ini. Cep Thoriq memang mengurusi media, jadi dia harus melihat-menjalani semua acara ini sampai selesai. Saat haol hampir selesai aku membangunkannya, bisi dia ada yang harus diberesin bersama teman-teman media-nya. Kami berpisah setelah itu.
Sengaja melewati mesjid karena cuma tempat ini yang belum terlewati olehku, hendak pulang, aku ditelpon Yuda untuk mampir ke sekre, tidak jadi pulang.
Pulang ke rumah. Ngecek anak-anak s Uti, ternyata ada yang mati satu. Jadi sekarang tinggal dua saja.
Lalu Eki yang pulang kuliah dari kota Tasik jadi ikut bergabung. Ramailah perkumpulan tiba-tiba-ini. Void time, Adi membawa kami pada satu cerita bahwa dia punya waktu kosong di rentang tiga tahun terakhirnya. Menjalani hidup semenjalaninya saja.
Minggu, 23 November 2025. Mengerjakan video untuk lagu Doa Nabi Adam. Sebenarnya aku tidak begitu mau-mau banget bikin video ini, cuma biar dokumentasinya tersimpan dan bisa dinikmati orang-orang saja, jadilah aku mengerjakannya. Makanya hasilnya terlihat agak 'maksa' haha. Tadinya video klip untuk lagu ini akan kuserahkan ke Cep Thoriq, tapi melihat dia juga ada kerjaan-kerjaan lain, aku juga tidak mau merepotkannya.
Dikirimi foto gelang manik-manik dari biji Hanjere yang kupanen bersama Diwan dan Lutfi mungkin setahun lalu. Biji-biji ini belum termanfaatkan, karena kami belum cukup punya waktu untuk itu.. dan sekarang biji-bijian itu sudah berada di tangan yang tepat.
Senin, 24 November 2025. Hari normal. Aku biasanya bekerja sampai 14.30 paling sore. Tapi kali ini tertahan bocah yang sedang tertarik dan ingin 'ngoprek' keyboard yang ada di ruanganku. Jadi, di tempatku kerja, mereka tidak perhatian soal pengadaan fasilitas. Alhasil aku selalu kesulitan kalau dapat keadaan begini. Tapi tentu saja aku tidak bisa membiarkan anak yang sedang punya kenginan belajar.. Aku membiarkannya sampai sore, lagipula aku harus menunggu orang 'proyek' yang mengambil listrik dari ruanganku selesai bekerja. Aku baru bisa meninggalkan ruanganku setelah selesai semuanya, takut ada barang yang hilang.
Flyer kegiatan kemah budaya LESBUMI Kota Tasik yang sudah tersebar. Diwan dan tim musik dari Kuluwung kebagian andil dalam kegiatan itu, sayangnya aku tidak bisa hadir karena tanggal 28-29 itu aku harus menemani Bu Siska yang sengaja ke Tasik, sambil nemeni a Iga bareng Barasuara yang akan konser di Tasik tanggal itu.
Grup yang baru lagi. Aku tidak tahu siapa yang memasukanku ke grup ini, tapi yang jelas isi dari grup ini adalah 'alumni' pelatihan angklung bulan agustus lalu. Kalau lihat tanggalnya, ini akan ada di tanggal 3-5 Desember mendatang, aku sih senang-senang saja kalau jadi hehe karena ada kesempatan buat 'ke luar' lagi.

Pertengahan hari, mengambil jeda dengan espresso dingin.
Lalu intinya, mengunjungi makam Bapa. Sekedar 'ngobrol', kalau beruntung, ada orang yang jamaah tahlil dan do'a, aku ikut saja. Setelahnya aku berkeliling jalan sendiri. Aku lebih menyebutnya menghampiri rindu dengan sunyi.
Ternyata di sekre banyak sekali orang. Dan semuanya santri-santri senior yang pernah mondok di sini. Cuma aku satu-satunya yang bukan santri di perkumpulan itu. Aku agak kebingungan mengikuti obrolan mereka, pasalnya mereka punya cerita dari hari-hari di masa lalu di tempat ini, dan aku tidak. Pertanyaan pembuka seperti "Dimana ayeuna ?", "Tos diangkat teu acan ?", "Sabaraha bati ?", sangat umum dan yakin didapatkan dari kumpulan seperti ini. Tapi aku senang melihat dan ketemu mereka 'terlihat' sehat semua.
Kamis, 20 November 2025. Aku tidur hampir saat fajar, dan bangun kesiangan. Mengecek handphone, aku dikirimi video seorang yang bernyanyi untukku dari seberang.
Sisa hari ini aku tidak kemana-mana, melanjutkan kembali mengerjakan tugas-tugas kuliah yang belum selesai. Sampai petangnya ada Adi dan Rian teman-teman dari Garut ke saung, membawakanku makan malam. Tidak lama Mang Jajang juga menyusul ke saung.
Sebenarnya kami sudah lelah dengan obrolan semacam ini karena jawabannya akan kembali pada perspektif masing-masing, tapi fase begini juga tidak bisa diremehkan, banyak orang-orang menganggap dirinya hidup, padahal sebagian besar kukira hanya bertahan. Orang-orang hari ini juga takut berpikir (atau tidak punya kepiawaian untuk berpikir, jarang dilakukan-dilatih), karena jika berpikir itu akan berpotensi menghancurkan 'kenyamanan' yang mereka sebut kehidupan.
Kami saling melontarkan opini masing-masing. Jawaban juga berbeda satu sama lain. Tidak main-main, kami mengobrol sampai lewat tengah malam. Sesuai yang kuucapkan, tidak ada jawaban yang permanen-benar. Tapi paling tidak, kita mendapatkan insight dari bagaimana diantara kami melewati waktu-waktu yang diwarnai penuh pertanyaan ini.
Sisa hari jumat, kuliah diubah menjadi online.
Jumat, 21 November 2025. S Iyan sedang ada acara di Bandung, s dede menemuinya. Kalau dulu, kalau s Iyan punya perjalanan begini aku yang menemani. Sekarang dia sudah punya suami, jadi dia yang nemani.
Aku membereskan sirih gading di taman pinggir saung yang sudah tumbuh besar. Aku memang menananmnya untuk ini. Perlu berbulan menunggunya besar, tapi akhirnya bisa kupasang di depan kamar saung. Dan aku suka hasilnya.. Nampak lebih rimbun seperti 'hutan', dan mereka tetap hidup. Karena aku menyimpannya dalam wadah dan air
Sabtu, 22 November 2025. Hari kuliah seperti biasa. Selain English Literatur, salah satu mata kuliah semester ini yang menarik untukku adalah Cross Culture Understanding. Jadi mata kuliah ini mempelajari tentang perbedaan kebudayaan. Dosennya cukup asik, meski jokes-nya khas Bapa-bapa. Tapi cukup cocok untukku, karena dia tidak suka politik kotor, dan selalu menyelipkan muatan nilai agama sesekali.
video bisa ditonton pada link di bawah :
Aku dikirimi foto dari seseorang yang sedang mendatangi festival kuliner Asia di Belgia. Onde-onde kita yang biasa kita beli di sini harganya Rp. 5000,- disana harganya 10 euro, yah kalau dikira-kira sekitar Rp. 190.000,- lah haha..
Selasa, 25 November 2025. Berdasar penanggalan kalender, ini adalah hari guru. Di rumah si Ibu beres-beres, lalu tumpukan piala-piala ini dikeluarkan untuk dibersihkan. Ini semua jelas punya si Dede. Karena tidak satupun dari kakaknya mendapat hal seperti ini. Jejak-jejak prestasi belajarnya, warna-warnanya pudar, berdebu. Tapi ilmu dalam kepala (yang dimanfaatkan-bermanfaat) tidak akan seperti itu.
Rabu, 26 November 2025. Menjelang konser Barasuara aku nggambar untuk suvenir untuk setiap anggotanya. Awalmya aku hanya membuatkan untuk a Iga dan Bu Siska saja. Tapi kupikir itu agak milaraan untuk dilihat teman-temannya s a Iga. Akhirnya aku buatkan untuk semuanya. Lagi, aku nga punya sesuatu yang bisa diberikan buat mereka, apa ya.. Kalau uang atau benda-benda, mereka bisa dengan mudah mendapatkannya. Tapi sebenarnya gambar seperti ini siapapun bisa membuatnya sih. Jadi, aku hanya menangkap momen saja. Sebagai hadiah kedatangan mereka nanti ke Tasikmalaya.
Kamis, 27 November 2025. Ohh.. Hari-hari bekerja seperti biasa. Setelah hari guru dua hari lalu, banyak bunga di kantor. Lagi, hadiah bunga seperti ini juga seperti gambarku, hanya menangkap momen saja. Setelah itu mereka dilupa. Aku memungutnya, tapi menanyakan dulu apakah mereka kenan atau tidak. Tapi seperti yang kukira, mereka tidak begitu suka (dan tidak tahu cara merawat) bunga-bunga.
Sisa hari, aku membuat rekaman cover lagu Phoolko Aakhama dari Ani Choying Drolma yang dikirimkan seseorang dari Belgia. Bahan awalnya berbentuk format video, jadi aku mesti memisahkan vokal dan instrumennya. Lalu Aku merekam lagi gitar untuk guide, menyesuaikan tempo, dan menambah vokalku untuk layering.
Menghabiskan waktu sampai lewat petang, lagu Phoolko Aakhama ini selesai dibuat. Lagu yang dinyanyikan Ani Choying ini punya kesan sendiri buatku.. Lagu ini yang menemani hari-hariku saat Ibu tinggal di Batam. Setelah selesai, Aku mengirim ini pada yang membuatkanku videonya. Jadi, Ini kolaborasi pertama kita. Dan senang mengetahui dia menyukainya..
Menuju penghujung hari, Iqbal menyuruhku mengecek data kependidikanku. Ternyata aku terpanggil untuk melaksanakan PPG. Aku sebenarnya tidak begitu apa tentang ini, dari beberapa teman yang sudah melaluinya, katanya ngurus PPG itu merepotkan dan menghabiskan uang. Lalu buatku, nanti juga akan menyebabkan 'keterikatan'. Jadi aku belum memutuskan ikut atau tidak pada saat itu.
Jumat, 28 November 2025. Hari terakhir kerja sebelum minggu ujian. Sudah lama aku tidak memainkan keyboard. Jumat-sabtu biasanya aku kuliah, tapi hari ini aku bolos karena siangnya aku mesti menemui Bu Siska yang datang ke Tasik, janjian untuk nonton konser Barasuara.
Sepulang jumatan aku berangkat ke kota. Menemui Bu Siska di hotel, ibu ditemani Mida. Mida ini masih koleganya keluarga alm. Pa Yudhis di Tasik. Kami ternyata pernah bertemu saat aku konser di Galeri Pusat Kebudayaan di Bandung, bersama si Uyuy. Dan ternyata sekarang Mida mengajar di sekolahnya a Widi di SMA Quran Cipansor-Kadipaten. Kami makan sore yang terlalu awal di Ayam Goreng Mambo.
Ah.. Bersama keluarga Pa Yudhis memang selalu ngopi. Aku sampai habis dua gelas. Kami banyak ngobrol tentang waktu-waktu kami tidak ketemu sejak bulan Agustus lalu.
Setelah menghabiskan setengah hari, aku pulang dulu ke rumah, supaya Ibu bisa istirahat. Dan sebelum pulang, Ibu memberikanku oleh-oleh dari Bekasi.
Ternyata isinya painting-kit, alat-alat menggambar. Colour marker dan cat akrilik dari Kaka Kiara, anaknya sulungnya s a Iga.
Sabtu, 29 November 2025. Aku masih punya beberapa jam sebelum aku ke kota buat ketemu lagi bu Siska, jadi aku diminta mengantar Wa Aang dulu ke Padakembang, katanya mau menengok cucu. Wa Aang ini kakak laki-lakinya s Bapa yang masih ada, itupun sudah sakit-sakitan, yah usia sepuh.
Lepas maghrib sudah siap berangkat ke Kota, lalu Ibu menyuruhku bawa teman supaya aku tidak sendirian dari kampung, dan a Iga ngjatahi aku dua backstage ID. Jadilah aku bersama berangkat bersama Diwan. Yah.. Ibu dan Diwan sudah saling kenal sejak Safari Sastraku yang pertama, selain itu Ayahnya kg. Acep juga teman baiknya alm. Bapa.
Backstage ID. Ini fungsinya buat akses keluar masuk backstage, yah.. Seperti saat aku pentas di Pangandaran saja, sama.
Backstage booth Barasuara. Namanya backstage ya begini, nga senyaman apa, tapi lumayan buat istirahat atau nunggu giliran tampil. Konser tipe festival tidak menyediakan tempat duduk, jadi ini rizki banget buatku hehe.
Set list. Ini lagu-lagu yang dibawakan Barasuara untuk konser di Tasik. Sejujurnya, aku tidak tahu satupun lagu-lagu Band Barasuara ini, orang-orang banyak yang tahu Band yang belakangan naik ini, dapat banyak award. Termasuk adikku dan pacarnya si Ucup. Kalau aku sih lebih menikmati pertemuannya saja.
Ketemu !. Untukku sudah hampir setengah tahun lebih tidak ketemu dengannya sejak bulan Mei. A Iga memang sibuk, jangankan denganku, dengan keluarganya juga akhir-akhir ini jarang ketemu katanya. Yah.. Jelang akhir tahun. Kami ngobrol kabar-kabar ringan, nanyai aku tinggal di mana, aku bilang masih perlu setengah jam lagi dari sini hehe.
Asteriska. Akrab dipanggil teh Icil, salah satu vokalisnya Barasuara. Beda market, teh Icil ini open minded banget secara mindset. Suaminya juga orang luar negeri. Saat di Backstage-saat teman-teman Barasuara lainnya checksound atau sekedar keliaran, teh Icil sedang latihan pemanasan vokal untuk tampil. Karena kulihat agak senggang dan sendirian, jadilah teh Icil yang pertama kukasih gambar yang kubuat itu.
Ngobrol. Memang tepat untuk bawa Diwan. Dia punya segudang hal yang bisa dibawa ke pembicaraan, bahkan dalam pertemuan pertama saja. Ternyata teh Icil juga salah satu praktisi musik-musik terapi, sound-healing, meditasi, chakra, dan lainnya.
Berdoa sebelum tampil. Hehe, ini pertama kali aku nonton Barasuara, dan agak memalukan, aku kalau main jarang doa seperti ini. Sejak ini aku akan melakukannya deh hehe.
Setiap di atas panggung, dia selalu jadi orang berbeda. Natural-born charismatic nya tidak bisa disangkal. Sejauh aku mengenalnya, a Iga tidak banyak bicara, bicara seperlunya. Tapi di Panggung, lain cerita. Atau barangkali dia memilih dengan siapa dia berhadapan.
Tentangnya :
Tidak akan pernah sama juga tidak harus sama. Bahwa setiap orang punya masing-masing jalannya. Bapa dengan kata-kata, a Iga dengan suara-suara
Aku cuma senang. Karena Bapa tetap ada, hidup padanya.
Lagu yang semua orang tahu. Mungkin agak berlebihan dan terkesan dusun :
Ini kali pertama aku datang ke konser musik. Bagaimanapun aku memang bukan tipe penyuka tempat dan keadaan seramai ini-dalam konteks ini.. Aku kikuk harus melakukan apa, berlaku apa. Tapi aku harus datang, dan hadir.
Ternyata hanya perlu mendengarkan, tapi dengan penuh kesadaran.

Oh.. Begini kira-kira aku terlihat saat menonton konser.
Selesai tampil. Banyak orang bertanya-tanya bagaimana aku bisa mendapat akses ke sini. Tapi yang jelas yang kukenal pertama adalah ayahnya a Iga. Malah aku baru tahu A Iga dari Barasuara itu putranya alm. Bapa saat Safari Sastra pertama. Darisana kami jadi saling kenal. Karena aku sering keluuyuran bersama Bapa dan Ibu. Terlebih sejak bapa wafat, kukira kami jadi lebih 'dekat'. Ibu punya beberapa perjalanan yang tanpa Bapa sejak itu, dan aku yang menemaninya.
Tugasku, ya mengabari a Iga, Mba Taya atau Mas Kaf. Memastikan semua baik-baik saja.
Aku memberikan souvenir gambar. Mbak Icil Asteriska, mbak Puti Chitara, mas Gerald Situmorang, mas TJ Kusuma & Mas Marco.. Aku pikir mereka keliatannya suka, tapi entah juga hehe.
Si Sulung kebanggaan Bapa.
"Udah ini kemana ?, jangan pulang dulu, kita makan. Ke Hotel aja ya,".
A Iga memang nga pernah bertele-tele.
Ini selalu begini setiap ketemu.
Setelah ngobrol lewat tengah malam kami berpisah. A Iga harus ke Bandung pagi-paginya karena siangnya ada panggung lagi, jadi dia mesti istirahat. Lalu aku dan Diwan nganteri Ibu balik lagi ke hotelnya.
.
Minggu, 30 November 2025. Kembali ke Kota, karena Ibu Siska akan pulang. Lalu aku juga memberikan gambar buat ibu
Foto sebelum pulang.
Mida ikutan.
Di luar rencana, teh Nci mengabariku mau ketemu ibu. Aku juga tidak kenal dengan teh Nci ini sebenarnya. Tapi teh Nci ini salah satu dosen yang ngurusi saat Bapa ada acara di UNPER, mungkin iya kami pernah ketemu tapi nga gimana saling sapa. Yah.. Sekarang kita sudah saling kenal.Teh Nci jadinya yang nganter ibu sampai ke stasiun karena kebetulan dia bawa mobil dan sedang senggang.
Pulang dari hotel aku kunjung ke rumahnya s Iyan di daerah PDK. Belum lama ini dia pindah ke sini, karena lebih dekat ke tempat kerjanya. Aku ngobroli soal PPG k s iyan, karena dia punya pengalaman tentang itu. Tapi yah keluargaku nga pernah ambil pusing sih. Kalau mau ya tingal kerjakan, kalau tidak ya tinggal jangan.
Rumah kedua s iyan sejak menikah. Dia ngalami juga pindah-pindah begini haha. Yah.. a Little familie life lah.
Jadinya aku pulang menjelang sore hari. Cuaca panas. Memasuki musim kemarau lagi.
-




























































